Savalas menatap ayah mertuanya yang belum juga membuka mulutnya hingga Clarisa keluar meninggalkan mereka berdua saja dari dua menit lalu.
"Ayah."
"Gimana hubungan rumah tangga kamu dengan Clarinda ?" Reiko langsung saja memutus panggilan menantunya dengan akhirnya menyeruakan suaranya setelah beberapa menit berdiam diri.
Kedua manik mata itu beradu tajam dengan kedua bola mata Savalas yang entah kenapa detak jantungnya berdetak dengan cepat. Terlihat bahwa ayah mertuanya itu sedang berbicara serius padanya.
"Baik ayah." hanya itu yang bisa di keluarkan oleh Savalas sendiri, tidak tahu harus menjawab apa lagi atau haruskah dirinya mengatakan bahwa mereka baru saja bertengkar selama perjalanan menuju kesini. Itu tidak mungkin.
"Tidak habis bertengkar bukan kalian berdua ?" Ayah mertuanya kembali menembak pertanyaan kepada Savalas yang langsung saja menjilat bibirnya untuk membasahinya karena terlalu kering, Reiko benar - benar tahu cara mengguncang perasaanya.
Savalas sendiri bingung harus menjawab apa kepada mertuanya tersebut, terlalu bingung dengan pertanyaan tak terduga itu. Jadi saat Reiko melihat gerak gerik dari Savalas, menantunya yang tidak pasti maka dirinya hanya menghela nafas lalu menyentuh bahu kokoh milik pria tersebut dengan sebelah tangannya hingga Savalas kembali menatapnya.
"Yasudah kalo kamu tidak mau cerita soal rumah tangga kamu tapi, ayah berpesan sama kamu jangan sampai karena pertengkaran ini hubungan kalian malah merenggang. Ini pernikahan loh Savalas, puteri ayah yang kamu minta sendiri untuk kamu nikahi." sambung Reiko dengan nada suaranya yang sedikit melunak tetapi, kedua bola matanya yang tetap saja sama yaitu masih menajam."Ingat perjuangan kamu waktu kamu mau meminang puteri ayah, Clarinda. Jangan biarkan perjuangan kamu nantinya sia - sia dan kamu menyesal pada akhirnya. Seharusnya kalian sudah bisa saling mengerti mengingat kalian sudah menjalin hubungan asmara selama lima tahun, kalopun Clarinda sebagai seorang isteri tidak bisa mengerti kamu sebagai kepala keluarga kamukan bisa mengubah cara pandang dia, bagaimanapun dia isteri kamu. Sekarang sudah menjadi satu."nasehat yang diberikan oleh Reiko sendiri mampu membuat Savalas kembali memikirkan perjuangan yang memang dulu di lakukannya untuk meminang Clarinda sebagai isterinya itu.
Reiko tergolong sebagai seorang ayah yang protektif kepada anak - anaknya membuat kedua puterinya itu sedikit sulit untuk berteman atau bersosialisasi dengan anak laki - laki yang berbeda gender dengan mereka beruda, bahkan jika Clarinda atau Clarisa terlibat kerja kelompok saja dengan yang namanya berjenis kelamin laki - laki maka pastilah dirinya mengharuskan kerja kelompok itu di rumah mereka berdua atau tidak sama sekali. Jadi saat Clarinda datang untuk pertama kalinya membawa Savalas setelah bertahun - tahun melakukan hubungan pacaran secara diam - diam dan baru menunjukan diri yang sebenarnya Svalas cukup mengalami waktu sulit, terlebih saat dirinya ingin berencana mengambil Clarinda dari kedua tangan orang tuanya butuh banyak perjuangan.
Reiko tidak pernah bersikap kasar tetapi, dia cukup bersikap dingin pada Savalas saat itu. Saat telah puas melihat pengorbanan yang di lakukan Savalas pada akhirnya juga dia luluh dan mau membuka diri untuk menerimanya sebagai seorang menantu dan pria yang akan menggantikan tanggung jawabnya. Mungkin karena seiring berjalannya waktu Reiko juga sudah bisa memasang diri dengan baik hingga Clarisa puteri bungsunya itu bisa ke LA sendirian untuk menjadi seorang model. Tepatnya Reiko sangat mempercayai kedua puterinya itu.
"Tapi tetap saja Savalas, sebagai seorang ayah yang mempunyai dua orang puteri dan telah kamu miliki salah satunya. Ayah hanya ingin berpesan agar kamu bisa menjaga Clarinda dengan baik. Saat kamu meminta Clarinda untuk dirimu. itu adalah hal yang sulit untuk di lakukan ayah. Terlalu banyak kekhawatiran pada saat itu jika, harus melepaskan Clarinda untuk laki - laki asing yang baru ayah temui. Banyak pertanyaan di kepala ayah di antaranya apakah kamu bisa menjaganya dengan baik ? membahagiakannya ? ataukah tidak akan membuatnya menangis ?Suatu saat kamu bakal ngerasain posisi ayah disaat kalian berdua sudah mempunyai anak." Jelasnya lagi menarik kesadaran Savalas yang menganggukan kepalanya mengerti pada ayah mertuanya itu. Pada akhirnya tatapan tajam Reiko mulai mencair secara perlahan.
"Jadi apapun masalah kamu dengan Clarinda, kamu bisa menyelesaikan itu dengan berbicara baik - baik. Ayah percaya pada kamu kalo kamu tidak akan menyakiti puteri ayah bukan ? karena ayah sudah sangat mempercayaimu bahkan melepaskannya untuk dirimu." kalini sentuhan pada bahu Savalas berubah menjadi tepukan hangat di pundak kirinya itu.
"Iya ayah." entah kenapa saat Savalas mengatakan itu rasanya dirinya telah berbohong pada ayah mertuanya terlebih saat Reiko memasang senyum senang menyambut ucapannya.
Dirinya tahu telah melukai puteri Reiko yaitu Clarinda atau mungkin bukan hanya Clarinda saja, melainkan kedua puteri dari pria yang menaruh kepercayaan besar padanya.
***
"Aduh kamu ini kok bisa malah gini sih kak ? Ke dokter aja yuk." Santi memijit belakang pangkal leher Clarinda yang masih saja berjongkok di depan closet mencoba memuntahkan isi perutnya yang tidak berhasil mengeluarkan makanan dan hanya sebuah cairan bening saja.
Setelah merasa tidak ada lagi yang bergejolak di bawah perutnya Clarindapun berdiri dari posisinya dan berjalan menuju wastafel untuk membasuh mulutnya, disaat Clarinda sedang membasuh mulutnya dan seluruh wajahnya lalu mendongak menatap kaca di depannya, Clarinda-pun melihat Clarisa yang berdiri di ujung pintu juga berbalik menatapnya dengan raut wajah khawatir membuat Clarinda menghela nafas.
Ada yang tidak benar disini. Perasaanya terus menyeruakan itu semua, tidak mungkin suaminya benar - benar berselingkuh terlebih dengan kembarannya sendiri, adik ipar Savalas.
"Kak mau ke dokter aja nggak ? Kakak pucat gitu." akhirnya Clarisa bersuara membuat Clarinda yang masih pada posisinya hanya tersenyum. "Nggak apa - apa. Nanti juga bakal membaik."
Clarisa berjalan masuk mendekati Clarinda dengan terus menatap pantulan wajah Clarinda di kaca yang juga berbalik menatapnya itu. "Tetap aja, kak Clarinda kelihatan kurang sehat." disaat Clarisa sudah akan menyentuh lengan kakaknya itu dengan pelan Clarinda menghindarinya, agar Clarisa tidak menyentuhnya. "Clarisa bisa kamu mundur sedikit ? Kakak mual dekat kamu."
Awalnya Clarisa kebingungan begitu juga Santi tetapi, Clarisa pada akhirnya mundur menjaga jarak dari Clarinda. Entah sadar atau tidak tatapan Clarinda menajam saat mengatakan itu pada adiknya. Tapi, semua itu benar. Dirinya merasa mual saat melihat Clarisa, apalagi dengan jarak dekat.
Seolah - olah adiknya itu adalah hal yang menjijikan untuknya.
"Clarinda." suara lain dari pintu membuat perhatian orang dalam kamar mandi teralih pada sosok Savalas yang terlihat berjalan mendekati mereka di kamar mandi dengan bingung. "Kamu kenapa yang ? Kok pucat banget ?" tanya Savalas langsung pada Clarinda.
Untuk sesaat Clarinda tidak menjawab dan hanya sibuk memperhatikan kembarannya itu, sayangnya raut wajah Clarisa hanya biasa saja tetapi, tak kunjung melepaskan tatapannya tersebut.
Dengan langkah pelan Clarinda berjalan kearah Savalas lalu langsung menggandeng lengan suaminya itu di depan adiknya dan ibunya. "Nggak apa kok. Aku mual aja dikit." Clarinda sempat melihat Clarisa yang terlihat membuang wajahnya dari mereka berdua. "Oh iya kamu dari mana ? Kok baru baik ke kamar ?" sambung Clarinda yang kemudian dijelaskan oleh Savalas bahwa dirinya baru saja menghabiskan sesi minum kopi bersama sang ayah.
"Karena suami kamu udah datang mama sama Clarisa keluar ya, jangan lupa kamu istrahat sama Savalas. Kalo ada apa - apa, mama ada di bawah. Jangan sungkan - sungkan manggil mama ya Savalas. " Ucap Santi membut Clarinda hanya mengiyakan begitu juga dengan Savalas, sebelum berjalan keluar di ikuti dengan Clarisa yang sedang sibuk mengatur kopernya kembali, tinggal menutupnya saja.
Disaat Clarisa baru saja menarik turun kopernya dari kasur kakaknya itu kedua manik mata hitamnya menangkap sebuah pakaian tipis berwarna merah yang dikenalinya sebagai lingerie miliknya. Terlihat lingerie merah tersebut keluar dari paperbagnya membuat Clarisa ingin menarik lingerie tersebut sebelum tangan Clarinda lebih dulu menariknya.
Clarisa hanya bisa diam saat Clarinda melebarkan lingerie tersebut di depan matanya seolah - olah menelitinya, sementara itu Savalas yang melihat lingerie yang di pakai Clarisa kemarin di hotel untuknya hanya bisa diam tidak berkutik juga.
"Ini bagus loh. Beli dimana ? Pesenan temen kamu juga ya ?" hingga suara Clarinda yang memecah keheningan itu terdengar menyapa gendang telinga mereka masing masing.
Seharusnya Clarisa tidak perlu gugup saat lingerie itu berada di tangan kakaknya mengingat kakaknya tidak tahu apa - apa tapi, tetap saja lingerie tersebut adalah salah satu bukti perselingkuhannya dengan Savalas suami Clarinda, membuatnya tetap saja deg - deggan.
"Oh itu beli di LA. iya, pesenan temen juga kak." balasnya dengan gugup bahkan seiring dengan ucapannya suara Clarisa justru semakin mengecil lirih.
Clarinda menganggukan kepalanya mengerti sebelum membalik - balikan lingerie tersebut seolah ingin melihatnya lebih detal hingga kerutan di dahinya muncul. "Tapi, ini udah nggak ada labelnya loh Clarisa. Emang temen kamu masih mau terima nantinya ?" tanya Clarinda lagi mendongakan kepalanya lalu menatap kedua bola mata adiknya tersebut sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Kan jadinya bekas. Kayak udah di pake sama kamu."
Clarisa terdiam tidak tahu berbicara apa. Kakaknya itu terlihat berbeda bahkan menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah di lemparkan padanya sebelum - sebelumnya, dengan cepat Clarinda kembali merubah raut wajahnya, tersenyum. "Daripada temen kamu salah paham. Buat kakak aja ya ?"
"Yang, kamukan udah punya banyak di rumah. Itu pesenan temen Clarisa loh." Savalas akhirnya datang melerai membuat kedua tatapan gadis kembar berbeda status untuknya itu terarah padanya. Mendengar ucapan suaminya membuat Clarinda tersenyum sebelum sedikit berbisik di telinga Savalas.
"Di rumah cuman itu - itu aja, aku nggak ada waktu buat belanja juga. Ini bisa buat suasana baru loh sayang, nanti aku coba pake, pasti kamu suka." bisik Clarinda dengan manja tetapi, suaranya itu cukup terdengar di telinga Clarisa.
Clarisa menggigit bibirnya sedikit kesal dengan sikap manja kakaknya pada Savalas, bagaimanapun Savalas itu juga kekasihnya meskipun, Clarind lebih sah di banding dengannya yang berhubungan terlarang. Jadi, jika kakaknya tidak seprti biasanya mengumbar kemesraan dan sensualitas itu membuatnya sedikit terganggu.
"Nggak apa - apakan dek ?" Clarinda kembali berbicara pada Clarisa yang terlihat sedikit kesal. Clarinda tahu jika adkinya kesal maka gadis itu akan menggigit bibirnya, mencoba menahan kekesalannya, sama dengannya. Sepertinya mereka mempunyai cukup banyak kesamaan. "Lagian kamukan juga masih lajang. Mau pake dimanasih, anak gadis kayak kamu." akhirnya Clarisa menghela nafas sebelum menganggukan kepalanya.
"Yaudah kalo emang kak Clarinda suka. Buat kakak aja."
"Clarisa." tanpa sadar Savalas sedikit menjerit tertahan saat adik iparnya tersebut membiarkan Clarinda memilikinya. Savalas kurang nyaman jika salah satu dari bagian perselingkuhannya itu ada di Clarinda, entah kenapa membuatnya gusar.
"Aku keluar dulu ya kak. Jangan lupa istrahat." pamit Clarisa lalu kembali menyeret koper pink miliknya keluar dari kamar.
Saat Clarisa sudah keluar dari kamar mereka Savalaspun berjalan menuju pintu dan mulai mengunci pintu kamar. Sementara itu Clarinda hanya menatap punggung Savalas dengan datar, tatapan itu belum pernah diberikan pada suaminya baik hanya di belakang punggung sang suami.
Clarinda bingung kenapa bisa dirinya berbicara seperti tadi itu pada adiknya bahkan meminta lingerie ini. Seolah - olah kedua orang terdekatnya itu benar - benar berselingluh saja, padahal suaminya dan adiknya tidak mungkin berselingkuh. Menghela nafas membuat Clarinda melipat kembali lingerie merah di tangannya.
"Yang, lingerie merah itu baiknya balikin ke Clarisa aja. Aku nggak enak sama dianya." Savalas menghentikan langkah Clarinda yang sedang memasukan lingerie tersebut kembali kedalam paperbagnya sebelum menaruh paperbag tersebut ke atas meja rias.
Dengan bersidekap d**a Clarinda berbalik menatap Savalas yang sudah berjalan ke arahnya, mendekati dirinya. "Loh kenapa dengan lingerienya ? Clarisa juga pasti nggak enak mau kasih temennya kalo udah kayak bekas pakai gitu."
"Itu belum di pakai." sela Savalas cepat membuat isterinya itu mengerutkan keningnya. "Tahu darimana kamu ?"
Savalas kebingungan dan hanya memegang bahu isterinya "Aku kurang suka sama lingerie merahnya. Nanti kita belanja yang lain aja ya sayang."
"Kamu pasti suka kalo aku pake." tekan Clarinda membuat suaminya menghela nafas dan menganggukan kepalanya menyerah.