"Nanti pulang bareng ya. Aku tunggu di depan ruanganmu," titah Arion setelah menerima helm berwarna biru miliknya dariku. "Nggak usah. Nanti banyak orang yang--" "Kenapa? Malu sama aku atau malu karena kita udah deket seperti ini?" Rona merah di pipiku semakin tercetak jelas, aku berpaling namun Arion menundukkan wajahnya untuk melihat wajahku. Lantas dia tertawa membuatku kesal. Kutinggalkan dirinya tanpa pamit, berjalan cepat menghiraukan mulutnya yang masih saja memanggilku. Tak sengaja aku bertemu seniorku yang melempar sejuta pertanyaan dengan bibir yang terkatup rapat. Aku tidak bisa membaca pikiran Mbak Eka, pun tidak bisa membaca raut wajah itu. Dia melirik ke kanan, ketika motor besar Arion melintas di samping kami. Lelaki itu seakan tidak tahu malu, menyapa Mbak Eka dengan

