Chapter 15: Bagian paling serem
Apa yang lebih serem dari ngeliat mantan jalan sama pacar barunya?
Pak Rukmana yang tiba-tiba ngerazia pakaian? Enggak, bisa ngumpet di toilet.
Ulangan dadakan? Tembak aja, ntar juga luluh kok. Beneran!
Terus apa?
Buat Hana hal terseram adalah pembagian rapot semesteran. Tentu saja seram, kalau nilainya turun ada kemungkinan sore ini telinganya bakal panas dan mungkin uang jajannya kembali di potong, ditambah bisa saja potongan biaya sekolahnya di hilangkan. Ah mampus itu mah.
Selain 3 hal yang Hana takutkan itu, Hana juga takut jumlah nilainya paling kecil diantara Imma dan Ical—mungkin Joel juga ikutan. Tiap semester, sahabatnya itu selalu bertaruh: barangsiapa yang nilainya paling kecil niscanya dia yang jadi babu selama liburan.
Hana ga mauuuu! POKOKNYA ENGGAK MAU!
Hana jadi semakin takut membuka rapot yang sudah dibagikan wali kelasnya beberapa menit yang lalu itu. Takut menerima kenyataan kalo nanti dia yang jadi babu.
"Hana Ayanna Zein." Hana dipanggil wali kelasnya lagi, pak Yopi. Tapi sepertinya dia enggak mendengarkan karena Hana masih bengong.
Setelah Joel mengipaskan tangannya di depan wajah Hana, baru lah Hana tersadar. "A-apa?"
"Kamu dipanggil Pak Yopi," jawab Joel.
Buru-buru Hana bangkit dan menghampiri Pak Yopi. Hana baru sadar kalau Frida dan Sri juga sedang ada di depan.
"Kenapa Pak?" tanya Hana. Pak Yopi tiba-tiba menyalami tangannya. "Selamat ya, kamu rangking 3, Han."
Anak-anak lain bertepuk tangan, ada yang terpaksa, ada juga yang 100% ikhlas. Yah soalnya nilai Hana sehari-hari juga bagus-bagus, walaupun enggak pernah dipamerkan.
Hana kicep, dia menatap Pak Yopi enggak percaya. "Ah jangan bercanda atuh Pa. Nantinya saya seneng nih."
Pak Yopi menggelengkan kepalanya. "Terserah kamu lah kalau enggak percaya. Tapi pasti kamu bakal lebih ga percaya kalau tau yang rangking empat siapa. Dia hampir nyelip kamu loh."
"Siapa emang Pak?" tanya Hana dan Sri bersamaan. Yang lain juga ikut penasaran.
Pak Yopi tersenyum lalu menyebut satu nama. "Joel Lee.”
Hana celangap, dia kaget pake banget. Berasa ngeliat Pak Rukmana nari balet pake baju kebaya. "Hah?!"
"HIHAHHH." Yang jawab gitu Faruq, soalnya dia dendam sama Hana.
"CHUKAE OPPAA!"
Joel bengong, dia menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
Pak Yopi menganggukkan kepalanya. "Iya Joel."
Joel buru-buru bangun dan menghampiri Pak Yopi, dia menyalami guru olahraganya itu. Mukannya aja ga nyangka, padahal dia kira nilainya ancur gara-gara baru masuk.
"Selamat ya. Baru kalo loh, cowok yang ada di lima besar," kata Pak Yopi.
"Iya pak, terimakasih," balas Joel sembari tersenyum cerah. Lelaki itu kini terlihat seperti kucing yang kesenengkan karena dikasih wiskas.
Hana kicep. Oke dia enggak percaya buat yang ini. Sebenernya bukan cuman dia sih. Banyak yang ga percaya. "Itu penilaianya gimana kalo boleh tau Pak?" tanya Joel sendiri, penyebab keanehan di kelas.
Pak Yopi menjawab. "Karena Joel cuman punya nilai ulangan kenaikan kelas, jadi nilai Joel yang di rapot ini adalah nilai asli ulangan kenaikan kelas. Untuk mata pelajaran wajib di kalkulasikan dengan nilai test kemarin pas kamu masuk. Kebetulan nilai ulangan kenaikan kelas Joel bagus semua, enggak ditemukan catatan buruk selama disini, jadi yah para guru memutuskan seperti itu."
Ga tau eun si Bapak, Joel pernah ngasih contekan matem ke Hana dan dia juga pernah menerima contekan dari Hana pas bahasa Sunda. Tapi yaudah biarin lah.
Anak-anak menganggukan kepalanya setelah mendengarkan penjelasan Pak Yopi. Yang cewek enggak protes karena merasa yang ganteng selalu benar. Padahal kalo misalnya murid barunya cewek, abis sudah. Yang laki-laki enggak protes juga, Joel sehari-harinya bagus kok, enggak pimasalaheun anaknya teh.
Setelah diberitahukan lima besar rangking di kelas, sedikit ceramah, lalu berfoto bersama, Pak Yopi lalu keluar dari kelas. Dia merasa sudah bahagia mengajar kelas 10 IPS 2 itu. Walaupun banyak masalah, tapi anak-anaknya dapat mengatasi masalah dengan baik.
Masalah yang keliatan doang sih, masalah Hana mah selesai juga belum.
Ditambah lagi dengan kedatangan Imma dan Ical. "Hana liat rapor lo, gue yakin lu yang jadi babu aja sekarang," kata Ical dengan tingkat percaya diri yang terlalu tinggi.
Imma menggeleng. "Engga Cal, gue yakin elu yang jadi Babunya."
"Enggak lah, gue rangking dua di kelas Im."
"Gue juga rangking dua di kelas Cal," bales Imma sembari moyor kepala Ical. "dan jumlah nilai gue beda 3 diatas elo."
Hana beneran mau pingsan ini mah ngedenger dua temennya rangking 2, dan dia rangking tiga. Udah matek aja.
"Lu rangking berapa Han?" tanya Imma.
Hana menunjukan tangannya, ibu jari dan jari kelingkingnya dilipat. Imma lalu menepuk pundak Hana"Seenggaknya bertambah dari sebelumnya."
Ical langsung berteriak bahagia. "TUH KAN PASTI HANA YANG JADI BABU INI MAH!"
Super bagja dia gais.
"Enggak," Imma merebut rapor Hana yang bahkan belum dibuka oleh Hana sendiri. "kan total yang diitung, bukan rangking! Gue denger rata-rata kelas Hana bagus. Jadi ada kemungkinan total nilainya lebih diatas elu Cal."
Hana dan Ical harap-harap cemas, sementara Imma sedang menghitung total nilai Hana dengan kalkulator. "Tuh kan, totalnya 2668. Sementara kamu 2660 Cal."
Ical mendadak heartattack dan entah kenapa kekagetannya ini membuat Ical bengek sendiri. “APAH?!”
"Astagfirullah, Hana ayo anterin dia ke Bu Rohmah."
"Buat apa Im?"
"Dijadiin sate buat malmingan boleh la."
Ical melotot. "Eh jangan koplak!" sebenarnya dia enggak menyangka akan kalah seperti ini.
Semester kemarin Imma kalah, dan sekarang dia. Hana kapan kalahnya sih?
Oh iya! Ical baru ingat dengan Joel.
"Eh Joel juga deket sama kita kan? Berati dia ikutan taruhan ini dong?" kata Ical. Joel yang lagi diajak—dipaksa—buat foto-foto bareng anak cewek langsung menoleh dan mendekat ke arah Ical ketika namanya dipanggil. "Apa Cal?"
"Total nilai rapor kamu berapa El?" tanya Ical dengan doa yang dia sematkan dalam hati, 'semoga lebih kecil dari aing.'
"Kata Pak Yopi beda 1 poin dari Hana," jawab Joel polos.
Ical beneran ingin pindah ke pluto saja. Apalagi ketika Hana bilang, "Kaum sudra, tunduklah dikau."
"Enggak mau baginda! Aduh, aing pengen pindah ke Meikarta aja." Ical dah nangis aja, malu dia udah mau sombong, eh malah ga bisa.
"Anda mau saya takol hah?!"
Dan akhirnya Ical harus menerima nasib kalo dia kini menjadi babu Hana, Imma, dan juga Joel.
Seperti biasa atau mungkin tradisi pembagian rapor kenaikan kelas, pasti ada aja foto-foto bersama anak-anak kelas. Katanya sih buat kenang-kenangan, kan kelas 10 bakal di pecah.
Temasuk Ical dan Imma yang sempat ke kelas Hana ditarik kembali oleh temen-temen sekelasnya untuk di foto bareng.
Hana sih cuman ikut 3 kali foto, sisanya dia pergi ke kantin diam-diam karena perutnya keburu lapar banget. Kabur dia dari acara foto bareng. Sementara Hana pergi, Joel malah tertimpa sial. Ada kejadian sama seperti waktu hari pertama dia masuk ke ke Sekolah.
"Joel. Ayo pacaran denganku!"
"Joel aku cinta padamu, bisa kah kita berpacaran?"
"Jaka Sembung bawa golok, Joel i love you, be mine?"
"GA NYAMBUNG g****k IH PANTUNNYA!"
Joel enggak bisa berbicara apapun, cewek-cewek itu terus-terusan memotong kalimatnya. Malah setelah menaruh coklat dan kue di meja Joel, ada yang saling jambak coba. Kan bikin capek hati ngeliatnya.
"Joel..."
"Joel..."
"Joel..."
Ah sudah lah dia enggak tahan lagi. Joel menarik napasnya lalu berteriak. "STOP YOREBUNN! HAJIMA HAJIMAA!" Koreanya kambuh!
Tuh kan, bahasanya jadi campuran saking bingungnya mau teriak apa.
Joel menatap cewek-cewek yang menghampirinya satu-satu. "Maaf, aku enggak bisa menjadi pacar kalian. Aku enggak mempunyai perasaan apapun sama kalian," ucap Joel. Entah kenapa sekarang dia berharap Hana adalah salah satu dari mereka. Tapi enggak, Hana malah ilang. "lagipula aku punya seseorang yang aku suka."
Joel tahu berbohong adalah dosa, dia enggak menyukai siapapun tapi entah kenapa hatinya selalu berharap Hana akan seperti cewek-cewek yang mengejarnya. Itu suka bukan ya?
Ah entah lah, yang penting jangan pacaran dulu. Joel tahu pacaran itu ribet, apalagi cewek-cewek itu menyukainya karena tampangnya saja kan?
"Yahh." banyak yang mendesah kecewa mendengar penolakan Joel yang dingin itu. Apalagi setelah berbicara begitu Joel langsung pergi keluar.
"Kenapa gue curiga Joel suka sama Hana ya?”
Hayolo Joel.