14: Ulangan-ulangan bopaklo kamverto.

1274 Words
Chapter 14: Ulangan-ulangan bopaklo kamverto.   Sebetulnya hari ini pelajaran yang di ulangankan enggak seberat kemarin. Pelajaran yang diulangan kan tuh cuman sejarah Indo, sejarah minat dan bahasa Sunda, untuk IPS. Untuk IPA sejarah minat diganti dengan biologi.   Tapi hari ini mata Joel benar-benar memerah. Dia kurang tidur. Bahkan hanya tidur dari jam 3 malam dan jam 5 kembali di bangunkan Hana. Sementara Hana sendiri tampak biasa saja.  Tentu aja itu menimbulkan tanda tanya ketika Joel ikut makan bersama Imma Ical dan Hana.   "Tu anak kenapa?" tanya Imma bingung. Masalahnya mata panda Joel lebih tebal dari Hana yang mata pandanya ga pernah ilang sampai dijuluki panda. "Aku belajar bahasa Sunda setelah Hana tidur, tapi enggak mengerti apa-apa," jawab Joel lemas. "akhirnya aku hanya menghafalkan apa yang disuruh Pak Rahmat."   "Sabar heeuh bray," kata Ical sembari menepuk pundak Joel. “ulangan tuh emang kek t*i munding.”   Joel ngangduk aja, padahal bingung, t*i munding tuh apa?   Sementara Hana mengusap rambut Joel. "Santai aja, Pa Rahmat mah baik da. Oh iya mulai sekarang ngomongnya jangan terlalu baku coba, kedengerannya aneh."   Joel agak kaget ketika menyadari Hana mengusap kepalanya lagi. Duhilah sialan emang. Mana jantungnya enggak mau berdetak dengan santai. Ngeselin banget ya? "A-ah iya."   "Han itu si Joel pipinya merah," bisik Imma pada temannya yang enggak peka itu.   Hana menatapnya bingung. "Ya terus?"   Ah anjir si Hana mah emang ga peka, bukan manusia kayanya dia tuh. Kalo ayam udah Imma geprek sumpah!   Berhubung kalau ulangan masuk jadi agak siang, jadi keempat orang itu memanfaatkan waktu dengan menghafal kembali, Imma dan Ical menghafal biologi, sedangkan Joel dan Hana menghafalkan sejarah minat.   "Faktor penyebab perubahan lingkungan adalah?"   "Mesopotamia."   "YEU KIPLI JANGAN IKUT NYAUT!"   Yah memang sempat ada perdebatan antara tiga orang yang mendeklarasikan bahwa mereka ini adalah trio—bukan trio serigala, tapi trio seringgila. Joel enggak berpartisipasi dalam berdebat.   Karena yah ga guna, dia ga bisa bikin u*****n kaya ketiga orang temennya. Joel kan anak baik.   Tapi ketiga orang itu debatnya ga lama sih, soalnya di lerai sama mamang penjual Kuah karena mereka terlalu berisik.   Akhirnya 15 menit sebelum bel, empat orang itu pergi ke sekolah. Ruangan mereka jauhan karena yah ruangannya diacak gitu.   Ical di lantai 3, Imma di lantai 2, dan Hana plus Joel dilantai 1. Terbawah mulu mereka berdua mah.   Akan tetapi, di detik-detik tegang sebelum ulangan sejarah itu, bisa-bisanya seorang Imma Masrifah berteriak dari lantai 2. "SIAPAPUNN TOLONG PANGGILIN HANAAA! HANAAA HANAAAA!"   Hana yang kebetulan ruangannya ga jauh dari tempat Imma teriak itu membalas teriakan Imma.   "NAON IM?!"   "HANA ANTERIN GUE BELI COKLAT DI KANTIN ATAS HEHE."   Sifat manjanya kambuh ini mah. "YAUDAH SENDIRI AJA SIH, LU TINGGAL KE LANTAI TIGA," balas Hana judes. Iya lah, bentar lagi mau ulangan, masa diajak temenin beli coklat. Mana jauh banget ada di lantai 3.   "GA MAUUU. DEDEK TAKUT DI CULIK!"   "NAON IM? BLUR IM, BLURR!"   "HANA GANDENG IH TONG GOGOROWAN WAE!   “BERISIK IH KALIAN TEH JANGAN TERIAK MULU!" Jelas saja teriakan saling bersahutan antara Imma dan Hana menimbulkan beberapa orang kesal. Termasuk Putrid an Lily yang kebetulan lagi ada di deket Hana.   Hana malah bertanya. "Siapa?"   "Elo lah!" jawab Putri kesel.   "YANG NANYA! WAHAHAHAH!" jawab Hana, Ical dan Imma kompakan. Sepertinya mereka bertiga emang punya ikatan batin deh, walaupun terpisahkan oleh lantai, tetep saja bisa seolah menyatu.   Joel cuman menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan Hana yang sepertinya perlu vaksin. Tapi di sisi lain dia iri juga sama Ical dan Imma, sepertinya Hana menyatu dengan mereka. Beda sekali ketika Hana berinteraksi dengannya, seakan masih ada tembok pembatasnya. Walaupun enggak sebesar tembok pembatas untuk orang lain.   Kapan Hana begitu sama Joel?   Eh sebentar, kok Joel mikirnya gitu sih?   Hana yang kebetulan melihat Ical lalu berteriak. "ICALLL PACAR LO KATANYA MAU COKLAT NIHH! TEMENIN GEURA!"   Imma melotot. "LU BILANG GUE APA?"   "HAH?"   "LU BILANG GUE APA—"   "HIHAH!"   "EH GOBLOQ!"   "MAMPUS KENA!"   Dan Hana tiba-tiba aja dijewer dari belakang. Nasibnya malah sial pemirsa karena kini dia tertangkap basah udah ngomong yang aneh-aneh sama salah satu guru yang membuatnya merasa trauma ketika bekertemu. "Mampus-mampus, masuk kamu teh."   Dan siapa coba yang ngejewer? Yang ngejewer Hanna atuh Pa Rukmana gengs! Kesiswaan yang ditakuti seluruh murid di SMA Yudhigraha ini. Astagfirullah pisan ya. Hana langsung pengen terbang ke pluto aja rasanya.   "Belum bel Pak," elak Hana, lagian ini si botak ngapain coba kesini? Padahal emang belum bel.   Pak Rukmana lantas menjawab. "Mati lampu tau, jadi belnya ga nyala. Yang lain ayo masuk."   "Lepasin atuh Pa."   "Udah jalannya bareng aja sama saya. Saya yang ngawas ruang kamu."   Udah Han, mati aja. Hana berasa jalan sama malaikat maut yang botak soalnya. Sementara Hana berasa seperti Iron Man alias berasa mau meninggal, Joel diem-diem ngetawain Hana. Kasian sih, tapi Joel lebih milih buat ketawa.   Sebenarnya Joel itu pintar dalam semua mata pelajaran, hampir sih. Tapi tahu lah setiap manusia itu enggak ada yang sempurna. Dibalik kepintaran Joel yang kemampuan mengingat peajarannya diatas Hana juga ada kelemahannya. Joel lemah di Bahasa Sunda.   Bayangin coba, kamu baru datang ke negara asing, enggak diajarin apa-apa soal bahasa daerahnya dan sekaeang di hadapanmu ada soal yang artinya enggak di mengerti sama sekali dan ada juga huruf-huruf yang bentuknya menyerupai huruf Thailand.   Gimana? Mau mati ditempat atau ngisi soal pake tetesan air mata?   Saat ulangan bahasa Sunda ini Joel benar-benar mengalami mood yang lebih bad dari lagunya Yanglex, frustasi ga bisa ngisi, juga ngantuk karena semalam cuman tidur sekitar 2 jam.   Sebelumnya pas ulangan Sejarah Indo dan sejarah minat ga gini-gini amat. Semua yang Joel baca jawabannya ada.   Sekarang beda sih, dia ngeblank banget gais.   Ga ngerti apapun.   "Hana," Joel menoel punggung Hana yang kebetulan duduk didepannya. Absen mereka deketan soalnya. Hana menoleh. "Apa?"   "Bantu aku," pinta Joel dengan nada merana.   Hana menghela napasnya. Sebetulnya dia ini tupikal orang yang ga suka ngasih contekan, tapi dia berhutang budi atas contekan matem yang Joel berikan kemarin. Akhirnya Hana berkata. "Sebutin nomernya."   "Nomer 1 sampai 45."   Hana segera beristigfar. "Baru sampe nomer 25 akunya juga. Tunggu dulu bentar."   "Yaudah deh." Joel mengangguk saja. Pasrah dia, cuman bisa mengharapkan jawaban dari Hana.   Berharap pengawas mendadak menghilang rasanya enggak mungkin. Jadi Joel cuman bisa menunggu sembari menaruh kepalanya diatas meja.   Kakak kelas yang duduk disamping Joel menyiritkan dahinya. "Belum satu pun dek?"   "Iya kak," jawab Joel. Mukanya beneran memprihatinkan. Kalo ada Ical pasti udah diledek itu si Joel.   "Kamu ga ngerti?"   "Iya kak."   "Sama kakak juga ga ngerti."   Joel menatapnya dengan tatapan: You don't say bruh. Rasanya Joel pengen  banget ngemutilasi kakak kelasnya itu. Dikira Joel dia emang mau bantuin Joel.   "Tapi kalo ngebantu ngisi hati kamu, kak Dina bisa kok dek."   What the hell, APA SIH?!   "Bantu ngisi ini dulu aja kak. Hati aku mah udah ada yang ngisi," balas Joel. Bosen di godain kakak kelas ini mulu. Ngebantuin enggak, ngenyusahin iya.Tau ah. Sekarang dia cuman bisa mengharapkan Hana yang memberikan semua jawaban soal dari nomer 1 sampai 45.   Akan tetapi ... "Kerjain soalnya Cogan Korea," Pak Rukmana tiba-tiba datang dan menepuk pundak Joel. Semua anak otomatis menatap Joel. Pak Rukmana melanjutkan. "ngeliatin punggung Hana ga bakal bikin lembar jawaban ulangan kamu penuh."   Joel menundukkan kepalanya. Dia ketauan oke. Sial anjir. "I-iya pak."   Setelah itu mata Pak Rukmana benar-benar mengawasi Joel. Takut-takutnya Joel mencontek kepada Hana.   Sial, sial banget.   Kayanya emang lebih baik di tebak aja terus langsung keluar. Eh tapi esainya gimana? Mana Joel bingung mau diisiin apa itu esai.   "Pak, ijin ke toilet," Lily murid perempuan yang ada di belakang Joel berdiri dan menarik perhatian pak Ruknaba, saat itu cepat cepat Hana memberikan lembar jawaban ulangannya yang sudah diisi jawaban bahasa Sunda.   "Aku baru segitu maaf," ucap Hana berbisik.   Joel tersenyum "Iya." dan sepertinya sisanya kepaksa harus diisi ngasal.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD