10: prasangka minus 40%

1531 Words
Chapter 10: prasangka minus 40%   Kalau ada Imma yang mengajak Hana pulang, itu pasti bukan beneran pulang. Iya kaya kemarin mereka nyasab di warung nasi padang, sekarang mereka nyasab di warung Cau Akang yang baru buka kemarin. Enggak jauh dari sekolah emang.   Mata Imma berbinar beneran pas liat daptar menunya. "COKLAT SEMUAA!" yah dia emang maniak coklat, hampir tiap hari makan coklat, bukan coklat batangan sih, yang penting ada coklatnya. Untung kaga ompong ya.   Sementara Imma bergembira Hana dan Joel malag bengong. Hana pikir dia harus beli yang paling murah karena yah budgetnya.Karena yah Joel hanya membayar makan yang dibeli Hana tiap pagi siang sore, bukan ngemil. Kalau Joel sih bengong karena bingung harus milih yang mana. Semuanya terlihat menggiurkan.   "Kalian beli yang mana?"   "Aku yang ini," Joel kenunjuk ke satu menu. "chocolate milk cheese oreo."   "Hana?" tanya Imma. "Coklat muncrat aja yang murah," jawab Hana. "Mau yang agak mahal juga ga apa-apa, aku yang bayar,” kata Joel menawarkan   "Punya aku juga kamu yang bayar?" tanya Imma, kali-kali orang kaya mau dibayarin boleh dong?   Joel berpikir sebentar lalu kepalanya terangguk. "Em boleh."   Akhirnya setelah berdiskusi cukup lama untuk memutuskan apa yang mereka pesen, lalu menunggu pesenannya, Cau Akang yang di tunggu datang juga. Emang di bungkus sih, soalnya   Imma baru inget ada janji mau nonton Ical latihan basket buat demo mpls.   Hana dan Joel ikut juga, daripada di rumah cuman nonton Upin Ipin atau FTV mendingan nonton yang basket, supaya cuci mata juga.   Akhirnya mereka kembali ke sekolah, tepatnya ke Gymnasium.   Basket SMA Yudhigraha mah elit, enggak di lapangan terbuka, ada ruangannya khusus yang disebut Gymyu alias gymnasium Yudhigraha. Bukan cuman basket, kegiatan atletik lain juga dilakukan disana, kecuali futsal. Futsal biasanya di lapangan upacara. Tapi kalo hujan pengecualian ya.   Latihan basket udah dimulai, dan selalu enggak sepi penonton. GILA MEN RICUH BANGET!   "MARK OPPA! SEMANGAT MARKK!"   "AKU TIM MARK TUAN!"   "GUE TIM MARK LEE!"   "FAKHRI ZALLL! GO GO AKANG ICAL!"   "KAA DANIELLL, FIGHTING!"   Yah begitulah kurang lebih cewek-cewek gaje itu berteriak, padahal yang di teriaki bodo amat. Yang diteriakin malah Fokus basket.   Hana, Imma, dan Joel kebetulan duduk di tempat yang agak depan sembari memakan pisang goreng berlumeran berbagai roklat dan rasa lainnya itu merasa sedikit terganggu dengan teriakan cewek-cewek super itu.   Tapi udah biasa sih, jadi biarin aja lah.   Joel malah enggak fokus sama basketnya, fokus sama makanan yang dia makan. Dan yah, lagi-lagi dia jatuh cinta sama Cau Akang. "Waa enakkk!"   'Bukan temen gue,' batin Hana sembari pura-pura engga kenal. Imma juga sama. 'Bodo amat, ga liat, gue lagi makan.'   "Joel," seseorang memanggil Joel, orang itu ternyata itu adalah Saef yang merupakan temen sekelasnya. "daripada dipinggir ayo ikutan basket. Sekarang Ipa lawan Ips. Kamu bisa basket kan?"   Ajakan Saef ditanggapi dengan anggukan oleh Joel. Hana jadi pengen julid, perasaan Joel hidupnya iya-iya aja. "Tapi aku enggak bawa baju olahraga," ucap Joel."   "Pake celana itu aja, atasnya ganti pake ini," Saef memberikan jersey basket berwana biru tua kepada Joel. "Ghazi ga masuk sih, jadi kamu gantiin dia."   Joel menaruh makanannya. Lalu membuka seragamnya dengan polos karena dia ingin mengganti bajunya. Jelas lah yang lain pada heboh pas tubuh indah Joel terlihat, apalagi kaum hawa.   "ASTAGFIRULLAH!"   "REZEKI ANAK SOLEH INI MAH LIAT ROTI SOBEK!"   "OMAIGADDD!"   "HANA TUTUP MATA!"   "LU JUGA IM, LU LEBIH MUDA DARI GUE!"   Emang cuman beberapa saat sih, karena Joel buru-buru memakai jersey basket itu dan mengikuti Saef ke lapangan. Dia peregangan sebentar lalu mulai masuk ke lapangan mengantikan Ghazi sesuai intruksi Saef.   Kebetulan anak IPS dan IPA emang punya  jersey yang warnanya beda. IPS biru dongker sementara IPA biru langit. Sementara warna official jersey basket adalah warna hitam dengan biru dongker dan biru langit sebagai garis-garisnya yang menggambarkan jurusan IPS dan IPA.   Baru saja masuk lapangan, Joel sudah mencuri perhatian yang lain karena aksinya mencuri bola dari kapten basket, Daniel. Gerakannya yang lincah udah setara dengan anggota eskul basket lainnya. Sampai akhirnya karena terlalu lama terpesona dengan gerakan Joel, Joel melakukan three poin dan ....   "ANJIR MASUK!" teriak Abay heboh, karena dia yang paling deket dia yang pertamakalinya meluk Joel.   Yang lain ikut-ikutan mengacungkan jempolnya pada Joel yang kini sedang terengah. "MANTAP MANEH JOEL!!"   "MANTAPPP!"   "SI SAEF PINTERAN NIH BAWA ORANGNYA!"   Joel cuman nyengir aja pas orang-orang ngerumuninnya. Malu juga diginiin. "Padahal coba-coba,” katanya mencoba merendah.   Coba-coba aja udah gitu, gimana kalo serius coba? Ical melihatnya kaget banget. Ga nyangka Joel bisa three point, dia aja gagal mulu. "Wah gila."   Permainan di lanjutkan, semakin banyak anak yang menyoraki Joel, karena ketika berkeringat permainan basket Joel semakin bagus saja. Sampai akhirnya permainan benar-benar berakhir dan ....   "KITA MENANGGGG!" teriak Saef behagia sembari bercucuran air mata. Padahal sebelum ada Joel Saef sempat berpikir bahwa pertandingan hiburan IPA VS IPS ini akan dimenangkan oleh IPA. Tapi untungnya ada Joel yang kemampuannya setara dengan anak IPA.   Ical menghampiri kedua sahabatnya untuk mengambil minum. "Cie kalah," ledek Hana yang membuat wajah Ical makin lusuh kaya gembel. "gimana? Lumayan kan si Joel?"   Yang ditanya hanya mengangguk singkat untuk enanggapi ucapan sahabatnya. Agak syok dia karena awalnya berpikir Joel enggak bisa apa-apa dan mengandalkan Hana saja, b*****g pula. Tapi ternyata Joel jago juga maen basketnya. Lebih jago dari Ical malah. Saying aja Ical enggak mau mengakuinya "Kita cuman sial."   "Tapi sekarang keliatan kan dia bukan b*****g lagi?" celetuk Imma sembari tersenyum lebar.   Ical mengangguk pelan—bahkan hampir enggak keliatan. "Anggap aja begitu." lalu pergi lagi ke lapangan.   Kini prasangka buru Ical terhadap Joel berkurang 40% setelah melihat kemampuan Joel tadi. Ical mengakui dalam hati bahwa Joel hebat, tapi sepertinya Joel tetep bayi besar yang hanya bisa mengandalkan Hana.   Cuman yah bisa kali Ical pura-pura menerima Joel sebagai temen, walaupun yah dia masih khawatir satu hal kalau Hana bertemen dengan Joel—yang otomatis membuat Joel harus bertemen dengan Ical dan Imma juga.   Apa?   Imma.   Karena Ical enggak mau cewek yang dia suka menyukai cowok lain. Ical mau hanya dirinya yang nampak keren di mata Ima. Ical harap Imma enggak suka sama Joel.   Acara basket udah kelar, seperti biasa Hana, Imma, dan Ical pulang bareng. Tapi sekarang pulang barengnya ketambahan Joel. Lelaki berwajah tampan itu Nampak seperti kucing, habis sedari tadi dia ngikutin Hana melulu.   Namun karena sekarang udah malem, sebelum bener-bener pulang mereka mampir ke tukang jualan nasi goreng. Joel kan udah ngebantu kelas menangin pertandingan, jadinya Joel naktir Hana, Imma, dan Ical.   Sebenernya Joel enggak bener-bener mau naktir Hana, Imma, dan Ical. Tadinya Joel mau naktir Hana doang, sial aja dompetnya kudu bobol gara-gara Hana bilang, “Taktir Imma sama Ical juga atuh sekalian.”   Joel begonya nurut-nurut aja, untung sih harga nasgor enggak mahal amat. Seengaknya enggak semahal pizza.   Sialnya gara-gara makan nasgor di pinggir jalan begini, Joel jadi pusat perhatian beberapa pengunjung, terutama kaum hawalah jelas. Cewek mah liat yang bening dikit malah baper, padahal Joel enggak ngapa-ngapain ya Tuhan, MASA NATAP BALIK AJA MEREKA BAPER?!   Joel aja bingung, dia sampe nanya sama Hana—tapi nanyanya bisik-bisik gitu. “Han, kenapa orang-orang pada ngeliatin aku?”   “Kamu makannya belepotan kali,” balas Hana tanpa melihat ke arah Joel. Bercanda dia tuh, tapi Joel nganggapnya serius mulu, Joel malah sampe ngaca di hpnya. “Enggak kok.”   “Joel mau-mau aja ditipu Hana,” Imma menggelengkan kepalanya. Ical ketawa kecil, “Polos sama b**o itu beda tipis.”   Padahal Joel anaknya pinter. Cuman kalo urusan yang begini dia emang agak b**o.   Acara makan-makan selesai, tentunya Imma berterimakasih pada Joel ketika dia pulang. Ical juga terpaksa berterimakasih pada housematenya Hana. Sebenernya sih kalo cuman nasgor mah Ical bisa bayar sendiri, tapi yaudah lah, anggap aja tadi Joel nyogok dia buat temenan dengan bayaran nasgor. “Makasih Joel.”   Joel ngangguk seneng, “Sama-sama. By the way mulai sekarang kita teman kan?”   “Emang tadi kita apa? Musuh?” Imma balik nanya. “Iya lah kita temen! Dari kemarin juga kita temen kan?”   “Joel emang aneh banget, temen gue kan temen elo juga,” ujar Hana sembari nepukin pundak Joel.   Joel mengedipkan matanya. “Gue sama elo itu apa?”   Ah Hana lupa, ngomong sama Joel kan harus pake bahasa yang baik dan benar. Joel pasti enggak diajarin bahasa gaul sama ibunya. “Maksud aku tuh, temen aku bakal otomatis jadi temen kamu juga.”   Joel mengangguk mengerti. “Ohh oke, sekarang aku ngerti.”   Setelah itu keempat anak manusia yang jelas beda ibu bapak itu pulang ke tempat masing-masing. Ical enggak perlu lagi nganter Hana ke rumahnya karena sekarang udah ada Joel. Ical ngerasa bersyukur buat hal itu.   “By the way Han,” pas Hana mau masuk kamarnya Joel menahan tangan gadis itu.   “Apa?” balas Hana bingung.   “Um makasih ya?”   “Makasih buat?” Hana makin bingung. Perasaan hari ini Hana enggak melakukan perbuatan baik. Lantas kenapa Joel malah berterimakasih?   “Makasih karena kamu udah jadi temen aku, makasih juga udah ngebiarin temen deket kamu jadi temen aku juga,” ucap Joel dengan senyuman cerianya.   Hana kira apa. “Oh sama-sama. Kalo gitu aku masuk duluan ke kamar ya?”   “Iya,” Joel memanyunkan bibirnya pas Hana menutup pintu kamarnya. Mereka emang temenan, tapi enggak tau kenapa Hana masih aja dingin sama Joel. “hana kenapa sih?”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD