Delapan tahun kemudian.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun berganti windu.
Tanpa terasa, satu windu sudah terlewati dengan banyak hal yang terjadi. Merupakan waktu yang panjang dengan kehidupan datar yang menemani.
Hari hari seorang Starla sama sekali tidak ada yang spesial. Semua masih sama. Starla masih betah dengan kesendiriannya, masih bertahan dan berjuang seorang diri, masih merangkak kecil menggunakan otaknya, masih hidup dengan apa adanya, dan masih sering berkata Life has been arranged by God.
Hanya kedewasaan dan ketenangan yang mengantarkan Starla untuk semakin kuat di setiap harinya, skincare yang membuat wajahnya semakin bersinar, serta gym dan olah raga yang membuat tubuhnya semakin indah terbentuk sempurna. Tapi, itu tetap tidak ada gunanya, karena bekerja di sebuah perusahaan multi nasional sekelas RC Group, hanya bermodalkan wajah cantik dan penampilan menarik tidaklah cukup.
Bos tidak akan melihat itu. Karena yang di nilai bukanlah seberapa cantik anda, atau seberapa menarik penampilan anda. Di sini, semua itu tidak berlaku. Yang di gunakan sebagai pedoman dasar para pemimpin di sini merekrut karyawan adalah attitude, cara kerja ekstrim, keterampilan, semangat, pola pikir cepat, kerja kilat, kemampuan dan profesionalisme.
Hampir setiap hari, Starla selalu tiba satu jam lebih cepat dari biasanya. Karena Bos Muda selalu meminta dokumen begitu tiba di perusahaan, alhasil dia harus berangkat lebih cepat untuk meninjau dan merangkum berkas berkas yang masuk sebelum sampai di tangan bos. Jadi, mau tidak mau dia harus tiba lebih awal atau konsekuensinya akan sangat mengerikan.
Starla menginjakan kaki di loby perusahaan. Tersenyum lembut ke arah receptionis dan di balas dengan sapaan selamat pagi. Starla menganggukan kepala lalu melanjutkan langkah menaiki lift khusus eksekutif menuju ke lantai sebelas. Lantai dimana dia menghabiskan waktu sebagai sekretaris untuk mendampingi seorang CEO Muda yang menduduki peringkat atas dengan penghasilan tertinggi dua tahun berturut turut.
Starla menundukan kepala, raut wajahnya tampak tidak begitu baik. Dia melihat ujung sepatu bertumit lancip yang di pakainya, lalu mulai memikirkan tentang banyak hal.
Tidak perlu di jabarkan lebih rinci, karena satu satunya orang yang selalu berhasil Starla pikirkan adalah orang yang paling dia benci.
Kembali ke delapan tahun yang lalu, semenjak hari itu.. Starla tidak pernah lagi berjumpa dengan Mama. Jangankan berjumpa, bertukar kabarpun juga tidak pernah. Dia seakan menutup diri dari seseorang yang selalu saja berlaku curang dengan kehidupan orang lain.
Terserah, Starla tidak ingin mengurusi kehidupan orang lain saat kehidupan pribadinya masih berantakan. Masih kacau meski sudah di tata berkali kali.
Terlebih, Starla sudah terlalu banyak menelan kekecewaan hingga dia enggan untuk sekedar mencari tau kehidupan baru Mama. Mau seperti apapun hasilnya, entah itu hasil yang baik atau hasil yang buruk, Mama sendiri yang sudah menaburnya. Jadi, entah hasilnya adalah kebahagiaan atau kekecewaan, Mama harus merasakan sendiri akibatnya.
Meski Starla menyadari mau bagaimanapun wanita itu tetaplah Ibu kandungnya, tapi siapa peduli? Tidak peduli dia akan di kutuk menjadi batu karena durhaka atau apapun. Bagi dirinya, itu sama sekali tidak penting. Siapa yang durhaka lebih dulu, Tuhan tau dengan sangat jelas.
Starla menghela nafas panjang. Lalu menaikan wajahnya secara perlahan. Hanya ada dirinya di dalam lift. Dia menoleh ke sisi kiri, memperhatikan lekat penampilannya sekali lagi melalui cermin lebar yang tersedia. Beberapa detik kemudian, dia mengangguk puas setelah tidak menemukan kesalahan apapun.
Memakai kemeja putih sederhana dengan rok span satu inci di atas lutut berwarna hitam, blazer berwarna hitam yang dua kancingnya dia kaitkan, rambut yang di ikat tinggi ke belakang, kacamata hitam berbingkai emas yang di pakai, di tambah sepatu bertumit lancip setinggi lima inci semakin membuat penampilan Starla smart dan profesional.
Starla yang pada dasarnya memiliki wajah yang cantik, riasan sederhana dan tidak berlebihan sudah lebih dari cukup. Dia tidak perlu memakai foundation, hanya perlu memakai bedak tipis tipis, sedikit concealer untuk menutupi kantung matanya, dan sedikit pewarna bibir warna natural. Selebihnya, dia tidak memakai apapun lagi, termasuk parfum.
Kenapa Starla tidak memakai parfum? Alasannya sebenarnya cukup aneh, yaitu hanya karena Bos tidak menyukai bau parfum yang tidak sesuai dengan panca inderanya, dari pada Starla melakukan kesalahan, dia lebih baik mencari zona amannya terlebih dulu dengan menyingkirkan semua botol parfumnya untuk kemudian dia memakainya saat melalukan sesuatu yang tidak menyangkut masalah pekerjaan.
Sesimpel itu!
Ting.
Lamunan Starla berakhir setelah lift terbuka di lantai sebelas. Di dalam lantai 11 yang begitu luas, hanya berisi ruangan khusus CEO, ruangan khusus untuk menerima tamu penting, ruang istirahat CEO, kamar mandi, dan juga pantry.
Starla melepas mantel lalu meletakannya pada sandaran kursi. Kemudian meletakan tasnya di atas meja. Baru setelahnya dia mendudukkan diri di balik meja berlabel sekretaris. Tidak lupa dia melepas kacamata hitamnya dan di ganti dengan kacamata bening yang dia ambil dari dalam laci. Lalu dia mengusap mejanya sebentar, sebagai ritual rutin semenjak dia menempati meja dan kursi ini.
Sudah dua tahun dia bekerja sebagai Sekretaris profesional di RC Group. Perusahaan multi nasional yang bergerak pada bidang konstruksi.
Mendampingi seorang pengusaha muda, Tuan Arka Reynand, adalah bos yang baik dan loyal. Sayangnya, pria itu sedikit keras kepala, sangat tegas dan selalu bergerak cepat. Membuat Starla mau tidak mau harus mengikuti pola pikir dan gerak cepat yang selalu bosnya lakukan. But, it's okey. Biarpun begitu, Starla masih bisa menerima cara kerja si Bos yang menurutnya belum keterlaluan.
Siapa sangka, karena itu pula.. karena cara kerja Starla yang baik dan memuaskan, ternyata menjadi berkah tersendiri untuknya. Dalam waktu dua tahun, dia bisa mendapat kenaikan gaji dan banyak tunjangan dari perusahaan. Semua itu karena dia tidak pernah membantah perintah ajaib Tuan Arka, bekerja dengan sungguh sungguh, tepat waktu, disiplin, berpikir dan bertindak cepat. Namun, dari keseluruhan yang terpenting adalah.. menjaga rahasia si bos.
Tidak membocorkan apapun tentang privacy bos dan data penting perusahaan, atau.. kalau sampai melanggar akibatnya adalah.. di penjara dan di haruskan membayar denda 15 kali gaji. Dua puluh lima juta di kali 15, maka hasilnya adalah.. 350 juta.
Waow.. luar biasa. Tuan Arka benar benar hebat dalam membungkam mulut para pegawainya. Tidak heran.. gosip miring tentang RC Group jarang terdengar sampai keluar perusahaan. Ternyata di balik gaji yang tinggi, tersimpan konsekuensi yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam hitungan detik.
Sangat mengerikan.
Meski usia Tuan Arka terbilang cukup muda, yaitu sekitar empat tahun lebih muda dari dirinya, namun, Starla sangat menyukai karakter Tuan Arka. Dingin di permukaan, namun sangat baik dan perhatian terhadap keluarganya, bijaksana, bertanggung jawab, setia dan masih banyak lagi.
Starla tersenyum tanpa sadar, dan itu tertangkap penglihatan Arka yang baru saja datang.
"Ada yang lucu?"
Starla mendongak. Melihat wajah tampan Tuan Arka yang sudah berdiri di hadapannya, membuat senyumnya kian mengembang. Dia refleks berdiri, membungkukan sedikit badannya.
"Selamat pagi, Tuan. Tidak ada yang lucu sama sekali." Jawab Starla kemudian. Berusaha menutupi wajahnya yang memerah karena tersenyum tadi.
Arka mengangguk. "Sejauh mana persiapannya?" Arka bertanya dengan wajah serius, suara dingin, ekspresi datar, dan raut mengintimidasi yang selalu dia tunjukkan saat berkomunikasi dengan orang lain.
"95%." Starla menjawab yakin. "Semua sudah siap. Hanya tinggal menunggu jadwal penerbangan ke Jerman nanti malam." Tambahnya kemudian. Dia tau kalau keputusan yang Tuan Arka ambil selalu yang terbaik. Juga, entah kenapa bosnya terus saja memantau perkembangan untuk pemindahan tugas kerjanya.
Starla masih beranggapan kalau kepindahan tugas kerjanya ke Jerman terlalu mendadak. Atau bisa di katakan sangat terburu buru. Sulit di percaya kalau Tuan Arka sungguh sungguh tega mengirim dirinya sampai ke tempat jauh, bahkan sampai ke Benua biru, Eropa.
"Kamu tenang saja, ini akan baik untuk perkembangan karirmu ke depannya. Bagaimanapun, Pemilik RC Jerman adalah Kakakku, jadi dia tidak akan membawamu dalam kesulitan." Arka seakan tau kekhawatiran Starla melalui ekspresi wajahnya. Meski Aero adalah orang yang keras, tapi orang itu tidak pernah sekalipun menyakiti perempuan.
Starla menganggukan kepala. Kalau Tuan Arka sudah berkata demikian, berkata kalau ini akan baik untuk karirnya, maka Starla hanya bisa mengiyakan, tidak bisa menolak meski sebenarnya dia tidak ingin pergi. Karena pada nyatanya, bukan hanya uang yang dia kejar, namun juga kenyamanan.
Apa lagi, saat Tuan Arka dan istrinya memperlakukan dirinya dengan baik dan menganggapnya keluarga, Starla sudah berjanji akan mengikuti semua permintaan bosnya. Tidak terkecuali permintaan yang satu ini.
Sebuah permintaan yang membuat dadanya sesak. Yaitu.. di paksa meninggalkan perusahaan. Meninggalkan tanah air, juga meninggalkan apartemen dan mobil yang sudah di bayarnya lunas sebulan yang lalu.
Sekarang Starla sangat miskin untuk membeli sesuatu setelah tabungannya terkuras habis untuk membayar satu unit apartemen di kawasan elit Jakarta, juga satu buah mobil yang dia lunasi di hari yang sama dimana dia melunasi apartemen.
Uang Starla benar benar habis.
Bahkan uang cashpun hanya tinggal beberapa lembar di dalam dompet. Apa lagi.. di dalam tabungan? Mungkin ATMnya sudah di isi oleh jaring laba laba karena sudah kosong terlalu lama, sama seperti hatinya. Jika sudah seperti ini, apa yang bisa dia lakukan?
Kalau Starla tau akan di pindah tugaskan, dia tidak mungkin membayar apartemen dan mobil. Dia pikir itu bisa mempermudah pekerjaannya. Letak apartemen sangat strategis dan dekat kantor, hanya perlu berkendara selama 15 menit, dan itu sudah sampai. Tapi, apa yang terjadi pada nyatanya benar benar tidak sesuai ekspektasi.
"Kamu bisa berkemas sekarang! Dan datanglah ke rumah. Nyonya sangat menantikan kehadiranmu."
Suara Tuan Arka membuyarkan Starla dari lamunannya. Starla mengerjap, lalu menganggukan kepala. "Iya, Tuan. Saya akan berkemas sekarang." Dia datang hari ini juga sebenarnya karena dia berencana untuk mengemasi barang barang penting yang dia tinggal di sini. Jadi, tanpa Tuan Arka berkatapun, dia pasti akan berkemas dan pergi.
"Kerja bagus." Arka menepuk bahu Starla, "semoga perjalananmu menyenangkan."
Starla mengulas senyum tipis. "Terimakasih."