EPISODE 21 AKU AKAN SELALU ADA UNTUKMU

1912 Words
Nia bangun dari tidurnya. Jam masih menunjukkan pukul 04.00 WIB pagi. Kepalanya begitu sakit. Insomnia selalu mengganggunya setiap malam. Otaknya selalu aktif bekerja keras bahkan ketika badannya telah berada ditempat tidur. Tuntutan setiap orang didalam hidupnya terus membebani pikirannya seolah-olah membahagiakan mereka adalah kewajiban baginya. Dipaksakannya dirinya untuk bangkit dari tempat tidur dan segera bersiap-siap membereskan rumah kemudian berangkat ke kantor. “Sudah bangun kamu, nduk?” sapa ibu Nia sambil mendekat ke arah Nia. “Sudah bu. Ibu kenapa cepat sekali bangunnya?” Tanya Nia. “Sini nduk, ibu mau bicara.” Ibu Nia duduk di kursi dekat meja makan. Tangannya memberi instruksi kepada Nia agar ikut duduk di kursi yang berada di dekatnya. “Kemarin sebenarnya mbakmu dan mas Agung sudah melihat-lihat rumah. Mereka sudah jatuh cinta dengan satu rumah. Mbakmu kekeuh mau rumah itu dibeli untuk dia. Tapi untuk cicilannya mbakmu belum sanggup. Dia juga kan mau menikah. Jadi masih butuh biaya banyak. Kamu mau kan nduk bantu kakakmu?” Nia menghela napas panjang. Kali ini dia benar-benar membutuhkan obat pereda rasa sakit. Kepalanya terasa seperti dihantam benda yang begitu berat. “Memangnya rumah yang disukai mbak Ajeng didaerah mana bu?” “Kata mbakmu kemarin di daerah pusat kota itu loh nduk. Yang baru dibuka. Sering muncul iklannya di televisi. Yang ada menson-mensonnya namanya.” Kata ibu Nia sambil mengingat-ingat sesuatu. “Sakura Mansion maksudnya bu?” “Nah, iya bener itu nduk. Sakura Menson.” Wajah ibu Nia berseri seketika karena berhasil mengingat nama Real Estate yang disukai oleh kakaknya Nia. “Beneran Sakura Mension bu?!” mata Nia setengah melotot seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Bener nduk. Itu yang di bilang mbakmu semalam.” Ibunya membenarkan sambil mengangguk. “Ya ampun bu. Itukan perumahan elite. Harga unit yang paling kecilnya aja hampir 1 milyar bu.” “Tapi kakakmu udah pengen banget punya rumah disana nduk.” “Uang muka rumahya pasti besar bu, belum lagi cicilannya.” Nia menimpali. “Usahakan dong nduk. Kasihan mbakmu nanti malu dengan calon suaminya.” Nia terdiam memandang wajah ibunya yang penuh harap. Entah bagaimana cara Nia untuk menjawab permohonan ibunya itu. Sekuat apapun Nia memberikan alasan dan penjelasan, ibunya tidak akan menerima. Bagi ibunya, permintaan dan kepentingan kakak dan adek Nia adalah prioritas yang harus diutamakan dan dituruti. “Nia kebelakang dulu ya bu. Sudah siang. Nia harus beres-beres dan siap-siap ke kantor.” Nia beranjak dari tempat duduknya dengan langkah gontai menuju ke dapur. “Ibu tunggu secepatnya ya nduk. Agung bilang mau segera melamar mbakmu setelah rumah itu jadi dibeli.” Ibunya menimpali. Nia hanya diam menanggapi perkataan ibunya. Segera dicucinya piring-piring kotor yang sudah sehari semalam menumpuk menunggu untuk dicuci. Otak Nia berusaha berpikir keras memikirkan permintaan ibunya namun buntu. Sesak rasanya. Air matanya menetes pelan. Nia bersiap berangkat ke kantornya. Setelah masuk ke dalam mobilnya, Nia menghela napas yang panjang sambil memijat-mijat kedua pelipis kepalanya, “Ayo Nia semangat. Kamu pasti bisa melalui hari ini dengan baik.” Nia berkata pada dirinya sendiri sambil melihat kearah depan. Disetelnya DVD dimobilnya dan menghidupkan lagu kesukaan dari penyanyi kesayangannya. Nia bernyanyi sepanjang jalan. Dia tidak peduli apakah orang-orang disekitarnya dapat mendengar suaranya. Nia berusaha memperbaiki perasaannya yang sedang sedih dan otaknya yang sedang penat. Sesampainya dikantor Nia bertemu dengan Dila, asistennya yang telah menunggunya di depan pintu loby kantor. “Selamat pagi bu Nia. Tumben ibu hari ini terlambat datang ke kantor bu?” sapa Dila “Semalam saya tidak bisa tidur, Dil.” “Ibu 15 menit lagi ada rapat direksi bu. Bahannya sudah saya siapkan bu. Maaf bu, ibu agak pucat. Ibu sakit?” “15 menit lagi? Aduh.. Saya langsung keruang rapat ya Dil. Sini bahan rapatnya.” Dila menyerahkan bahan rapat yang ada ditangannya kepada Nia, “Ibu beneran gak apa-apa bu? Perlu saya belikan obat bu?” “Gak perlu, Dil. Saya baik-baik aja kok.” Jawab Nia sambil tersenyum. “Baik bu.” Nia dan Dila berpisah arah. Nia langsung menuju lift khusus direksi untuk segera menuju ke ruangan rapat. Nia masuk ke lift menuju ke ruangan rapat. Ketika lift mulai bergerak naik, tiba-tiba Nia merasa pusing. Kepalanya terhuyung seakan dunia berputar terlalu cepat. Dipegangnya cepat dinding lift dan menutup matanya. Ting! Pintu lift terbuka. Nia membuka matanya dan berusaha menstabilkan tubuhnya yang masih terasa goyang. Dikuatkannya hatinya agar mampu mulai berjalan. Nia mulai melangkah keluar dan segera menuju ruang rapat. Sesampai diruang rapat sudah ada beberapa manager diruangan. Nia segera mempersiapkan diri dan bahan-bahan rapat yang akan di presentasikannya didepan direksi. Tak lama kemudian rombongan direksi yang dipimpin Leon memasuki ruangan rapat. Presentasi demi presentasi dihadirkan sampai pada giliran Nia untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Nia maju kedepan, ketika hendak memulai presentasinya tiba-tiba Nia merasa pusing. Nia terdiam beberapa detik sambil menutup matanya. Tangannya memegangi ujung meja yang ada didekatnya. Sebisa mungkin Nia tidak menampakkannya didepan direksi. “Silahkan ibu Nia dimulai presentasinya.” Kata Moderator rapat. Leon yang sedang membaca bahan rapat dengan cepat melihat kearah Nia. Diperhatikannya Nia dengan seksama. Nia begitu pucat dan benar-benar sedang tidak baik-baik saja. “Nia, kamu baik-baik saja?”Tanya Leon “Saya baik-baik saja pak” jawab Nia sambil tersenyum menutupi keadaannya. Baru saja Nia memulai presentasinya, Nia merasa pandangannya kabur dan berangsur gelap. Melihat Nia yang hampr jatuh, dengan cepat Leon bergerak dan berlari menangkap tubuh Nia yang jatuh pingsan. Leon membopong tubuh Nia dan membawanya ke ruangannya. Ruangan kerja Leon memang berdekatan dengan ruangan rapat direksi. “Biar saya yang mengangkatnya pak.” Ujar seorang anggota rapat yang melihat Leon akan mengangkat tubuh Nia. “Gak perlu. Biar saya. Tolong bukakan pintunya. Segera panggil dokter.” Perintah Leon Leon membaringkan tubuh Nia di sofa lembut di ruangan kerjanya. Diusapnya wajah Nia yang pucat dan berkeringat. “Dokter sudah dijalan pak.” “Suruh dokter itu ngebut. Dalam 5 menit harus sudah sampai!!” “Ba..baik pak.” Leon panik. Diambilnya selimut bersih yang selalu tersedia di ruangannya kemudian menyelimuti tubuh Nia. Leon duduk memandangi wajah Nia sambil terus mengusap wajah Nia. “Apa yang terjadi sampai kamu bisa pingsan begini, Nia?” batin Leon. Terdengar Pintu ruangan Leon diketuk kemudian asisten Leon masuk. “Pak, ini saya buatkan teh hangat untuk ibu Nia.” “Taruh disini saja.” Leon menunjuk kearah meja yang ada didekatnya. “Pak, dokternya sudah datang.” Seorang dokter masuk dengan membawa tas berisi perlengkapan pemeriksanaan kesehatan. “Maaf pak. Saya periksa dulu pasiennya.” “Silahkan. Tolong periksa dengan benar-benar ya dokter.” “Baik Pak Leon.” Dokter mulai memeriksa keadaan Nia. Leon duduk berdekatan dengan posisi Nia, memperhatikan dengan seksama dokter yang memeriksa. “Tekanan darahnya sangat rendah Pak. Kemungkinan kecapekan dan kurang istirahat. Saya akan tinggalan obat penambah darah untuk diminum dan saya sarankan pasien untuk menjaga pola makan dan beristirahat dahulu beberapa hari sampai keadaannya lebih baik.” Dokter membereskan alat-alat pemeriksaannya kemudian menuliskan sesuatu di kertas resep yang dibawanya kemudian menyerahkannya kepada Leon. “Apakah hal itu membahayakan dokter?” Tanya Leon setelah menerima kertas resep dari dokter. “Jika pasien tetap memaksakan diri untuk tidak beristirahat dan menjaga pola makan, bisa sangat berbahaya. Pasien bisa collaps tiba-tiba. Saya harap hal ini jangan diremehkan.” “Baik dokter. Terima kasih.” “Sama-sama Pak Leon. Saya mohon pamit.” Setelah dokter keluar dari ruangan, Leon kembali duduk di samping Nia. Dipandanginya wajah Nia dengan seksama. Tak lama kemudian Nia mulai tersadar. Matanya terbuka. Ketika hendak bangun, Nia merasakan pusing dan memegangi kepalanya. “Kamu jangan langsung bangun dulu, Nia. Tekanan darahmu drop.” Leon menuntun Nia untuk berbaring kembali “Pak Leon? Saya dimana? Apa yang terjadi? Kenapa saya disini?” “Kamu tadi pingsan saat rapat.” “Astaga, maaf Pak. Saya mengacaukan rapat hari ini.” Wajah Nia mulai panik dan merasa bersalah. “Mulai hari ini kamu cuti. Jangan kerjakan apapun yang menyangkut perihal kantor. Kamu cukup istirahat dan makan yang banyak.” Nia berusaha untuk duduk, “Saya sudah enakan pak. Saya hanya kurang tidur. Semalam saya memang tidak bisa tidur. Tapi sekarang saya sudah segaran kok pak.” Melihat Nia sudah duduk, Leon pun memberikan segelas teh hangat kepada Nia. “Kamu minum dulu ya.” Leon membantu Nia untuk minum. Nia meminum perlahan teh hangat yang diberikan oleh Leon. “Kamu harus istirahat Nia. Jangan remehkan keadaanmu sekarang. Dokter bilang kalau kamu tetap memaksakan diri untuk bekerja, keadaanmu bisa bertambah parah. Aku tidak mau hal buruk terjadi lagi padamu.” Kata Leon dengan lembut sambil menatap wajah Nia. “Aku yang nanti mengantarkan kamu pulang. Nanti mobil kamu asistenku yang mengantarkannya ke rumah kamu.” “Saya sudah baikan, Pak.” Nia tiba-tiba berdiri namun seketika pandangannya perlahan kabur. Nia pun kembali terduduk. Leon yang melihat Nia hampir jatuh dengan cepat memegangi Nia. “Nia, kamu itu masih belum sehat. Nurut ya. Pokoknya kamu gak boleh masuk kerja sampai kamu benar-benar pulih. Ini perintah Nia.” Leon menatap Nia dalam. Raut muka Leon benar-benar tergambar betapa khawatirnya dia pada Nia. Nia yang melihat kesungguhan dan kekhawatiran di wajah Leon akhirnya luluh. Dia pun mengganguk. “Oke. Sekarang kamu istirahat dulu disini ya. Kalau sudah enakan nanti baru aku antar kamu pulang.” “Aku mau pulang sekarang saja, pak.” Nia tampak tidak enak jika terus berada diruangan kerja Leon lebih lama lagi. Apa kata pegawai lainnya nanti jika Nia dan Leon terus berdua berada diruangan ini. “are you feeling better?” “Ya. Aku sudah merasa lebih baik sekarang.” “Baiklah. Ayo aku antar kamu pulang sekarang. Asistenku nanti yang akan mengantarkan mobilmu pulang.” “Saya bisa pulang sendiri, Pak. Saya akan naik taksi agar bapak tidak khawatir jika saya menyetir sendiri.” Jawab Nia bersungguh-sungguh. “Jika kamu ingin aku tidak khawatir, biarkan aku yang mengantarkan kamu pulang. Aku harus memastikan kamu benar-benar sampai di rumah dengan selamat.” Leon mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kerjanya. Nia tidak punya alasan lagi untuk membantah. Nia tahu membantah Leon adalah hal yang sia-sia. Nia berdiri kemudian berjalan menuju pintu keluar. Leon segera membukakan pintu ruangannya untuk Nia. “Wait. Tadi aku sudah menyuruh sekretarisku untuk mengantarkan tasmu kemari. Sebentar lagi dia pasti datang.” Tak berapa lama, pintu ruangan Leon diketuk. Tampak sekretaris Leon masuk dengan membawakan tas Nia ke dalam. “Ini tasnya Bu Nia.” Sekretaris Leon menyerahkan tas kepada Nia. “Terima Kasih.” Nia mengambil tasnya “Sama-sama Ibu Nia. Saya permisi kembali Pak Leon, Bu Nia.” “Silahkan.” Perintah Leon. Sekretaris Leon segera keluar dari ruangan kerja Leon. “Oke. Kita langsung jalan?” Leon melihat kearah Nia. “Ayo.” Nia tersenyum kemudian berjalan menuju pintu keluar ruangan kerja Leon. Leon dengan sigap membukakan pintu untuk Nia. “Oh iya kunci mobil kamu mana? Biar nanti asistenku langsung yang mengantarkan mobil kamu.” “Hmm.. Tidak perlu, Pak. Mobil saya biar saja di kantor. Saya bisa naik taksi ke kantor jika nanti sudah benar-benar sehat.” “Baiklah. Aku nanti yang akan menjemput jika kamu merasa sudah pulih.” Nia menatap kearah Leon. Dia bingung kenapa Leon bisa begitu baik padanya. “Mungkin dia sudah menganggap aku sebagai sahabatnya walaupun kedekatan kami sewaktu SMA dulu hanya sebentar. Ternyata Leon sebaik dan selembut ini. Kita memang tidak bisa menilai seseorang hanya dengan melihat luarnya saja. Si Pangeran es ini ternyata punya hati sehangat mentari.” Nia tersenyum sambil berjalan mengikuti Leon menuju lift direksi untuk turun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD