Sisil masih menutupi wajahnya dengan kedua tangan ketika mereka keluar dari kamar Lucas. Pintu kamar tertutup di belakang mereka dengan bunyi klik pelan. Koridor lantai tiga yang tadi terasa biasa saja sekarang tiba-tiba terasa… canggung atau mungkin hanya Sisil yang merasa begitu. Ia berjalan cepat ke arah tangga. Lucas berjalan santai di belakangnya. “Sil.” Sisil tidak menoleh. “Aku tidak lapar.” Lucas mengangkat alis. “Bukannya kamu yang bilang untuk kita makan malam?” Sisil berhenti di anak tangga pertama lalu menoleh dengan wajah masih merah. “Itu supaya kita keluar dari kamar, Om!” Lucas menatapnya beberapa detik lalu senyum kecil muncul lagi di bibirnya. “Sayang sekali.” Sisil memicingkan mata. “Sayang kenapa?” Lucas turun satu anak tangga mendekatinya. “Aku sebenarny

