“Ini Keysha, putri saya.”
Dian mengucapkannya dengan bangga.
Rania berdiri tepat di samping mereka cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak disebut.
Senyum para kerabat mengarah ke satu titik. Tepuk tangan kecil terdengar. Rania menunggu, tapi tidak ada kelanjutan.
“Dan ini…” Dian berhenti sejenak.
Rania mengangkat kepala.
“…Rania.”
Satu nama. Tanpa embel-embel. Tanpa posisi.
Keysha muncul dengan blazer krem yang pas di tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tampak segar terlalu segar untuk seseorang yang semalam mungkin mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Ia menoleh pada Rania, tersenyum lembut. “Kamu pakai baju apa?”
“Yang ini,” jawab Rania singkat, menunjuk gaun biru gelap yang ia kenakan. Sederhana. Aman.
Keysha mengangguk, seolah menilai. “Cocok. Tapi Mama biasanya suka yang lebih cerah.”
Dian mengangkat kepala. “Keysha benar. Warna terang lebih hidup.”
Rania menahan napas. “Aku bisa ganti.”
“Tidak usah,” kata Dian cepat. “Sudah waktunya berangkat.”
Mobil melaju membelah pagi. Di kursi belakang, Rania memandangi pantulan wajahnya di jendela tenang di luar, tegang di dalam. Ia mengulang pesan semalam di kepalanya Amati. Simpan bukti. Hari ini, ia akan mengamati.
Rumah besar tempat acara berlangsung dipenuhi kerabat. Tawa ringan, sapaan hangat, kilau perhiasan. Rania berdiri sedikit di belakang, mengikuti Dian yang langsung dikerumuni. Keysha berada di sisi Dian posisi yang sudah seperti hak.
“Ini Keysha,” Dian memperkenalkan dengan bangga. “Putri saya.”
Rania menunggu. Detik berlalu. Lalu Dian menoleh, seperti baru ingat. “Dan ini… Rania.”
Nada itu kembali singkat.
“Ah, yang baru pulang itu?” seseorang berkomentar sambil tersenyum sopan.
Rania mengangguk. “Iya.”
“Keysha sekarang sibuk apa?” tanya yang lain.
Keysha menjawab lancar—organisasi, proyek, rencana masa depan. Dian menyela dengan detail yang membuat ceritanya semakin berkilau. Rania mendengarkan, menimbang tiap kata. Saat ia mencoba ikut bicara, suara lain menyela.
“Rania kuliah apa?” tanya seorang tante.
“Desain komunikasi visual,” jawab Rania.
“Oh.” Senyum itu muncul lagi—tipis. “Hobi, ya?”
Keysha tertawa kecil. “Desain itu luas kok, Tante. Tapi memang perlu manajemen yang kuat.”
Dian mengangguk. “Betul.”
Rania tersenyum tipis. Kata-kata itu menempel seperti label yang ditempelkan tanpa bertanya.
Di ruang tamu, Nayla berdiri di dekat jendela. Tatapannya sesekali menyapu ruangan, lalu berhenti pada Rania. Ketika pandangan mereka bertemu, Nayla mengangguk kecil bukan dukungan, tapi pengakuan diam-diam.
Siang menjelang. Dian meminta perhatian.
“Ada pengumuman kecil,” katanya. “Acara amal bulan depan—poster dan konsep visualnya akan ditangani Keysha.”
Tepuk tangan kecil terdengar. Rania merasakan telapak tangannya dingin. Ia melihat Keysha menunduk sopan, senyum terukur.
“Rania,” Dian melanjutkan, “kamu bisa membantu kalau perlu. Belajar dari Keysha.”
Belajar.
Kata itu menggantung seperti perintah yang menutup pintu. Rania mengangguk. “Iya, Ma.”
Setelah pengumuman, Keysha mendekat. “Nanti aku share brief-nya,” katanya ramah. “Biar kamu ikut.”
Rania menatapnya, mencoba membaca celah di balik keramahan itu. “Kapan?”
“Nanti malam.”
Sore, mereka pulang. Di mobil, Dian menegur Rania. “Kamu terlalu pendiam. Orang-orang jadi bertanya-tanya.”
“Aku bicara kalau ditanya,” jawab Rania hati-hati.
“Tidak cukup,” Dian menghela napas. “Kamu harus lebih… berinisiatif. Lihat Keysha.”
Perbandingan itu jatuh lagi, kali ini lebih berat. Rania menoleh ke jendela, menahan sesuatu yang mengendap di tenggorokannya.
Di kamar, Rania membuka laptop. Tak lama, pesan masuk dari Keysha.
Ini brief poster. Deadline mepet, ya.
Lampiran terbuka. Konsepnya familiar. Terlalu familiar. Palet warna, komposisi—bahkan moodboard yang disertakan terasa seperti bayangan dari folder lama Rania.
Rania membuka arsipnya. Tanggal, jam, sketsa. Ia mencocokkan. Ada kemiripan yang tak bisa dianggap kebetulan.
Ponselnya bergetar.
Ingat, jangan kirim apa pun dulu, pesan nomor tak dikenal.
Biarkan dia melangkah.
Rania menarik napas. Ia mengetik balasan singkat ke Keysha.
Aku pelajari dulu.
Oke, balas Keysha cepat.
Mama minta cepat.
Malam turun. Di meja makan, Dian memuji Keysha yang sudah mulai mengerjakan konsep. “Mama percaya sama kamu.”
Kata itu kembali. Rania menunduk, memotong makanannya pelan. Alvin melirik Rania, ragu, lalu berkata, “Rania juga jago kok, Tante. Aku lihat desainnya.”
Dian tersenyum tipis. “Semua butuh proses.”
Setelah makan, Rania naik ke kamar. Ia membuka email klien yang membatalkan proyeknya—membaca ulang kalimat tidak orisinal. Ia mengumpulkan tangkapan layar, timestamp, jejak perubahan file. Setiap bukti ia simpan, rapi.
Ketukan pelan terdengar.
“Masuk,” kata Rania.
Nayla berdiri di ambang pintu. “Aku dengar poster acara amal ditangani Keysha.”
“Iya.”
Nayla mengangguk. “Kalau ada yang aneh… simpan.”
Rania menatapnya. “Kak Nayla tahu?”
Nayla menghela napas. “Aku tidak tahu semuanya. Tapi aku mulai melihat pola.”
Hening sejenak. “Terima kasih,” kata Rania.
Nayla pergi tanpa menambah apa pun.
Tak lama, ponsel Rania bergetar lagi.
Hari ini kamu dibandingkan, tulis nomor itu. Besok namamu akan dihapus.
Rania mengetik cepat.
Dihapus dari apa?
Balasan datang setelah jeda yang terasa panjang.
Dari pengakuan.
Jantung Rania berdegup. Ia menatap layar laptop, lalu folder bukti. Jemarinya berhenti di atas trackpad.
Di rumah itu, namanya terus disebut sebagai tambahan.
Tapi di laptopnya, Rania menatap satu folder yang tidak bisa dihapus begitu saja.
WAKTU.
Ia menyimpan file terakhir, lalu menutup layar.
Jika mereka pikir pengakuan bisa diatur dari ruang makan keluarga, maka mereka belum tahu arena bisa dipindahkan.
Dan besok, ia tidak akan datang sebagai bayangan.