Hari ini ibu Nia pulang. Sore menjelang malam ibu Nia sudah tiba dirumah dengan disambut anak-anaknya.
"Horee.. ibu pulang. Ibu bawa apa bu?" Reza melihat-lihat barang yang dibawa ibunya disusul mbak Ajeng dari kamar.
"Dek, biar ibu istirahat dulu ya. Ibu pasti capek dari jalan jauh." Nia sambil membawakan ibunya air putih.
"Bapak mana?" tanya ibu sambil meminum air putih yang dibawakan Nia.
"Biasa bu. Tiap sore kan bapak keluar. Ibu mau mandi sekarang biar Nia masakin air hangat?"
"Iya nduk. Ibu mau mandi sekarang aja. Sudah gerah banget."
Nia beranjak ke dapur dan menjerang air untuk mandi ibunya. Menjelang air mandinya menghangat, Nia pergi ke depan lagi.
"Gimana dikampung bu?" Nia duduk disamping ibunya.
"Pemakaman mbah berjalan lancar. Ibu di kasih uang sama pakdemu." jawab ibu sambil berbaring.
"Bu, ini tas kain kotornya ya?" Nia membereskan pakaian didalam tas ibunya satu per satu.
"Iya itu yang hitam. Yang lainnya kain bersih. Rapikan aja di lemari ya nduk."
"Ini apa bu?" tanya Nia sambil menunjukkan sebuah tas kecil yang terbuat dari kertas.
"Oh itu.. Oleh-oleh dikasih pakde. Mbak dan adekmu pasti ribut minta oleh-oleh jadi ibu minta pakde membelikan."
Nia terdiam. Apa maksud ibu hanya membicarakan mbak dan adiknya saja soal oleh-oleh? apa oleh-oleh ini bukan buat dirinya juga?
Nia berdiri dan memasukkan pakaian-pakaian kotor ibunya kedalam mesin cuci dan mulai mencucinya. Baju yang bersih dilipatnya baik-baik kemudian disusunnya didalam lemari di kamar ibunya.
Nia kembali lagi kebelakang untuk menyiapkan air mandi ibunya karena air mandi yang dimasaknya sudah mendidih.
"Ibu mandi dulu ya. Sudah Nia siapkan air mandinya di kamar mandi bu."
"Oh iya.. makasih ya nduk." ibunya kemudian berdiri dan beranjak ke kamar mandi.
Nia kembali membereskan rumah dan barang bawaan ibunya. Tiba-tiba sebuah benda jatuh dari tas ibunya ketika Nia hendak mengangkatnya. Untung dengan cepat Nia menangkapnya.
Itu sebuah Handphone!! kata Nia dalam hati setengah kaget.
Dipegangnya handphone itu beberapa lama kemudian mengembalikannya ke dalam tas ibunya. Itu handphone pintar keluaran terbaru. Harganya pasti mahal. Untuk apa ibu beli handphone? gumam Nia dalam hati.
Nia yang sibuk dengan cucian pakaian ibunya dibelakang mendengar suara adik dan kakaknya tertawa bersama ibunya. Selesai mencuci, Nia ke ruang depan dan melihat adiknya sedang asyik memakan sesuatu.
"Ya ampun dek. Ini bungkusan makanannya ya dibuang dong jangan dibiarkan berantakan begini. Mbak kan tadi udah beres-beres." kata Nia sambil memunguti bungkusan makanan satu persatu. Nia melihat bungkusan itu seperti bungkusan oleh-oleh dari luar kota.
"Kamu dapat ini dari mana dek?" Nia menunjukkan bungkus makanan yang tergeletak di lantai.
"Dari ibu mbak. Tadi kata ibu ini oleh-oleh. Tadi Reza rebutan sama mbak Ajeng." kata Reza
"Untuk mbak mana?" Tanya Nia
"Udah habis mbak. Tadi ibu cuma manggil Reza dan mbak Ajeng aja." kata Reza sambil berlalu ke kamarnya.
Nia hanya terdiam, kemudian kembali memunguti sampah bungkusan yang diserakkan adiknya dan membuangnya ke tempat sampah. Nia lalu pergi ke kamar ibunya dan melihat ibunya sedang tertidur. Nia pun kembali ke kamarnya.
Pukul 05.00 WIB Nia bangun dari tidurnya. Dikucek-kuceknya matanya berusaha untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih melekat dimatanya. Kemudian Nia beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Menjerang air kemudian bersiap untuk masak. Tak lama kemudian ibunya juga bangun.
"Ikannya mau dimasak apa bu?" tanya Nia pada ibunya
"Kamu menyapu aja nduk. Sekalian baju yang kemarin belum kering kamu jemur lagi ya nduk."
"Iya bu. eh iya bu, kemarin Nia gak sengaja nemuin Handphone dari tas ibu. Handphonenya jatuh waktu Nia mau menyimpan tas ibu ke kamar. Untung Nia cepat nangkapnya bu jadi Handphonenya gak sempat jatuh kelantai. Itu handphone siapa bu?"
"Oh itu handphone mbakmu. Ibu beli di kampung. Masih baru itu. Mbakmu minta handphone waktu ibu mau berangkat. Kasihan mbakmu sendiri yang belum punya handphone dikampusnya."
Nia hanya mengangguk mendengar jawaban ibunya.
"Oh iya bu. Nia gak numpang dengan pak Jamil bu selama ibu di kampung. Pak jamil kecelakaan malam setelah ibu berangkat jadi pak Jamil izin gak mengajar selama 2 minggu. Nia diantar jemput sama Dina kesekolah."
"Baguslah nduk. Kalau bisa kamu sama Dina aja terus sampe kelulusan nanti. Ibu ada rencana mau belikan mbakmu motor baru biar dia bisa ke kampus sendiri. Biar Ibu yang antar jemput adekmu." kata ibunya
"Nia gak enak bu kalau ngerepotin Dina terus. Kalau mbak Ajeng udah ada motor, Nia sama mbak Ajeng aja ya bu. Gak apa-apa Nia nunggu mbak Ajeng disekolah tiap pulang."
"Mbak mu pasti gak mau Nia. Sudah sama Dina aja. Dina kan orangnya baik. Pasti gak keberatan kalau kamu numpang sama dia. Jadi kamu gak perlu ongkos lagi"
"Tapi bu kampus mbak Ajeng kan dekat dengan sekolah Nia"
"Sudahlah Nia. Biarkan mbakmu kuliah dengan tenang. Jangan membebani mbakmu." Kata ibunya sambil sibuk menyiapkan bumbu masak.
Nia pun pergi ke ruang depan tanpa membantah ibunya lagi. Disapu dan dibereskannya semua ruangan. Menjemur pakaian, Kemudian disiramnya bunga didepan teras. Mengeluarkan motor ayah dan ibunya dan memanaskannya. Seetelah itu Nia bersiap-siap untuk mandi.
Dilihatnya didapur ibunya hampir selesai memasak. Diambilnya handuk bersiap-siap masuk ke kamar mandi namun kamar mandi terkunci dari dalam.
"Adekmu lagi mandi." kata ibu sambil tetap sibuk menyelesaikan masakannya.
Nia pun mengambil tempat bekalnya, adiknya dan mbak Ajeng. Di isinya satu persatu.
"Mbak dan adekmu gak bawa bekal lagi nduk. Mereka makan disekolah aja katanya."
"Uang jajan kan lumayan bu kalau dihemat bawa bekal sendiri."
"Kamu aja yang bawa bekal." Jawab ibunya.
Nia pun mengisi bekalnya sendiri. Setelah dilihatnya adiknya telah siap mandi, Nia pun masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi Nia bergegas berpakaian. Dlihatnya jam sudah menunjukkan pukul 06.00 Wib.
"Duh.. sudah jam segini. Aku harus cepat. Jangan sampai Dina yang menungguku." gumam Nia sambil menyisir rambunya dan memakai bedak tabur di wajahnya. Di ambilnya bekal di belakang dan tas sekolahnya. Kemudian dia pergi ke teras rumah untuk memakai sepatu.
Di teras sudah ada adiknya yang sedang memakai sepatu juga.
"Mbak, keren gak sepatu baru Reza?" kata Reza sambil memamerkan sepatu barunya.
"Kamu sepatu baru dek? Dari mana?"
"Dari ibu dong mbak. Kemarin kan Reza minta belikan sepatu sama ibu sebelum ibu berangkat ke kampung. Jadi ibu belikan kemarin waktu mau pulang kesini."
Nia terdiam. Ibu gak pernah ingat untuk membelikannya sepatu. Bahkan tidak ada satupun yang tahu bahwa sepatu yang Nia pakai sekarang sudah berubah. Gak ada yang tahu Nia memakai sepatu pemberian Dina karena sepatu lamanya robek.
"Dek, ini uang jajan kamu ya." kata ibu Nia yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada Reza.
"Asyikk.." Reza memasukkan uang pemberian ibunya kedalam saku seragamnya.
"Bekalmu udah kamu bawa nduk?" tanya ibunya.
"Sudah bu. Nia berangkat dulu ya bu." jawab Nia sambil menyalami ibunya.
Sepanjang jalan Nia melamun. Ibu selalu ingat dengan adek dan kakaknya. Apapun keinginan dan kebutuhan mereka pasti di turuti ibu.
Ahh.. sudahlah. Kalau aku juga menuntut ke ibu, pasti ibu lebih kesusahan, gumam Nia sambil menggelengkan kepalanya.
Seperti biasa, Nia berdiri ditepi jalan didepan gangnya. Nia melihat ke arah jalan menunggu Dina datang.
Tin.. Tin..
Motor Andre berhenti tepat didepan Nia.
"Nunggu teman lo lagi ya?" tanya Andre sambil mematikan motornya.
"Iya Ndre. Aduh.. maaf ndre aku lupa bawa jaketnya. Udah aku cuci kok kemarin." jawab Nia panik
"Gak apa-apa. Santai aja. Jaketku banyak kok. Kan bisa lain kali. Emangnya kita gak bakal ketemu lagi apa?" Andre tersenyum menatap Nia.
"Rumah teman lu itu dimana? Kalau kejauhan rumahnya, lu sama gue aja. Rumah kita kan deketan."
Nia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Andre bener juga. Kasihan Dina harus jauh-jauh mengantar jemput Nia. Tapi Nia juga gak sungkan kalau mengatakan iya pada Andre.
"Lah.. ditanyain malah melamun." kata Andre setengah tertawa.
"Hmm.. Nomor handphone kamu berapa?" tanya Andre lagi sambil menngeluarkan handphone dari saku celananya.
"Aku gak punya handphone Ndre."
"Kamu takut ya ngasih nomor lu ke gue? Tenang, gue gak bakal macem-macemin kok. Gue anak baik, serius!" kata Andre sambil mengacungkan jari berbentuk huruf V ke hadapan Nia.
"Beneran ndre, aku gak punya handphone."
"Ya udah deh kalau lu gak mau kasih nomor lu. Eh itu temen lu dateng. Cepet-cepet amat temen lu kalau jemput ya." kata Andre sambil menghidupkan motornya.
"Sampai jumpa besok ya." Andre tersenyum kemudian berlalu dari hadapan Nia.
Mobil Dina berhenti. Nia pun masuk kedalam mobil Dina.
"Dia rajin amat ya tiap pagi nemuin kamu. Kalian pacaran ya?" tanya Dina sambil memicingkan matanya ke arah Nia
"Gak Din. Dia kan rumahnya deketan sama aku. Jadi ketemu terus."
"Kalau setiap pagi ketemu itu mah di niatin Nia. Bukan gak sengaja. Hahahaha.." kata Dina sambil tertawa.
"Udah ahh... Kamu ngeledekin aku terus." jawab Nia malu-malu
"Cie.. malu-malu diaa.. hahaha.. yok pak Jalan." kata Dina sambil tertawa.