???
Keano menatap dua orang di depannya yang saling senggol-senggolan dengan wajah kikuk. “Ada apa, sih?” tanyanya malu.
Masalahnya, dia tidak memakai baju dan tiba-tiba saja Lili dan Kevan merangsek masuk. Keduanya berjalan ke depan Keano yang duduk di atas tempat tidur sambil dorong-dorong.
“Ini, Lili, mau minta maaf katanya,” sahut Kevan malas.
“Lo juga kali,” gerutu Lili pelan.
“Yaudah, ayo minta maaf.”
“Lo duluan, deh.”
“Dih, lo yang salah kenapa harus gue yang duluan, sih?”
“Ya, ‘kan, semua berawal dari lo! Kalau aja lo nggak jatohin gue tadi pagi, kejadian kayak gini nggak bakal terjadi.” Lili melotot.
“Itu juga nggak akan terjadi kalo otak lo yang berpikiran pendek itu nggak punya niat jelek!” Kevan seperti biasa, tetap tidak mau mengalah.
“Ini sebenarnya kalian mau minta maaf atau mau ngadain pertunjukan perang di depan gue, sih?” sindir Keano.
Keduanya langsung terdiam.
Ketika Keano mengambil kausnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya, mata Lili menangkap kulit punggung Keano yang memerah. Tanpa ragu, dia menunduk dan meraba pelan kulit Keano.
“Ini pasti sakit banget. Sorry, ya?” gumam Lili terdengar tulus.
Keano tersenyum kikuk, “Nggak apa-apa. Ini bentar lagi sembuh, kok.”
“Udah ada salepnya?”
Keano lantas menggeleng. Suster Kurni memang belum memberinya salep, ‘kan?
“Belum ada, ya,” gumam Lili kembali berdiri tegak dan menghela napas kikuk. Ia baru sadar sudah menyentuh Keano tanpa izin.
“Nggak parah banget, ‘kan, No?” tanya Kevan memastikan.
“Hm, nggak, kok. Paling beberapa hari juga udah baikan.”
“Gue minta maaf, ya. Andai aja gue nggak ngerjain cewek tengil ini, mungkin lo nggak di UKS sekarang. Lili, sih, enak banget dikerjain,” cerocos Kevan seenak jidat.
Lili melirik pemuda itu dengan jengah dan merotasikan bola matanya, yang entah kenapa, terlihat lucu di pandangan Keano. Namun, tak lama kemudian, suara Kana membuyarkan semuanya. Gadis itu berjalan dari pintu UKS dengan langkah besar. Di tangannya ada baju olahraga Cahaya Taruna berwarna orange.
“Hei, hei, ngapain kalian kemari? Mau bikin masalah lagi?” tanyanya dengan nada sinis.
“Nggak, kok. Gue ke sini cuma mau minta maaf doang!” balas Lili dengan raut risih. Tatapan meremehkan dari Kana sangat mengganggunya.
“Gue juga,” susul Kevan, sama betenya dengan Lili.
“Maaf, maaf! Mau berapa kali pun lo minta maaf, itu nggak bakalan bikin punggung Keano sembuh mendadak.” Kana berdecak pelan dan menyerahkan baju olahraga itu pada Keano. “Ini pakai. Nanti lo masuk angin.”
“Gue juga tahu itu, kok! Gue minta maaf sebagai bentuk tanda penyesalan. Lo kayak nggak pernah minta maaf aja!” balas Lili telak.
Kana terdiam, namun tangannya terkepal erat. Tatapan yang tadi meremehkan berubah jadi binar benci. Sebelum terjadi perkelahian ala-ala cewek, Kevan menarik Lili keluar dari UKS. Setibanya di depan UKS, Lili menghempas tangan pemuda itu.
“Lo ngapain sih pegang-pegang tangan gue! Najis banget!” kesalnya sembari meniup pergelangan tangannya, bekas yang dipegang Kevan tadi.
“Anjir, lo kira tangan gue ini sekotor apa? Justru gue bantu lo ngehindar dari perang tarik-tarikan rambut!” Kevan membela dirinya sendiri.
“Maksud lo?”
“Aish! Lo nggak liat tadi Kana udah kayak mau makan lo? Lagi pula ini UKS, nggak baik bikin keributan di tempat sunyi ini,” nasehat Kevan sok bijak.
Lili berdecak kesal. “Memangnya gue mau ladenin? Amit-amit! Gue nggak level sama tarik-tarikan rambut. Udah, ah, mau balik ke kantin. Bye!” pamitnya pergi setelah mendorong d**a Kevan hingga pemuda itu terhuyung ke belakang dan menabrak dinding.
“Oi, Cabe, tungguin gue! Bakso pesenan gue yang tadi kudu lo ganti, ya!”
Sementara itu, masih di dalam UKS, Kana berdecak kesal mendengar adu mulut keduanya. Sembari melipat rapi pakaian kotor Keano, dia menggumam kesal. “Dasar cewek pecicilan!”
Mendengarnya, Keano mendengus dan tersenyum kecil. Dia mengambil alih pakaiannya dari tangan Kana. “Nama cewek itu tadi siapa?”
“Nggak tahu, nggak peduli gue. Lo ngapain nanya-nanyain namanya?” tanya Kana dengan raut curiga.
“Nggak apa-apa. Gue ngerasa aneh aja. Baru kali ini gue ketemu cewek kayak gitu,” lirih Keano tersenyum kecil.
“Ya, iyalah! Pecicilan gitu!”
“Hm, dia memang pecicilan,” gumam Keano, “tapi justru itu yang buat dia punya tempat lain di mata gue.”
“Lo bilang apa?” Kana yang mengambil wadah air dari bawah tempat tidur tidak mendengar jelas gumaman teman sedari kecilnya itu.
“Nggak apa-apa. Ayo, keluar.”
“Ayo.”
“Eh, sebentar, Na,” sanggah Keano, menghentikan langkahnya.
“Kenapa?”
Mata hitam kelamnya menatap Kana dengan penuh harap. “Jangan bilangin Bokap Nyokap gue soal masalah hari ini, ya?”
Kana menatap lama pemuda itu. Binar kesal langsung menguap begitu saja dari matanya, tergantikan dengan raut antara keberatan dan kasihan. Namun, beberapa saat kemudian, cewek berwajah tirus dan memakai lensa mata abu-abu itu mengangguk dengan berat.
???
Lili celingukan saat turun dari bus di halte terdekat dari sekolahnya. Tak hanya dia, beberapa orang yang memakai seragam sama dengannya juga turun dari sana dan langsung berjalan menuju gerbang sekolah.
“Hai, Li.”
“Oh, hai, Karla!” Lili membalas sapaan cewek bertubuh bongsor sekaligus ketua kelasnya itu.
“Lo kayak lagi nyari sesuatu.”
“Iya, lagi nyari benda berharga,” ujar Lili dengan mimik serius.
“Apa?”
“Lesli.”
Karla tergelak dan otomatis menepuk punggung Lili. Gadis itu lantas tersedak. Tepukan pelan dari Karla bukan kaleng-kaleng.
“Lo ada-ada aja, deh. Itu dia Lesli!” tunjuk Karla ke arah halte. Lesli terlihat baru turun dari bus yang baru tiba. “Kalau gitu, gue duluan ke kelas, ya. Dah, Lili!”
Lili melambaikan tangannya pada Karla yang beranjak pergi. “Hm, dadah!”
Ia berbalik, melambaikan tangan kuat-kuat pada Lesli yang berjalan santai dari halte. Tersadar dengan keberadaan Lili yang tak jauh dari depannya, gadis berambut panjang bergelombang itu ber-oh dan langsung berlari kecil mendekati Lili. Rambut Lesli yang hari ini diikat ekor kuda bergerak-gerak tak tentu arah, mengikuti gerakan tubuhnya.
“Tumben lo ikat rambut model gitu? Biasanya juga ikat setengah,” ujar Lili menarik pelan rambut Lesli.
Keduanya berjalan beriringan menuju gerbang. “Mau coba-coba aja. Rambut gue juga udah makin panjang, suka gerah kalau dibiarin terurai. Lo sendiri? Kapan panjangin rambut?”
Lili menyentuh rambutnya sendiri yang panjangnya hanya mencapai bahu. Ia lalu menggeleng kecil dengan senyum tengil. “Nggak mau. Ribet kalau mau keramas. Boros sampo juga.”
Lesli tergelak dan menyenggol Lili hingga temannya itu oleng ke samping. Hari ini, Lili sudah dua kali mengalami gaya dorong.
Lapangan luas serta gedung sekolah yang membentuk huruf U sudah terlihat ketika Lili baru ingat dengan tujuannya ingin menemui Lesli cepat-cepat hari ini.
“Oh, iya, Les,” Lili merogoh tas abu-abunya sembari memelankan langkahnya, “lo kemarin bilang sekelas sama Keano, ‘kan? Gue titip ini, ya. Tolong kasih ke dia,” pinta Lili sembari menyerahkan sebuah salep.
Lesli menatap salep itu dan
menerimanya dengan ragu. “Buat apa?”
“Pake nanya lagi. Buat punggungnya yang kemarin kena kuah panas, lah!”
“Lebay amat, sih, lo. Pake ngasih salep segala,” cibir Lesli.
“Kemarin yang ngotot banget nyuruh gue minta maaf sama Keano, siapa, ya?” balas Lili dengan nada mencibir.
Lesli menghela napas, “Oke, nanti gue kasih.”
“Oke, dankeschön! [Terima kasih banyak!]” ucap Lili mengedipkan sebelah matanya.
Keduanya lalu berpisah menuju gedung jurusan masing-masing. Lili berjalan ke arah barat, melewati pinggir lapangan basket yang merangkap jadi lapangan upacara menuju gedung Bahasa. Sementara Lesli, berjalan melewati pinggir taman sekolah menuju gedung IPA.
“Keano ... ada titipan ... buat lo,” ucap Lesli terengah-engah, setelah berjuang menaiki tangga hingga ke lantai tiga, tempat kelasnya berada.
Sempat terlintas di pikirannya, untuk menyumbangkan saran ke kotak saran agar membuat lift di setiap gedung saja. Setiap gedung SMA Cahaya Taruna yang mencapai empat lantai membuat siapa pun akan keringat pagi-pagi. Namun, dia langsung menyingkirkan hal itu jauh-jauh.
Itung-itung bentukin betis gue yang terlalu kerempeng, batin Lesli selalu mengingatkan dirinya.
Keano menatap salep yang masih tersimpan di dalam kotaknya dan tersegel rapi saat Lesli menaruh di mejanya.
“Dari Lili,” ujar Lesli sebelum pemuda itu bertanya. Ia lalu beralih ke bangkunya dan sibuk sendiri.
Keano menatap salep itu dan memegangnya. Bibirnya yang berbentuk hati lantas menyunggingkan senyum kecil. Ia mengambil salep dari dalam tasnya, salep dari Suster Kurni dan membandingkannya dengan salep pemberian Lili.
Tak lama kemudian, dia menaruh salep dari Suster Kurni di dalam laci dan mengamati lebih lama salep dari Lili. “Hm, manis.”
“Apa yang manis?”
Suara jutek khas Kana menyentak Keano. Ia mendongak ke atas dan melihat wajah temannya itu yang penuh tanda tanya.
“Salep?” Kana mengangkat alisnya. “Masih baru. Yang kemarin mana?”
“Gue pake yang ini aja,” ujar Keano mengangkat salep itu.
“Itu dari mana?”
“Kepo lo. Ngapain ke sini? Kelas lo, 'kan, IPS.”
Kana melongo setelah mendengar perkataan Keano. Dengan dengusan tak menyangka, dia berujar jutek, “terserah itu salep dari mana, asalkan aman dan lo pake tepat waktu.”
“Hm.”
???