Makan malam sudah selesai sekitar satu jam yang lalu. Namun Sisil masih di tempat duduknya seolah tidak mau pulang. Lucas pun sepertinya tidak berniat untuk mengantar Sisil kembali ke kontrakannya. Akhirnya mereka hanya duduk di ruangan itu sementara para pelayan membereskan peralatan dan makanan yang sudah selesai. Sisil bersandar di kursinya dengan wajah puas, perutnya benar-benar penuh. “Om…” Lucas yang sedang menyeruput teh melati menoleh. “Ya?” “Aku tidak bisa jalan.” Lucas mengangkat alis. “Kenapa?” Sisil menepuk perutnya sendiri. “Perutku masih kekenyangan.” Lucas menatapnya beberapa detik lalu berkata santai, “Berarti berhasil.” Sisil memicingkan mata. “Berhasil apa?” Lucas berdiri dari kursinya. “Membuatmu tinggal lebih lama.” Sisil langsung menatapnya tidak perca

