FORELSKET~08

1232 Words
Hari ini Clarinda dan Savalas akan kembali ke rumah mereka padahal hari ini tanggal merah membuat sepasang suami isteri tersebut lebih memilih untuk kembali pada rumah mereka sendiri sebagai sepasang anak yang telah membangun rumah tangganya sendiri setelah menghabiskan satu malam di kediaman orang tua Clarinda.  Selepas mereka sarapan Clarinda dan Savalas akan segera berangkat dengan alasan yang di berikan oleh Clarinda pada mamanya saat bertanya kenapa tidak menghabiskan satu malam lagi adalah dirinya mempunyai pekerjaan rumah yang menumpuk dan harus segera di handle olehnya sebelum dirinya kembali sulit dmencari waktu yang pas.  Clarinda memang tidak mempunyai sebuah pekerja rumah tangga sehingga pada akhir pekan dirinya selalu menghandle pekerjaan rumah secara full time sementara yang biasanya bisa di handle olehnya secara cepat seperti, menyiapkan makanan, menyiapkan pakian suami, dan berberes pagi hari dirinya bisa mengerjakan hal itu dengan baik tanpa bantuan orang lain.  Lagipula menurut Clarinda dirinya sebagai seorang perempuan harus bisa melakukan hal tersebut dikarenakan tipenya adalah perempuan yang benar - benar ingin di anggap baik oleh suaminya dalam urusan rumah tangga.  Tetapi, di banding semua itu alasan sebenanarnya adalah Clarinda tidak bisa menahan tinggal lebih lama di kediaman orang tuanya saat pikiran negatif yang selalu memenuhi kepalanya mengenai suaminya dan adik nya, kembarannya sendiri terus terngiang padanya. Padahal tidak ada bukti yang benar - benar akurat. Sehingga Clarinda lebih memilih untuk sedikit menjaga jarak dulu dari salah satu mereka yang pastinya dirinya memilih Clarisa, mengingat Savalas adalah suaminya dimana suaminya pergi disana dirinya harus ada sebagai seorang isteri begitupula dengan Savalas yang bertanggung jawab padanya.  "Mas, aku ke atas dulu ambil barang ya." pamit Clarinda kepada Savalas yang di angguki oleh suaminya tersebut.  "Mama ikut temenin ke atas ya." ucap Santi saat Clarinda akan melangkah naik ke atas kamar membuat puterinya tersebut hanya mengangguk.  Sekarang tinggal Savalas dan Clarisa saja yang berada di ruang tamu sementara ayah mertuanya itu baru saja kebelakang untuk mengambil sesuatu yang katanya di lupakannya untuk di berikan pada mereka sebelum pergi dari sana.  Clarisa menengok ke berbagai arah dan saat memastikan keadaan aman dirinyapun segera mendekati sumi kakaknya itu Savalas, merangkul sebelah lengannya lalu mendaratkan kecupan singkat pada pipi Savalas. Savalas yang melihat tingkah laku adik iparnya itu tidak bisa menahan kekagetannya sebelum dengan cepat mencoba melepaskan gandengan Clarisa pada lengannya.  "Kamu jangan gini, Clarisa. nanti kalo ada yang lihat gimana ?" tanya Savalas dengan matanya yang terus berkeliaran melihat seluruh sudut rumah, berjaga - jaga jika ada yang datang dan melihat kedekatannya bersama adik iparnya tersebut.  Dengan terus bersikeras menggandeng lengan Savalas, Clarisa tidak mau menjauhkan dirinya dari tubuh kakak iparnya tersebut bahkan saat Savlas berusaha lepas darinya, sayangnya Clarisa terlalu rindu dengan suami kakaknya. "Aku kangen banget sama kamu, kayaknya aku nggak bisa berhenti kangenin kamu. Aku baru balik LA dan kita baru ketemu dua kali terus, sekarang kamu udah mau balik sama kak Clarinda. Kamu tau nggak semalam aku berharap kamu datang ke kamar aku, aku tuh nungguin kamu semalaman." genit Clarisa membuat Savalas menghela nafas lalu mengelus lembut rambut cokelatnya yang di gerai.  "Kamu tahu kalo disini ada mama, papa, sama Clarinda. Aku nggak bisa lakuin hal seperti itu. Kalo ketahuan sama Clarinda gimana ?" jelasnya lembut dengan terus mengelus lembut rambut Clarisa hingga perempuan itu mendongak naik menatap dirinya dengan bibir yang tersungging sebuah senyuman. "Kamu tinggal cerain aja Kak Clarinda terus dateng ke aku." jawab Clarisa dengan enteng membuat Savalas terkejut dan mengkerutkan keningnya.  "Apa ? Maksud kamu gimana ?  Kok kamu ngomong gitu, itu kakak kamu, Clarisa." ucap Savalas dengan menatap tak mengerti adik dari isterinya tersebut terlihat bingung. Savalas tahu seberapa besar kasih sayang kedua adik kakak kembar identik itu, jadi tidak mungkin jika salah satu di antara mereka akan menghancurkan kebahagiaan saudaranya sendiri hanya untuk memperoleh kebahagiaanya seorang saja.  Dengan acuh di angkatnya kedua bahunya malas dengan ucapan Savalas yang masih saja mempertanyakan maksudnya "Ya, emang kita mau gini terus ? Aku nggak mau jalan di tempat gini, selalu di sembunyiin dan nggak bisa kamu akuin di depan teman - teman kamu atau kerabat kantor kamu." mendengar hal tersebut keluar dari bibir merah merona yang selalu berhasil menggodanya itu membuat Savalas terkejut lalu dengan sedikit kasar melepaskan tangan Clarisa darinya, bahkan dirinya sudah berdiri dari posisinya.  "Clarisa kita ini nggak akan sam--"  "Mas ?" suara Clarinda yang memanggilnya berhasil mengalihkan tatapan Savalas dari Clarisa yang menatapnya dengan tatapan bertanya - tanya dengan tindakan kekasih gelapnya itu dan baru saja menjauhinya.  Sementara Savalas hampir saja berdiri dengan jantung membeku saat  suara Clarinda, isterinya terdengar dalam gendang telinganya. Ditatapnya wajah Clarisa yang terlihat berjalan ke arahnya dengan Santi yang sudah lebih dahulu berada di samping Savalas, menatap  puterinya dan Savalas secara bergantian. Sepertinya ibu mertuanya itu turun lebih dahulu di banding isterinya.  "Kenapa ?" tanya Clarinda setibanya di hadapan Savalas lalu berbalik menatap Clarisa yang duduk di sofa dengan bingung. "Nggak kok. Cuman ini bawaannya ?" alih Savalas menunjuk tangan Clarinda yang sebelahnya menggenggam sebuah paperbag berukuran besar dengan sebelah tangannya lagi yang memakai tas jinjingnya.  Saat Clarinda menganggukan kepala langsung saja Savalas mengambil paperbag dari tangan Clarinda lalu segera pamit ke mobil deluan "Sayang aku bawa ke mobil dulu ya. Aku tunggu di sana."  Clarinda ingin bertanya tetapi, suaminya itu sudah berlalu pergi dengan cepat meninggalkan tiga orang perempuan yang saling memiliki hubungan darah. "Ma, kenapasih ?" tanya Clarinda pada Santi yang terus menatap Clarisa, adiknya tersebut dengan tajam.  Santi menghela nafas lalu merangkul punggung puteri pertamanya dengan lembut "Nggak kok. Ayok mama antar, udah nggak ada yang ketinggalan kan kak ?" Clarinda menganggukan kepalanya dengan terus berjalan yang di tuntun oleh mamanya yang memang sedikit mendorongnya untuk segera pergi dari sana. "Eh Clarisa ketinggalan Ma. Ayah juga belum ada."  "Dia bisa jalan sendiri kedepan. Ayo, buruan." Santi lalu semakin cepat membawanya puterinya keluar daru rumah mereka tanpa menanggapi ucapan Clarinda mengenai suaminya yang belum muncul juga.  *** Pada akhirnya Clarinda pergi tanpa berpamitan dengan ayahnya tersebut saat Santi terus saja mendorongnya untuk segera bergegas pergi dari sana dan bahkan Savalas juga tidak membantah bahkan langsung saja menjalankan mobilnya dan hanya mengklakson satu kali.  Entah kenapa Mama dan Suaminya itu terlihat terburu - buru.  "Kenapasih yang ? Kok buru - buru banget ? Sampe nggak pamitan dengan Ayah." Tanya Clarinda melihat suaminya tersebut yang masih fokus pada jalanan di depannya, tidak menatapnya. "Nggak apa - apa kok. Cuman pengen sampai rumah aja, ada banyak kerjaan kantor buat di review." saat alasan yang di keluarkan oleh suaminya itu terdengar tidak begitu memuaskan sampai mereka harus meninggalkan ayahnya membuat Clarinda bersiap mengomel sebelum dering ponselnya berbunyi yang ternyata panggilandari ayahnya.  "Tapikan nggak gitu juga, Ayah sampai nel[pone kan jadinya." tunjuk Clarinda sebelum mengangkat panggilan ayahnya tersebut.  "Hallo ayah." terdengar samar - samar bahwa ayah mertuanya itu mengomel dari dalam telepon bahkan isterinya saja sampai meliriknya seolah berkata ini karenanya. "Maaf ayah.Mas Savalas ada panggilan ke kantor secara tiba - tiba, ada hal mendesak katanya, emang ayah kemana sih tadi ?" bohong Clarinda pada ayahnya tersebut yang menanyakan kenapa mereka tidak menunggu pria tersebut sebelum pergi. Tidak mungkin jika Clarinda mengatakan pada Reiko jika suaminya itu mendesak pulang karena ada pekerjaan kantor yang sebenarnya bisa di selesaikan di rumah membuat mereka tidak berpamitan. "Bilang sama ayah aku minta maaf. Nanti kita kunjungi lagi." ucap Savalas pada isterinya sembari membagi fokusnya dengan jalanan di depannya dengan Clarinda yang sedang menelpone bersama ayah mertuanya tersebut.  "Iya ayah, Mas  Savalas katanya minta maaf karena nggak sempat minta izin, nanti kita kunjungin ayah lagi kok. Iya." Hingga Reiko baru memutuskan panggilan setelah selesai menceramahi mereka berdua yang sayangnya hanya di dengar oleh Clarinda saja. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD