Bab 3: Kuah Bakso Terbang

1114 Words
??? Niat jahil berujung sesal ??? Lili benar-benar murni ingin mengerjai Kevan dan tak ada niat menjadikan pemuda yang duduk itu jadi tumbalnya. Hatinya berkali-kali mengumpat dirinya sendiri, begitu ceroboh dalam memilih aksi balas dendam. Kalau begini, bukannya puas, dia malah tambah-tambah masalah. Walaupun begitu, Lili tak bergerak dari tempatnya, begitu pula dengan yang lain. Raungan sakit pemuda itu bahkan tak membuat mereka bergerak, sampai akhirnya seorang gadis berteriak panik dari pintu kantin. “KEANO!” Lili langsung tersadar dari keterkejutannya. Ia berniat mendekati Keano yang sedang melepas jasnya dan menyisakan seragam putih dengan raut kesakitan. Namun, belum sempat minta maaf, gadis yang berteriak tadi langsung menepisnya dengan kasar dan lebih dulu meraba punggung Keano dengan raut panik. “Siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini?!” tanya gadis berambut panjang curly itu emosi. Lili mendekatinya dengan raut menyesal. Tangannya menyatu di depan d**a. “Maaf ... gue tadi nggak sengaja—“ “Nggak sengaja?!” potong gadis itu dengan nada tinggi. “Lihat apa akibat dari nggak sengaja lo itu!” “Maaf,” lirih Lili menatap Keano yang berbalik padanya. “Eh? Lo cowok yang nabrak gue dekat halte itu?” tanyanya melongo. “Oh, lo cewek yang ngumpatin gue itu, ya?” tanya balik Keano dengan raut kesakitan. “Eh? Ahh, udah lupain yang itu. Gue minta maaf. Punggung lo gimana? Baik-baik aja?” tanya Lili khawatir. “Maaf? Gampang banget lo ngomong gitu! Memangnya permintaan maaf lo bakal bikin punggung Keano baik-baik aja gitu?” tanya gadis di samping Keano dengan kesal. “Kana, udah!” tegur Keano, menahan Kana yang hendak mendekati Lili. Kana memelototi pemuda itu. “Cewek ini harus dikasih pelajaran, Keano!” “Nggak perlu! Dia udah bilang nggak sengaja dan minta maaf, ‘kan? Nggak usah mempersulit masalahnya, Kana. Lagipula ini kantin, banyak yang lihat ... argh!” Kalimat lerai Keano berakhir dengan ringisan karena ia mencoba berdiri tegak. Kana berdecak, berusaha meredam kekesalannya. Ia beralih pada punggung Keano yang masih basah dan hangat. “Duh, harus cepat diobati, nih! Ayo ke UKS, nanti malah tambah parah,” ujar Kana menuntun Keano keluar dari kantin. Beberapa langkah kemudian dia berbalik, menatap Lili dengan tajam. “Awas lo!” Lili mendengus ketika keduanya keluar dari kantin. Kekesalannya hanya sebatas mengepalkan tangan. Dia tidak terima dibentak-bentak begitu. Lili sudah minta maaf, ‘kan? Lagipula, kenapa cewek bernama Kana itu yang sewot? Yang korban siapa, yang ngomel siapa. “Tuh, Lili, kelakuan lo emang nggak manusiawi banget! Gimana kalau punggung Keano kenapa-kenapa. Lo mau disuruh tanggung jawab?” tegur Lesli kembali duduk. “Gue bener-bener nggak sengaja, Les.” “Gue tahu, Li. Tapi, mau ngelakuin sesuatu itu harus dipikir-pikir dulu, itu nggak atau bisa aja berdampak buruk untuk orang lain.” “Ya, maaf,” cicit Lili dan ikut duduk berhadapan dengan Lesli. Matanya memancarkan raut bersalah. “Lo ngerjain Kevan nggak lihat apa yang dia bawa. Lo emangnya nggak mikir, itu kuah bakso bakal terlempar kemana kalau Kevan jatuh? Bukan cuma Keano, bisa aja teman yang lain juga jadi korban gara-gara niat jahil lo.” Lesli masih betah mengomeli temannya yang berotak nakal itu. “Niatnya cuma mau ngerjain cowok ini! Semuanya salah lo!” tunjuk Lili pada Kevan yang masih berdiri. “Ngapain lo tunjuk-tunjuk gue?” Kevan mengerutkan kening tak terima. “Akar masalahnya emang dari lo, Nyet! Kalau aja lo nggak buat gue jatuh tadi pagi di depan kelas, nggak akan ada kejadian kayak begini!” Lili melampiaskan kekesalannya pada Kevan. Namun, Kevan bukan tipe cowok yang mau saja disalahkan, apalagi oleh musuh bebuyutannya. Kata ‘cewek selalu benar' tidak ada dalam kamusnya. “Tapi, lo nggak apa-apa, ‘kan? Lah, ini? Lo jadiin punggung Keano korban.” Keano mendecih pelan. “Kalau aja tadi pagi lutut gue lecet, lo mau ngapain, hah?” tantang Lili. “UDAH, UDAH!” teriak Lesli jengkel yang menarik perhatian seisi kantin Bahasa. Ia menaruh garpu dan sendoknya ke mangkuk dengan kasar dan berdiri, menatap keduanya dengan tajam. “Nggak usah saling menyalahkan lo berdua! Di sini kalian yang salah, tahu! Abis ini, lo berdua nyusul ke UKS minta maaf sama Keano!” “Weh, Les, gue nggak ngapa-ngapain, ya! Kok, gue juga kena dampratan lo, sih?” oceh Kevan. “Tapi, semua niat jahil Lili berawal dari lo, ‘kan?” balas Lesli yang buat Kevan mati kutu. “Tapi, tadi gue udah minta maaf,” sanggah Lili juga tak terima. “Minta maaf yang bener! Barengan ama Kevan!” Lili dan Kevan sama-sama memalingkan wajah mereka dan mendecak kesal. Ketika pandangan mereka bertemu, keduanya langsung memutar bola mata. “Awas lo!” desis Lili. “Lo yang awas!” balas Kevan dengan suara dalam. “Lo berdua masih mau lanjut ribut?” tanya Lesli, “gue laporin ke guru, nih,” ancamnya beranjak pergi, namun Lili dan Kevan serempak menahannya. “Oke, gue pergi,” pasrah Lili lalu berjalan keluar dari kantin. “Gue juga,” susul Kevan kemudian. “Hati-hati,” ucap Kana pelan sembari menuntun Keano duduk di tempat tidur UKS. Ia mengambil almamater Keano dan menaruhnya di kursi. Gadis itu duduk di samping Keano dan menyuruh pemuda itu membelakanginya. “Buka baju lo,” perintahnya. Keano menurut, sementara ia membuka kancing bajunya satu per satu, suster yang tengah bertugas datang mendekati mereka. “Ada apa?” “Anu, Sus, ini Keano kena tumpahan kuah mie panas,” adu Kana sembari membantu Keano membuka kaos hitamnya. “Oh, astaga, sebentar, ya, saya ambilkan air dulu,” ujar suster ber-name tag Kurni itu. “Iya, Sus, makasih.” Kana menggigit bibir ketika melihat punggung Keano yang berwarna kemerah-merahan. “Untung aja nggak parah. Lo pake baju sampai tiga lapisan jadi kulit lo nggak sampai melepuh,” ujar Kana sedikit lega. “Aish, aww! Jangan disentuh, Na. Perih!” ringis Keano ketika Kana meraba punggungnya. “Gini, kalau lo nggak denger gue! Kalau aja lo nggak nurut sama Kevan ke kantin Bahasa dan ikut gue ke kantin IPS, lo nggak akan berakhir di UKS!” omel Kana. “Iya, iya, sorry. Kantin Bahasa lebih dekat dibanding kantin IPS,” kelit Keano. Dengan kesal, Kana menekan punggung pemuda itu dengan telunjuknya. “Kalau gitu, kenapa nggak di kantin IPA aja, lebih deket!” “Aww! Jahat banget lo!” ringis Keano kesakitan. “Ini air sama handuknya. Handuknya dibasahi terus ditekan-tekan pelan ke punggung. Untuk salepnya nggak tersedia di UKS. Nanti saya hubungi Suster Mira singgah beliin salepnya di apotek, kebetulan dia sebentar lagi ke sini gantiin saya jaga,” terang Suster Kurni. “Oke, Sus. Makasih, ya.” Suster Kurni tersenyum sekilas lalu kembali ke ruangannya. Kana mencelupkan handuk putih ke dalam wadah berisi air dan memerasnya dengan telaten. Dengan hati-hati, dia menekan-nekan handuk basah itu di punggung Keano. “Aduh, pelan-pelan, Kana!” “Iya, iya, ini gue udah hati-hati banget. Lo jangan teriak gitu, ngagetin gue, tahu!” tegur Kana. Setelah dirasa cukup, Kana menaruh handuk itu ke dalam wadah dan menyingkirkannya. “Lo bawa baju ganti?” “Baju olahraga gue di loker dalam kelas.” “Oke, sebentar, ya. Gue ambilin dulu. Lo jangan ke mana-mana,” perintah Kana lalu berlari keluar UKS. Keano menatap pintu UKS sembari mendengus. “Siapa juga yang mau keluar pas lagi setengah t*******g gini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD