"Lu mau gak duduk disini?" Leon menatap mata Nia.
Nia terkejut dan terdiam. Dia memandang Leon lama kemudian memandang Dina yang juga terkejut disampingnya.
Seluruh kelas tercengang. Mereka melihat ker arah Leon dan Nia secara bergantian.
"Maksudnya apa Leon?"
"Kamu duduk disini. Bukan, maksud gue kalian. Kita bertukar tempat duduk. Bisa?" tanya Leon lagi
"Tapi kenapa harus bertukaran tempat duduk?"
"Gue suka duduk dibelakang. Sendiri." jawab Leon sambil tetap menghadap ke belakang, kearah Nia.
"Gimana Din? Kamu mau tukaran duduk dengan Leon?" Nia melihat kearah Dina yang sejak tadi terdiam bingung.
Leon yang dari tadi menatap Nia kini mengalihkan pandangannya pada Dina, menunggu jawaban dari Dina.
Dina yang sedang di tatap oleh Leon jadi gugup dan salah tingkah.
"Ehmm.. ehmm... Bo... Boleh.. Gak masalah." jawab Dina terbata-bata karena gugup, kemudian tersenyum kearah Leon. Berharap Leon membalas senyum termanisnya itu.
Leon yang sudah mendengar jawaban Dina langsung membalikkan badannya tanpa tersenyum dan berkata apapun. Dia merapikan buku yang ada dimejanya kemudian berdiri dan membawa tasnya ke belakang, ke tempat duduk Nia dan Dina.
Nia dan Dina hanya melongo melihat Leon yang sudah ada disamping tempat duduk mereka.
"Ayo pindah." kata Leon menyadarkan Nia dan Dina.
Nia dan Dina bergegas merapikan buku yang ada dimeja mereka dan membawa tas mereka ke bangku depan, tempat duduk Leon sebelumnya.
Leon duduk dan kembali memainkan handphonenya. Nia dan Dina terdiam sejenak lalu saling pandang.
"Padahal kan aku belum bilang iya kan Din. Kenapa dia langsung pindah?" bisik Nia pada Dina.
"Udah gak apa-apa. Yang penting tadi dia udah mau ngomong sama kita." jawab Dina mesem-mesem.
"Hadeuh..." jawab Nia melihat temannya itu sambil menghela napas panjang.
*
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid bergegas keluar kelas. Nia dan Dina berjalan bersama. Pak Tono sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Setelah Nia dan Dina masuk ke dalam mobil, tiba-tiba pak Tono membuka kaca jendela pintu mobilnya dan melihat ke arah luar.
"Nah, itu non mobil sport merah yang hampir menabrak kita kemarin." pak Tono menunjuk kearah parkiran kendaraan sekolah.
"Eh, itu Leon kan?" tanya Dina sambil memperhatikan mobil sport merah didepan. Seorang murid laki-laki masuk kedalam mobil itu.
"Iya, itu Leon. Rupanya dia yang kemarin hampir menabrak kita"
"Dia benar-benar cuek ya orangnya. Luar bisa keren." kata Dina tanpa melepaskan pandangannya dari Leon.
Nia hanya melihat Dina sambil menghela napas. Dina benar-benar sudah jatuh cinta dengan Leon, batin Nia.
"Aku penasaran dia tinggal dimana. Kita ikutin diam-diam yuk?" tanya Dina
"Jangan ah.. kalo Leon tahu kita ngikutin dia bisa ngamuk dia nanti Din."
"Ya jangan sampai ketahuan dong. Ahh.. Pokoknya harus ini!" jawab Dina ngotot
"Din, aku takut loh kalo ketahuan."
"Gak bakal ketahuan. Yakin deh sama aku." Dina meyakinkan.
"Terserah kamu aja deh. Pokoknya kalo ada apa-apa jangan salahin aku ya. Aku udah ingatin loh"
"Iya. Pak, kita ikutin mobil sport merah depan itu ya pak. Hati-hati jangan sampai ketahuan ya pak." Kata Dina pada pak Tono.
"Baik non." jawab pak Tono
Mobil Leon mulai keluar dari gerbang sekolah. Pak Tono perlahan-lahan juga mulai menjalankan mobilnya. Cara mengemudi Leon memang lain. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi namun dia lumayan lihai dalam mengemudikan mobilnya.
Pak Tono sempat kewalahan mengimbangi kecepatan mobil Leon. Pak Tono tak ingin kehilangan jejak Leon namun tetap harus menjaga jarak agar tidak ketahuan sedang mengikuti Leon.
Dina dan Nia harus berpegangan erat pada pegangan yang ada diatas jendela mobil agar tidak terombang ambing. Pak Tono sering mengerem mendadak kemudian mengegas kembali berkali-kali untuk mengimbangi Leon.
Ternyata Leon tidak pulang kerumahnya. Mobilnya berhenti di sebuah tempat bilyard. Pak Tono berhenti disisi berlawanan dengan mobil Leon dengan menjaga jarak agak Leon tidak curiga.
Leon turun dari mobil. Lalu masuk ke dalam tempat bilyard itu.
"Dia ngapain kesini ya?" tanya Nia
"Main bilyard dong Nia. Gak mungkin kan ikut kelas memasak disana." jawab
Dina seloroh.
"Udah yuk kita pulang aja. Kamu gak niat nungguin dia sampe pulang kan din??" tanya Nia serius.
"Hahahaha.. sebenarnya mau sih. Atau kita masuk kesana juga, gimana?"
"Udah ahh. Ngapain masuk kesitu. Yang ada nanti kita ketahuan ngikutin dia Dina."
"Okelah. Hari ini kita pulang dulu. Besok kita ikuti dia lagi." jawab Dina serius.
"Ya ampun.. segitu penasarannya kamu sama dia Din."
"Iya dong. Mr. Cool limted edition aku." kata Dina senyum-senyum. "Ayo pak kita pulang. Antar Nia dulu ya pak"
"Oke non." jawab pak Tono.
Sesampainya di depan gang rumah Nia, Pak tono berhenti dan Nia pun turun dari mobil dan melambaikan tangannya.
Mobil Dina pun berlalu. Nia berjalan menyusuri gang menuju rumahnya. Baru sampai depan rumahnya. Adiknya langsung mengejarnya.
"Mbak, bapak marah-marah tadi. Katanya bapak minta dibelikan ikan di Rumah Makan depan. Bapak gak suuka lauk yang mbak masak tadi pagi." Kata Reza mendekati Nia
"Udah kamu belikan lauknya dek?"
"Ya belumlah mbak. Uangnya mana?"
"Emangnya kamu gak megang uang?" Ujar Nia
"Uang Reza udah abis mbak. Tadi Reza makan-makan di Cafe dekat sekolah sama teman-teman Reza."
"Kamu kan bawa bekal tiap hari dek. Kok Uang kamu abis?"
"Gak pernah Reza makan mbak. Reza malu makan bekal sendiri di sekolah."
"Mbak juga bawa bekal kok setiap hari. Gak pernah makan di kantin. Kenapa mesti malu?"
"Ihh mbak ini.. Cepetan sana beli lauk bapak. Nanti bapak tambah marah. Oh iya, nanti Reza minta uang jajan lagi ya mbak untuk minggu ini."
"Jangan boros-boros dek. Kita bukan orang yang banyak uang." Nia menatap adiknya.
"Mbak bawel. Cuma minta uang jajan aja pake ceramah." kata Reza sambil meninggalkan Nia kemudian masuk ke dalam rumah.
Nia langsung balik badan dan pergi ke Rumah Makan di dekat gang rumah Nia. Sesampainya di Rumah Makan, Nia memesan Ikan panggang 2 Potong dan sambal cabenya 1 porsi. Nia tahu lauk kesukaan bapaknya jika makan di Rumah Makan ini.
Di depan kasir Rumah Makan, Nia membuka dompetnya, mengambil uang untuk membayar lauk yang dibelinya. Dilihatnya uang yang ada di dompetnya hanya tinggal 3 lembar uang 50 ribuan. Sedangkan ibunya masih semingguan lagi baru pulang. Bagaimana Nia membagi uang ini untuk belanja makan harian, untuk bapaknya setiap sore dan untuk uang jajan adiknya yang sudah diminta tadi.
"20 ribu mbak." kata kasir
Nia masih tidak bergeming. Dia masih menunduk melihat dompetnya.
"Mbak, semuanya jadi 20 ribu mbak." kata kasir lagi
Nia masih juga melamun.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Nia didepan kasir.
"Ini mbak untuk meja No 14 sekalian sama punya mbak ini ya." katanya sambil menyerahkan uang dan menunjuk ke arah Nia.
Nia terkejut dan tiba-tiba sadar dari lamunannya. Dia melihat laki-laki yang ada disampingnya.
ANDRE!!!
Nia gelagapan dan panik
"Udah gue bayar sekalian punya lo. Lo ngapain sih melamun aja?" Tanya Andre.
"Aduh.. Ini ndre aku ganti uang kamu ya."
"Udah gak apa-apa. Santai aja." jawab Andre.
"Makasih ya ndre. Kamu nolongin aku lagi kali ini."
"Santai aja kali. Cuma itu doang kok."
Baru saja Andre dan Nia hendak keluar dari Rumah Makan itu, hujan turun dengan deras.
Nia dan Andre menatap hujan itu beberapa detik.
Aku harus cepat pulang sebelum bapak marah-marah lagi, batin Nia.
"Ndre, aku duluan ya. Sekali lagi makasih ya buat yang tadi" kata Nia pamit
"Loh ini kan hujan lebat. Tunggu aja sebentar. Nanti gue antar lu pulang." kata Andre
"Gak apa-apa ndre. Aku harus cepat pulang. Aku sudah ditunggu dirumah."
"Tapii.." belum selesai Andre bicara, Nia sudah berlari pergi.
Dijalan, Nia melambatkan langkahnya. Dia menangis sepuas-puasnya. Inilah mengapa dia menyukai hujan. Karena hanya hujan yang tahu tangisnya, hanya hujan yang menutupi tangisnya.
Nia yakin setelah ini Nia pasti dimarahi ayahnya karena ayahnya sudah dari tadi kelaparan.
Sesampainya Nia dirumah. Tubuhnya sudah basah kuyup. Segera di salinnya lauk yang dibelinya tadi. Diambilnya handuk dan di keringkan tubuhnya cepat-cepat. Setelah itu segera dia ke tempat ayahnya untuk mengajak ayahnya makan.
"Pak, mau makan sekarang? Nia udah beli lauk dari Rumah makan depan." kata Nia pada ayahnya.
"Kamu dari mana aja!! Bapak sudah lapar dari tadi." teriak ayahnya.
"Maaf pak tadi Nia baru pulang sekolah waktu Reza kasih tahu." kata Nia
"Menjawab lagi kamu. Siapin makan bapak sekarang!!" teriak bapaknya lagi
Segera Nia menyiapkan makanan untuk ayahnya. Diantarnya satu per satu piring dan gelas ke depan ayahnya.
"Pak, Nia ganti baju dulu ya pak." kata Nia setelah semua makanan sudah siap tersaji didepan ayahnya.
Ayahnya tidak menjawab. Dengan lahap ayahnya makan. Nia langsung pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Nia terkejut ternyata di kamar sudah ada mbak Ajeng.
"Mbak udah pulang? Mbak tahu tadi bapak minta lauk dari Rumah makan depan?" tanya Nia
"Tahu. mbak udah pulang dari tadi kok. Tapi kan uang makan ada di kamu dek. Yah kamu dong yang tanggung jawab." jawab mbak Ajeng santai.
"Kan bisa mbak beliin dulu tadi pakai uang mbak. Setelah itu bisa aku ganti uang mbak. Bapak sampe marah besar mbak tadi ke aku karena sudah kelaparan." Matanya sudah memerah menahan air mata.
"Udahlah. Kan udah kamu beli juga lauknya." Jawab mbak Ajeng tanpa bersalah
Nia terdiam menggigit bibirnya agar jangan menangis. Diambilnya pakaian ganti dan pergi ke kamar mandi. Digantinya pakainnya sambil menangis pelan.
Setelah berganti pakaian. Diusapkannya mukanya dengan air agar menutupi sisa air mata di wajahnya. Kemudian keluar sambil berpura-pura menyeka mukanya dengan handuk.
Dilihatnya meja tempat ayahnya makan sudah tidak ada ayahnya lagi. Pertanda ayahnya sudah selesai makan.
Disimpan dan dirapikannya perlengkapan piring bekas ayahnya makan tadi. Dibawanya ketempat cucian piring. Dicucinya piring yang sudah lumayan menumpuk bekas makan ayahnya, kakaknya dan adiknya.
selesai mencuci piring, dilihatnya ayahnya sedang menonton televisi diruang depan.
"Bapak mau kopi?"
"Gak usah. Bapak udah mau keluar sebentar lagi. Mana uang untuk bapak?" tanya ayahnya.
Nia mengambi dompet dan menyerahkan uang jatah ayahnya setiap sore.
"Ini pak." kata Nia
Bapaknya mengambil lalu memasukkannya ke dan sakunya tanpa berkata apapun.
Nia pergi kebelakang. menyapu rumah dan menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak besok subuh.