Will you marry me?

2031 Words
Seorang pemuda dengan memegang jas berwarna putih berdiri di depan pintu. Sebuah senyuman terlihat di bibirnya. Usai menyapa Fatin dengan lambaian tangan, tatapannya kini beralih kepada Maharani. Maharani hanya mengangguk kikuk. Tatapan Danu tak lepas sedikit pun darinya. "Dokter bukannya jaga malam, ya?" tanya Fatin. Dokter Danu mengalihkan pandangan kembali ke arah Fatin. Lelaki itu meletakkan jasnya di punggung kursi, lantas duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Maharani. "Dokter Arman lagi ada acara. Dia minta tukar. Lagian, kebetulan banget 'kan bisa satu sift sama kalian," jelas Danu yang langsung diangguki oleh Fatin. Melihat Fatin dan Danu yang asyik berbincang, Maharani langsung teringat dengan pesan Bintara yang belum dia balas. Buru-buru gadis itu meraih ponsel dalam sakunya, membuka kunci layar yang langsung menampilkan pesan Bintara. [Iya, Mas. Mas Bin juga semangat kerjanya. Semoga hari ini dimudahkan segala urusannya, ya?] Maharani mengulas senyuman saat melihat pesannya terkirim. Sedikit aneh memang, tapi entah kenapa dia menikmatinya. "Boleh minta tolong buatin kopi? Kopi buatanmu minggu lalu enak, aku jadi ketagihan." Lagi-lagi Maharani dibuat kalang kabut saat melihat Danu sudah berdiri di sampingnya. Maharani menoleh ke belakang, Fatin sudah menghilang. 'Anak itu! Awas saja kalau nanti sampai ketemu.' Maharani menggerutu sendiri dalam hatinya. "Mau yang rasa apa, Dok?" tanya Maharani seraya menyiapkan sebuah gelas kosong. "Apa aja, asal kamu yang buat, aku suka." Kalau saja Danu tidak berdiri tepat di sampingnya, mungkin Maharani akan muntah karena mual. Dokter Danu memang baik, tapi yang menyebalkan darinya adalah kebiasaannya mengumbar gombalan. Bahkan dia juga tak ragu secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan. Benar-benar membuat Maharani tak nyaman. "Kamu ikut gak sama acara orang-orang bulan depan? Ikut, ya? Biar aku ada temennya," lanjut Danu lagi. Tepat di saat yang sama, ponsel Maharani berdering. Nama Bintara terpampang di layar. Tak hanya Maharani, Danu pun ikut mencondongkan tubuhnya. Penasaran siapa yang menghubungi gadis pujaanya itu. "Mas Bintara? Siapa?" Tak hanya Fatin, penyakit kepo pun ternyata dimilik oleh Danu. Tak menjawab, Maharani memilih untuk keluar dari pantri dan menjauh dari lelaki yang masih dirundung tanya. *** "Ma, ayolah! Kenapa kami gak tunangan dulu?" rengek Bintara. Sedari tadi pengusaha muda itu berusaha membujuk sang mama, tapi usahanya itu terlihat sia-sia. "Buat apa Bintara? Kalian udah kenal. Udah tumbuh bareng dari kecil. Kenapa buang-buang waktu dengan acara tunangan?" Erna bersikukuh. "Mama kenapa, sih, masih percaya dengan hal-hal seperti itu? Ini sudah jaman modern, Ma." "Mau semodern apa pun, bagi mama perhitungan orang jawa itu pasti tepat. Selama ini mama sudah membuktikan. Kamu dan Rani bisa sukses karena perhitungan-perhitungan yang tepat, kan? Apalagi sekarang menyangkut pernikahan, mama gak mau ambil resiko. Kalian menikah seminggu lagi!" Bintara hanya bisa menghela napas pasrah. Meskipun hidup dengan segala peralatan yang modern, Erna memang sedikit kolot. Wanita yang sudah berusia matang itu begitu percaya dengan perhitungan jawa, primbon dan apa pun itu yang berkaitan dengan adat istiadat jawa. Tak ada angin tak ada hujan, Erna tiba-tiba saja menyuruh Bintara dan Maharani menikah. Kata Erna, seminggu lagi sudah memasuki bulan Besar atau dalam Islam disebut Dzulhijjah dan setelah itu akan memasuki bulan Suro. Di mana dalam perhitungan jawa, dalam dua bulan itu tidak boleh melangsungkan hajat besar, termasuk pernikahan. "Kalau mama memang bersikeras ikut perhitungan itu, kenapa kami gak menikah dua bulan lagi? Setelah bulan Suro?" Bintara masih mencoba menegosiasi. "Gak bisa, Bin. Bulan depan Rani mau ikut tes seleksi penerimaan ners di Rumah Sakit Ibnu Sina. Dan itu akan menguras waktunya. Belum lagi gimana kalau dia ketemu dokter-dokter muda di sana? Mama gak mau dia berpaling dari kamu." Ucapan Erna sontak membuat Bintara terbahak. Lelaki itu tak habis pikir dengan pemikiran mamanya itu. Meskipun dia dan Maharani baru dekat sebulan ini setelah lamaran dadakan Erna malam itu, tapi Bintara yakin Maharani sudah memiliki perasaan terhadapnya. Lagi pula, apa mungkin Maharani akan berpaling kepada lelaki lain? Padahal jika saja Erna menyuruh Maharani terjun ke jurang pun, gadis itu pasti menyanggupi. "Astaga, Mama. Bisa-bisanya berpikiran begitu. Kalau Maharani mau, dia pasti sudah dari dulu punya pacar dokter atau sesama ners seperti dia. Namun, nyatanya gimana?" jawab Bintara saat tawanya mulai reda. "Ya, siapa tahu? Kita gak tahu kan isi hati orang. Sudah, mama gak mau berdebat lagi. Kalian menikah seminggu lagi!" Kuputusan final telah diambil oleh Erna. Dan jika itu sudah terjadi, tak ada siapa pun yang bisa membantah. "Terus baju dan keperluan lain gimana? Surat-surat untuk keperluan di kantor agama? Rani juga butuh mengajukan cuti, kan, Ma?" Meskipun tahu usahanya akan gagal, tapi Bintara masih saja mencari celah untuk membatalkan niat mamanya itu. Sejujurnya Bintara tak keberatan menikah dengan Maharani kapan pun itu. Dia justru bahagia bisa menjadikan gadis pendiam itu sebagai istrinya. Hanya saja, pernikahan adalah impian semua wanita. Dia tak sampai hati jika melihat Maharani harus menerima segala keputusan Erna tanpa dia bisa membantah. Bintara yakin, Maharani punya mimpi tentang sebuah pernikahan. Pasti ada beberapa hal yang ingin gadis itu wujudkan dalam acara sakral sekali seumur hidup itu. Jadi, akan tidak adil rasanya jika dia mengubur semua itu hanya karena keputusan mendadak Erna. "Baju dan segala macam sudah mama siapkan. Perkara Rani, mama hafal jadwalnya. Dia libur tepat saat kalian menikah, jadi dia tak butuh cuti. Kalian bisa melakukan resepsi dan bulan madu dua bulan lagi. Sudah jelas semuanya bukan?" Mau tak mau Bintara hanya bisa mengangguk lemah menjawab pertanyaan Erna. Mamanya itu ternyata sudah menyiapkan segala hal dengan detail. Kalau sudah seperti ini, dia bisa apa selain menuruti. Erna meninggalkan Bintara yang masih berdiam diri di kamarnya itu. Dia tahu, keputusannya yang sepihak itu pasti sangat mengejutkan. Namun, semua demi kebaikan anak-anaknya. Niat baik kalau bisa disegerakan, kenapa harus ditunda lagi? Sepeninggal Erna, Bintara merebahkan tubuhnya. Diliriknya jam di dinding, pukul lima sore, seharusnya Maharani sudah pulang bekerja. Bintara meraih ponsel di atas nakas. Dicarinya nomor Maharani dan segera menghubunginya. Masih ada waktu seminggu, dia ingin tahu apa saja yang Maharani inginkan sebelum pernikahan. Mungkin tak semua bisa terwujud, tapi setidaknya dia ingin membahagiakan calon istrinya itu. "Assalammualaikum, Mas." Jawaban dari seberang sana terdengar. "Waalaikumsalam. Kamu sudah pulang?" Bintara merubah posisinya. Lelaki itu memilih bangkit dan berjalan menuju balkon kamarnya. Dia butuh udara segar untuk membahas masalah serius ini. Sejujurnya, Bintara sedikit takut dengan jawaban yang akan dia terima dari Maharani. Meskipun gadis itu jarang sekali marah, tapi untuk kasus ini sedikit berbeda. Ini tentang pernikahan. "Ini lagi jalan ke asrama. Mas Bin di rumah apa di restoran? Kok sepi?" Suara Maharani kembali terdengar. "Aku lagi di rumah. Siang tadi mama menyuruhku pulang. Ada hal serius yang mau dia bahas." "Oh, ya? Ada apa?" Bintara menarik napas sejenak. Sekarang saatnya. "Tentang pernikahan kita." Beberapa saat tak ada jawaban dari Maharani. Bintara mulai gelisah. Mungkinkah Maharani akan menolak? "Sayang, kamu masih di sana?" Bintara kembali bertanya. "Iya, Mas. Maaf." "Ran, Mama ingin kita menikah." lanjut Bintara. "Bukankah memang itu tujuan dari hubungan kita, Mas. Apa Mas Bin keberatan?" Bintara mengembuskan napas pelan. "Tentu saja tidak. Masalahnya, mama ingin kita menikah ... minggu depan." Bintara memejamkan mata. Entah kenapa membicarakan tentang ini jauh lebih mendebarkan ketimbang saat mereka membahas perjodohan sebulan lalu. Entah apa pun jawaban yang akan dia dengar setelah ini, Bintara pasrah. Dia memang menghormati sang mama, tapi jika Maharani keberatan dengan ini, Bintara siap membela gadisnya itu. *** "Sayang?" panggilan Bintara kembali terdengar. Sejenak Maharani terdiam. Perjalanan menuju asrama masih lumayan jauh. Kalau panggilan diputus sekarang tentu tak enak, tapi kalau bicara sambil berjalan pun, akan menganggu konsentrasi. Melihat sebuah bangku kosong di seberang jalan, Maharani memutuskan untuk berjalan ke sana. Mungkin duduk di sana sambil menikmati sore akan cukup menyenangkan. "Iya, Mas. Maaf, tadi lagi nyebrang," sahut Maharani. "Kamu lagi di jalan? Pulang saja dulu, nanti kita sambung lagi." "Tak apa, Mas. Kebetulan ada kursi taman, sesekali santai sambil menikmati sore di sini sepertinya enak." Maharani terkekeh sendiri. Maharani membenarkan posisinya. Pemandangan taman dan padatnya jalanan sedikit menyita perhatiannya. Selama ini dia lebih sering melihat alat-alat medis dan pasien dengan berbagai macam penyakitnya. Mungkin sedikit lebay, tapi dia menyukai apa yang dia saksikan saat ini. "Kenapa malah duduk di taman? Pulang saja. Kamu gak capek?" Bintara kembali bersuara. "Enggak, Mas. Ini juga lagi duduk, gak berdiri juga." Terdengar Bintara berdecak. "Kamu duduk sendirian di sana mau ngapain? Kalau ada yang gangguin gimana?" Maharani mengerutkan alis. Dia sedikit bingung, Bintara sedang cemburu atau sedang marah? "Lah kan cuma duduk-duduk aja, Mas," jawab Maharani. Kenyataannya dia memang cuma duduk-duduk di sana, 'kan? Lantas apa yang salah? "Ya tapi aku gak suka istriku digangguin cowok lain." Maharani spontan terbahak. "Kita belum menikah, Mas. Geli, ih, dipanggil begitu." Lain di bibir, lain di hati, itu yang saat ini Maharani alami. Mulutnya memang mengucap kata geli, tapi semburat merah yang muncul di pipinya cukup sebagai bukti bahwa gadis itu sedang tersipu, mungkin juga sudah dalam tahap, baper. "Tapi kamu memang akan menjadi istriku. Kalau bukan menikah denganku, lantas kamu mau menikah dengan siapa?" Pernyataan terang-terangan Bintara berhasil membuat Maharani salah tingkah. Untung saja lelaki itu tak sedang di hadapannya saat ini, kalau tidak mungkin dia tak akan tahu harus bersikap seperti apa. "Kok diem? Kamu gak ada rencana menikah dengan yang lainnya, kan?" Maharani meremas-remas roknya. Dia gemas terhadap Bintara, kenapa dia harus menanyakan pertanyaan seperti itu? Meskipun tak bertatap muka, tapi dia tak mungkin menjawab secara gamblang juga. Maharani malu untuk mengakui. "Iya, Mas. Mau menikah dengan siapa lagi kalau bukan sama kamu?" Tanpa tersadar Maharani mengangkat jilbabnya dan menutup sebagian wajahnya. Malu. Dia benar-benar malu sendiri. "Tadinya, aku sedikit ragu dengan keputusan Mama, tapi sekarang aku berubah pikiran. Memang lebih baik kita segera menikah, besok pun aku siap. Terlalu beresiko membiarkanmu sendirian tanpa status di luar sana. Bisa-bisa kamu tersesat di hati yang lain." Meskipun tak terlihat, Maharani bisa merasakan ada nada sedikit kesal di suara Bintara. Pipi Maharani makin bersemu merah. Tumbuh dan hidup bersama selama bertahun-tahun, dia tak pernah menyangka bahwa Bintara adalah lelaki bucin. "Gak punya status gimana, Mas? Emang selama ini kita apa?" Meskipun sedikit dibuat melayang, tapi Maharani masih bisa mencerna dengan baik setiap ucapan Bintara. Lelaki di seberang sana pun cukup peka. Dia bisa merasakan ada salah paham yang akan terjadi. "Bukan begitu, Sayang. Maksudku, sebelum ada hubungan sah di mata agama dan negara, kamu masih bisa bebas memilih. Dan andai itu terjadi, aku pun tak punya hak lebih untuk melarang. Untuk itulah, akan lebih baik secepatnya aku mengikatmu di sampingku lewat hubungan yang halal. Biar kamu gak bisa macem-macem." Penjelasan Bintara berhasil membuat hati Maharani meleleh. Suasana sore hari dengan langit yang mulai tampak jingga, bunga-bunga yang mulai menguncup karena kehilangan matahari serta tawa para bocah yang sedang bermain benar-benar menambah syahdunya suasana hati Maharani saat ini. "Jadi, gimana? Kamu setuju dengan rencana Mama? Kita menikah seminggu lagi?" "Kalau Mama sudah mengambil keputusan seperti itu, tentu saja beliau sudah mempertimbangkannya, Mas. Aku terserah Mas Bin saja." Helaan napas terdengar dari arah Bintara. Dia sudah menduga, Maharani tak akan protes apalagi menolak. Gadis itu entah terlalu penurut atau mungkin takut. Dia layaknya orang yang tak ingin mengambil keputusan sendiri. Semuanya diserahkan kepada orang lain. Bintara tak bisa membayangkan apa jadinya jika gadis kesayangannya sampai jatuh ke orang yang salah. Untuk itulah, sejak Erna memutuskan untuk menikahkan dia dan Maharani, Bintara bertekad untuk terus menjaga dan membahagiakan gadis itu. "Kamu benar-benar tak keberatan? Kita hanya akan melakukan akad terlebih dahulu. Resepsi akan menyusul nanti. Kalau kamu keberatan, aku akan mendukung keputusanmu, Ran," jawab Bintara. 3 "Keberatan untuk apa, Mas? Bukannya kamu sendiri yang bilang, semakin aku berada di sampingmu itu akan semakin lebih baik? Asal nikahnya sama kamu, aku tak keberatan." Entah mimpi apa Bintara bisa mendengar jawaban semanis ini dari Maharani. Selama ini, gadis itu selalu malu-malu. Panggilan sayang yang selama ini Bintara minta pun tak pernah kesampaian. Dan sekarang? Ah, Bintara tak bisa menggambarkan kebahagiaannya lagi. "Oke, Sayang. Seminggu lagi kita menikah. Aku mencintaimu." Jika Bintara menggoyangkan badannya sebagai ekspresi kebahagiaan, maka Maharani justru sibuk menggigit bibir bawahnya. "Kenapa tadi ngomong begitu? Astaga, Maharani!" Gadis itu mengomel sendiri. ”Eh, Mas!” Panggilan Maharani menggantung. Tanpa salam dan tanpa aba-aba, Bintara menutup teleponnya begitu saja. Maharani hanya geleng-geleng kepala sembari melihat layar ponselnya. Pelan, sebuah senyuman terbit di bibirnya. Hatinya menghangat, dia merasa bahagia, amat bahagia. Bintara berhasil membawa kebahagiaan yang telah lama hilang dari kehidupan Maharani. “Aku juga mencintaimu, Mas.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD