Mobil melaju semakin jauh dari pusat kota, meninggalkan lampu gedung, kemacetan, dan kemungkinan bertemu Kristian di setiap lampu merah. Sisil baru sadar ia masih menahan napas. Saat Lucas berbelok ke jalan yang lebih sepi, barulah ia menghembuskannya pelan. Hatinya lega dan bahagia.
“Huft…”
Lucas melirik sekilas. “Kamu tegang? Kayak ketemu zombie aja,” ledeknya.
“Wajar dong. Tadi rasanya kayak habis merampok bank dan nyaris ketahuan intel, Om.” Sisil mengerucutkan bibirnya sedikit.
Lucas hampir tersenyum melihat itu. Baginya, Sisil sekarang terlihat menggemaskan.
“Kita nggak akan ketahuan. Kalaupun iya, kamu perampok yang diam aja, pasti dikejar,” katanya membuat Sisil nyaris batuk karena tidak menyangka Lucas akan segombal itu.
“Ih, perumpamaannya bikin perut aku sakit, deh. Lagian kalau aku perampok, Om kaki tangannya.” Sisil tidak mau kalah.
Lucas tidak menjawab, tapi bibirnya tersenyum. Kali ini benar-benar ada senyum kecil di sudut bibirnya yang membuat Sisil menyadarinya dengan cepat.
"Om senyum ya?"
Lucas tidak menjawab, tetapi pipinya merona. Dia buru-buru mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Sisil berhenti menggoda Lucas tetapi hatinya puas karena berhasil membuat pria matang dan dingin itu merona karena dirinya.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah area parkir restoran kecil yang hangat, jauh dari pusat keramaian. Lampu kuning lembut menerangi bangunan dengan jendela besar dan interior kayu.
Sisil menoleh keluar, lalu kembali menatap Lucas.
“Om…”
“Hm?”
“Ini bukan tempat Om biasanya ya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Lucas mematikan mesin, tapi tidak langsung menjawab.
“Tempat favoritku terlalu mudah ditemukan.”
Sisil terdiam sejenak.
Oh. Jadi ini tempat aman untuk mereka.
Jantungnya berdebar dan senyuman tipis terlukis di bibir mungilnya. Rasanya, ini seperti Lucas tidak ingin Sisil ketahuan oleh Kristian. Bukan dengan niat menyembunyikan, tetapi menyimpan dirinya untuk diri sendiri.
Ah, om matang memang yang terbaik, bisiknya dalam hati.
Di dalam restoran, suasananya tenang. Tidak ramai, hanya beberapa meja terisi pasangan yang berbicara pelan. Musik jazz lembut mengalun tanpa mengganggu. Ini pertama kalinya Sisil ke sini.
Lucas menarik kursi untuknya. Sisil duduk, tersenyum lebar. Dulu, Kristian tidak pernah menarik kursi untuknya. Pria muda itu bilang agar Sisil mandiri, tetapi sekarang Sisil tahu, Kristian hanya terlalu tidak romantis.
“Om gentleman banget,” puji Sisil.
Lucas hanya duduk di seberangnya. “Itu standar.”
“Standar siapa? Tahun 1995?”
Lucas menghela napas kecil, tapi matanya jelas melembut.
Pelayan datang, mereka memesan tanpa banyak diskusi — Lucas tampak sudah familiar dengan menu.
Setelah pelayan pergi, barulah Sisil bersandar santai.
“Om.”
“Hm?”
“Makasih.”
Lucas mengangkat alis sedikit.
“Untuk apa?”
“Udah nyulik aku.”
“Bukan nyulik.”
“Menyelamatkan?”
“Mungkin.”
Sisil tersenyum lalu matanya berubah lembut.
“Serius deh… tadi kalau Om nggak datang, aku pasti stres.”
Lucas menatapnya cukup lama.
“Kamu tidak perlu menghadapi dia sendirian. Kadang, bocah kurang ajar itu perlu diberi pelajaran.”
Nada suaranya rendah, tegas dan hampir… posesif.
Sisil merasakan hangat menjalar di dadanya. Apalagi Lucas memaki keponakannya sendiri demi dirinya. Sisil serasa terbang ke awan karenanya.
“Om baik banget, deh. Aku jadi makin falling in love,” katanya tanpa sadar. Perkataan jujur dan sangat tulus.
Lucas langsung memalingkan pandangan.
“Aku tidak baik.”
“Baik kok.”
“Aku hanya melakukan apa yang menurutku perlu.”
“Tetap baik.”
Lucas tidak membantah lagi.
Makanan datang.
Mereka makan dengan tenang, sesekali bercanda kecil.
Sisil memperhatikan Lucas diam-diam. Cara pria itu memotong steak rapi. Cara memegang gelas dengan santai tapi elegan. Cara matanya kadang terangkat saat ia berbicara. Semua terasa… dewasa, stabil dan aman. Berbanding terbalik dengan pria seusianya yang biasanya berisik dan impulsif.
Tanpa sadar, ia tersenyum sendiri. Lucas menyadari hal itu
“Apa? Kamu ketawain aku?”
Sisil terkesiap. “Hah? Nggak apa-apa.”
“Kamu senyum sendiri.”
“Boleh dong.”
“Boleh, tapi orang senyum atau ketawa, biasanya ada alasannya.”
Sisil menatapnya beberapa detik… lalu berkata jujur,
“Om bikin aku nyaman, aman dan kenyang.”
Lucas membeku beberapa detik.
Ia menaruh garpu dengan sangat pelan. Tatapannya dalam, hangat, tapi juga berbahaya.
“Kamu tidak boleh bilang begitu ke sembarang pria.”
“Aku nggak bilang ke sembarang pria.”
“Justru itu.”
Sisil tidak langsung paham… lalu matanya melebar sedikit.
Oh.
Pipi gadis itu langsung memerah.
“Om… baper ya?” godanya dengan senyum jail.
Lucas berdeham pelan, seolah baru sadar ucapannya terlalu jujur.
Setelah makan, mereka keluar berjalan pelan di trotoar kecil di depan restoran. Udara malam sejuk, lampu jalan temaram.
Tidak ada mobil lewat atau orang lain.
Sisil memeluk dirinya sendiri.
“Dingin?”
“Sedikit.”
Tanpa banyak kata, Lucas melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Sisil.
Hangat dan baunya… Lucas banget.
Sisil menoleh, menatapnya dengan mata berbinar.
“Om nanti kedinginan.”
“Aku pria, tahan masuk angin.”
Sisil tergelak tanpa sadar. Lucas selalu punya cara membuatnya tertawa.
“Kok Om selalu kayak superhero sih?”
Lucas mengangkat alis.
“Aku dokter, bukan superhero.”
“Dokter juga superhero.”
Ia tertawa kecil. Suara tawa Lucas jarang keluar — dan ketika keluar, rasanya seperti hadiah langka.
Mereka berjalan beberapa langkah lagi. Sunyi… tapi tidak canggung. Justru nyaman.
Sisil menendang kerikil kecil di jalan.
“Om.”
“Hm?”
“Kalau kita ketahuan… gimana?”
Lucas berhenti. Pertanyaan itu menggantung di udara.
Ia menoleh padanya. Tatapannya serius, tapi tidak dingin.
“Aku yang akan mengurusnya.”
Jawaban sederhana, tapi penuh makna.
Bukan “kita lihat nanti”. Bukan “aku tidak tahu”.
Melainkan—Aku tanggung jawab.
Sisil merasakan sesuatu mencubit hatinya. Rasanya, dia menjadi semakin yakin bahwa Lucas adalah pria yang paling dibutuhkannya. Juga, paling diinginkannya.
Tanpa sadar, ia meraih ujung jas di bahunya dan menggenggamnya erat.
“Om…”
Lucas menunggu.
Sisil menatapnya lurus, mata berbinar.
“Hari ini aku seneng banget.”
Lucas tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya lama seolah menghafal ekspresi itu lalu dengan suara yang hampir seperti bisikan—
“Aku juga.”
Jantung Sisil langsung berdebar kencang. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Lucas terlihat… bahagia.
Bukan senyum sopan atau ekspresi netral. Bahagia sungguhan.
Saat kembali ke mobil, Sisil berhenti sebelum membuka pintu.
Ia menoleh.
“Om.”
Lucas juga berhenti.
“Iya?”
Sisil tersenyum manis.
“Kita kabur lagi kapan?”
Lucas menatapnya, lalu menghela napas kecil… tapi senyumnya jelas terlihat sekarang.
“Kamu ini.”
“Itu bukan jawaban.”
Lucas membuka pintu mobil untuknya.
“Kapan pun kamu butuh diselamatkan.”
Sisil masuk dengan hati yang terasa melayang.
Malam itu, tidak ada drama, mantan atau rencana lanjutan. Hanya dua orang yang akhirnya bisa bernapas lega… dan menikmati kebersamaan tanpa harus sembunyi di balik kecemasan.
Entah kenapa—Mereka berdua tahu. Ini baru permulaan dari hubungan yang mungkin jauh lebih rumit, tapi manis..