Esok harinya.
Udara pagi di tepi pantai, lambat laun berubah dingin. Angin menyeruak semakin kencang, di tambah sinar mentari yang perlahan muncul, mengintip melalui kaca jendela mobil menyinari tubuh seorang gadis yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Starla memeluk tubuhnya sendiri. Dia merasa udara dingin merasuk sampai ke tulang. Lalu dia menutup wajah dengan telapak tangannya saat merasakan sinar mentari menerpa wajahnya. Semua ini membuatnya menggeliat tidak nyaman.
Entah sudah berapa lama dia tertidur. Dia sendiri juga tidak tau. Bagaimanapun, Starla bukan tipe gadis yang berpikir banyak atau bisa di katakan terlalu malas memikirkan. Satu yang dia rasakan, adalah lelah dengan tubuh yang serasa hancur berkeping keping.
Penyebabnya adalah..
Tunggu!
Menyadari ada sesuatu yang salah, Starla berusaha membuka matanya, pelan pelan. Lalu dia mengerjap hingga beberapa kali saat mendapati dirinya tidur di dalam mobil.
Apa? Tidur di dalam mobil? Mobil siapa? Dia kan tidak punya mobil? Jangankan mobil, motorpun tidak ada. Lalu, bagaimana bisa dia tidur di dalam mobil?
Starla mulai panik dan mulai mengais ingatan yang mungkin saja bisa memberinya jawaban atas keanehan yang terjadi padanya pagi ini. Dan semakin di pikirkan, terasa banyak kesalahan yang terjadi padanya malam kemarin. Malam dimana dia melarikan diri dari acara resepsi pernikahan Mama. Lalu setelahnya..
"Astaga!" Starla menepuk pelan dahinya. Dia ingat kalau kemarin dia meminta tolong kepada orang asing, mereka minum bersama, kemudian dia sedikit mabuk dan..
Starla membulatkan mata sembari meraba tubuhnya sendiri, mulai dari bagian d**a sampai bagian bawah dan itu benar benar membuatnya tercengang. Setelahnya, dia menggelengkan kepala tidak percaya. "Tidak mungkin." Ucapnya lirih pada dirinya sendiri.
Starla menolak untuk percaya kalau dia.. tidak mengenakan pakaian, dia lantas menelan ludah dengan susah payah. Apakah kemarin mereka berhubungan seks?
Starla tertawa getir, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gusar. Apa yang telah di perbuatannya semalam?? Starla mengawasi sekeliling dengan panik.
Benar saja.. Starla hampir saja menangis setelah melihat sosok pria telanjang di sampingnya sedang tertidur pulas. Pria yang menyebalkan ini bisa bisanya tertidur nyenyak setelah apa yang di perbuat terhadap dirinya? Benar benar b******n.
Ini gila!! Benar benar gila! Sialan!
Starla memaki dan mengutuk pria itu secara membabi buta. Dan kali ini dia benar benar menangis, namun tidak mengeluarkan suara. Hanya tetes demi tetes yang mengalir. Mewakili hatinya yang hancur berkeping keping. Di pikir secara logika, kalau benar hanya berciuman, tidak mungkin sampai telanjang, kan?
Starla menutup mulutnya dengan rapat. Dia melarang keras mulutnya yang ingin menjerit. Dia ingin menenggelamkan tubuhnya di samudra atlantik sebagai gantinya. Rasanya.. dia ingin mati saja.
Keperawanannya di ambil oleh pria asing. Keperawanan yang sudah dia jaga selama dia hidup, hilang begitu saja di tangan seorang pria yang baru dia temui. Masa depannya juga hancur. Bukankah itu memalukan? Juga.. menyedihkan?
Starla merengek, dan memukul kepalanya sendiri dengan amarah tinggi. Betapa bodohnya dia sampai mau di perlakukan seperti ini??
Mencoba membungkus amarah, Starla lebih memilih untuk menerima keadaan.
Sudahlah. Rasanya sudah terlambat untuk menyesal. Yang sudah terjadi, biarlah. Starla mulai menarik nafas panjang. Menata kembali ingatannya dari awal. Dia mencoba melupakan segalanya. Melupakan semua seakan tidak terjadi apapun.
Tapi, itu sangat sulit. Bagaimana dia bisa melupakan segalanya saat satu satunya harta paling berharga dalam hidupnya terenggut?
Starla berusaha menggerakkan anggota tubuhnya. Semua terasa sakit. Tulangnya seakan remuk dengan banyak tanda kemerahan yang mulai membiru tersebar hampir di sekujur tubuh. Seperti seseorang telah memukulinya hingga babak belur. Hasilnya.. sangat menyakitkan.
Tidak hanya meninggalkan cupang, tapi juga menyisakan rasa sakit yang luar biasa pada tubuh bagian bawahnya. Seperti sesuatu menerobos masuk melalui celah sempit di bawah sana.
Jelas saja.. itu adalah yang pertama untuknya. Dan mungkin saja pria itu menerobos masuk dan merobek selaput daranya secara paksa. Menyebabkan banyak rasa bercampur menjadi satu.
Starla menghembuskan nafas panjang. Mengambil pakaiannya yang sudah kusut lalu mengenakannya dengan cepat.
Selesai berpakaian, Starla membuka pintu dengan pelan, mengendap endap keluar dari mobil. Lalu menutupnya kembali dengan hati hati. Sekarang, lebih baik dia kembali ke Hotel, lalu pulang ke Jakarta lebih awal.
------•
--•
Hotel.
"Starla!"
Teriakan Mama membuat Starla menoleh tanpa sadar.
Aish.. Starla hanya mendesis. Mamanya yang menikah, namun justru dia yang kehilangan kegadisannya. Sayang sekali. Padahal dia berencana akan memberikan kesuciannya hanya untuk suaminya kelak.
Tapi, rencana hanya tinggal rencana.
Benar benar bodoh.
"Starla!! Kemana saja kamu? Mama mencarimu semalaman?" Mama mendekat ke arah Starla, mengoceh seakan baru saja menelan mesiu. Membuat Starla tidak bisa lagi memutar otak, tidak bisa lagi membuat alasan. Bukan karena Starla i***t, tetapi karena Starla merasa sangat bersalah kepada dirinya sendiri.
"Aku lelah, Ma. Aku mau pulang ke Jakarta." Starla menjawab dengan suara lemah. Dia sangat malas meladeni omelan Mama yang tidak akan selesai jika di tanggapi.
Starla melanjutkan langkahnya menuju kamar hotel tempatnya menginap tanpa menoleh lagi ke belakang dan lebih memilih untuk mengabaikan Mama yang super menyebalkan.
"Starla! Ada apa? Apa yang terjadi sebenarnya?" Mama mulai memelankan nada suaranya, terdengar lebih lembut. Mama berjalan mengikuti Starla di belakang. Terus bertanya dan bertanya. Membuat Starla semakin enggan untuk menanggapi.
"Aku baik baik saja. Tidak ada yang terjadi. Sejak awal Mama juga tau kan kalau aku tidak menyukai tempat ini. Hanya itu." Starla mencoba membalikan keadaan. Dari awal dia memang tidak menyukai tempat ini. Bukan karena tempatnya yang tidak bagus, justru karena tempat ini sangat indah namun di kotori oleh sampah seperti Mama hingga tempat secantik ini bisa kehilangan daya tariknya dan redup seketika.
Mama menaikan sebelah alisnya. "Apa karena hotel pilihan Papa tidak membuatmu puas?"
"Papa?" Starla menyunggingkan senyum penuh ejekan. Sejak kapan tua bangka itu menjadi Papanya? Tentu saja, pernikahan sudah di gelar, seluruh dunia juga sudah tau tentang hal itu. Sekarang tua bangka itu sudah menikah dengan Mama, namun, sampai matipun, dia tidak akan pernah menganggap pria itu sebagai Papanya.
Satu satunya orang yang Starla panggil sebagai Papa, sudah mati, sudah tidak ada. Jadi jangan harap akan ada Papa yang ke dua, ke tiga, karena sampai kapanpun itu tidak akan pernah terjadi.
"Iya, Papa barumu." Mama menegaskan. Perkataannya penuh penekanan tanpa sedikitpun penyesalan.
"Aku tau, pria tua itu adalah suami Mama, tapi sekali lagi, tua Bangka itu bukan Papaku." Suara Starla tidak kalah nyaring. Dia enggan mengakui Papa orang lain sebagai Papanya. Dia cukup sadar diri untuk tidak mengandalkan Orang lain sebagai penopang kehidupannya. Tidak seperti wanita tidak tau malu yang dia panggil Mama.
Mama menarik lengan Starla. Membuat Starla menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik dan memberikan tatapan tajam kepada Mama.
"Starla, berhenti seakan kamu bisa melakukan segalanya sendiri. Jika bukan Mama yang menghidupi kamu selama ini, kamu pikir siapa? Mama berjuang buat kamu, agar kehidupan kamu cukup, tidak pernah kekurangan lagi." Suara Mama naik tiga oktaf. Dia tidak lagi bisa menahan emosinya.
"Aku tidak pernah minta Mama untuk memberikan uang kepadaku. Mama yang memberikannya sendiri." Starla membenci perdebatan ini. Uang dan selalu uang.. apa hanya itu yang selalu berada di kepala Mama?
"Oh, jadi begitu?"
Starla mengangguk, "iya, memang seperti itu. Mama selalu menganggap uang adalah segalanya. Meninggalkan Papa dan membuat Papa meninggal. Apa itu belum cukup? Apa Mama masih belum puas? Apa sekarang Mama ingin aku pergi dari kehidupan Mama juga, biar Mama senang? Iya?" Ucapnya sembari mengibaskan pegangan tangan Mama di lengannya sampai terlepas.
Mama mengepalkan tangan. "Starla! Jangan bodoh! Kamu sudah dewasa. Kamu juga tau kalau Mama melakukan ini semua buat kamu. Biar kamu tidak hidup susah, biar hidup kamu enak. Papamu sudah meninggal. Kita perlu melanjutkan hidup. Berhenti jadi gadis munafik dan berhenti hidup dalam bayang bayang Papamu."
Starla menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa. Aku memang bodoh, munafik, atau apapun Mama nyebutnya, terserah. Aku tidak peduli."
Sejenak hening. Mama mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh seperti badai.
"Baiklah.. kalau kamu memang tidak bisa, mulai sekarang Mama tidak akan memberikanmu uang kecuali kamu yang memintanya." Mama tetap gigih dengan perkataannya. Sama sekali tidak mengalah meski itu dengan putrinya sendiri.
"Siapa takut?" Starla berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Mama dengan percaya diri. Starla juga sangat keras kepala. Kalau dia sudah menjawab 'iya', maka hasilnya adalah 'iya', tidak akan berubah menjadi 'tidak' meski apapun yang terjadi.
"Ini adalah pilihan kamu. Jangan menyesal atas keputusan yang sudah kamu ambil sendiri!" Mama berteriak nyaring dengan emosi yang meninggi. Betapa bodohnya pemikiran Starla. Sangat bertolak belakang dengan sifatnya.
-------•
--•
Starla masuk ke kamar dengan pikiran kacau. Menelan kekecewaannya sendiri. Selalu berakhir seperti ini. Mama dan dia sama sama egois, tidak ada yang mau mengalah, dan tidak ada yang mau merubah prinsip.
Mereka tetap dengan ego keras mereka masing masing. Membuat Starla ragu dengan status anak yang tersemat dalam Kartu Keluarganya. Semakin kesini, dia semakin yakin jika Mama bukanlah Ibu kandungnya.
Starla membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menyembunyikan wajahnya pada bantal. Ada setitik bening yang menetes dari sudut matanya.
Starla merasa hatinya sangat sakit. Satu satunya orang yang menyayanginya hanya Papa, tapi.. sekarang Papa sudah tidak ada lagi. Sudah tidak ada tempat untuk dia mencurahkan kesedihan, sudah tidak ada yang mengusap kepalanya sembari berkata : 'kamu bisa, kamu kuat'.
Kalau sudah seperti ini, Starla hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk hidup ke depannya. Meski selama ini dia tau kalau kehidupannya di biayai dengan uang haram, namun baru kali ini dia berani memutuskan hal besar seperti ini.
Memutuskan hubungan dengan Mama, siapa peduli? Starla sendiri bahkan merasa kalau keputusan ini sudah sangat tepat karena seharusnya dia melakukan hal ini sejak dulu.
Perkara biaya kuliah dan tempat tinggal, itu bisa di atur. Starla akan memikirkannya pelan pelan. Mungkin dia bisa mengambil program beasiswa, mengambil pekerjaan paruh waktu, dan menempati tempat kos yang biayanya murah.
Sampai di sini, begitu dulu. Setelah dia sampai di Jakarta, baru dia akan memikirkannya lagi.