EPISODE 22 BENIH CINTA MULAI TUMBUH

2014 Words
Leon melajukan mobilnya ke sebuah restoran sop buntut yang terkenal enak di kota Jakarta. “Restoran sop buntut? Aku kira kita akan makan di restorannya mama Andre.” Tanya Nia begitu mobil Leon berhenti di sebuah restoran. “Aku tidak suka restoran itu. Sop disini beneran enak dan menyegarkan. Sangat cocok untuk memulihkan tenaga. Kamu pasti suka.” Leon membuka sabuk pengaman kemudian membantu Nia membukakan sabuk pengaman yang terpasang di tubuh Nia. “Aku kira kamu menyukainya, Leon. Kamu kan pernah bilang kalau masakan di restoran itu sangat cocok dengan lidahmu.” “Oke. Ayo kita turun. Kamu pasti sudah lapar kan? Aku yakin kamu pasti lebih menyukai makanan disini.” Leon turun dari mobil tanpa menanggapi pernyataan yang baru Nia katakana, kemudian berjalan ke arah pintu mobil dimana Nia duduk. Namun ketika Leon hendak membukakan pintunya, Nia telah terlebih dahulu membukanya. Leon memperhatikan dengan seksama ketika Nia turun dari mobil, kemudian berjalan beriringan dengan Nia menuju ke dalam restoran. “Selamat datang di Restoran Kami. Silahkan pilih menu yang anda suka.” Pelayan restoran memberikan buku menu kepada Leon dan Nia begitu mereka duduk. “Menu andalan di restoran kami ada sop buntut spesial, palumara bandeng, sate dan ikan bumbu bali.” Pelayan restoran memberikan penjelasan mengenai makanan andalan restorannya kepada Leon dan Nia yang sedang membolak balikkan buku menu. “Saya pesan sop buntut spesial satu, sate kambing kuah kacang satu, ikan bumbu bali satu, nasi bakar satu. Kita ada jus buah delima?” Leon menyebutkan satu persatu menu yang diinginkannya. “Jus buah delima ada pak. Mau mix dengan buah yang lain?” “Kamu mau jus delimanya di mix dengan buah yang lain, Nia?” Tanya Leon. “Buah delima? Itu untuk aku?” “Tadi aku sempat browsing, ternyata buah delima baik untuk penderita anemia.” “Oh gitu. Original aja. Gak usah di mix ya mas.” Nia melihat ke arah pelayang yang sedang mencatat menu yang mereka pilih. “Saya pesan minumnya ice lemon tea satu dan air mineralnya dua ya. Kamu ada yang mau dipesan lagi, Nia?” “Kamu laper banget ya? Kamu pesan banyak banget makanannya.” Nia melongo ke arah Leon. “Hahaha.. itu untuk kita berdua Nia. Terserah kamu mau yang mana, atau ada makanan lain yang ingin kamu pesan?” “Gak. Sudah cukup.” Nia menutup buku menu. “Baik. Saya ulangi pesanannya. Sop buntut spesial satu, sate kambing kuah kacang satu, ikan bumbu bali satu, nasi bakar satu, jus delima original satu, ice lemon tea satu dan air mineral dua. Apakah sudah sesuai pesanannya Pak, Bu?” “Pas.” Jawab Leon “Baik. Ditunggu pesanannya ya, Pak, Bu. Mohon izin buku menunya saya ambil kembali ya. Terima kasih.” Pelayan restoran mengambil buku menu yang ada dimeja kemudian pamit meninggalkan Leon dan Nia. “Leon, aku anemia bukan busung lapar. Makanan sebanyak itu bagaimana cara kita menghabiskannya?” Kata Nia sambil menatap Leon yang ada di depannya. “Coba aja dulu. Kamu pasti ketagihan. Makanan disini itu enak-enak.” Jawab Leon setengah tertawa mendengar perkataan Nia. “Apakah proyek-proyek kita ada yang bermasalah, Nia?” “Gak ada kok. Kenapa?” “Apakah ada target pekerjaan yang belum tercapai?” “Semua proyek berjalan sesuai dengan target. Malah beberapa proyek ada yang selesai lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Hasilnya juga baik.” Jawab Nia dengan mantap. “Kamu setiap hari lembur?” “Kadang-kadang saja. Tidak setiap hari. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” “Aku sudah baca track record kamu di perusahaan. Direksi juga banyak yang memuji kinerja dan loyalitas kamu selama bekerja di perusahaan. Tapi kamu harus tetap mengutamakan kesehatanmu, Nia.” Pelayan restoran datang dengan membawa beberapa menu yang telah dipesan Leon dan Nia kemudian menatanya di atas meja. “Beberapa menu akan segera siap Pak, Bu. Mohon ditunggu.” Pelayan mencoret beberapa menu dalam secak kertas yang ada ditangannya. “Baik. Terima kasih.” Jawab Nia Pelayan restoran meninggalkan meja tempat Nia dan Leon duduk. “Aku sangat mencintai pekerjaanku, Leon. Pekerjaan ini aku dapatkan dengan susah payah, dan ini memang cita-citaku. Aku senang melakukannya, Leon. Yah, mungkin aku memang sedikit kelelahan karena beberapa kali lembur, dan banyak hal lain yang menyita pikiranku.” Nia tiba-tiba memalingkan tatapannya dari Leon. “Apa ada hal lain selain pekerjaan yang menyita pikiranmu?” Tanya Leon serius setelah melihat ekspresi Nia. Nia menatap Leon. Bagaimana mungkin dia menceritakan masalah pribadi dan keluarganya dengan Leon. Walaupun Nia merasa sudah cukup dekat dengan Leon sebagai teman, dan perhatian Leon selama ini padanya cukup menggambarkan kepedulian Leon terhadapnya namun itu belum cukup menjadi alasan untuk terlalu terbuka mengenai masalah pribadinya. “Ada beberapa hal diluar pekerjaan yang memang sedang ada dalam pikiranku namun aku bisa mengatasinya kok. Mungkin kamu benar. Aku terlalu bersemangat sampai lupa menjaga kesehatanku.” Nia tersenyum pada Leon. Leon melihat senyum di wajah Nia. Dia yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Nia. Mungkin Nia belum mempercayakan dirinya untuk berbagi rahasianya. “Baiklah. Tapi jika kamu membutuhkan bantuan ataupun teman cerita,kapanpun aku selalu siap mendengarkan.” Leon menatap serius Nia. Nia tersenyum. Leon yang dilihatnya di kantor selama ini benar-benar berbeda dengan Leon yang ada dihadapannya sekarang. Leon yang begitu dingin dan jutek dengan karyawan di perusahaan kini bagaikan terkena sihir dan berubah menjadi Leon sang malaikat yang baik dan lembut. “Pesanannya sudah lengkap ya Pak, Bu.” Pelayan restoran datang dengan membawa makanan yang baru saja selesai dimasak kemudian menatanya diatas meja, “Selamat menikmati.” Kemudian pelayan restoran tersebut pergi meninggalkan meja makan tempat Leon dan Nia duduk. “Ayo kita makan. Kamu harus coba yang ini dulu. Pasti habis ini kamu merasa lebih segeran.” Leon mendekatkan semangkuk sop kepada Nia. Nia mengambil sendok kemudian mulai mencicipi, “Hmm.. bener, ini enak banget.” Mata Nia berbinar. Leon tersenyum sambil mengangguk, “Harus dihabiskan ya.” Leon mengambil sepiring nasi yang ada dihadapannya, kemudian mendekatkan ikan bumbu bali. Diambilnya bagian dari daging ikan bumbu bali kemudian menyuapinya ke Nia. “Coba kamu cicip yang ini.” Leon mendekatkan suapannya ke mulut Nia. “Hmm.. bentar-bentar.” Nia kelabakan karena Leon menyuapinya tepat ketika mulutnya masih penuh dengan nasi dan sop. Dikunyahnya cepat makanan yang ada dimulutnya sambil setengah menutup mulutnya dengan tangan. Setelah habis, Nia mengambil sendok yang ada ditangan Leon dengan maksud ingin menyuap sendiri. namun tangan leon tetap memegangi sendoknya dan tidak mau menyerahkannya pada Nia. “Ayo buka mulutnya.” “AAAAA..” Nia membuka lebar mulutnya, menyerah untuk mengambil sendok itu dari tangan Leon. “Gimana?” Leon menatap Nia dengan penasaran Nia mengunyah ikan yang baru saja masuk ke mulutnya beberapa kali. “Hmm.. enak. Bumbunya benar-benar mantap. Mereka pinter-pinter banget masaknya. Mau nangis rasanya” mata Nia berbinar. Leon tersenyum mendengar perkataan dan ekspresi Nia. Senang rasanya melihat Nia menyukasi makanan yang dipesannya. “Syukurlah kalau kamu menyukai makanan disini. Kita bakal lebih serih sering kesini untuk makan.” Leon mulai menyuapkan nasi dan ikan bumbu bali ke mulutnya tanpa mengganti sendok yang dipakainya sewaktu menyuapi Nia tadi. Napsu makannya tiba-tiba bertambah melihat Nia makan dengan lahap dihadapannya. Padahal sejak pagi tadi dia tidak bernafsu untuk sarapan. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut mereka. Sop Nia pun akhirnya habis. Leon yang melihat itu kemudian menyingkirkan mangkok sop buntut dari hadapan Nia, lalumendekatkan nasi bakar dan sate kuah kacang ke hadapannya. “Gimana? Sudah segeran kan? Nah, sekarang kamu coba ini ya. Ini gak kalah enaknya dari yang tadi.” “Astaga Leon. Aku sudah kenyang dengan semangkuk sop tadi. Kamu kira aku punya perut gentong?” kata Nia sambil memegangi perutnya. “Cicip aja dulu. Kalau gak habis gak apa-apa.” Nia mengambil sendok dan membuka nasi bakar yang di bungkus daun pisang dihadapannya. Dimasukkannya satu suap kedalam mulutnya. Nia menggangguk-angguk tanda dia menikmati nasi bakar itu, kemudian mengambil satu tusuk sate kuah kacang dan menggigitnya. Saking begitu menikmatinya, sampai-sampai tanpa sadar mata Nia tertutup mengunyah perhalan makanan yang ada didalam mulutnya. Hampir saja Leon menyemburkan makanan yang ada didalam mulutnya karena merasa geli dengan kelakuan gadis yang ada dihadapannya. Sambil tersenyum dan beberapa kali terkekeh Leon terus memperhatikan gerak gerik Nia yang begitu menarik dan lucu. Suapan demi suapan masuk dengan lancar ke dalam mulut Nia sampai akhirnya pada suapan terakhir. Nia mengunyah sampai habis kemudian meminum jus delima sampai hampir setengahnya. “Wah.. aku udah berasa kuli panggul.” Nia tertawa malu karena telah menghabiskan semua makanannya. “Syukurlah. Semakin banyak makan akan semakin cepat untuk pulih.” Leon tersenyum melihat keceriaan Nia. Sepertinya Nia memang sedang kelaparan bisa menghabiskan semua makanannya. “Kamu masih ada yang mau dipesan? Bagaimana kalau kita bungkus juga untuk dibawa kerumah?” “Gak usah Leon. Ini sudah cukup.” “Baiklah. Oh iya, ini obat penambah darah yang diberikan dokter tadi. Kamu harus minum obatnya sesuai etiketnya ya Nia dan jangan pikirkan urusan kantor sedikitpun selama kamu istrirahat dirumah.” Leon menyerahkan sebungkus obat kepada Nia. Nia mengambil obat yang diberikan Leon kemudian memasukkannya ke dalam tasnya. “Bagaimana perasaanmu sekarang, Nia? Apakah sudah enakan?” “Aku sudah baikan dan kenyaaang bangeett.” Jawab Nia sambil tersenyum “Hahaha…“ Leon spontan tertawa melihat tingkah lucu namun manis yang Nia tunjukkan didepannya. “Yuk pulang. Kamu kan harus kembali lagi ke kantor, Leon.” Nia mengambil tasnya dan menyandangnya. “Oke. Let’s go.” Leon dan Nia berjalan keluar dari restoran menuju ke parkiran mobil. Setalah keduanya masuk ke dalam mobil, Leon pun melajukan mobilnya ke luar dari area restoran. “Ini kita ke arah mana, Nia?” “Ke arah Cempaka Putih. Masih jauh dari sini. Nanti aku kasih tahu jalannya.” Nia menunjuk kearah depan. “Baiklah.” Leon melajukan mobilnya sesuai dengan petunjuk dari Nia. Sepanjang jalan Nia terus melihat kearah samping. Kepalanya di sandarkan malas ke kursi. “Aku baru tahu rupanya begini Jakarta di siang hari, langit bisa secerah ini.” Nia memandang ke sisi sampingnya. “Kamu suka?” Tanya Leon “Suka banget. Aku udah kayak manusia dari goa kan, lihat ini aja takjub.” Nia setengah tertawa Leon membuka bagian atap mobil sportnya. Nia terkejut melihat atap mobil yang terbuka memancarkan cahaya matahari yang cerah dan menghangatkan. “Kamu kepanasan gak kalau aku buka atapnya?” “Aku suka.” Nia tersenyum antusias, “Aku boleh berdiri?” “Lakukan apa saja yang kamu suka, Nia. Kamu bebas. Asalkan kamu tidak melompat keluar aja.” Leon tersenyum ke arah Nia. Nia berdiri kemudian melebarkan kedua tangannya menikmati hembusan angin dan hangatnya mentari. Leon sengaja mengurangi kecepatan mobilnya agar Nia bisa menikmati perjalanan dengan nyaman. Tak henti-hentinya Leon tersenyum bahkan beberapa kali terkekeh melihat ke arah Nia. “Sesederhana ini pun bisa membuatmu bahagia. Wanita yang apa adanya dan tidak neko-neko.” Batin Leon sambil terus tersenyum kearah Nia yang begitu menikmati angin dan pemandangan. Setelah puas menikmati angin dan pemandangan dari atas, Nia pun kembali duduk. “Kayaknya aku harus lebih sering menikmati pemandangan-pemandangan seperti ini. Aku sering mengabaikan hal-hal seperti ini. Hidupku hanya seputar rumah-kantor, kantor-proyek, kantor-rumah lagi. Padahal setiap hari aku melewati hal-hal indah di sekitarku. Baru ku sadari hidupku terlalu lama menginjak pedal gas.” “Sesekali kamu memang butuh liburan, Nia. Aku suka semangatmu bekerja, namun semangat dan kesehatan juga perlu di charge. Kalau kamu mau…” Kalimat Leon terhenti begitu Leon melihat kearah Nia yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Leon melihat wajah Nia tampak begitu lelah dan seperti menyimpan kesedihan. Dibawah sinar matahari kecantikan Nia semakin jelas terlihat. Leon menekan tombol untuk menutup atap mobilnya dan mengatur tempat duduk Nia agar lebih nyaman untuk Nia tidur. “Aku lupa-lupa ingat dimana rumahnya. Dulu waktu aku mengantarnya pulang seingatku rumahnya ada didalam gang tapi aku sudah lupa di jalan mana.” Leon mengingat-ingat momen waktu dia mengantarkan Nia pulang saat SMA. Tangannya memegangi dagunya berusaha mengingat jalan menuju gang rumah Nia. Leon ingin membangunkan Nia untuk bertanya alamat rumahnya namun rasanya dia tidak tega untuk membangunkan. Nia kelihatan begitu lelah dan nyenyak. Leon pun sengaja berputar-putar sambil menunggu Nia bangun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD