Siang harinya.
Casey meletakan beberapa piring berisi hidangan laut di atas meja. "Kamu tenang saja, Aero adalah pria yang baik." Sudah berkali kali Casey mengatakan kalau Kakak Iparnya adalah pria terhormat, beradab, dan berwibawa. Namun, saat dia di sajikan raut khawatir dari Starla, sepertinya Starla tidak merasa puas dengan jawaban darinya.
Starla menaikan sebelah alisnya, "Aero??" Starla bertanya tanya.. siapa Aero??
Casey mendudukkan diri pada salah satu kursi kosong di samping Starla. "Kakak Iparku. Bos pusat RC Group Jerman, Aero Lucian Reynand."
"Oh." Starla membulatkan bibir. Baru sekarang dia tau kalau nama calon bosnya adalah Aero. Lebih tepatnya adalah Aero Lucian Reynand.
Berdasarkan namanya, seharusnya ucapan Istri Tuan Arka adalah benar. Starla hanya berharap semoga saja Tuan Aero benar benar pria yang beradab dan tidak suka menyulitkan orang lain.
"Aero adalah orang yang sibuk dan tepat waktu. Perusahaan Jakarta dan Manila adalah anak dari perusahaan Jerman. Masing masing anak perusahaan di pimpin oleh kedua adiknya, yaitu Arka dan Aruna. Jadi, kalaupun Aero sedikit keras, kamu harus mengerti dan percaya kalau dia berlaku seperti itu karena tanggung jawab yang dia tanggung amat sangat besar." Casey mencoba menjelaskan sedikit tentang kepribadian Aero yang sedikit keras dan gila kerja.
Starla menganggukan kepala. Meski dia sering mendengar nama Aruna dan Aero, juga sering membaca nama mereka berdua dalam berkas Tuan Arka, tetapi dia tidak benar benar pernah bertemu dengan mereka. Dia hanya sebatas tau, tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertatap muka.
"Kalau boleh saya tau, kenapa Aero tiba tiba mencari sekretaris baru?" Starla sedikit penasaran dengan hal ini. Baginya, itu terlalu mendadak dan dia memerlukan alasan tepat yang realistis agar dia mempunyai keyakinan penuh tanpa sedikitpun keraguan.
"Sebenarnya.. Sekretaris Aero akan kembali ke negara asalnya setelah dua tahun menetap di Jerman." Casey menjeda sebentar kalimatnya. Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali melanjutkan. "Satu hal yang harus kamu tau.. setelah kamu pergi, kami sekeluarga juga akan pindah ke Manila." Tambahnya dengan suara santai.
Casey sendiri tidak terkejut dengan kepulangan Aruna ke Indonesia. Dia sudah tau cepat atau perlahan saat Aruna kembali, maka saat itu juga tugas Arka untuk memimpin perusahaan Jakarta juga sudah berakhir.
Starla menatap Nyonya Casey lekat. Tanpa sadar, perkataan Nyonya Casey telah membuat air matanya hampir tumpah. Dia terharu sampai titik dimana dia ingin menangis.
Starla pikir, hanya dirinya yang akan pergi, tapi.. dia tidak menyangka kalau Tuan Arka dan keluarga kecilnya juga akan bermigrasi ke negara lain setelah kepergiannya. Meski Manila, Philippines, tidak sejauh Jerman, tapi tetap saja itu sudah beda negara, beda presiden, beda iklim, beda suku, beda bahasa, beda kebudayaan, dan beda dalam banyak hal.
Untuk pertama kalinya.. antara bahagia, sedih, dan haru.. Starla tidak bisa mengungkapkannya. Semua rasa seakan beradu menjadi satu di dalam hati.
Starla bukanlah tipe gadis cengeng yang akan menangis untuk sebuah perpisahan. Bukan juga tipe gadis yang akan merengek menangis manja, dia adalah gadis yang kuat yang bahkan akan bersikap biasa saja saat hatinya terluka.
Tapi, untuk satu hal ini, Starla tidak bisa menutupi rasa sedihnya saat harus berpisah dengan Tuan Arka sekeluarga, karena untuk pertama kalinya.. Tuan Arka dan Nyonya Casey menyadarkan dirinya apa arti keluarga yang sebenarnya.
Casey memeluk Starla yang tampak sedih setelah mendengar penuturan darinya. Dia mengusap punggung gadis itu secara perlahan. "Tidak apa apa, tidak ada yang perlu di tangisi. Kita adalah keluarga, suatu saat kita pasti bisa bertemu kembali."
Starla menundukan kepala. Ucapan Nyonya Casey yang seperti ini, justru membuat Starla tanpa sadar semakin merasa sedih. Starla menangis dalam diam, tangisannya juga sangat bersih, hanya beberapa tetes dan tidak mengalir di pipi. Air mata itu meluncur dan langsung jatuh pada rok span yang pakaiannya.
Mencoba bersikap kuat, Starla menaikan wajahnya, lalu membalas pelukan Nyonya Casey erat. Keluarga Reynand dalam pandangannya adalah keluarga kaya yang di dalamnya berisi orang orang baik. Meski dia sudah tidak bisa lagi mendampingi Tuan Arka mengurus masalah pekerjaan, tapi dia lega karena masih bisa di pekerjakan oleh anggota keluarga Reynand yang lain. Setidaknya, masih berada dalam satu naungan, itu masih sedikit lebih baik dari pada harus mengikuti bos dari keluarga lain.
Starla mencoba menghibur diri sendiri dengan kalimat kalimat penyemangat seperti itu. Hanya untuk keluarga Reynand, Iya.. demi keluarga Reynand.
------•
--•
Apartemen.
Starla kembali ke apartemennya setelah menghadiri undangan makan siang dari Istri Tuan Arka. Dia melangkahkan kaki dengan gontai memasuki unit apartemen miliknya.
Apartemen mewah yang baru di belinya satu bulan yang lalu, bahkan mungkin saja perjanjian jual beli dan pemindahan nama atas dirinya belum kering tintanya, tapi entah kenapa dia harus kembali berpisah dengan tempat yang belakangan memberikan rasa aman dan nyaman yang luar biasa.
Starla memasukan kartu, lalu pintu terbuka dan lampu menyala terang. Dia masuk dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, lalu menyembunyikan wajahnya pada bantal.
Ada perasaan berat untuk meninggalkan. Namun, Starla tidak memiliki pilihan. Dia hanya perlu bertahan seperti biasanya. Seperti hari harinya saat harus melindungi jiwa dan menguatkan hati di setiap detiknya kala mendapat masalah. Dia hanya perlu menyelesaikan masalah dengan bersih tanpa menimbulkan permasalahan lain yang bisa saja muncul. Bersikap layaknya profesional dalam dunia sekretariat, dan selalu menjadi yang terbaik. Sudah, itu saja.
Setelah beberapa saat, Starla mengambil hp, lalu menekan secara cepat selama beberapa detik. Setelah di baca ulang dan kata perkataannya sesuai, dia meletakan kembali hpnya di atas meja, menunggu jawaban dari siapapun.
Ting.
Tiga puluh detik kemudian, sebuah direct message masuk ke instagramnya. Starla melirik sekilas tanpa berniat mengambilnya, apalagi setelah tau kalau itu adalah Bastian, dia sama sekali tidak bernafsu untuk melihat apalagi membalasnya.
Ting.
Sebuah DM kembali masuk.
Starla mengerutkan kening, masih bertanya tanya. Tapi karena sedikit penasaran, dia memutuskan untuk membaca pesan yang Bastian kirim sampai dua kali.
Bastian : "Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di apartemenku. Kebetulan.. saat ini aku berada di jerman."
Cuitan pria itu membuat Starla menaikan sebelah alisnya. Dia lantas membetulkan posisi duduknya menjadi tegak. Dia tidak menyangka kalau Bastian menanggapi captionnya di i********: dengan serius. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah Bastian mengirimkan pesan yang sama sampai dua kali.
Starla : "Apa apaan? Aku itu tidak sedang main main."
Starla menambahkan emoji mendengus sebagai pelengkap dan sebagai pertanda kalau dia sudah lelah di permainkan oleh sosok bernama Bastian ini.
Ting.
Bastian : "Aku juga serius. Aku tidak pernah bercanda dengan apa yang aku katakan."
Sejenak hening. Tangan Starla yang akan mengetik, tertahan di udara. Dia sedikit ragu harus membalas apa. Dia tau kalau Bastian adalah seorang humoris yang murah hati, dan dia yakin kalau Bastian juga tidak akan main main dengan perkataannya.
Masih dengan ekspresi datar, Starla kembali membalas pesan Bastian setelah melalui serangkaian pemikiran panjang yang menghabiskan waktu hingga beberapa menit.
Starla : "Baiklah, aku akan berkemas sekarang. Nanti malam waktu Indonesia, aku akan berangkat ke Jerman. Kamu bisa memberi tau lokasi Apartemenmu setelah aku tiba di sana."
Ting.
Bastian : "Tidak perlu repot. Aku akan menjemputmu di Bandara tujuh belas jam sejak penerbanganmu malam nanti. Aku tidak sabar menunggu kedatanganmu ke Jerman, sungguh aku sangat menantikannya."
Starla terdiam. Membaca pesan Bastian yang terakhir ini tiba tiba membuat perutnya mual. Dia melemparkan hpnya ke sofa, sama sekali tidak ada niat untuk membalasnya.
Starla hanya menghela nafas panjang. Setidaknya.. dia tidak akan pusing memikirkan tempat tinggal di Jerman untuk sementara waktu. Dan dengan begitu, dia tidak perlu menjual mobil ataupun apartemennya di sini untuk menyewa apartemen di Jerman. Itu adalah poin utama dan kabar baiknya.
Starla beranjak dan mulai mengemas barang barangnya. Meski tidak banyak barang yang akan di bawa, namun.. dia tidak bisa santai karena dia akan berangkat ke ER-O-PA, bukan Jepang ataupun Korea. Jadi, perbedaan iklimnya sedikit membuat Starla resah.
Beberapa saat kemudian, Starla berhasil mengemas pakaian dan semua keperluan dalam dua koper besar. Setelah di rasa cukup, dia lantas meraih kunci mobilnya, lalu melangkah keluar dari apartemen sembari menghubungi seseorang.
Setelah seseorang di balik panggilan menjawab 'iya', Starla tersenyum tipis. Dia akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum benar benar meninggalkan tanah air untuk waktu yang tidak di tentukan.
-------•
--•
Pemakaman.
Mobil berhenti sudah cukup lama, tapi Starla masih duduk dengan tenang di balik kemudi. Tangannya masih memegang stir. Jari telunjuknya menekuk dan mengetuk stir sampai beberapa kali.
"Turun!"
Suara seorang wanita di sampingnya, membuat keraguan Starla berkurang lima puluh persen. Dengan wajah murung, dia menganggukan kepala, lalu membuka pintu mobil dan segera turun
Starla mengedarkan pandangan sebentar. Tidak ada seorangpun yang nampak. Hanya ada dirinya yang tampak menyusuri jalanan dengan gundukan tanah yang terdapat di sebelah kanan dan kiri jalan.
Tempat ini begitu sunyi dan senyap. Benar benar tidak ada tanda tanda kehidupan lagi. Daun daun bahkan berguguran di tiup angin. Berterbangan hingga tanpa sadar mendarat di depannya dan terinjak olehnya.
Tempat ini merupakan gambaran nyata untuk kehidupan di dunia lain. Kehidupan kekal abadi di bawah timbunan tanah di samping Tuhan. Yang di tinggalkan dan yang meninggalkan tidak hanya terpisah oleh ruang dan waktu, tapi juga di pisahkan oleh jarak dan dimensi yang dimana mereka tidak akan bisa bertemu lagi. Hanya doa doa yang di panjatkan dari orang yang masih hidup yang mampu mengirim seseorang ke singgasana Surga.
Membawa seikat bunga mawar, Starla berhenti di depan sebuah makam yang tidak terawat. Ada beberapa rumput liar yang tumbuh di sekelilingnya. Juga beberapa daun kering yang luruh di atasnya.
Daun daun itu berasal dari pohon rindang yang berdiri tegak di antara beberapa makam. Seakan sengaja di tanam untuk menutupi panas dan hujan agar tidak mengenai deretan makam di bawahnya, agar tidak mengganggu orang orang yang berbaring dengan mimpi indah di bawahnya.
Starla berjongkok. Mengusap batu nisan dengan tangan yang bergetar. Beberapa tetes air matanya jatuh saat mengingat beliau semasa masih hidup di dunia. Kebaikannya, kesabarannya, dan semua tentang pria ini selalu sempurna dalam pandangan Starla.
"Aku.. aku datang lagi, Pa." Starla berucap pelan sembari meletakan seikat bunga mawar yang di bawanya di atas pusara. "Apa Mama tidak datang lagi?" Starla menambahkan seakan Papa bisa mendengar suaranya.
Sepertinya begitu.. Starla yakin kalau tidak akan ada orang yang datang mengunjungi gundukan tanah ini selain dirinya. Tentu saja, lagi pula.. siapa yang akan datang jika bukan dirinya? Bagaimanapun, satu satunya orang yang peduli terhadap Papa dari dulu sampai sekarang memang hanya dirinya seorang, tidak ada yang lain.
Mama tidak mungkin datang. Karena Mama adalah sosok yang paling bahagia saat melihat Papa tiada. Jadi.. jangan harap Mama akan datang berkunjung dan membersihkan tempat dimana Papa terkubur di bawah timbunan tanah.
"Tak apa. Kita tidak pernah membutuhkan Mama. Kita selalu hidup bahagia meski hanya berdua." Starla menjawab pertanyaannya sendiri sembari mencabut rumput rumput liar dan mengambil daun daun kering di sekitar untuk membuat makam Papa kembali bersih.
"Aku akan bekerja di luar negri mulai dari sekarang." Starla diam sejenak. Dia sedikit mendongak, mencoba menahan air mata yang hampir luruh. "Tapi.. ini cuma sementara. Aku akan segera kembali. Semoga.. suatu saat bukan cuma aku yang datang mengunjungi Papa. Aku akan membawa orang lain untuk membersihkan tempat tinggal Papa."
Selesai membersihkan makam dan berdoa, Starla meninggalkan area pemakaman dengan hati yang kusut. Dia membuka pintu samping kemudi, lalu memasuki mobil kembali dengan wajah tertekuk lesu.
"Hei.. kenapa wajahmu seperti itu? Jelek sekali."
Starla menoleh ke sebelahnya. Tampak seorang gadis cantik sudah duduk di balik kemudi. Starla menaikan sebelah alisnya, lalu menatap Beatrice dengan tatapan yang sulit di artikan.
Beatrice adalah teman kuliah yang merambah menjadi manager sewaktu Starla masih menjadi model. Seseorang yang awalnya jauh namun akhirnya berteman baik dengannya sampai sekarang karena di kenalkan oleh pihak agensi.
"Aku tidak apa, aku cuma sedikit sedih." Starla tidak tau harus berkata apa. Mulutnya terlalu rapat untuk di buka, lidahnya kelu, dan tenggorokannya tersendat. Seperti ada banyak kata yang ingin dia ucapkan, namun semuanya tertahan, tidak ada satupun kata yang bisa keluar.
"Tak apa." Beatrice menepuk pelan bahu Starla. "Semua akan baik baik saja. Aku akan menggantikan mu untuk mengunjungi Papa selama kamu tidak ada. Percayalah!"
Sejenak diam. Namun akhirnya Starla mengulas senyum. "Tentu saja. Aku akan sangat mengandalkanmu."
"Baiklah, kalau begitu, buang tampang jelekmu. Aku akan mengantarmu pulang. Mengambil kopermu, lalu mengantarmu ke Bandara." Beatrice mulai melajukan mobilnya menuju ke apartemen Starla di kawasan segitiga emas Jakarta.
Starla mengangguk. "Baiklah. Jaga mobilku baik baik saat aku tidak ada. Ingat.. jangan di jual apapun yang terjadi."
Mendengar perkataan Starla, Beatrice tersenyum culas. "Di jual atau tidak, aku tidak berani menjamin. Tentu saja mobilnya akan ku jual kalau aku membutuhkan uang untuk berendam s**u di tempat spa. Jadi, berdoa saja semoga aku tidak kehabisan uang untuk beberapa tahun ke depan."
"Haish.." Starla mendesis. "Berhenti menggunakan alasan berendam air s**u untuk menjual mobilku. Kamu bisa mengatakan alasan yang lain, misalnya untuk modal pernikahan, atau membuat bayi tabung. Kalau menggunakan alasan seperti itu, rasanya aku akan percaya tanpa syarat."
Beatrice mengumpat. "Dasar gila! Siapa juga yang mau menikah apalagi membuat bayi tabung?" Beatrice menggelengkan kepala tidak berdaya. "Kamu benar benar gangguan jiwa."