Prolog
Menjadi asing bukanlah momok yang menakutkan bagiku. Jauh sebelum tenggelam dalam kekacauan ini, asing adalah kata yang mampu mewakili seluruh identitasku di dunia. Eksistensiku tak pernah disadari, dan mungkin, bagi orang-orang yang pernah berpapasan di jalan denganku akan serta merta mengganggapku sebagian dari ilusi mereka di siang bolong. Namun, ini bukan asing yang akrab dengan ingatanku. Terakhir kali, kata asing adalah stressor bagi melankolia yang aku alami. Kali ini, asing yang menguar di udara bukan karena aku yang tersisih, melainkan karena memang aku sama sekali tak mengenali tempat ini.
“Kanya harus kembali dan melupakan Fraegalite.” Suara itu samar, tetapi bukan di belakang kepalaku. Aku tahu bahwa suara itu nyata, senyata eksistensiku di atas ranjang kayu kecil di sebuah ruangan yang penuh aroma kayu manis. Meski sesuatu yang besar sepertinya telah terjadi kepadaku, dan aku merasa seperti baru bangkit dari sebuah koma. Aku menyadari bahwa diriku luar biasa sehat, dan tak ingat bahwa aku pernah merasa sesehat ini.
Meninggalkan bantal empuk di kepalaku, aku duduk dan mengamati sekeliling. Sebuah jendela besar terbuka dan menampakkan panorama khas hutan, begitu hijau. Lantas aku bangkit dan menghampiri jendela itu, melongok ke luar dan menemukan padang rumput juga deretan pepohonan. Aku merasa pernah mencium aroma rumput segar ini di suatu tempat, tapi aku tak bisa mengingatnya sama sekali.
Detik selanjutnya, suara pintu berderit membuatku berbalik dan meninggalkan panorama indah itu, dan menyaksikan dua orang lelaki menyergap kamarku—atau mungkin kamar salah satu dari mereka?
Salah satunya—aku tahu itu Arya, menghampiriku dan serta merta memelukku, erat, seakan aku baru saja kembali dari kematian. “Syukurlah kau sudah baik-baik saja,” ujarnya dengan suara agak sengau. Aroma tubuhnya seperti cokelat, dan ia agak berkeringat.
Kemudian, aku ingat Arya segera membawaku kembali ke distrik menggunakan sebuah van putih, tanpa sekalipun memberitahuku siapa laki-laki yang ada di sampingnya saat masuk ke ruanganku. Kemungkinan besar, dia adalah seorang dokter yang menanganiku, mungkin.
Distrik utama sudah bukan gedung-gedung pencakar langit yang dulu kukagumi ketika pertama kali aku datang bersama Panca. Bukan pula ruang-ruang bawah tanah pasca kehancuran pertama distrik, distrik sudah berakhir sejak serangan savage—itu yang kudengar dari Arya. Dan kini, semuanya kembali dimulai dari awal. Gedung-gedung baru sedang dalam proses pembangunan, dan ada satu gedung megah yang kini menjadi tempat mengungsi semua orang. Semua orang yang tidak lagi kukenali, entahlah, semuanya tampak asing, mereka bukan orang yang pernah kutemui sebelumnya. Kami tiba di distrik hampir subuh, dan aku langsung tertidur di kursi pertama yang kutemukan begitu aku masuk.
Pagi-pagi sekali, seseorang memberitahuku bahwa Arya sedang menungguku di sebuah ruangan di lantai dua. Tanpa memedulikan bagaimana penampakanku pagi itu, tanpa mencuci muka atau melakukan hal lain, aku bergegas menemui Arya. Berharap ia akan menjelaskan semuanya padaku, atau, mungkin dengan senang hati ia ingin menyuntikkan serum untuk mengembalikan ingatanku, yang mana saja.
Namun, yang aku temui di balik pintu baja besar itu bukanlah Arya yang kemarin mengenakan kaus tipisnya dan berkeringat. Lelaki itu berdiri menghadap jendela, menantang matahari pagi yang ingin menerobos masuk melalui celah-celah jendela, dengan pakaian modern—dilengkapi berbagai macam sabuk dan terlihat elastis, dan sebuah wibawa.
“Aku ingatkan kau tentang dua orang yang paling berharga di hidupmu,” Arya menjeda, menghela napas. “Dylon, dan Panca.”
Bersamaan dengan itu, otakku tiba-tiba saja memunculkan kilas kenangan bersama dua orang itu. Seakan semuanya masih hangat dan baru saja terjadi. Aku memandang Arya kosong. Aku kira, Arya juga termasuk dalam daftar orang paling berharga di hidupku, tapi tidak.
“Dengar, kau harus kembali ke rumahmu,” jeda napas singkat, lalu, “sebelum kau memprotesku, itu sungguh satu-satunya syarat agar kau bisa kembali hidup. Kau sudah mati, Alive Island menyelamatkanmu, menyelamatkan kita, tapi ada harga yang harus dibayar untuk itu.”
Aku tak mengerti mengapa aku sudah mati, tapi Arya tak memberiku kesempatan untuk bertanya. Seakan menipuku, Arya kembali berkata. “Sebagai imbalan, kau bisa memilih salah satu ....” Arya menghentikan suaranya di udara. Aku si d***u yang terlambat menyadari segalanya hanya mampu merespons dengan kata, “Apa?”
“Kau hanya bisa membawa kembali satu orang dalam hidupmu, dan pilihannya hanyalah Panca atau Dylon.” Aku sungguh tidak lupa betapa berartinya dua nama ini. Selayaknya hitam dan putih bidak catur, selayaknya langit dan bumi, selayaknya kedua hal beriringan dan saling terkait untuk menjaga agar lingkaran hidupku tetap berotasi. Lalu bagaimana aku harus memilih salah satu? Tapi kemudian sebuah kilasan jahat di balik mataku memberikan suatu ingatan yang membenturkanku pada sebuah kenyataan pahit. Bahwa sebenarnya kedua orang ini sudah sejak lama dinyatakan mati.
***