8. Kemelut

1260 Words
Aku bahkan sudah kehilangan seseorang sebelum aku benar-benar memahami situasiku.   *** Panca berdiri kokoh di sana. Di tangannya masih tergenggam pistol berwarna silver. Apakah benda itu yang tadi berbunyi nyaring? Apa yang terjadi? Dylon berdiri di depanku sesaat yang lalu. Aku yakin ia tak tahu apa-apa tentang ini. Meskipun ia bisa menerobos tembok pembatas itu dengan mudahnya, tapi aku tahu ia benar-benar bisa masuk tanpa sengaja. Dylon mungkin mengikuti aku dan Panca pada hari kami meninggalkan sekolah. Sehingga ia menemukan jejakku dan berusaha menyusulku. Ia tak tahu bahwa kedatangannya telah membuat seisi distrik menjadi panik. Lalu apa yang Panca lakukan pada orang yang tak tahu apa-apa? Menembaknya? Aku tak tahu apakah Dylon masih bisa diselamatkan atau tidak. "Apa yang kau lakukan?!" semburku pada lelaki yang masih mematung di atas tubuh lemah Dylon. Bagaimana mungkin aku merasa ingin menangis? Bukankah selama ini Dylon selalu mengganggu ketenanganku? Tapi aku terbiasa dengan gangguan itu. Dan sekarang gangguan itu menghilang, nyaris bersama dengan sosok yang mengganggu itu. Harus kuakui, aku menyukai gangguan itu. Karena aku merasa tidak sendirian di sekolah saat aku berada di kelas yang sama dengannya. Panca menatapku dengan bingung. Ia menurunkan pistolnya dan meletakkannya entah di mana. "Ada apa?" tanyanya polos. Sial! Mengapa aku harus terjebak pada situasi ini? Aku tak bisa marah padanya. Tak bisa. Tapi aku harus. "Kau baru saja membunuhnya! Dan kau bilang 'Ada apa'?!" Aku benar-benar merasa frustrasi dan ingin meledak. Tapi apa yang bisa kulakukan? "Hei, dia sudah menyusup ke sini, dan aku baru saja menyelamatkan hidupmu 'kan? Harusnya kau berterima kasih padaku." Aku tak pernah merasakan hasrat ingin membunuh seseorang sebelum ini, dan ini yang pertama kalinya. "Dia temanku! Satu-satunya yang kupunya sebelum aku di sini! Harusnya kau pahami dulu apa yang terjadi! Aku benci kau!" Dan aku sudah meledak. Kata 'teman' itu terasa asing saat aku mengucapkannya, Namun, itu terasa benar. Dylon mungkin memang temanku. Aku beralih pada Ryan dan Diah yang masih mematung di belakangku. Sementara aku sudah bersimpuh di samping Dylon. Aku memandang mereka dengan tatapan memohon. Lalu tiba-tiba saja mereka berdua sudah berusaha membopong Dylon. "A ... Aku tahu di mana gedung kesehatan. Aku akan menunjukkan jalannya," ucap Panca, kupikir ia agak serba salah. Sesampainya di gedung kesehatan, orang-orang di sana menatap Dylon dengan pandangan ngeri. Salah satunya bahkan bicara padaku, "Kemungkinan besar ada peluru yang sudah bersarang di jantungnya." Yang lainnya segera menambahkan, "Tapi kami akan berusaha menyelamatkannya dengan teknologi terbaik yang kami miliki. Kalian boleh kembali istirahat. Kemungkinan pelatihan akan tetap berlangsung besok. Karena ternyata orang itu tidak berniat menyerang kita." "Tidak sama sekali," sergahku cepat. "Baiklah, selamat beristirahat," kata salah satu petugas kesehatan itu. Bisakah aku istirahat setelah semua kejadian ini? Bisakah aku berhenti membayangkan tubuh ambruk Dylon di depan wajahku? Lelaki itu terlalu polos untuk dilibatkan dalam kerumitan ini, tapi dia malah melibatkan diri secara sukarela. "Maukah kau menghubungiku jika keadaannya memburuk?" tanyaku sebelum keluar dari gedung itu. "Tentu." Mereka tersenyum menenangkan. Oh tidak, itu seperti senyum Dylon. Sekarang aku benar-benar mengalami hal: kau akan tahu seberapa berharganya seseorang bagimu setelah ia pergi. Meskipun Dylon belum benar-benar pergi. Kami kembali ke gedung Menacer. Panca bahkan mengawal kami sampai di depan Barak Menacer. Ryan dan Diah sudah lebih dulu masuk ke dalam. Saat aku meraih gagang pintu untuk menekannya dan menyebutkan kata sandi, Panca meraih tangan kiriku. Sehingga aku terpaksa berbalik dengan malas. "Bicaralah padaku," katanya memohon. Aku memilih tetap diam dan hanya memperhatikannya dengan tatapan aku-benci-kau. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai temanmu. Kupikir dia berniat mencelakaimu." Aku tahu dia tidak tahu. Tapi aku tak akan memaafkannya sebelum Dylon sadar. Tahu atau tidak, sengaja atau tidak, intinya adalah dia menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkannya pada Dylon. "Aku tak akan melepaskan tanganmu sebelum kau mau bicara denganku." "Apa yang harus dibicarakan denganmu, Panca! Tahukah kau, melihatmu saat ini hanya membuatku memikirkan cara untuk membalasmu atas apa yang telah kau lakukan pada Dylon." Tapi sisi lainku justru tak ingin menyakitimu dengan cara apapun, bahkan dengan kata-kata ini. Tangan kiri panca meraih bagian dalam jaketnya, dan ia mengeluarkan pistol silver yang ia gunakan untuk menyerang Dylon tadi. Apa yang akan dia lakukan? Ia membuka telapak tangan kiriku yang dicekalnya sedari tadi. Lalu meletakkan benda itu di tanganku, benda itu terasa dingin dan berat. "Untuk apa?" tanyaku bingung. "Kau bisa membalasku dengan cara yang telah kulakukan pada temanmu itu. Kau hanya perlu menarik pelatuknya. Tapi setelahnya, kau harus memaafkanku." Matanya bersinar tulus, apa yang bisa kulakukan? Aku menggenggam pistol itu erat-erat dan mengarahkan pistol itu padanya, tepat di jantungnya. Kau hanya perlu menarik pelatuknya. Kata-katanya seperti petunjuk. Aku hanya perlu menarik pelatuknya 'kan? Kulihat Panca menutup matanya, meletakkan nyawanya di tanganku, pasrah. Dorr! Suara itu menghantuiku sekali lagi. Dan aku melihat Dylon tersungkur dalam benakku. Apakah sekarang aku harus melihat Panca juga tersungkur di bawah kakiku? Bila sebelumnya aku menyalahkan Panca, setelah ini aku harus menyalahkan siapa? Diriku sendiri? Panca membunuh Dylon, dan aku membunuh Panca. Aku membuka mataku, Namun, masih belum tahu apa yang harus kulakukan. Kemudian, "Dorr!!" Panca membuka matanya setelah aku terkikik pelan. Koridor masih mencekam seperti sebelumnya. Kecuali suaraku yang mengudara. Sesaat tadi aku menangkap kilasan rasa takut di wajah Panca. Apakah dia berpikir aku akan benar-benar membunuhnya? "Kau pikir aku akan menarik pelatuknya?" tanyaku geli. Kemarahanku menguap entah kemana. Aku mungkin akan kehilangan Dylon. Dan aku tidak sebodoh itu membuat diriku yang hampir kehilangan Dylon harus kehilangan Panca juga. Dia teman yang aku tahu setelah Dylon. Dia menyelamatkanku dari gedung petak ber-title sekolah itu. Panca menatapku dengan tatapan bingung. Kali ini aku menertawakannya. "Kau pikir begitu, huh?" Bahunya merosot, barulah aku tahu sedari tadi ia menahan napasnya karena tegang. Dan sekarang ia terlihat rileks dan ... lega? Entahlah. "Kupikir ...," Ia terlihat sedang berkutat dengan isi pikirannya sendiri, " ... Apa ini artinya kau memaafkanku?" "Tidak," sahutku pendek. "Tapi aku akan tetap bicara padamu." Aku tersenyum simpul. Memang benar aku belum memaafkannya, tapi aku juga tidak marah padanya. "Baiklah. Apa kau ingin istirahat?" katanya kemudian. "Setelah semua ini? Tidak," ucapku Sambil angkat bahu. Kemudian aku memilih duduk di depan pintu Barak Menacer, dan Panca duduk di depanku. "Kau punya pertanyaan untukku? Biasanya kau tidak berhenti bertanya," katanya sambil menyelipkan kedua tangannya di dalam saku. Aku setuju udara di sini dingin. Aku memikirkan sesuatu yang mungkin bisa aku tanyakan padanya. "Arya dan Jill itu sahabatmu?" "Kau sudah bertemu Arya?" Kupikir ia sedikit terkejut. Aku mengangguk. "Sebenarnya, Arya awalnya sahabat Jill. Aku tak mengenal Arya sama sekali. Tapi Jill memaksa kami berkenalan. Karena Jill sahabatku, dan sahabat Jill sahabat Arya juga, jadi Arya secara tidak langsung adalah sahabatku. Meskipun aku menangkap kesan bahwa Arya tidak terlalu menyukaiku." "Jill menyukaimu?" Panca diam sejenak. "Dia sahabatku, pasti dia menyukaiku." Oh, Panca pura-pura tidak menangkap maksudku. "Kau tahu apa yang kumaksud dengan 'menyukai', Panca." Kuharap kata-kataku cukup untuk mengintimidasi dirinya. "Entahlah. Aku tak tahu pasti," katanya bimbang. "Dia menyukaimu." Dan dia cemburu padaku. "Aku bisa membaca reaksinya terhadapmu sejak pertama kali aku melihatnya." Panca tertawa hambar. "Aku tidak mau mengakuinya," katanya. Oh, aku tahu sebenarnya panca sudah tahu. Ia hanya pura-pura tidak tahu. "Dan kau menyukainya?" tanyaku setenang mungkin. Entah itu sebuah pernyataan, pertanyaan, atau pernyataan yang ingin kutanyakan. "Tidak!" sanggahnya cepat. Terlalu cepat, sehingga akku memicingkan mata, menilainya. "Demi Tuhan, Kanya, aku tidak menyukainya." Oh, jadi aku cukup mengintimidasinya? Tapi, apa yang baru saja kudengar? Dia memanggil namaku! Ini yang pertama kali. Lihat, siapa yang baru saja setuju mempermainkan peraturan denganku? "Kau sebaiknya segera kembali ke Barak Menacer. Bagaimanapun besok kita harus latihan." Akhirnya aku menurut. "Baiklah." "Terimakasih untuk mau bicara lagi denganku." Aku mengangguk. Terlalu banyak alasanku untuk mengucapkan terimakasih padanya, kecuali saat momen ia menembak Dylon. Itu pengecualian. Seperti biasanya, jika ia mengantarku sampai ke Barak Menacer, ia baru akan pergi setelah aku masuk. Aku tersenyum sekilas padanya sebelum pintu di belakangku menutup. Tiba-tiba saja aku merasa sangat lelah, dan sangat mengantuk. Kuharap semuanya baik-baik saja ketika aku bangun besok.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD