Bab 17 Diagram Venn

1204 Words
Sisil tidak menyangka hidupnya akan berubah jadi seperti film mata-mata murahan. Bedanya, ini bukan soal negara atau agen rahasia. Ini soal mantan… dan om mantan. Semua bermula dari kemarin saat Lucas datang menjemputnya ke tempat kerjanya. Awalnya, tidak ada yang aneh. Semua berjalan normal sampai pria matang itu memberikan info yang cukup membuatnya terganggu. "Kristian sepertinya curiga kalau kamu mendekatiku." Lucas mengatakannya dengan datar, tapi efeknya tidak sedatar itu bagi hati Sisil. Meski dia dan Kristian sudah putus, tetap saja, bisa move on dan PDKT dengan om mantan hanya dalam hitungan hari, tidak, dalam hitungan menit, terbilang cukup brutal dan frontal. Sisil juga tidak mau disebut memanfaatkan situasi atau berusaha balas dendam. "Kenapa diam?" Lucas melirik Sisil sebentar, "Kamu senang dia tahu kamu mendekatiku?" Sisil tidak segera menjawab. Jujur, situasi ini membingungkannya. "Kenapa? Kamu mendekatiku demi menarik perhatiannya saja?" Itu bukan tuduhan, tetapi sempat membuat Sisil tersinggung. "Om, aku serius suka sama om." "Oh?" Hanya satu kata. "Kenapa kamu terlihat panik dan kaget?" "Karena Kristian adalah keponakan Om." "Dan?" Sisil benar-benar bingung karena Lucas sepertinya tidak peduli. "Apa om tidak khawatir andai kita berpacaran atau semacamnya? Kristian keponakan om lho." "Kamu saat mendekatiku apa tidak berpikir tentang itu?" Mati. Sisil sama sekali tidak peduli waktu itu. Namun, tiba-tiba dia memikirkannya. Lucas menatap Sisil sekilas, "Aku akan mempertimbangkannya lagi. Sepertinya kamu tidak sesuka itu padaku," katanya membuat Sisil langsung melotot kaget. "BUKAN BEGITU, OM!!!" Semua menjadi semakin kacau. Sisil jadi tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari. Kepalanya juga sering berdenyut dan sakit. Ditambah sekarang, mantannya itu berdiri tepat di depan gedung kantornya. Ini sudah ketiga kalinya. “Ya Tuhan…” gumam Sisil pelan, langsung bersembunyi di balik tiang lobi. Dhea yang berdiri di sebelahnya ikut mengintip. Kristian bersandar di mobilnya, tangan masuk ke saku celana, wajah terlihat lelah tapi keras kepala. Jelas sudah menunggu cukup lama. “Fix. Dia nunggu lo,” bisik Dhea. “Gue tahu tanpa lo bilangin.” “Romantis sih.” “Horor. Gimana gue bisa ketemu gebetan gue kalau dia di sana?” Sisil bergidik. "Ya, tinggal lewat," jawab Dhea cuek. Sisil menghela napas panjang. Jantungnya berdebar bukan karena terharu, tapi karena stres. Sejak hari ketika Kristian melihatnya naik mobil Lucas, pria itu berubah. Lebih sering muncul, lebih nekat dan seolah tidak mau menerima penolakan. Bukan kasar, tapi terlalu… gigih. Jujur, hal itu membuat Sisil tidak nyaman. “Gue cuma mau pulang dengan damai,” gumamnya. Seolah alam semesta sedang bercanda, ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat jantungnya justru makin kacau. Om Lucas. Ia langsung mengangkat. “Halo?” Suara di seberang tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu yang lembut di dalamnya. “Aku sudah di depan kantormu.” Dunia langsung terasa berhenti. Sisil membeku. “…Om di mana?” “Di seberang jalan. Mobil hitam.” Sisil menoleh pelan ke arah kaca depan gedung. Benar. Mobil Lucas parkir tidak jauh dari tempat Kristian berdiri. Kalau Lucas turun sedikit saja, bisa perang dunia ketiga antara paman dan keponakan. Dhea ikut melihat dan langsung membelalak. “OH MY GOD.” Sisil menutup mikrofon ponsel. “Mereka berdua di sini.” “Siapa?!” bisik Dhea panik. “Mantan dan gebetanku.” Dhea langsung memegang kepalanya sendiri. “Ini bukan cinta segitiga lagi, ini cinta diagram Venn.” Sisil menarik napas, mencoba berpikir cepat. Di telepon, Lucas masih menunggu. “Kamu belum keluar?” tanyanya pelan. “Om…” Sisil menelan ludah. “Hari ini… agak rame di depan.” Lucas terdiam sebentar. Instingnya jelas bekerja. “Kristian?” Sisil tidak menjawab. Namun hal itu sudah cukup sebagai jawaban. Suara Lucas berubah lebih rendah. “Dia jemput kamu?” “Kayaknya.” Hening. "Jadi... aku harap Om akan...." Sisil berkeringat dingin. “Aku tidak akan turun,” kata Lucas akhirnya membuat Sisil bernapas lega sebentar. Nada suaranya datar, tapi Sisil bisa merasakan ketegangan di baliknya. “Aku tunggu kamu di sini. Tidak lama, setelah lima menit kamu tidak ke sini, aku turun.” Rasa lega Sisil langsung sirna. Masalahnya, Kristian juga menunggu. Menghindarinya jelas bukan perkara mudah. "Kenapa?" Sisil menjelaskan situasinya dengan cepat. Dhea meraih lengan Sisil. “Kita butuh strategi.” “Ini bukan ujian kelompok.” “Ini lebih parah.” Sepuluh menit kemudian, rencana paling absurd lahir. Sisil dan Dhea berdiri di toilet kantor, saling menatap dengan ekspresi serius. “Oke,” kata Dhea, “tukar hoodie.” Sisil menatapnya. “Ini ide paling bodoh yang pernah lo punya.” “Tapi efektif.” Mereka berdua memakai hoodie oversized hampir identik — kebiasaan anak kontrakan hemat. Dalam waktu kurang dari satu menit, mereka sudah bertukar. Dhea mengikat rambut seperti Sisil. Sisil melepas ikatannya, membiarkan rambut jatuh menutupi sebagian wajah. “Kalau gue mati karena ini, lo tanggung jawab,” kata Sisil. “Kalau berhasil, traktir gue makan makanan mahal seminggu. Gue bosan makanan warteg.” Deal. Mereka langsung berjabat tangan. Dhea keluar lebih dulu. Kristian langsung tegak saat melihat sosok berhoodie itu. Ia berjalan mendekat cepat. “Sisil.” Dhea menunduk sedikit, pura-pura menghindar. “Gue cuma mau bicara bentar,” kata Kristian, suaranya melembut sambil mencoba mengejar. Sementara itu, Sisil menyelinap keluar dari pintu samping gedung. Jantungnya berdegup kencang seperti maling profesional. Ia hampir berlari kecil menuju mobil Lucas. Pintu penumpang langsung terbuka dari dalam. Sisil masuk cepat. Pintu tertutup. Selamat. Dia berhasil. Aroma maskulin lembut memenuhi ruang mobil. Lucas menatap lurus ke depan, rahangnya tegang. “Kamu baik-baik saja?” Sisil mengangguk, masih terengah. “Iya.” Baru beberapa detik kemudian, mereka saling menoleh. Entah kenapa—Mereka tertawa bersamaan. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa absurd karena situasinya terlalu tidak masuk akal. “Kita kayak pasangan backstreet ya?” kata Sisil. Lucas terdiam lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan backstreet yang membuatnya bahagia, melainkan kata pasangan. “Sepertinya begitu.” Sisil menyandarkan kepala ke kursi, masih tersenyum. “Padahal kita nggak selingkuh.” “Tidak.” “Tapi rasanya kayak selingkuh.” Lucas meliriknya sekilas. “Karena dia mantanmu.” Sisil mengangguk. “Dan keponakan Om.” Kali ini Lucas benar-benar terdiam. Hubungan mereka memang rumit. Bukan salah, juga bukan sesuatu yang bisa diumumkan dengan santai. Lucas menyalakan mesin mobil. “Kita pergi dulu dari sini.” Mobil melaju pelan, menjauh dari gedung kantor… dari Kristian… dari kemungkinan ketahuan. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hangat sampai Sisil tiba-tiba berkata ringan, “Om.” “Hm?” “Seru juga ya.” Lucas menoleh. “Seru?” “Iya. Deg-degan.” Tatapannya berubah lebih dalam. “Ini bukan permainan.” Nada itu rendah, serius. Sisil menatapnya balik. “Aku tahu.” Hening lalu ia menambahkan pelan, “Tapi aku tetap pilih Om.” Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras dari pengakuan apa pun. Tangan Lucas mengencang di setir. Tatapannya kembali lurus ke jalan. Namun ada sesuatu yang berubah di udara.. Di belakang mereka, jauh di depan gedung kantor… Kristian akhirnya menyadari sesuatu. Sosok berhoodie yang ia ajak bicara tidak menjawab seperti biasanya. Ia mengerutkan kening. “Dhea?” Perempuan itu langsung kabur. Saat ia menoleh ke jalan— Mobil hitam itu sudah tidak ada. Dadanya terasa dihantam kenyataan. Ia tidak tahu kenapa. Namun ia tahu satu hal. Sisil tidak pulang sendirian. Juga firasatnya mengatakan… ia tahu dengan siapa. Rahangnya mengeras. Amarahnya naik dengan cepat. "Sial."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD