"Pak ini ada undangan dari pak Marlino, " Kata Fikri seraya memberikan sebuah undangan pada bosnya. "Pak Marlino... " Dipta berusaha mengingat nama itu. Sepertinya ia pernah mendengarnya. "Pak Marlino dari perusahaan Wijaya grup." Dipta langsung ingat kemudian membuka undangan itu. Andai saja Gista tidak di bali kemungkinan besar dia akan mengajak kekasihnya untuk menghadiri pesta itu. Rasanya akan lebih menyenangkan jika datang bersama pasangan. Bukannya sendiri. Ini adalah hari kedua Gista berada di bali. Tidak mungkin juga dia menyuruh kekasihnya untuk pulang hanya untuk menghadiri pesta perusahaan. Meski setiap hari saling bertukar kabar lewat pesan ataupun telepon dan malamnya video call, tetap saja Dipta sangat merindukan kekasihnya. Dipta tidak ingin punya sayap agar bi

