Apartemen Lux 11 Berlin Mitte.
Beberapa saat berkendara, Bastian menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gedung apartemen mewah yang tidak perlu di pertanyakan lagi.
"Kita sudah sampai!" Bastian berseru senang. Bisa membawa seorang gadis secantik Starla untuk tinggal bersama, bagaimana mungkin tidak senang? Bagaimana mungkin tidak bangga? Meski Starla bukan satu satunya yang tercantik di dunia ini, tapi Starla adalah satu satunya yang bisa membuat dirinya tertarik dan jatuh cinta.
Starla mengerjapkan mata. Lamunannya buyar seketika. Dia menoleh ke arah Bastian yang sedang tersenyum hangat ke arahnya.
"Iya." Starla menjawab canggung. Jujur saja, sepanjang perjalanan, dia tidak begitu memperhatikan gerak gerik Bastian. Dia terlalu fokus menatap keluar sampai banyak pertanyaan dari Bastian yang juga tidak dia tanggapi.
"Ayo turun!"
Sejenak hening. Starla masih belum bereaksi.
"Ada apa?" Bastian mendekatkan wajahnya ke arah Starla setelah melepas sabuk pengamannya. Semakin dekat dan dekat.
Starla yang merasakan gerakan mengancam dari Bastian, segera menahan d**a pria itu agar tidak lagi mendekat. "Kamu itu kenapa?"
Bastian menangkap pergelangan tangan Starla dengan satu tangannya. "Aku?" Bastian mengerutkan kening. "Memangnya aku kenapa?" Tambahnya sembari melepaskan sabuk pengaman Starla, setelahnya dia duduk kembali di balik kemudi.
Starla menghela nafas lega sembari memegang dadanya yang sedikit takut. "Kamu ini, membuatku kaget saja."
Starla pikir, Bastian akan bertindak kurang ajar kepadanya, tapi ternyata Bastian hanya ingin melepaskan sabuk pengamannya, dan dirinya yang sudah salah mengira.
"Kaget kenapa? Kamu berharap aku melakukan hal lain kepadamu?" Bastian mengedipkan sebelah matanya, menggoda Starla adalah yang selalu dia lakukan entah itu dulu atau sekarang. "Kalau kamu memang ingin bermain, aku siap menemanimu."
"Omong kosong." Starla yang tidak menyukai pembicaraan seperti ini, memutuskan untuk keluar dari mobil dan membiarkan pria itu beromong kosong dengan stir mobil.
"Pemarah sekali!" Bastian berbicara dengan dirinya sendiri. Sebangsat bangsatnya Bastian, dia bukankah tipe pria yang akan memaksakan kemauannya sendiri. Berhubungan seks, ayo! Asal dalam keadaan sadar dan suka sama suka, kalau dianya sadar tapi si gadis tidak sadar, dia akan merasa buruk, itu juga berlaku sebaliknya.
Bastian tidak pernah memaksa orang lain untuk berbuat gila dengannya, apa lagi Starla. Starla adalah salah satu gadis yang sangat sulit untuk di miliki, tapi semakin Starla menolak, dia justru semakin gigih untuk mendapatkannya.
"Sayang, tunggu aku!" Bastian berlari mengejar Starla yang sudah masuk ke lobby apartemen. Tidak lupa dia melemparkan kunci mobilnya ke petugas valet dan meminta pelayan untuk mengantar koper Starla yang masih berada di bagasi.
Begitu terkejar, Bastian segera meletakan tangannya pada pinggang Starla. "Sayang, kamu ini tidak sabaran, ya? Benar benar nakal?" Bastian berlaku seakan mereka adalah pasangan kekasih yang sangat manis namun sedang bertengkar. Manis yang di paksakan.
"Kamu bisa tidak sih jangan sembarangan menyentuh orang?" Starla menjauh dua langkah dari Bastian. "Atau.. jangan jangan itu sudah menjadi kebiasaan buruk kamu? Menyentuh gadis gadis sesuka hati?" Starla memandang Bastian dengan sebelah mata.
Starla yakin 90 persen kalau Bastian akan menjawab 'iya'. Kalau Bastian menjawab 'tidak', baru dia akan mempertanyakan kebenaran dan mengusutnya sampai tuntas. Kalau perlu, dia akan membayar detektif untuk menyelidiki Bastian. Mantap, kan?
Begitu lift terbuka, Starla segera memasuki lift. Bastian juga mengikuti dan segera menekan tombol 25.
"Jangan begitu lah." Bastian menjawab dengan berat. Dia kembali merapatkan dirinya pada tubuh Starla. Dia tidak suka Starla menyudutkan dirinya seperti ini dan dia merasa teraniaya.
"Kamu hanya perlu menjawab iya, atau tidak? Bagian mananya yang sulit? Lagi pula, mau kamu menyentuh gadis lain atau tidak, itu bukan urusanku. Asal, kamu tidak sembarang menyentuhku, aku akan sangat menghargainya." Starla mengakhiri argumen gila yang dia pikir Bastian tidak akan mengakui ataupun menyanggahnya.
Tuan Muda dari keluarga kaya, bukankah selalu seperti itu? Berlaku seenaknya sendiri, arogan, mendominasi, bermain wanita, bersenang senang, mabuk mabukan, dan gemar mempersulit kehidupan orang lain.
"Iya, aku akui dulu aku memang begitu. Aku orang yang buruk, gemar berganti wanita, hobi mencari kesenangan, tapi, sejak aku bertemu denganmu, aku tidak pernah lagi menyentuh siapapun, aku tidak pernah bermain dengan wanita manapun lagi. Sungguh Starla, aku tidak bohong." Bastian melafalkan kalimat ini dengan satu tarikan nafas. Ucapannya tegas dan menyakinkan.
Starla mengerutkan kening, tentu saja dia tidak percaya begitu saja. Dia tidak menanggapi, dia justru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin memperdulikan Bastian. Biarkan saja, biarkan pria itu berlaku sesuka hati.
"Kenapa ekspresimu begitu?" Bastian menatap Starla tidak berdaya. Dia tidak suka Starla bersikap seperti ini terhadap dirinya, dan dia tidak suka di abaikan.
Starla hanya diam. Dia tidak memiliki hasrat untuk menjawab atau mengatakan apapun. Dia hanya iseng menanyakan ini, dan dia sungguh tidak memiliki maksud lain.
"Kamu harus percaya, Sayang. Demi Tuhan, aku tidak bohong." Bastian membiarkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. "Aku janji akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi untuk ke depannya."
Ting.
Lift terbuka. Starla bergegas keluar di ikuti oleh Bastian di belakang.
"Star, ini apartemen kita." Bastian menunjuk apartemen paling ujung di lantai 25.
Perkataan Bastian membuat Starla berhenti di depan pintu yang di maksud. Bastian yang tanggap segera menekan password, sampai pintu terbuka dan lampu di dalam menyala seketika. "Aku menggunakan tanggal pertemuan kita sebagai password."
Starla tidak menanggapi, dia justru menerobos masuk dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apartemen Bastian tidak perlu di tanya seberapa mewahnya. Mulai dari furniture, penempatan ruang dan semuanya sudah pasti di atur oleh arsitek ternama.
Padanan warnanya Starla juga menyukainya, abu dan putih. Sesuai dengan seleranya. Karena kebetulan, apartemennya di Jakarta juga bertema kurang lebih seperti ini.
"Apa kamu menyukainya?" Bastian masih membututi Starla kemana kemana. Dia hanya berharap semoga Starla menyukai apartemen yang sudah tiga tahun terakhir dia huni. Dan ini adalah kali pertama dia membawa seorang gadis masuk dan nantinya akan tinggal bersama.
Starla mengangguk ringan. Meski pada nyatanya Starla tidak hanya puas, tapi dia juga sangat menyukainya. Lux 11 Berlin Mitte merupakan apartemen berkelas dengan harga luar biasa untuk setiap unitnya. Tidak sembarang orang bisa memilikinya. Jadi, tinggal di sini, dia merasa sepadan atas harga mahal yang harus di tebus untuk tinggal bersama Bastian.
Meski terkadang, ada sedikit sesal yang menghantui Starla karena sudah menerima tawaran Bastian untuk tinggal bersama. Tapi, sudahlah. Dia sudah di sini, jadi tidak ada alasan untuk mundur atau Bastian akan mencemoohnya sampai mati.
"Baguslah kalau kamu suka. Aku merasa jauh lebih tenang sekarang. Kamu tenang saja, aku tidak akan memintamu untuk membayar. Kamu bisa tinggal secara gratis di sini sampai kapanpun." Bastian menambahkan dengan wajah kusut yang sudah terganti dengan raut ceria.
Starla terkekeh. Dari awal, dia sudah tau kalau Bastian tidak sesederhana yang dia pikirkan. Pria itu.. tidak hanya kaya secara materi, namun juga kaya secara hati. Sangat murah hati.
Diamnya Starla membuat Bastian menganggapnya sebagai sebuah persetujuan. "Kamu istirahat saja, kamu bisa memakai kamar tidurku dulu. Kalau kamu tidak percaya padaku, kamu bisa mengunci pintunya dari dalam." Ucapnya sembari menunjuk pintu kamar tidurnya.
Starla mengangguk.
"Aku akan membereskan kamar tidur untukmu setelah orang orang itu mengantar kopermu kemari. Sekarang, kamu tidurlah! Ayo ayo, tidur!" Bastian mendorong Starla untuk masuk ke kamar tidurnya. Dan setelah Starla masuk, Bastian segera menutup pintunya.
Starla yang di perlakukan seperti ini merasa aneh. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan otak Bastian?" Kenapa setiap gerak gerik Bastian tidak seperti Bastian yang biasanya?
Starla memutar sedikit otaknya. Bastian dalam ingatan terakhirnya adalah pria yang mapan, terpandang, dingin, berwibawa, berkarisma, tatapan matanya tajam, dan selalu mengintimidasi orang. Sedangkan Bastian yang dia jumpai hari ini tampak sedikit konyol. Konyol atau manja ya? Entahlah.
Bastian memintanya untuk mengunci pintu, tapi Starla tidak melakukannya. Setelah di pikir lagi, sepertinya Bastian bukan tipe pria yang akan mencari kesempatan dalam kesempatan.
Dan, satu hal lagi, Bastian juga terkenal sebagai pria yang murah hati. Jadi, Bastian pasti tidak hanya baik terhadap dirinya, tapi juga baik kepada siapapun.
Jadi, Starla tidak akan merasa tidak enak atau canggung selama tinggal di sini, dia justru akan menganggap apartemen ini sebagai apartemennya dan yang terpenting adalah dia akan membuat dirinya nyaman dan kerasan selama tinggal di sini.
Starla berniat untuk tidur, tapi sebelum tidur, dia akan mandi lebih dulu. Dia masuk ke kamar mandi dan mulai mengisi bathup dengan air hangat. Meneteskan beberapa tetes sabun aroma terapi, dan segera berendam setelah air terisi penuh.
Kamar mandi pribadi Bastian benar benar nyaman. Starla merasa seperti sedang mandi di alam bebas. Ada bebatuan, ada tanaman hijau, dan itu sangat menyenangkan hati. Dia tidak menyangka pria seperti Bastian bisa terpikirkan untuk memiliki kamar mandi yang seperti ini.
Kalau boleh Starla mengatakannya, ini.. sangat imut.
20 menit sudah cukup membuat tubuh Starla rileks. Dia bangkit dan membuang air bekas berendamnya, lalu dia memakai handuk kimono tebal berwarna putih bersih yang sudah tersedia di sini.
Jelas itu adalah milik Bastian, bentuknya yang besar membuat tubuh Starla yang kecil dan ramping tenggelam seperti anak kucing yang menyedihkan.
Starla keluar dari kamar mandi dan mulai mengeringkan rambutnya, setelah di rasa cukup, dia segera berbaring di atas kasur ukuran besar, dan selanjutnya terbang ke alam mimpi.