PC ~ Bertemu Bastian

1621 Words
Berlin, Jerman. Starla menggeliat setelah penerbangannya berakhir. Dia merenggangkan tubuhnya yang kebas karena duduk terlalu lama di pesawat. Pantatnya terasa panas, dan dia juga berkeringat cukup banyak. Meski sebelumnya dia lumayan sering bepergian ke luar negri, tapi perjalanan untuk bekerja, berbeda dengan perjalanan untuk liburan. Apa lagi setelah menjalani waktu tempuh selama tujuh belas jam dengan satu kali transit, ternyata cukup membuatnya lelah. Tidak benar kalau dia berkata sangat menikmati perjalanan ini. Karena pada nyatanya tidak sedetikpun hal yang dia lalui terasa menyenangkan. Benar benar tidak ada yang menarik. Selama itu pula sebagian waktunya Starla habiskan untuk membaca buku, sedangkan waktu yang tersisa di pakainya untuk tidur. Starla menghembuskan nafas panjang saat melihat penampilannya sendiri. Bisa katakan sekarang adalah saat paling sempurna untuk membuat penampilan dirinya acak acakan dengan pakaian kusut serta rambut yang berantakan. Penampilan yang sangat mengerikan untuk ukuran gadis seanggun Starla. Sangat tidak pantas hingga membuatnya insecure bahkan sedikit membenci dirinya sendiri. Jika seperti ini terus, bisa di pastikan Starla akan melajang seumur hidup. Sementara sekarang saja, usianya tidak muda lagi. Dia semakin menua di setiap hari, dan saat itu tiba dia merasa ingin di bekukan saja agar tidak muncul keriput di sana sini. Kenapa Starla merasa kalau waktu 29 tahun terasa begitu singkat? Padahal Starla belum sempat menikmati kehidupan normal layaknya gadis pada umumnya, sementara dia dari usia dua puluhan justru harus mulai memikirkan cara mendapatkan uang dan memikirkan cara untuk mendapatkan masa depan yang baik. Semua ini apakah sepadan? Haish.. Starla mendesis. Sudahlah! Starla menyempatkan diri untuk mengenakan mantel bulu sebelum turun dari pesawat. Bukan karena udara di Berlin sangat dingin, tetapi karena dia tidak ingin Bastian melihat penampilannya yang menggelikan seperti ini. Alasannya tentu saja karena dia tidak ingin di ejek habis habisan oleh pria menyebalkan itu. Starla melangkah menuju pintu keluar Bandar Udara Internasional Otto Lilienthal, Berlin Tegel dengan mulut menganga dan mata terpana. Bukan karena pemandangan di sini sangat indah sampai dia terpesona, tetapi karena dia melihat sosok yang dia yakini pasti sudah gila sekarang. "Star!!" Suara itu.. lambaian tangan itu.. sangat berlebihan. Membuat Starla terpaksa menutup wajah karena malu. Menjadi pusat perhatian banyak orang, itu benar benar bukan yang dia inginkan saat ini. Dulu.. saat dia menjadi seorang model, mungkin iya. Yang dia cari saat itu jelas ketenaran, nama besar, dan perhatian dari orang lain. Tapi, sejak dua tahun belakangan Starla resign dari dunia permodelan, dan memasuki dunia Sekretaris, dia tidak ingin lagi menjadi sosok yang mencolok di antara orang lain. Atau kalau bisa, dia justru ingin menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat. "Hai." Starla menyapa Bastian dengan senyum canggung. Meskipun tidak menyukai Bastian, tetapi sebagai formalitas, dia merasa perlu untuk membalas lambaian tangan pria itu sebagai bentuk basa basi dari seorang teman yang sudah lama tidak bertemu. Di lihat dari sini, sebenarnya Bastian sangat tampan. Tinggi badan cukup, bentuk badan juga okey, pakaian merk ternama. Benar benar pria yang nyaris sempurna. Mengenakan kemeja hitam beraksen emas pada kerahnya, dengan lengan yang di tekuk sampai siku dan dua kancing atas tidak di kaitkan, terdapat jam tangan model baru merk ternama yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Kalau tidak salah jam tangan yang Bastian kenakan bahkan belum rilis di pasaran. Mengenakan celana panjang warna hitam yang sangat pas, dan sepatu pentofel hitam mengkilap, di tambah potongan rambut model brushed on top memancarkan aura maskulin khas Tuan Muda dari keluarga kaya yang mendominasi. "Sini! Biar ku bantu." Bastian merebut dua koper besar bawaan Starla dengan bibir yang mengembang. "Ini sangat berat. Gadis secantik kamu tidak pantas melakukan pekerjaan seperti ini." Seperti biasa, ucapan Bastian selalu mengandung gula yang bisa membuat gadis gadis melayang. Tapi, kata kata manis itu masih saja tidak berlaku untuk spesies gadis yang satu ini. "Tentu saja. Bagus kalau kamu menyadarinya." Starla memberikan kopernya kepada Bastian begitu saja tanpa ragu, kemudian dia berlalu dan memasuki mobil pria itu meski si pemilik mobil belum mempersilahkan dia untuk masuk. Bastian hanya menggelengkan kepala melihat peragai Starla yang masih sama seperti enam bulan lalu. Tidak berubah sama sekali, masih Starla yang sama. Egois, keras kepala, manja, materialistis, seenaknya sendiri, tetapi.. hal itu pula yang membuat Bastian terpesona dan jatuh akan jerat Starla yang sulit di dapatkan. Sebagai seorang pria, dia juga seringkali bosan saat bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah, dan saat mendapat tanggapan seperti ini dari Starla, Bastian justru menganggap ini sebagai sebuah tantangan. Semakin sulit, akan semakin menantang. Melihat Starla sekilas, sepertinya kehidupan gadis itu cukup baik. Starla semakin tampak cantik dan dewasa, anggun serta mampu menarik seluruh perhatiannya. Seakan dunia seorang Bastian hanya tentang Starla, hanya seputar Starla dan hanya untuk Starla. Penampilan yang sempurna untuk seorang perempuan terletak pada gadis itu. Tubuh tinggi semampai, lekuk yang seksi menggoda, wajah yang cantik dengan riasan sederhana. Mirip penampilan seseorang yang ingin mengajak berbuat dosa. Starla seperti sedang melambai lambai hingga membuat sesuatu di balik celananya memanas. Tapi itu hanya imajinasi liar Bastian saja. Karena pada nyatanya.. Starla sudah duduk tenang di dalam mobil tanpa melakukan apapun. Tanpa kerlingan mata yang manja kepadanya, tanpa lambaian yang menggoda, apalagi ciuman maut yang membuat Bastian mabuk kepayang. Starla benar benar berbeda dengan gadis kebanyakan yang langsung naik ke atas ranjang dan melakukan segala hal untuk membuat kejantanannya terpuaskan hasratnya. Lain halnya dengan Starla. Starla justru mati matian menghindari dirinya. Di tambah setelah Starla mengetahui kalau dia adalah bagian penting dari dunia, gadis itu justru mundur secara terang terangan dan mengatakan tidak bisa berteman dengan orang seperti dirinya. Sungguh ironi. Untuk pertama kalinya Bastian patah hati dengan sosok berjenis betina. Melihat Bastian hanya diam tidak bergerak seperti seorang i***t, Starla menurunkan kaca jendela mobilnya. "Hei! Bangun kutu busuk! Apa anda belum selesai bermimpi! Ayolah, boy, aku lelah. Aku ingin tidur." Mendengar suara Starla yang sangat jernih, halus dan lembut, Bastian seperti tertarik oleh tiga kata terakhir yang Starla ucapkan. "Aku ingin tidur." Bastian menirukan kalimat itu di dalam hati. Apakah ini sebuah kode untuknya? Apakah Starla sedang mengajaknya tidur berdua? Membayangkan ini, Bastian tidak bisa menahan senyum. Bastian segera menyeret koper Starla, lalu memasukannya ke dalam bagasi mobil. Lalu dia turut masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya membelah jalanan Berlin. Musim panas di sini masih pada taraf normal, tidak benar benar panas karena sekali dua kali masih akan turun hujan. "Bagaimana perjalananmu?" Suara Bastian memecahkan kesunyian di dalam mobil. Mengawasi penampilan Starla yang menggunakan mantel bulu pada musim panas, membuat sudut bibirnya terangkat. "Apa sangat menyenangkan sampai kamu kedinginan? Apa kamu membutuhkan pelukanku untuk menghangatkanmu?" "Aish.." Starla mendesis, mencubit paha Bastian hingga pria itu meminta ampun untuk di lepaskan. "Ini pertemuan pertama kita, jadi.. kamu tidak di izinkan untuk menggodaku." Bastian mengerutkan kening. "Benarkah?" Starla mengangguk. "Tentu." Ucapnya tersenyum sembari memperhatikan pria itu lekat. Enam bulan tidak bertemu, nyatanya Bastian masih sama. Tetap humoris dan suka menggoda. Untuk sesaat, Starla terpana. Cukup mengagumi penampilan pria itu. Namun, saat mengingat sifat playboy seorang Bastian yang keterlaluan, membuatnya memilih untuk tidak melanjutkan rasa kagumnya dan menggantikannya dengan rasa antisipasi tinggi. "Tapi, bagaimana ini? Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu yang satu ini. Kamu ada di sini, di sampingku, apa menurutmu aku bisa mengacuhkanmu? Setidaknya, aku ingin menikmati keindahan ini untuk diriku sendiri." Bastian menoleh. "Bagaimana? Boleh, ya? Tolong jangan bilang tidak, aku tidak sanggup." Bastian menambahkan dengan satu tangan menutupi telinga, dia tidak ingin mendengar Starla menolak perhatiannya lagi. "Dari dulu, kamu memang tidak pernah mendengarkanku. Kamu selalu berlaku sesuka hatimu tanpa peduli aku menyetujuinya atau tidak. Apa kamu sungguh tidak menyadari karakteristikmu yang seperti ini?" Starla menjawab santai. "Menyebalkan." Mendengar ini, wajah panik Bastian berubah menjadi ekspresi yang mengandung banyak kepuasan. "Bukannya aku tidak menyadarinya, aku hanya enggan untuk memikirkannya. Kamu kan tau sendiri kalau sejak pertemuan kita di Malibu enam bulan silam, sebagian waktu ku habiskan untuk bekerja, dan sebagian waktu yang lain aku pakai untuk memikirkan dirimu. Jadi, aku tidak pernah memiliki waktu untuk memikirkan diriku sendiri." Starla mendecih. "Kamu ini.. masih saja tidak tau malu." Siapa juga yang akan mempercayai ucapan rayuan seperti ini? Hidup dalam lingkup dunia malam yang penuh hingar bingar, rayuan seperti ini terdengar sangat biasa. Bahkan, seorang pengunjung bar, akan menggoda pelayan pengantar minuman dengan rayuan kampungan semacam ini juga. "Tapi.. kamu menyukainya, kan? Jujur saja?" Bastian bukannya tersinggung, justru semakin gencar menggoda Starla. Starla mengalihkan pandangan keluar jendela. "Siapa bilang? Aku rasa, kamu berpikir terlalu tinggi tentang dirimu sendiri dan ku pikir kamu terlalu banyak berpikir tentang urusanku." "Bisakah kamu tidak berkata seperti itu? Kamu sudah melukai hatiku." Bastian memegang dadanya yang berdebar kencang. Da-danya memang selalu seperti ini, berdebar kencang dan tak terkendali setiap kali melihat sosok cantik Starla. "Omong kosong." Starla membuang pandangannya ke luar jendela. Dia lelah, dan tidak ingin mendengar omong kosong Bastian lagi yang terdengar samar di telinganya. Starla fokus mengamati jalanan Berlin yang lengang dan cukup sunyi. Kendaraan di sini juga tidak seramai di Jakarta dengan lalu lintas semrawut. Di Berlin, semua tertata rapi dan enak di pandang. Apalagi, bisa menumpang mobil Porsche keluaran terbaru berwarna biru metalik yang harganya fantastis, dan di kemudikan oleh seorang pria tampan, benar benar menjadi pengalaman baru yang Starla pikir tidak akan bisa merasakannya. Perjalanan menjadi kian senyap saat tidak adanya perbincangan di antara mereka. Hanya tangan Bastian yang sesekali merayap dan membelai paha Starla penuh sayang. "Itu sangat berbahaya saat mengemudi." Ucap Starla kesal. Dia mengumpat berkali kali kepada pria yang selalu saja meletakan tangan besar itu di pahanya. Jujur, Starla merasa sangat terganggu, dan ingin mencekik pria itu sampai mati agar tidak sembarangan lagi menyentuh tubuhnya yang berharga. Bastian hanya tersenyum dan tidak menghiraukan penolakan Starla. Jangan panggil dia Bastian kalau dia mendengarkan kemauan gadis ini. Dia sama sekali tidak terpengaruh. Dia menyukai Starla, jadi.. apa salahnya kalau dia menyentuh pujaan hatinya? Lagi pula.. itu hanya paha, bukan p******a. Tapi, kenapa ekspresi Starla harus berlebihan begitu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD