25. Delapan Belas

1098 Words

Aku duduk di salah satu kursi kayu yang mengelilingi meja makan bundar di ruang makan rumahku. Ibuku sibuk memasang dasi Ayah yang semula sudah dipakai oleh Ayah, tetapi dasi itu tidak bisa rapi dengan tangan kasar ayahku, sentuhan tangan ibu yang dingin itu seolah bisa memperbaiki apa saja dalam waktu yang singkat. Di depanku, sepiring nasi goreng pedas kesukaanku yang di atasnya ada telur setengah matang terhidang dengan aroma yang benar-benar menggiurkan. Tak lupa pula segelas penuh s**u coklat dan buah pir di samping piring nasi goreng itu. Kakak perempuanku, Sandra, mengetuk-ngetukkan sendok di pinggiran piringnya sehingga menimbulkan bunyi berdenting yang nyaring. Kedua orangtua kami lantas mengalihkan pandangan ke arahnya, lalu keduanya akan tertawa sambil duduk di meja makan masin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD