Sisil menatap Kristian dari sofa, lengannya disilangkan di daada, bibir mengerucut tipis. Dhea duduk di kursi samping, tangannya menopang dagu, mata berbinar-binar seperti penonton yang antusias menunggu pertunjukan. Kristian duduk di kursi di depan mereka, wajahnya setengah memelas, setengah cemberut, mencoba menampilkan ekspresi “jangan marah sama aku, Sil… aku masih sayang.” “Jadi… lo ngapain ke sini?” tanya Sisil, nada suaranya santai tapi jelas mengandung ketus. Kristian menggaruk kepala, pura-pura bingung. “Aku… cuma pengen… ngobrol sebentar. Tolong jangan marah, Sil. Aku cuma pengen…” “Pengin minta maaf?” Sisil menyambung dengan nada dingin. “Yah… iya. Gue minta maaf…” Kristian menunduk dramatis. “Jujur, gue nggak bisa putus gitu aja. Gue masih sayang sama lo.” Sisil menahan n

