Pagi yang mendung dan gelap. Seperti biasa, Nia menunggu kedatangan Dina untuk menjemputnya ke sekolah di simpang gang rumahnya.
Angin mulai kencang dan dingin. Nia melihat kearah jalan. Berharap Dina segera datang karena dia mulai kedinginan.
Tadi dia lupa memakai jaketnya karena terburu-buru. Dia terbangun kesiangan untuk memasak subuh tadi.
Nia melipat kedua tangannya di depan dadanya berusaha menghangatkan tubuh dan tangannya.
"Duh, dingin banget pagi ini. Sepertinya sebentar lagi hujan bakal turun." gumam Nia
Tinn.. tinn..
Sebuah motor menghampiri Nia dan berhenti tepat didepan Nia.
Itu Andre, batin Nia
Andre membuka helmnya dan mematikan motornya.
"Hey... Lu sehat kan?" tanya Andre
"Sehat Ndre. Kenapa nanya gitu?" tanya Nia lagi
"Lu kemarin pulang waktu hujan lebat. Pasti basah kuyup kemarin kan?"
"Oh... Gak apa-apa Ndre. Aku udah biasa hujan-hujanan." jawab Nia setengah tertawa
"Emangnya lu tiang listrik. Hujan panas tetap kuat?" kata Andre serius
"Lu nungguin teman lu lagi ya disini? Dia belum dateng? kalo gak lu bareng gua aja. Udah mau hujan ini." kata Andre lagi
"Gak usah ndre. Bentar lagi juga dia dateng kok. By the way thanks ya Ndre." jawab Nia tersenyum.
Sebenarnya Nia senang dengan tawaran Andre. Dia sudah kedinginan menunggu Dina disana. Tapi Nia gak boleh egois meninggalkan Dina yang sudah berbaik hati akan menjemputnya disana. Nia yakin Dina sudah dijalan menjemputnya. Sayangnya Nia tidak memiliki handphone untuk mengabari Dina.
"Lu udah kedinginan tuh. kenapa gak pake jaket sih." kata Andre sambil melepaskan jaketnya dan memberikan jaketnya pada Nia.
Nia bingung melihat Andre menyerahkan jaket sport berbahan parasut padanya.
"Gak usah Ndre. Aku gak apa-apa kok." tolak Nia
"Ambil."
"Gak usah Ndre. Beneran gak apa-apa." Nia mendorong kembali jaket ke arah Andre.
"Lu mau gue yang pakein?" kata Andre maksa sambil turun dari motor.
Nia begitu panik ketika Andre turun dan dengan cepat berada di depannya.
Andre menyodorkan bagian lengan jaketnya ke arah tangan Nia. Mengambil tangan Nia dan memasukkannya ke dalam lengan jaket. Begitu juga pada bagian tangan jaket yang lain. Kemudian menarik zipper depan jaket keatas sehingga kini jaket itu sudah sepenuhnya menutupi badan Nia.
"Nah hangat kan? Lu itu jangan remeh dengan badan sendiri. Kemarin lu udah hujan-hujanan." kata Andre sambil memegang pundak Nia. Memastikan Nia nyaman memakai jaket itu.
Nia terdiam. Dia masih bingung dengan sikap Andre yang sangat peduli dengannya.
"Kamu gak kedinginan?" tanya Nia
"Gak. Pake aja."
Andre tetap berdiri disebelah Nia.
"Kamu gak berangkat ke sekolah ndre?"
"Ntar, setelah lu dijemput teman lu. Hari udah mau hujan. Kalo temen lu gak jemput lu gimana?" jawab Andre sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sebenarnya Andre juga kedinginan.
Sejenak suasana menjadi canggung karena Nia dan Andre sama-sama diam.
Tegang amat ini suasananya. Gue mesti ngomong apa ya? kata Andre dalam hati.
Tak berapa lama Dina datang. Mobilnya berhenti tepat dibelakang motor Andre.
"Temenku udah dateng Ndre. Makasih ya atas jaketnya." kata Nia sambil melepaskan jaket yang dipakainya.
"Gak usah dilepas jaketnya. Lu pake aja dulu. Ya udah, gue pergi duluan ya." kata Andre memakai helm dan menghidupkan motornya. Andre pun melajukan motornya meninggalkan Nia yang terbingung-bingung. Nia pun masuk kedalam mobil Dina.
"Itu Andre kan?" tanya Dina
"Iya Din."
"Ngapain dia?"
"Biasa lah din. Orangnya memang baik. Dikiranya aku gak kamu jemput, kebetulan hari juga mendung kan. Yuk kita jalan." Nia sengaja tidak menceritakan perihal jaket yang dipakainya. Dia takut Dina berfikir yang bukan-bukan dan meledeknya.
"Ayo jalan pak." perintah Dina pada pak Tono. Alisnya mengernyit seperti ada yang mau ditanyakannya tapi dia ragu.
"Aneh ahh" gumam Dina dalam hati.
*
Hujan turun dengan derasnya membuat suasana dingin dan menenangkan. Rasa mengantuk pun menyerang. Hari ini pelajarannya lebih tenang karena guru hanya memberikan tugas untuk dikerjakan dikarenakan suara hujan yang deras lebih mendominasi.
Semua murid sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang serius mengerjakan tugas, ada yang diam-diam memainkan handphonenya, ada yang tidur, dan ada yang bersenda gurau dengan teman sebangkunya.
Nia serius dengan buku tugas yang ada didepannya. Sedangkan Dina daritadi asyik dengan handphonenya.
"Akhirnya selesai juga." kata Nia
"Eh udah ya Nia. Aku lihat dong." kata Dina sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
"Nih Lihat aja." Nia menyerahkan buku tugasnya pada Dina.
Dina langsung mengambil buku tugas Nia dan langsung sibuk mencatatnya di buku tugasnya.
Nia melakukan peregangan karena badannya teras sangat pegal akibat terlalu serius mengerjakan tugas tadi. Diangkatnya kedua tangannya kemudian mendorong kedua tangannya kebelakang sambil badannya menahan kedepan. Karena begitu kuatnya Nia menarik tangannya kebelakang sampai-sampai kursinya ikut tertarik kebelakang. Nia hampir saja terjatuh kebelakang. Untung kursinya ditahan oleh kaki Leon yang ada dibelakangnya.
"Ehh.." kata Nia terkejut karena badannya terdorong kedepan.
Nia menoleh kebelakang. Dilihatnya kebawah kursinya dan melihat kaki Leon disana. Kemudian dilihatnya Leon sedang menatap kearah jendela tanpa berkata apapun padanya. Nia pun terdiam dan kembali duduk menghadap kedepan.
"Eh.. tunggu.. Apa itu?" tanya Nia dalam hati.
Nia menoleh pelan ke arah belakang. dilihatnya baik-baik wajah Leon. Ada memar di bagian pelipisnya. Bibirnya juga ada luka. Leon yang tersadar karena diperhatikan oleh Nia pun menatap kearah Nia.
Kini mereka saling bertatapan. Cukup lama mereka bertatapan. Nia kemudian kembali menghadap ke depan dengan kikuk.
"Sadar Nia sadar. Dia gak ada berkata apa-apa. Jangan bertanya apapun padanya. Itu bukan urusanmu Nia. Jangan cari perkara dengannya." kata Nia dalam hati sambil menepuk-nepuk wajahnya pelan.
"Kamu kenapa sih Nia? kayak baru liat setan gitu?" tanya Dina yang bingung melihat tingkah Nia.
"Nggak ada Din. Suasana dingin buat aku mengantuk. Jadi kutepuk-tepuk biar gak ngantuk lagi." Nia tersenyum ke arah Dina.
Leon yang melihat tingkah Nia dari belakang tersenyum geli. Dimajukan badannya kedepan mengarah ke buku tugasnya berniat mengerjakan tugas yang sejak tadi ditundanya. Tanpa sadar dia menguap karena semalam dia tidak tidur sama sekali ditambah suasana hujan yang dingin.
"Ouchh.. Arrghh.. shhh.." Erang Leon kesakitan sambil memegangi bibirnya yang terluka.
Terbayangnya kejadian tadi malam yang membuat bibir dan pelipisnya terluka membuatnya kesal dan kembali enggan mengerjakan tugas yang ada didepannya. Padahal tadi suasana hatinya sudah mulai membaik karena tingkah lucu dan polos Nia.
"Memuakkan..!!!" kata Leon setengah berbisik penuh emosi. Tangannya mengepal kuat karena menahan luapan amarah yang ada dihatinya.