Episode 23 PRASANGKA

2154 Words
Hampir dua jam Leon berputar-putar mengelilingi kota Jakarta mengendarai mobil namun Nia belum juga terbangun. Dilihatnya jam yang ada ditangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore. Akhirnya Leon memutuskan membawa Nia ke rumahnya. Diputarkannya arah mobilnya menuju ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah Leon, Nia belum juga bergeming dari tidurnya. “Apa dia pingsan ya?” Tanya Leon di dalam hati. Di rabanya kening Nia memastikan suhu badan Nia tidak tinggi, mengecek napas Nia dengan meletaknya jarinya di hidung Nia. “Nia.. Nia..” panggil Leon “Ya ampun. Ngapain juga ngecek dia bernapas atau nggak. Kan bisa diliat gerakan bernapasnya dari badannya. Lagian tadi kan aku mau ngecek dia pingsan atau nggak, bukan mati atau nggak.” Leon komat kamit sendirian sambil menepok kepalanya. “Nyenyak banget dia sampai-sampai dipanggil pun gak bangun.” Leon menatap Nia sambil berpikir beberapa saat. “Aku bawa saja dulu dia ke dalam.” Leon membuka pintu mobilnya kemudian keluar dan menuju ke pintu sisi Nia duduk. Digendongnya Nia dengan kedua tangannya dari tempat duduk kemudian menutup pintu mobil. Bik Siti yang baru menyadari bahwa Leon telah pulang segera menghampiri Leon di luar. Bik Siti terkejut saat membuka pintu begitu melihat Leon sedang membopong seorang gadis keluar dari mobilnya. Dengan tergopoh-gopoh dan buru-buru Bik Siti berlari ke arah Leon dan Nia. “Den, mbaknya kenapa den? Ada yang bisa bibik bantu den? Apa perlu bibik panggilkan dokter Roy den?” Tanya Bik Siti panik. “Gak perlu bi. Dia hanya ketiduran. Bibik tolong siapkan kamar yg kosong  diatas itu ya bik. Biar dia bisa istirahat dikamar itu. Cepet ya bik.” Jawab Leon sambil membopong Nia. “Baik den.” Bik Siti segera berlari masuk ke dalam rumah menuju ke kamar atas mendahului Leon. Dirapikannya kamar itu sebaik mungkin. Sebenarnya setiap hari semua kamar di rumah ini selalu di bersihkan dan dirapikan oleh Bik Siti walaupun tidak dipakai. Bik Siti memang sangat rajin. Jadi ketika Leon ataupun kerabat dan teman-teman Leon mendadak menginap di rumah Leon, Bik Siti tidak kelabakan dalam membersihkannya. Leon membopong Nia dengan perlahan. Sebisa mungkin gerakan kaki dan tubuhnya dibuatnya secara halus dan pelan. Dia tidak ingin tidur Nia terganggu. Ketika menaiki tangga, kakinya meraba-raba anak tangga satu persatu persis petugas yang mengambil bendera pada pasukan pengibar bendera di Istana Merdeka. “Kamarnya sudah siap, den.” Kata Bik Siti begitu melihat Leon telah sampai di depan pintu kamar. Leon membaringkan Nia secara perlahan. Kemudian merapikan dan memasangkan selimut ketubuh Nia. “Ayo Bik kita keluar.” Ajak Leon begitu memastikan Nia telah nyaman diatas kasurnya. “Baik den.” Bik Siti mengikuti Leon yang berjalan keluar dari kamar. Leon pun menutup kamar tempat Nia tidur. Leon dan Bik Siti berjalan menuruni tangga. “Dia teman sekantorku, Bik. Bibik sudah pernah bertemu dengan Nia sebelumnya kan? Dulu sewaktu masih kami masih SMA, dia pernah aku bawa ke rumah. Waktu itu aku sedang demam.” Leon mengingatkan Bik Siti mengenai Nia. “Oh iya den, Bibik ingat. Loh kok bisa ketemu lagi den? Jangan-jangan jodoh den.” Bik Siti berseloroh sambil tersenyum Wajah Leon tiba-tiba memerah mendengar seloroh Bik Siti, “Bik, nanti kalau Nia sudah bangun tolong kasih jeruk peras hangat ya bik. Saya mau mandi dulu.” “Baik, den.” Jawab Bik Siti Leon segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya sambil menunduk. Dia tidak mau Bik Siti melihat wajahnya yang memerah karena mendengar perkataan Bik Siti tadi. “Den.. den.. gak terasa sudah dewasa sekarang. Bibik senang den Leon sekarang bisa jatuh cinta dengan seorang perempuan. Walaupun den Leon berusaha menutupinya, bibik bisa mengerti kalau den Leon sangat mencintai Non Nia. Bibik sudah sangat mengenal siapa den Leon sejak kecil. Selama ini bibik sedih melihat den Leon selalu kesepian. Haus perhatian dan kasih sayang orangtua. Dan yang buat bibik lebih senang lagi adalah ketika mengetahui bahwa perempuan yang beruntung itu adalah Non Nia, wanita baik dan sederhana.” Bibik berbicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum memandangi punggung Leon yang kemudian menghilang masuk ke kamarnya. Air matanya hampir terjatuh karena begitu terharu. Bik Siti berlalu ke dapur untuk memasak makan malam. Senangnya hati Bik Siti malam ini akan ada yang menikmati masakannya, bukan hanya Leon tapi juga ada Nia. Selagi Bik Siti menyiapkan makan malam di dapur, Nia terbangun dari tidurnya. Pertama kali membuka mata, Nia bingung melihat suasana di sekitarnya. Ruangan tempat dia berada terasa asing. “Aku dimana ini? Bukannya aku tadi lagi di jalan dengan Leon? Dimana Leon?” Nia mulai panik “Tasku! Oh iya, handphone! Dimana tasku?” Nia melihat ke kanan dan ke kiri.matanya mengitari seluruh ruangan kamar itu, berharap dapat menemukan tas yang dicarinya namun gagal. “Astaga! Apa kami tadi dirampok di tengah jalan? Leon dibunuh kemudian aku diculik. Apa aku diperkosa?” Nia menutup mulutnya karena terpengaruh oleh prasangkanya sendiri, kemudian meraba tubuhnya untuk memastikan dirinya masih ‘utuh’.  “Aku harus keluar dari sini.” Nia menempelkan telinganya di pintu untuk mendengar apakah ada orang di luar ruangan itu. Setelah memastikan tidak ada suara apapun, Nia pun memberanikan diri untuk keluar. Di putarnya perlahan gagang pintu ruangan kamar itu kemudian membukanya dengan pelan-pelan sekali. Setelah terbuka cukup lebar, dengan perlahan namun pasti Nia mendongak keluar dan melihat situasi disekitarnya. Tidak ada siapapun disana. Dilangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan cara mengendap-endap. Nia terus berjalan pelan sampai hampir mencapai tangga. Baru saja akan melangkahkan kai turun ke anak tangga yang pertama, Nia mendengar seseorang membuka sebuah pintu dibawah. Nia terkaget dan dengan sigap berputar arah hendak kembali ke kamar tadi. Namun nahas, kaki Nia terkilir ketika membalikkan badan terlalu cepat menyebabkan dia terjatuh. Nia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara karena menahan sakit di kakinya. Kemudian dia mendengar suara langkah orang masuk ke dalam rumah. Dengan cepat Nia berusaha kembali berdiri. Dengan tertatih-tatih Nia terus berjalan. Ketika Nia mendengar suara pintu terbuka dan tertutup, Nia terkejut dan panik kemudian masuk ke kamar yang terdekat dengan posisinya sekarang. Lantai atas rumah Leon terdapat 2 kamar tidur, dan lantai bawah terdapat 2 kamar tidur yang salah satunya di tempati oleh Bik Siti. Nia dengan cepat menutup pintu kamar dan menguncinya. Nia tenang ternyata di dalam kamar tersebut dia tidak menemukan siapapun. Nia duduk di atas kasur pelan-pelan. Diurutnya kakinya terkilir sambil meringis pelan menahan sakit. Mata Nia tertuju ke arah jendela. “Aku mau lihat ada apa di luar rumah ini. Siapa tahu ada jalan keluar dari jendela ini.” Batin Nia. Nia setengah berjingkat berjalan kearah jendela. Setelah sampai di dekat jendela, di sibakkannya tirai jendela yang ada di depannya dan dengan serius melihat kearah luar. “Loh, itu kan mobilnya Leon yang tadi siang dipakai mengantarku pulang. Leon juga dibawa kemari atau mobilnya dirampok? Astaga Leon, entah bagaimana keadaanmu sekarang. Maafkan aku karena aku hal buruk seperti ini terjadi padamu.” Nia bicara pelan pada dirinya dengan nada sedih. Disaat yang sama, terdengar suara gagang pintu yang dibuka dari sebuah kamar mandi yang terletak tepat di dekat Nia berdiri. Nia terkejut setengah mati. Baru saja Nia hendak lari karena takut yang keluar dari kamar mandi itu adalah orang jahat yang menculiknya namun kakinya yang terkilir membuatnya hilang keseimbangan karena tidak kuat menahan sakit. Nia hampir saja jatuh ke lantai. Nia menutup kedua matanya. Pasrah dengan apapun hal buruk yang mungkin akan terjadi pada dirinya. Namun ada hal aneh yang dirasakan Nia. Tubuhnya sama sekali tidak terhempas ke lantai. Ada tangan yang menahan tubuhnya. “Nia, kamu tidak apa-apa kan?” Nia sangat mengenal suara ini, “Ini suara Leon.” Batin Nia. Dengan yakin dibukanya matanya dan melihat Leon benar-benar ada di hadapannya. “Leon..” Teriak Nia dengan spontan memeluk Leon sambil menangis. Nia begitu terharu bisa bertemu dengan Leon sampai-sampai tidak menyadari bahwa Leon saat itu hanya mengenakan handuk di setengah badannya karena baru saja selesai mandi. Leon yang tiba-tiba dipeluk oleh Nia tampak bingung dan terkejut. “Ada apa Nia? Kenapa kamu menangis?” Leon membalas pelukan Nia dengan erat. Dia khawatir ada yang telah menyakiti Nia. “Maafin aku, Leon. Karena aku kamu diculik dan dibunuh. Maafin aku.” Nia terus menangis. “Siapa yang diculik dan dibunuh, Nia?” Leon mengernyitkan keningnya karena bingung. Nia mengangkat kepalanya dari d**a Leon kemudian melihat ke wajah Leon, “Kan kita dirampok di jalan. Trus kamu dibunuh dan aku diculik. Aku di sekap dirumah ini dan mobil kamu..” Nia tiba-tiba terdiam. Otaknya yang sempat shock mencerna apa yang terjadi padanya berangsur kembali berfungsi. Leon tidak mati dibunuh. Leon benar-benar nyata ada di hadapannya dalam keadaan sehat. “Loh, kamu gak jadi dibunuh?” Nia mengernyitkan dahinya. “Siapa yang dibunuh? Aku baru saja selesai mandi, Nia.” Nia melihat penampilan Leon dari atas sampai ke bawah. Melihat Leon yang bertelanjang d**a dan hanya mengenakan handuk setengah badan sedang memeluknya, sontak Nia mundur dan mendorong tubuh Leon. “Kamu kenapa, Nia? Kenapa kamu bisa sampai di kamar aku? Begitu aku keluar dari kamar mandi, kamu langsung memeluk aku dengan histeris. Apa ada yang mengganggumu?” “Ini kamar kamu??” Tanya Nia terkejut. Leon mengangguk. “Hmm.. Itu Leon. Kukira kamu tadi. Begitu bangun, ku kira aku. Gimana kalau kamu pakai baju dulu baru nanti aku ceritakan. Aku gak bisa cerita kalau penampilan kamu begitu.” Kata Nia gugup Leon kemudian melihat ke tubuhnya baru mengerti maksud perkataan Nia barusan. “Baiklah. Aku berpakaian dulu.” “Oke. Aku tunggu diluar.” Nia berjalan berjingkat ke aarah pintu. “Kaki kamu kenapa, Nia?” Tanya Leon sambil mendekat kearah Nia. “Stop!! Kakiku terkilir. Soal bagaimana aku bisa terkilir nanti akan aku ceritakan diluar, oke? Kamu berpakaian dulu.” Tangan Nia memberi isyarat pada Leon agar tidak mendekat lagi padanya. Nia membuka pintu kamar Leon dan keluar dari ruangan tersebut. Ditutupnya segera pintu tersebut begitu dia berada diluar. “Ya Tuhan.. Sebenarnya apa yang terjadi? Leon baik-baik saja. Kenapa aku ada disini? Dan kenapa aku harus bertemu Leon disaat penampilan dia seperti itu? Dia bilang ini kamar dia, berarti aku sedang berada dirumahnya. Kenapa aku malah dibawa kemari? Bukannya dia bilang mau mengantarkan aku pulang? Apa yang dimaksudnya ‘pulang’ itu adalah pulang kerumahnya? Astaga, ternyata dia pria m***m! Selama ini sok bersikap dingin dengan orang-orang ternyata kelakuannya b***t. Pantasan kemarin baik banget ke aku.” Nia bicara sendiri sambil meninju dinding yang ada di dekatnya. Nia berjalan berjingkat-jingkat menuruni tangga. Sampai dibawah Nia duduk disebuah sofa dengan ruangan yang sangat Luas. Dilihatnya sekitarnya dengan seksama. “Iya benar, ini memang rumah Leon. Aku masih ingat dengan rumah ini. Walaupun sudah sangat lama, rumah ini masih tidak banyak berubah dari yang aku lihat dulu. Hanya kelihatanya rumah ini sudah di cat ulang dengan warna yang agak lebih gelap tapi warnanya masih hampir sama dengan saat aku datang pertama kali.” Batin Nia. Pintu terbuka tiba-tiba. Nia melihat ke arah pintu. Bik Siti masuk dengan membawa sebuah kantong belanja. “Eh Non Nia sudah bangun. Sudah dari tadi ya non? Maaf ya non, bibik gak tahu. Tadi bibik lagi ke took depan kelupaan beli gula kemarin. Bentar ya non bibik buatkan jeruk peras hangat dulu buat non.” Bik Siti yang baru pulang dari toko kaget begitu masuk ke rumah melihat Nia telah duduk di ruang tamu. “Baru saja bu. Gak usah repot-repot bu.” jawab Nia. “Panggil Bik Siti aja non. Tadi den Leon pesan kalau non Nia bangun, bibik disuruh buatkan jeruk peras hangat buat Non.” “Bik, sejak kapan aku dibawa kesini bik?” “Hmm.. kurang lebih sekitar 2 jam yang lalu non. Non tadi ketidurandi mobilnya den Leon. Dipanggilin gak bangun-bangun, bahkan waktu di gendong den Leon ke kamar non Nia sama sekali gak terganggu. Malah bibik sempat mengira non Nia sedang pingsan.” “Senyenyak itu aku tidur, bik? Tadi kami sempat makan siang sebelum diantar pulang. Apa jangan-jangan Leon memasukkan sesuatu ke dalam makanan atau minumanku ya? Tapi kayaknya mustahil. Soalnya tadi selama di restoran Leon sama sekali tidak kemana-mana” Nia berusaha mengingat-ingat kejadian yang telah dilaluinya sebelum tertidur. “Non Nia gak perlu khawatir non. Den Leon itu anak yang baik. Pria baik-baik. Belum pernah den Leon membawa sorang perempuan pun ke rumah ini non. Bahkan bibik belum pernah liat seorang perempuan naik ke mobil den Leon. Baru Non Nia perempuan yang dibawa kerumah ini. Non Nia nyenyaak sekali. Udah kayak putri tidur. Apa non tidak tidur malam sebelumnya non?” “Mungkin Bik Siti benar. Aku memang sama sekali tidak tidur semalaman, ditambah aku kekenyangan saat makan siang kemarin. Tubuhku juga kelelahan akibat lembur-lembur sebelumnya ditambah lelah pikiran karena ibu dan mbak Ajeng. Bisa jadi tubuhku beristirahat terlalu nyenyak karena membayar semua kelelahan itu.” Nia membatin. “Baiklah, Bik. Makasih ya informasinya tadi.” Nia tersenyum pada Bik Siti. “Baik Non. Bik Siti buatkan jeruk peras hangat dulu ya ke belakang.” “Terima kasih, bik.” Jawab Nia. Bik Siti segera beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman Nia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD