Aku melompat. Gerbong demi gerbong. Sesekali mengelap tangan berkeringatku di lengan piyama sementara satu tanganku memegangi satu-satunya keberuntungan yang kudapatkan di saat-saat kritis tadi. Peluru berdesing-desing melewati telingaku beberapa kali, sehingga aku tahu bahwa target mereka adalah kepalaku. Mereka berada di belakangku, sedikit di belakangku. Keadaan itu membuatku paham, bahwa mereka mungkin bukanlah pembidik yang baik, mereka mungkin kejam, tapi mereka payah dalam hal memfokuskan sesuatu. Aku menghentikan pelarianku begitu menyadari bahwa aku tak mungkin selamanya bisa berlari. Hanya tersisa setidaknya dua atau tiga gerbong lagi sebelum aku kehilangan tempat untuk berpijak. Dan mungkin kematianku akan datang lebih cepat daripada yang telah ditetapkan Tuhan untukku. Aku be

