Lucas duduk di ruang istirahat dokter, tangan masih memegang gelas kopi hangat. Pikirannya ke mana-mana. Dia masih memikirkan tentang Sisil dan betapa dekatnya jarak mereka tadi. Ini bukannya saat yang tepat buat ciuman, Om? Perkataan Sisil masih terbenam di otaknya. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Bukan waktunya. Lagipula, dia tidak mau begitu saja goyah karena seorang gadis kecil berusia dua puluh enam tahun yang juga merupakan mantan pacar keponakannya. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri, dia sempat goyah saat melihat bibir merah muda milik Sisil. Meski sekilas, tapi rasa malu hinggap di hatinya membuat pipinya merona sampai terasa panas. Lucas menatap kopi di gelasnya, menggoyangkannya pelan dengan sudut bibir yang terangkat. Jujur saja, ada perasaan aneh yang membuatnya meras

