Pernah seorang laki-laki berpakaian lusuh lewat di depanku ketika aku tengah menunggu kereta di sebuah peron. Rambutnya panjang, sebatang rokok terselip di antara jemari. Dagunya dipenuhi janggut dan kumis tebal, menegaskan kesan berantakan pada dirinya. Dari cara berjalannya yang timpang, aku tahu lelaki itu setengah mabuk. Aku mendengarnya menggerutu tentang sesuatu yang disebutnya rute menuju konstelasi bintang.
Ia berkata bahwa ia sudah tersesat terlalu jauh hingga rute itu menjadi sangat acak keberadaannya. Mungkin lelaki itu sudah gila. Tetapi mendengarnya mengatakan itu di pagi terburukku—hari di mana aku kembali ke sekolah—hal itu cukup lucu untuk membuatku sedikit tertawa. Namun, ketika ia hampir berlalu, ia serta merta menoleh, menatapku langsung, tepat di mata. Aku sudah ngeri kalau-kalau ia akan menyundut wajahku dengan bara rokok kretek di tangannya, tetapi kemudian ia hanya mengatakan. “Kau Kanya?”
Dia pun berlalu dan meninggalkanku termangu sampai melewatkan kereta yang seharusnya kunaiki.
Setelah berbulan-bulan melewati momen itu, aku baru memahaminya sekarang. Lelaki itu tidak menebak namaku. Hal itu terkait dengan rasi bintang yang dibicarakannya, ia menyebutkan salah satu rasi: virgo. Dan Kanya—yang secara kebetulan adalah namaku—adalah nama lain dari gugusan bintang itu. Seumur hidup, ini adalah pertama kalinya aku benar-benar belajar di sekolah.
Lalu aku keluar dari kelas astronomi untuk terhenyak di dalam kelas fisika. Aku bersumpah akan membunuh orang yang menemukan ilmu-ilmu eksak, jika saja mereka masih ada. Seharusnya kita boleh memilih apa yang ingin kita pelajari di sekolah dan bukannya diharuskan mengikuti apa pun yang tidak kita sukai hanya karena itu bagian dari mata pelajaran jurusan. Bukankah para ilmuwan itu sendiri hanya ahli dalam satu bidang saja? Gelas mereka terisi sesuai porsinya, lantas mengapa gelasku dipaksa memuat semuanya? Memangnya salahku kalau sekarang gelasku tumpah? Alih-alih menikmati masa muda, aku malah merasa terjebak di gedung petak membosankan yang bernama sekolah.
“Kanya! Darimana saja kau?” Seorang pemuda berkacamata lensa tebal baru saja menegurku. Ia mungkin saja lebih membosankan daripada pelajaran fisika, tapi tak mungkin bisa membuatku lebih pusing dari ini. Apa dia sinting? Sedari tadi aku duduk di sampingnya dan ia bertanya seperti itu?
“Aku tidak pergi ke manapun. Aku sudah duduk di sini sejak tadi. Matamu ‘kan sudah empat, masa tidak kelihatan juga?!” sahutku kesal. Apa dia baru saja terbangun dari tidur panjangnya sehingga tak menyadari keberadaanku sejak beberapa jam terakhir?
Aku tidak ingat namanya, lantas melirik ke arah saku seragamnya—yang paling bersih di kelas—dan menemukan tulisan sebuah nama dengan huruf-huruf yang rapi: Dylon Atmanagara. Jangan sampai aku lupa lagi.
“Bukan itu maksudku,” katanya sembari mengibaskan tangan di depan wajah. “Kau sepertinya melamun, itu sebabnya aku bertanya ke mana pikiranmu berkelana sejak tadi.” Kemudian ia bergerak gugup untuk membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot.
Aku tak berminat menimpali, bergegas mengalihkan pandang ke meja guru yang sudah kosong. Menyadari bahwa pelajaran yang membosankan itu sudah berakhir. Tanpa memedulikan eksistensi Dylon, aku bangkit dan merogoh kertas jadwal dari laci untuk mencari tahu, apa yang lebih membosankan daripada fisika.
Kimia.
Tentu saja! Aku tak mengerti mengapa bisa terjebak dengan pilihanku sendiri. Padahal aku bisa memilih jurusan sastra jika mau. Pada akhirnya, aku berjalan melintasi koridor sekolah yang ramai. Semua orang bergegas menuju ke kelas masing-masing, sehingga sangat mungkin untuk saling menginjak kaki, tersandung, bahkan saling mengumpat. Beruntungnya, tubuhku cukup ramping sehingga menyusup di antara keramaian bukanlah hal yang sulit. Namun, mencari kelas kimia tidak semudah menyelamatkan kaki dari injakan kejam kaki manusia lain. Aku menggumamkan kata kimia sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menemukan ruangan itu dan merasa puas dengan diriku sendiri.
Tidak ada Dylon. Bahkan aku tidak mengenali siapa pun. Kelas kami diacak hampir setiap hari agar para siswa saling membaur dan mengenal satu sama lain. Tetapi sayangnya tujuan mulia sekolah itu sama sekali tidak berlaku bagiku. Pada kenyataannya aku tak mengenali siapa-siapa.
“Hei, kau terlambat!” Aku baru menutup pintu kelas dan berbalik untuk menyapa guru kimiaku ketika tiba-tiba ia berteriak duluan seraya menuding hidungku dan melayangkan pandangan tajam, menciutkan nyali. Serangan mendadak itu membuatku hanya mampu membeku dan memaku diri di lantai marmer yang kini mulai terasa panas, sehingga aku tidak yakin tengah memijak lantai kelas, atau bara. Tanpa diserang seperti ini pun hidupku sudah menyedihkan. Sekarang, seisi kelas sedang memperhatikan seorang murid bodoh yang terlambat masuk kelas. Menyadari betapa memalukannya hal itu, lantas aku menundukkan kepala, menghindari tatapan semua orang.
Tadi Dylon, sekarang terlambat. Lalu, apalagi?
“Cepat duduk!” Aku mengintip mimik muka guru kimiaku hati-hati, saat itu beliau mengusap wajahnya seakan frustrasi. Aku cepat-cepat mengambil langkah seribu dan mencari bangku kosong secepat mungkin. Sebab aku tak ingin guruku berubah pikiran.
Sialnya, bangku yang tersisa hanyalah yang terletak di seberang meja guru, paling depan. Aku tidak punya pilihan selain menempati bangku itu dan bertingkah seperti anak penurut yang memperhatikan penjelasan materi dengan cermat.
Namun, belum apa-apa, aku sudah mengantuk setengah mati. Sekarang aku berharap Dylon ada di kelas yang sama dan berceloteh di sampingku, sehingga aku tak perlu merasa mengantuk seperti ini.
Tak!
Guru kimiaku tahu-tahu berdiri persis di depan muka sembari meletakkan spidol papan tulis di atas mejaku yang menimbulkan bunyi tadi.
Satu kerugian duduk di bangku paling depan: mudah dijangkau dan guru bisa melakukan apa pun yang dia inginkan padamu. Termasuk memintamu mengerjakan soal yang bahkan kau tidak mengerti. Mengunyah jari kaki sendiri bahkan terasa lebih mudah daripada rumus-rumus yang harus kuselesaikan di depan sana. Setelah itu, aku berakhir di dekat papan tulis sembari menghadap ke dinding.
Ini bukanlah kali pertama aku dihukum. Aku tak peduli seberapa sering, selama aku tak merasa hukuman-hukuman ini mengganggu kehidupanku, tak masalah bagiku menjalaninya lagi dan lagi.
Setidaknya itu menjamin, kelak aku tak akan berakhir di dalam cubicle sempit dan duduk di sana sepanjang hari hanya untuk memikirkan apa pun yang berbau eksak. Aku akan jadi sesuatu yang mungkin lebih baik dari itu. Tanpa harus repot-repot menghapal rumus.
Tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang yang meminta izin untuk masuk ke kelas, diiringi derap tegas dari langkah kakinya—yang aku yakin dibebani oleh sepasang sepatu berat sehingga setiap langkah yang diambilnya menimbulkan bunyi gema di lantai marmer.
Melalui sudut mata, aku berhasil menangkap punggung seseorang yang berseragam cokelat muda. Dia laki-laki. Dari seragam itu, sepertinya ia orang pemerintahan. Tidak, ia pasti orang pemerintahan.
Sejak dulu aku sama sekali tidak menyukai apa pun itu yang berbau pemerintahan. Terlebih orang-orang yang termasuk di dalamnya. Licik, rakus, haus kekayaan. Mencekik siapa pun yang di kantongnya terisi sen. Bahkan si kurus yang kurang makan pun mereka peras habis-habisan. Seolah bergigi seperti binatang pengerat, tak pernah puas menggerogoti benda-benda yang dinamakan uang.
Sejak pergantian rezim, korupsi semakin menjadi-jadi dan para pelakunya semakin kebal hukum. Padahal nenekku bilang, dulu di masa ia masih muda, para aktivis anti korupsi bertebaran, Indonesia membentuk komisi pemberantasan korupsi dan mampu mengusut kasus-kasus korupsi yang merajalela. Ketika perekonomian negara nyaris pulih dan pembangunan semakin membaik, pergantian rezim terjadi begitu saja. Entah perjanjian apa yang dibentuk oleh orang-orang pemerintahan lama dan orang-orang baru ini. Yang jelas, kini kasus korupsi, kolusi dan nepotisme jauh lebih parah daripada yang pernah terjadi di jaman nenekku dulu.
Begitulah, mengapa aku memutuskan untuk membenci segala hal, sebesar kebencianku pada ilmu eksak. Dan sepertinya aku membenci sebagian besar hal-hal yang ada di dunia ini. Jadi, jangan terkejut bila suatu saat aku mengatakan, “Aku benci kau!” Karena itu kemungkinan besar akan terjadi.
Lelaki berseragam itu kemudian menyebut namaku. Aku berbalik dan memasang tampang polos andalanku. Berharap ia akan mengatakan, “Maaf, aku salah orang.” Namun, yang terjadi justru ia tersenyum, mempertegas topeng di jaringan kulit wajahnya. Lantas kupamerkan barisan gigi yang dipimpin oleh sepasang gigi depan yang terlalu besar. Sebagai peringatan, kalau-kalau orang itu berniat menyakitiku, aku akan menggigitnya sampai ia kehilangan kesadaran.
“Ayo, ikuti saya. Ini perintah resmi.” Orang itu mengangguk padaku. Resmi apanya? Apakah setelah ini aku akan menjadi tahanan negara?
Awalnya, kupikir ‘ikuti’ yang diucapkan olehnya itu semacam berjalan di belakangnya dengan kedua tangan diborgol atau dengan pistol tertodong di kepala. Tapi, ternyata hanya ‘ikuti’ dalam artian yang sebenarnya.
Begitu keluar dari area gedung utama sekolah, orang itu menyuruhku menunggu di depan gerbang, sementara ia berjalan menuju area parkir. Apa lagi sekarang?
***
“Naiklah!” Lelaki itu membuka kaca mobil dan memintaku masuk ke mobilnya. Aku tak bisa menebak model mobil itu, terlalu tua dan rongsok untuk dikenali. Aku mulai sangsi tentang kemungkinan bahwa lelaki ini merupakan aparat pemerintahan, sebab tak mungkin ada aparat pemerintahan yang sudi menaiki rongsokan. Jadi, alih-alih langsung naik ke atas mobilnya, aku merunduk dan menyejajarkan diri dengan jendela mobil, sehingga wajahku sejajar dengan wajahnya.
“Siapa kau sebenarnya?” tanyaku dengan ekspresi yang kubuat segalak mungkin.
“Akan kujelaskan jika kau bersedia masuk sekarang,” ujarnya seraya menantang balik mataku dengan tatapan setajam elang. Menyebalkan. Aku tidak pernah berhadapan langsung dengan seorang lelaki sebelum ini, apalagi yang sepertinya nyaris seumuran denganku. Tapi aku tak bisa merasa gentar sekarang.
“Aku akan masuk jika kau menjelaskan siapa kau sebenarnya.”
“Aku sedang menjalankan tugasku, jadi, tolong jangan mempersulitku.” Lelaki itu terlihat menghela napas sejenak, tapi tetap saja tak ada niatan darinya untuk turun sejenak dari mobilnya atau mematikan mesin mobilnya yang mulai terdengar berisik.
“Siapa yang bisa menjamin bahwa kau bukan penculik?”
“Apa untungnya menculikmu?” Sial, dia baru saja menghinaku? “Dengar,” lanjutnya. Setelah melihatku tetap mematung, ia menjelaskan. “Aku berjanji akan menceritakan semuanya setelah kau yakin kau tidak akan menyangsikan penjelasanku.”
“Ya, kau harus meyakinkanku dulu. Jangan lupa bahwa kau hanya orang asing yang tiba-tiba menjemputku karena urusan negara—yang aku tidak tahu apa itu. Kalau kau tidak mau memberitahuku siapa dirimu, itu urusanmu. Tapi aku tak akan ikut ke manapun kau pergi.”
Sebetulnya aku tak peduli jika lelaki di depanku ternyata penjahat, penculik, atau pembunuh berdarah dingin sekalipun. Toh aku juga sudah muak dengan kehidupanku yang membosankan. Namun, rasanya tidak etis jika aku menuruti perintahnya, karena aku tidak pernah menaati siapapun sebelumnya dengan sukarela.
“Baiklah, aku Panca. Asalku dari suatu tempat yang nanti kau sendiri tahu tempat apa itu, dan aku diberi perintah oleh atasanku untuk menjemputmu. Karena kau berkepentingan. Dan, aku bersumpah demi apa pun aku tidak berniat menyakitimu sama sekali dan niatku tidak jahat.” Aku setengah berharap ia mengaku bahwa ia adalah salah satu alien dari sebuah gugus planet di luar bima sakti yang menjemputku karena kasihan melihat nasibku yang malang di muka bumi.
“Apakah aku berasal dari kaummu?” Aku tahu pertanyaanku konyol. Tapi siapa tahu dia memang alien, ‘kan?
“Aku rasa begitu. Apa yang harus kulakukan agar kau mau naik ke mobilku sekarang? Waktu kita mungkin tidak banyak lagi untuk berbasa-basi sekarang.”
Aku mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjukku, pura-pura berpikir keras, kemudian, “Oke, aku naik ke mobilmu sekarang.”
Segera setelah selesai memasang sabuk pengaman, lelaki itu melajukan mobilnya menuju entah ke mana. Aku sibuk dengan isi pikiranku sehingga tak sempat memikirkan hal lain, atau kembali menginterogasi lelaki misterius itu. Apakah dia benar alien, atau sama sepertiku, ia hanya manusia biasa. Entah apakah ia menyadari bahwa aku tak berminat bicara basa-basi dengannya, atau dia juga sedang malas berbicara, yang pasti, kami bertahan dalam diam hingga sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di sebuah tanah lapang di perbatasan kota. Menyadari itu, aku terlonjak dan langsung menatap lelaki di sebelahku dengan aneh. Sungguh, semarah apa pun diriku dengan semua orang, aku tak pernah melewati rute terlarang ini. Melewati perbatasan kota bagian utara sama artinya dengan bunuh diri. Karena kota di seberang sana sudah menjadi zona terlarang sejak bertahun-tahun silam.
“Kita akan ke sana?” Kusadari suaraku agak bergetar. Mendadak aku menyesal telah menyetujui permintaan lelaki itu untuk naik ke mobilnya.
“Tentu saja tidak,” balasnya santai. Aku bisa melihat dirinya sedang menahan tawa. “Kita akan ke sana,” lanjutnya sembari menunjuk sebuah tanah lapang di sebelah kiriku—yang tidak kuperhatikan sebelumnya. Sudah ada sebuah pesawat kecil yang menunggu di sana.
Lelaki itu bergegas turun dan membukakan pintu bagiku. “Ayo, perjalanan masih panjang, Nona.”
***