Maharani mulai mempersiapkan dirinya dengan membac berkas-berkas yang ada di kamar Bintara. Sejujurnya, dia bingung harus memulai dari mana. Semua ini terlalu asing baginya, dia benar-benar awam soal ilmu bisnis, belum lagi tak ada seorang pun yang bisa dia mintai tolong untuk menjelaskan, kecuali Erna tentunya. Maharani membuka lembar demi lembar berkas yang ada di depannya. Sebenarnya, semua tak serumit menghafalkan nama obat dan diagnosa, tapi kembali lagi, mungkin karena dia tak biasa bekerja seperti ini, makanya dia sedikit kesusahan. Sudah sejak selesai Ashar tadi gadis itu menekuni lembar demi lembar kertas di tangannya, sudah dua jam berlalu, dia hanya mampu menyimpulkan beberapa hal. Ponselnya pun sengaja dia matikan agar tak ada yang mengganggu konsentrasinya. Maharani mengac

