Mobil berhenti di depan kontrakan Sisil. Mesin sudah dimatikan, tapi tidak ada yang langsung membuka pintu. Lampu jalan menyorot lembut ke dalam mobil, menciptakan ruang kecil yang terasa terlalu sunyi… terlalu pribadi. Sisil masih memakai jas Lucas. Tangannya menggenggam ujung lengan jas itu tanpa sadar. Lucas memperhatikan hal itu. “Kamu tidak turun?” sindirnya setengah menggoda. Sisil menoleh cepat, seolah baru sadar. “Oh. Iya,” katanya tapi ia tidak bergerak. Sebaliknya, ia menatap dashboard, lalu jendela, lalu kembali ke Lucas. “Aneh ya.” “Apanya?” “Biasanya aku langsung pengen masuk kamar kalau udah sampai rumah.” Lucas menunggu kelanjutannya. “Tapi sekarang… rasanya sayang kalau turun.” Jantung Lucas berdetak sedikit lebih keras. Ia menatap lurus ke depan. “Kenapa?” S

