FORELSKET~06

1453 Words
Santi mengetuk pintu kamar anaknya tepatnya kamar dari puteri sulungnya tersebut hingga suara kunci berputar dari dalam terdengar. "Mama." Awalnya Clarinda pikir bahwa yang mengetuk pintu itu adalah sosok suaminya ternyata bukan. Savalas benar - benar membiarkannya sendiri saja tanpa, mendekati dirinya kembali. Dengan tersenyum manis di dorongnya pintu putih di depannya agar terbuka lebih lebar lagi sebelum masuk melangkah kedalam kamar sang puteri yang dominan berwarna krem itu, masih sama tidak ada yang berubah seperti dulu saat Clarinda masih tinggal bersama mereka. Clarinda sendiri memang tidak terlalu banyak mengangkut barang pribadi miliknya ke rumah nya bersama sang suami, hanya beberapa barang penting saja seperti beberapa bagian potong pakaian karena lainnya pasti akan di belinya lagi dan peralatan make up, sebagian kecil saja yang kembali tinggal di kamar miliknya ini. "Gimana kak ? Udah baikan belum ?" Tanya Santi lagi membuat Clarinda hanya menganggukan kepalanya tidak menjawab lalu berjalan kembali ke atas kasur berseprai coklat miliknya dan kembali membaringkan dirinya, masuk kedalam backcover tebal , membuat Santi kembali menghampiri puterinya tersebut dan langsung memegangi dahi sang puteri mengecek suhu tubuhnya layaknya puteri nya ini masih anak - anak bukan seorang perempuan dewasa yang sudah membangun keluarganya sendiri.  "Kamu agak panas, Kak. Padahal tadi baik - baik aja." ucap ibunya lagi yang hanya di abaikan oleh Clarinda sendiri, mungkin karen faktor pikirannya yang terlalu kusut itu hingga dirinya bisa sampai seperti ini bahkan perutnyapun sudah mulai menjadi sedikit bergejolak mual, Clarinda  pikir jika dirinya mungkin terlalu kelelahan sehingga jika tidur sebentar maka tubuhnyapun segera pulih, nyatanya setelah berbaring selama sejam Clarinda tak kunjung merasa baik malah menjadi semakin buruk.  "Mau ke dokter nggak kak ? Kamu ini baru datang kunjungin mama sama ayah kamu, udah sakit begini aja. Ini nih karena kamu nggak ikhlas maunya berduaan terus sama Savalas" sambung Santi lagi yang hanya di berikan tawa kecil oleh puterinya tersebut, mendengar penuturan dari ibunya yang sedikit mengeluh karena dirinya yang tiba - tiba sakit saja sakit. "Mama ngomong apasih. Aku yang lagi sakit mama yang ngawur ah. Udah nggak apa Ma, nanti juga baikan kok." Mendengar penuturan dari puterinya tersebut membuat Santi kembali sedikit mengomel sebelum suara ketukan pada pintu kembali terdengar di susul dengan dorongan pintu kedalam yang terbuka. Diujung sana terlihat adiknya berdiri sebelum melangkah masuk dan ikut juga menggeret koper miliknya sendiri ikut masuk kedalam. "Kak, aku ada bawa oleh - oleh ini dari LA buat kak Clarinda."  Clarisa langsung saja menaikan koper pink berukuran besar miliknya tersebut keatas tempat tidur membuat sedikit kasur tersebut sdikit bergoyang kecil karena dorongan yang terlalu berat.  "Clarisa, kakak kamu ini lagi kurang enak badan. Nanti aja kalo dia udah baikan." jelas ibunya membuat puteri bungsunya tersebut mendongak dari kopernya yang coba dibukanya, kepada sang kakak sendiri yang memang terlihat agak pucat itu. "Kak Clarinda kenapa ? Sakit ?"  "Nggak apa kok, kecapekan aja ini. Emang kamu bawa apa aja dari LA ? Kok koper kamu ini besar banget, oleh - oleh semua dalamnya ?"  Clarisa kembali tersenyum lalu kembali fokus membuka koper pinknya sembari berkata "Nggak kok. Ini cuman ada beberapa aja dalam, cuman nyampur sama pakaian aku juga, makanya sekalian make yang besar gini. Praktis." Setelah itu tangan berwarna cokleta eksotis miliknya mulai membuka koper tersebut hingga membelah dua dan menunjukan isi dari koper tersebut. Terlihat Clarisa hanya membawa beberapa pasang pakaian saja yang jika di hitung hanya tiga pasang buah sementara yang lainnya adalah beberapa paperbag - paperbag bermacam - macam ukuran dengan berbagai merek terkenal yang ada.   "Ini sih emang kamu bawanya semua oleh - oleh aja. Terus baju kamu gimana ? Segini doang, emang cukup selama kamu di sini ?" ucap Clarinda saat melihat koper dari adiknya tersebut, berbeda dengan sang ibu yang langsung saja mengambil paperbag - paperbag dan mulai memeriksanya satu - satu untuk melihat isinya. "Untuk mama mana, dek ?"  "Yang ini tuh buat mama. Kalo itu buat temen aku Ma, mereka nitip. Jangan di bongkar dong." tegur Clarisa sambil menukarkan paperbag yang di tangannya dengan paperbag yang berada di tangan ibunya tersebut. Lalu kembali menoleh pada sang kakak yang juga sudah bangun dari posisi berbaringnya sedari tadi dan mulai melihat - lihat isi koper adiknya tersebut tanpa menyentuhnya. "Aku juga nanti bakal belanja disini kok kalo buat baju doang kak, jadi nggak usah bawa banyak - banyak, menuh - menuhin aja. Kalo ini buat kak Clarinda." sambungnya pada sang kakak lalu menyerahkan paperbag berukuran sedang pada Clarinda  yang jika dilihat dari mereknya adalah pastinya sebuah tas. Hanya saja dalam paperbag tersebut berisi sebuah kotak lagi yang membungkus tas tersebut.  Clarindapun menerima oleh - oleh dari adiknya dan membukanya dengan terus tersenyum pada adiknya yang juga terlihat bersemangat dengan apa yang di lakukan oleh kakaknya. Hingga benar saja bahwa sebuah tas keluaran terbaru untuk merek tersebut menjadi buah tangannya dari sang adik, membuatnya langsung berteriak kecil lalu memeluk Clarisa bersemangat. "Ih kok kamu tahu kalo kakak pengen banget tas ini ? Padahal waktu kakak mau beli udah sould out deluan."terang Clarinda lalu mulai mengelus lembut kulit dari tasnya.  Clarinda sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan yang namanya fashion tetapi, tetap saja dirinya juga seorang perempuan jadi saat melihat ada sebuah tas yang kembali menggugah seleranya setelah sekian lama membuatnya langsung saja menginginkannya. Melupakan segala beban pikirannya yang sudah snagat mengganggunya.  "Eh kayaknya ada satu lagi deh buat kak Clarinda." ingat Clarisa dan kembali membongkar isi kopernya tersebut tetapi, tak kunjung di dapatnya apa yang di carinya juga hingga Clarinda yang melihat adiknya tersebut hanya tersenyum menenangkan sang adik yang terlihat sedikit panik. "Ini udah lebih dari cukup kok. Kamu kembali aja udah seneng kakak."  Tetapi, tetap saja Clarisa masih saja mencari - cari hadiah untuk kakaknya itu bahkan mulai mengeluarkan paperbag - paperbag yang tadinya di sebut untuk teman - temannya, membuat Santi keheranan melihat sang puteri. "Adek, kamu ini bilang jangan bongkar punya temen kamu, malah kamu yang lakuin sendiri." terang ibunya itu yang hanya di abaikan oleh Clarisa sendiri karena terlalu fokus.  Saat tak kunjung mendapatkan apa yang dicarinya dan telah membuat kopernya tersebut beracak -acakan barulah Clarisa mengingat letak hadiah untuk kakaknya itu. "Eh kayaknya ada di tas aku deh. Aku ambil dulu ya kak." ucap Clarisa lalu segera berlalu dari kamar Clarinda, meninggalkan kopernya yang berantakan.  "Dasar. Adik kamu itu pelupa banget, nggak berubah - berubah sejak dulu." geleng - geleng Santi dan hanya di sambut tawa kecil oleh Clarinda sendiri yang membenarkan ucapan dari ibunya.  Melihat kekacauan dari tingkah Clarisa membuat Clarinsa mulai merapikan kekacauan adiknya tersebut, kembali menyusun paperbag - paperbag tersebut kembali kedalam koper begitu juga dengan beberapa barang lainnya. Disaat Ibunya akan memasukan paperbag berukuran sedang meluncurlah sebuah pakaian berwarna merah terang dalamnya, terlihat tipis dan berenda.  "Ini apa ? Pesenan temannya juga ?" gumam Santi lalu melebarkannya hingga membuat Santi membulatkan matanya. "Astaga. Ini lingerie bukan sih ? Ini buat temennya juga ? Tapi,kok label harganya nggak ada ? Berarti ini punya Clarisa." perhatian Clarinda teralih pada lingerie merah tersebut yang terlihat cantik dan indah bahkan rendah - rendah yang menghiasinya itu terlihat menawan. Tidak menerawang tapi, terlihat begitu sexy bahkan jika hanya di bayangkan saat di pakai. Warna merah terang seperti itu terlihat sangat pas jika di padukan dengan kulit cokelat milik adiknya. Sangat menggoda.  "Nggak apa kali Ma, itu mung--" saat Clarinda akan membela adiknya sebuah kilasan ingatan melewati pikarannya, menghentikan pergerakan tangannya menyusun paperbag tersebut kembali kedalam koper di ikuti dengan dirinya yang kembali menoleh pada lingerie merah yang sementara dilipat oleh Santi.  Dengan cepat direbutnya lingerie merah itu dari tangan ibunya membuat sang ibu terkejut. "Kakak kenapa sih ? Eh itu jangan di bongkar lagi, udah mama mau lipat juga. Minta Savalas nanti beliin kamu, kalo emang suka." Tidak di dengar oleh Clarinda akhirnya hanya membuat Santi menghela nafas "Nanti kakak yang lipat ya."  Disaat Santi hanya kembali berbicara dan sibuk mengurus koper Clarisa, Clarinda terus memperhatikan lingerie di tangannya. Mencoba mengingat lingerie dari sosok perempuan dalam foto yang dikirim padanya. Clarinda tidak begitu yakin jadi dirinya kembali menarik ponselnya yang berada di samping nakas tempat tidur lalu mulai membuka galerinya. Mencari keberadaan dari foto yang di anggapnya hanya keisengan semata.  Meskipun Clarinda menganggap bahwa foto itu adalah hanya keisengan semata dari Antaka entah kenapa dirinya belum juga menghapus foto itu, ada yang mengganggunya.  Dada Clarinda mulai bergemuruh sakit dan tanpa sadar menahan napasnya saat lingerie yang di pakai oleh perempuan dalam foto dengan lingerie yang di temukan dalam koper Clarisa sama persis dan Clarisa baru menyadari bahwa rambut perempuan itu juga berwarna cokelat gela sepanjang punggung.  "Kak udah nemu ini." Suara Clarisa yang berada di ujung pintu membuat Clarinda mendongak dari ponselnya dan beralih menatap adiknya yang tersenyum lebar ke arahnya.  Disaat adiknya melangkah mendekatinya maka muncul sebuah bayangan wajah dari Clarisa dan Savalas yang sedang b******a secara tiba - tiba dalam pikirannya. Hingga rasa mual menghantamnya yang membuat Clarinda segera berlari pergi ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD