“Mau ke mana?” Erna memicingkan mata saat melihat Bintara sudah begitu rapi.
Di hari Minggu seperti ini, biasanya Bintara lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Entah untuk sekadar tiduran di kamar, berenang atau fitnes dengan peralatan yang ada di rumah. Jadi, jika sepagi ini lelaki itu sudah begitu rapi, tentu saja itu memancing rasa ingin tahu Erna.
“Mau ke tempat Maharani, Ma. Kangen.” Bintara terkekeh. Sedikit aneh saja mengakui perasaannya itu di depan sang mama.
Erna yang sedari tadi sibuk melihat daftar menu makanan untuk catering pernikahan, langsung berdiri dan menatap anaknya tajam.
“Gak boleh! Tiga hari lagi kalian menikah, kalian gak boleh ketemu. Kalian ini lagi dipingit.”
Larangan Erna otomatis membuat semangat Bintara yang semula menggebu-gebu langsung meredup. Lelaki itu menatap sang mama dengan lesu.
“Ma, sejak permintaan tiba-tiba Mama tiga hari lalu, kami belum sempat ketemu. Kami juga belum cari cincin. Mama tega banget ngelarang kami ketemu.” Bintara memelas.
“Gak bisa, Bintara! Ini sudah adat! Mama sudah siapkan beberapa foto cincin pernikahan buat kalian. Kamu tinggal kirim gambarnya ke Maharani, selesai.”
Adat, adat Dan selalu adat yang menjadi alasan Erna. Kalau sudah seperti ini, akan susah sekali untuk Bintara membantah.
“Ukurannya? Memang Mama tahu?”
“Tahu. Ada beberapa cincin Maharani di kamar. Mama bisa pakai ukuran itu.”
Bintara kembali menghela napas. Dia lupa, selain menjadi orang tua, Erna sudah seperti bayangan bagi Maharani. Tak ada satu pun yang wanita itu tidak ketahui tentang calon istrinya. Sepertinya setelah menikah nanti, Bintara harus kerja keras mendoktrin Maharani agar tidak terlalu terbuka kepada mamanya. Apalagi kalau Maharani sampai cerita tentang malam pertama mereka nanti. Berabe urusannya.
“Terserah Mama, deh.” Dengan malas, Bintara akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan kembali menuju kamar.
**
“Mas, kenapa di sini?”
“Surprise!”
Sejenak Maharani masih tertegun di tempat. Dia tak menyangka jika Bintara benar-benar datang. Pagi tadi, melalui telepon lelaki itu menceritakan bagaimana Erna melarang mereka bertemu. Namun, nyatanya Bintara cukup nekat untuk melanggar permintaan ibunya itu.
“Kenapa bengong gitu? Gak suka calon suamimu datang?”
Bintara berjalan mendekat. Dia berdiri tepat di depan Maharani. Celana jeans slim fit, kaos pres body yang ditutup dengan sebuah jaket kulit, serta senyuman yang mengembang sempurna itu berhasil membuat degup jantung Maharani bekerja dengan tak karuan.
Sebenarnya, sejak dulu Bintara memang menawan. Lelaki itu cukup fashionable. Tubuh yang proposional dengan wajah yang rupawan, Bintara seakan tercipta tanpa celah. Hanya saja, dulu Maharani melihat Bintara tak lebih dari seorang kakak. Baginya semua terasa biasa saja. Namun, sekarang saat mereka resmi berhubungan, Bintara mendadak terlihat luar biasa di mata gadis itu.
“Bukan gitu. Kalau Mama tahu, dia pasti marah.”
“Ya, kalau begitu kamu jangan kasih tahu.”
Bintara meraih tangan Maharani dan menggandengnya begitu saja.
Bintara membawa Maharani mendekat ke mobilnya. Untuk bisa sampai di sini tadi, dia harus menunggu Erna pergi terlebih dahulu. Jadi, saat sudah sampai sini, kenapa mereka tidak memanfaatkan waktu dengan baik tanpa harus membahas Erna.
Bintara membukakan pintu mobil untuk calon istrinya. Wanita itu hanya bisa diam dan menurut.
“Jangan lupa pakai sabuk pengamannya,” ucap Bintara saat Maharani sudah duduk manis di tempatnya.
“Kita mau ke mana, Mas?”
Pertanyaaan Maharani sontak membuat Bintara yang hendak menutup pintu mobil menjadi urung.
“Jalan-jalan. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Meskipun mendadak, aku ingin menciptakan pernikahan yang kamu inginkan. Dan kita perlu bicara soal itu,” jawab Bintara.
Lelaki itu mengulurkan tangan, membelai lembut pucuk kepala Maharani. Beberapa saat tatapan mereka bertemu. Andai saja bisa terdengar, maka saat ini akan ada genderang yang saling bersautan dari dua hati yang tengah kasmaran.
"Ekhem!" Bintara menarik tangannya.
Kedua orang itu kini terlihat kikuk. Jika Maharani memilih menunduk, maka Bintara justru sibuk mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Sudah, pasang sabuk pengamanmu. Lama-lama melihatmu begini, bisa-bisa aku membawamu ke KUA sekarang juga." Bintara terkekeh.
"Apaan, sih, Mas." Maharani makin menunduk malu. Bintara benar-benar sukses membuatnya blingsatan.
Melihat Maharani salah tingkah, tawa Bintara makin kencang. Hingga akhirnya lelaki itu membalikkan tubuhnya dan berjalan memutari mobil untuk sampai di belakang kemudi.
Bintara mulai melajukan mobilnya, saat hendak keluar parkiran, Bintara tiba-tiba saja menghentikan mobil. Lelaki itu menelan ludah susah payah, dia melirik ke arah Maharani yang juga menatapnya takut-takut.
Di depan sana, ada Erna yang sedang bersendekap menatap tajam ke arah mereka.
"Mama, Mas," ucap Maharani pelan.
Bintara menoleh ke arah Maharani sejenak. "Biasanya Mama kelihatan cantik, sekarang kenapa agak serem, ya?"
Guyonan Bintara itu sontak membuat Maharani mencebik. Gadis itu memukul bahu Bintara saking kesalnya.
"Mas, ih! Kamu itu. Gimana kalau mama marah?"
"Ya, pasti marah. Kamu gak lihat mukanya? Ayo, turun dulu."
Bintara dan Maharani pun turun. Dengan sedikit takut-takut, mereka mendekat ke arah Erna.
"Bintara, astaga! Kamu itu ngeyel banget, ya! Bisa-bisanya kamu gak nurut. Kamu tahu pamali apa enggak? Kamu benar-benar bikin mama darah tinggi saja. Kalau nanti ada apa-apa sama pernikahan kalian bagaimana?"
Bintara dan Maharani hanya bisa saling pandang. Sepertinya kali ini ceramah dari Erna akan sangat panjang.
**
“Duduk!”
Maharani dan Bintara hanya bisa menurut. Erna menggiring dua anaknya itu ke kafe yang tak jauh dari rumah sakit. Beberapa saat tak ada perbincangan antara mereka, Erna hanya menatap dua orang di depannya itu secara bergantiian.
Tatapan tajam Erna itu membuat Bintara dan Maharani menciut. Meskipun keduanya saling menunduk ketakutan, tapi siapa yang sangka jika tangan Bintara sibuk menarik tangan Maharani dalam genggamannya.
Maharani berkali-kali mencoba menarik tangannya kembali, tapi gagal. Bintara mengenggamnya erat. Gadis itu melirik sedikit ke arah calon suaminya dan dnegan jahilnya, lelaki itu justru mengedipkan satu matany. Benar-benar bernyali besar.
Bintara sendiri tak mau ambil pusing. Meskipun nyatanya dia memang ketakutan kepada Erna, tapi rasa rindunya kepada Maharani lebih mendominasi. Tadinya, dia berpikir bisa menghabiskan waktu bersama calon istrinya itu, tapi siapa yang sangka kehadiran Erna malah merusak semuanya.
“Bintara! Bisa-bisanya, ya, kamu gak dengerin omongan mama. Nanti kalau terjadi apa-apa sama pernikahan kalian bagaimana?” Erna membuka suara.
Bintara yang awalnya menunduk itu langsung mendongak menatap mamanya. “Mama jangan ngomong aneh-aneh begitu, ntar kejadian beneran gimana?”
Erna mendengkus mendengar ucapan Bintara yang sama sekali merasa tak berdosa itu. Dia tak habis pikir, dulu dia mengira perjodohan ini tak akan membuat mereka bisa dekat secepatnya ini. Namun, penafsirannya salah. Erna jadi berpikir, mungkinkah sebelumnya mereka memang sudah pacaran?
“Mama gak pingin berdoa aneh-aneh, Bintara. Tapi sesuai dengan perhitungan dan adat jawa, kalau kalian bertemu saat dipingit begini, itu akan menimbulkan masalah besar. Kamu mau pernikahan kalian batal hanya karena kamu gak bisa nahan diri buat ketemu?”
Maharani hanya menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seperti biasanya, gadis itu hanya akan pasrah, tanpa berontak dan tanpa memebela diri. Sikap inilah yang terkadang membuat Bintara gemas sendiri.
“Gak bakalan ada apa-apa, Mama. Justru bakalan terjadi apa-apa kalau sampai aku gak ketemu dengan Rani,” ucap Bintara.
Maharani dan Erna sontak menatap Bintara secara bersamaan. Bintara yang merasa jadi pusat perhatian hanya nyengir tanpa dosa.
“Ya, kan kalau aku gak ketemu Rani sekarang, bisa-bisa aku tersiksa dengan penyakit rindu,” jawab Bintara dengan santainya.
“Mas!” pekik Maharani. Gadis itu melotot ke arah Bintara. Bisa-bisanya lelaki itu bicara seperti itu di depan mamanya. Membuat Maharani benar-benar merasa malu.
Bintara sendiri tak memedulikan plototan Maharani. Lelaki itu justru dengan santainya mengedipkan mata. Membuat Maharani makin melotot karena kaget dengan tingkah santai Bintara.
Sedang di seberang sana, Erna hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan putranya. Dia tak menyangka bahwa Bintara akan sebucin ini kepada Maharani. Kalau tahu tak ada penolakan seperti ini, mungkin dia memilih menikahkan kedua anaknya itu sejak dulu.
“Bintara, mama serius! Ayo pulang!”
Bintara langsung melotot kaget. Dia memandang Maharani dan sang mama bergantian. “Kenapa pulang? Aku bahkan belum sempat jalan sama Rani,” protes Bintara
“Loh, kamu masih berani membantah setelah ketahuan seperti ini?”
“Udah, Mas. Kamu pulang aja. Tiga hari lagi kita juga ketemu kan? jangan membantah mama terus.” Kini giliran Maharani yang angkat bicara.
“Tuh, dengerin calon istrimu,” sahut Erna.
“Kalian kompak banget, ya? Cocok buat jadi mantu sama mertua.” Lagi-lagi Bintara menanggapi ucapan dua wanita tersayangnya itu dengan gurauan.
“Lagian kami kan sudah terlanjur ketemu, Ma. Apa gak bisa dilanjut saja ketemunya? Bertiga sama mama juga gak papa deh, asal kita masih bisa ngobrol bareng bertiga.”
“Astaga, Bintara!”
Bentakan Erna kali ini berhasil membuat Bintara terdiam. Maharani pun ikut melotot padanya. Mata wanita itu seolah-olah berkata agar Bintara menurut kepada sang mama.
“Oke-oke, aku nyerah. Tapi bolehkan kalau aku antar Maharani pulang dulu? Kasihan kalau dia jalan kaki sendirian, Ma. Boleh, ya?”
Seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu, Bintara merengek kepada sang ibunda. Dilipat kedua tangannya di d**a dengan muka memelas. Maharani hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan calon suaminya itu. Sungguh, dia tak pernah tahu kalau ternyata Bintara bisa semanja dan semenggemaskan itu.
Erna sendiri hanya bisa menghela napas mendengar rengekan putranya itu. Bagaimana pun dia juga tak tega melihat Maharani harus pulang sendiri. Kalau hanya mengantar pulang, mungkin tak akan menjadi masalah yang besar.
“Baiklah. Tapi ingat, hanya mengantar pulang! kalau kamku berani macam-macam, mama gak bakal ijinin kalian ketemu di hari pernikahan!” ancam Erna.
Bintara hanya mengacungkan jempol tanda setuju. Tak menunggu waktu lama lagi, lelaki itu langsung berdiri dan meraih tangan Maharani yang ada di atas meja.
“Eh, Mas. Mau ke mana?” Maharani masih menahan tangannya. Dia menatap Bintara yang sudah berdiri dengan alis nsaling bertautan. Bingung.
“Kan mau nganter kamu pulang, Sayang.” Jawab Bintara dengan entengnya.
Maharani melirik ke arah Erna yang sedang menatap mereka. Sungguh, andai bisa ingin sekali Maharani menenggelamkan wajahnya ke bak mandi. Dia malu.
“Pamit dulu sama mama, Mas.”
“Kamu itu ngebet apa sih, Bin? Seperti gak pernah ketemu Rani saja. Tapi mama seneng sih, kelihatannya kalian bahagia dengan perjodohan ini.” Nada bicara Erna mulai melunak. Dia menatap anak-anaknya dengan senyuman.
Maharani melepas genggaman tangannya dari Bintara. Gadis itu lantas berdiri, berjalan ke arah Erna dan mengambil tempat duduk di samping mamanya itu. Maharani meraih tangan sang mama, menggenggamnya erat dalam tangannya.
“Mama, mungkin selama ini Rani terlalu malu untuk bilang ini, tapi Rani Cuma mau bilang, terima kasih.” Maharani menghentikan ucapnnya sejenak. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, dia menatap wanita yang sudah membesarkannya selama ini dengan penuh sayang.
“Terima kasih mama sudah memberikan kehidupan yang sangat layak untuk Rani. Andai saja dulu, aku tidak bertemu dengan mama, entah bagaimana nasibku sekarang. Semua yang mama berikan selama ini pasti tak akan pernah bisa aku balas. Termasuk kebaikan mama yang menyatukanku dengan Mas Bin. Aku sangat yakin, sebenarnya Mas Bin bisa dapat wanita yang jauh lebih baik dariku, mama juga bisa mendapatkan menantu yang baik lagi. Namun, mama justru memberikan putra satu-satunya mama kepada gadis yatim piatu sepertiku.”
Maharani menghentikan ucapannya. Gadis itu kini menunduk, membiarkan air matanya jatuh ke pangkuannya. Ini air mata bahagia, tak mengapa jika sesekali Erna melihat dia menangis seperti ini.
Erna sendiri sudah mulai ikut menangis. Dia menatap gadis di depannya itu. Dilepaskan genggaman tangan Maharani dan meraih gadis itu dalam pelukannya. Bintara yang duduk di seberang mereka hanya bisa menatap dua wanita tersayangnya itu dengan gelengan kepala dan senyum kecil. Entah dia harus menyebut apa ini semua. bersama Maharani, tak hanya dia yang menemukan kebahagiaan, tapi mamanya juga. Sungguh, Bintara tak bisa mengucap kata lain selain rasa syukur.
“Kamu itu ngomong apa sih, Ran. Mama juga bersyukur banget punya kamu di hidup mama. Kamu itu anak mama, biarpun nanti kamu jadi istri Bintara pun kamu tetap anak mama. Gak ada menantu dan mertua di antara kita.” Erna melepaskan pelukan, diciumnya dahi putrinya itu.
“Kamu berhak bahagia, Nak. Dan mama senang kalau akhirnya Bintara bisa menjadi alasanmu untuk bahagia juga.” Dua wanita itu akhirnya saling tersenyum sebelum akhirnya kembali berpelukan.
Bintara bangkit dari kursinya. “Jadi, apa sudah selesai sesi melepas rindunya?”
Erna dan Maharani saling melepas pelukan. Mereka menatap Bintara dengan alis berkerut.
“Sekarang giliranku, Sayang. Ayo pulang!” Bintara mendekat ke arah Maharani. Lelaki itu meraih tangan calon istrinya itu.
“Eh, gak sekalian anterin mama pulang juga, Mas? Tanya Maharani. Gadis itu tak langsung berdiri, dia masih mematung sembari menatap Bintara dan Erna bergantian.
“Mama bawa mobil sendiri.”
Mau tak mau Maharani hanya bisa menurut. Usai berpamitan dan mencium tangan Erna, sepasang kekasih itu pergi meninggalkan kafe tersebut dengan tangan yang saling bertautan.
Erna lagi-lagi hanya bisa tersenyum menatap anak-anaknya itu. Impiannya selama ini akan segera terwujud.