6

1053 Words
“Posternya dapat banyak pujian.” Dian berkata tanpa menoleh. Keysha tersenyum kecil, seperti seseorang yang sudah tahu hasil akhirnya. Rania berdiri beberapa langkah di belakang, menatap poster besar yang terpampang di dinding gedung. Namanya tidak ada di sana. Di ruang makan, Dian duduk dengan ponsel di tangan, alisnya berkerut. Keysha berdiri di dekat meja, menyesap kopi dengan sikap tenang yang dibuat-buat. Nayla membaca berita di tablet, matanya sesekali terangkat, mengamati. “Pagi,” sapa Rania. “Pagi,” jawab Nayla. Dian mengangguk singkat tanpa menoleh. “Sarapan cepat. Kita berangkat ke lokasi acara amal siang ini.” Rania duduk. Ia membuka ponsel—tidak ada pesan baru dari nomor tak dikenal. Sunyi yang terasa seperti jeda sebelum sesuatu jatuh. Keysha meletakkan cangkirnya. “Poster final sudah siap. Tinggal dicetak.” Dian menatapnya, senyum bangga muncul. “Bagus. Mama tahu kamu bisa.” Rania menunduk. Kata-kata itu kembali memantul di kepalanya seperti gema yang tak mau padam. Di mobil, suasana sunyi. Rania memandangi jalanan, menghitung napas. Ia mencoba menenangkan diri dengan rutinitas kecil menyebut nama-nama pohon di pinggir jalan, memperhatikan lampu lalu lintas. Namun pikirannya tetap kembali pada folder WAKTU di laptopnya. Bukti-bukti itu aman, tersimpan rapi. Ia sudah siap setidaknya secara teknis. Lokasi acara amal ramai. Spanduk besar terbentang di pintu masuk. Rania berhenti sejenak saat melihatnya. Poster itu indah. Terlalu indah. Warna, komposisi, dan pesan visualnya familiar. Ia mengenali iramanya seperti mengenali denyut nadi sendiri. Nama desainer tercetak kecil di pojok kanan bawah. Keysha Ayudita Rania menghela napas pelan. Tidak terkejut, tapi tetap terasa menyakitkan. “Bagus, kan?” Keysha menoleh, senyumnya lembut. “Mama suka sekali.” “Bagus,” jawab Rania jujur. “Kuat.” Dian mendekat, menepuk bahu Keysha. “Ini standar yang Mama mau. Profesional.” Kata profesional terasa seperti garis yang ditarik tegas menyisihkan siapa pun yang berdiri di luar. Di dalam gedung, panitia sibuk. Percakapan berputar di sekitar sponsor, jadwal, dan logistik. Rania bergerak mengikuti arus, membantu hal-hal kecil—mengangkat kotak, mengatur meja. Tidak ada yang memintanya, tapi ia melakukannya agar tidak berdiri tanpa fungsi. Seorang panitia menghampiri Dian. “Bu, konsep posternya dapat dari mana? Kuat sekali pesannya.” Dian tersenyum. “Dari putri saya.” Keysha menunduk sopan. Tepuk tangan kecil terdengar. Rania berdiri beberapa langkah di belakang. Ia merasakan sesuatu merayap di d**a bukan amarah yang meledak, melainkan kesadaran yang mengeras. Di sinilah namanya dihapus. Di tempat ini, pengakuan berjalan tanpa menoleh padanya. Nayla berdiri di samping Rania. “Kamu tidak apa-apa?” bisiknya. Rania mengangguk. “Aku baik.” Nayla menatap poster itu, lalu Rania. Ada pertanyaan di matanya, tapi ia tidak mengucapkannya. Acara berjalan lancar. Saat jeda, Rania duduk di sudut, membuka ponsel. Pesan masuk akhirnya. Sekarang kamu melihatnya. Rania mengetik cepat. Aku melihat. Jangan bereaksi di tempat terbuka. Aku tahu. Pulang nanti. Dengarkan. Rania mengunci layar. Ia mengangkat kepala—Dian dan Keysha tertawa bersama sponsor. Rumah itu terasa semakin jauh, meski jaraknya hanya beberapa langkah. Pulang ke rumah menjelang sore, hujan kembali turun. Rania naik ke kamar, mengganti pakaian, lalu duduk di tepi ranjang. Kepalanya berdenyut. Ia memejamkan mata, menghitung sampai sepuluh. Tidak membantu. Ketukan terdengar. “Masuk,” katanya. Keysha berdiri di ambang pintu. “Kamu kelihatan capek.” “Sedikit.” Keysha melangkah masuk, menutup pintu setengah. “Terima kasih ya, sudah bantu tadi.” Rania menatapnya. “Sama-sama.” “Aku harap kamu tidak merasa tersisih,” lanjut Keysha lembut. “Ini semua cepat. Mama ingin hasil terbaik.” “Hasilnya memang terbaik,” jawab Rania. “Kamu pakai konsep yang kuat.” Keysha tersenyum. “Aku banyak belajar.” Belajar. Rania berdiri, berjalan ke meja, membuka laptopnya tanpa menyalakan layar. “Keysha, aku mau tanya satu hal.” Keysha tampak waspada sepersekian detik. “Apa?” “Kalau dua orang punya ide mirip, siapa yang diakui?” Keysha tertawa kecil. “Yang paling siap.” “Siap bagaimana?” “Siap tampil,” jawab Keysha ringan. “Siap dipercaya.” Kata itu kembali. Dipercaya. Rania mengangguk pelan. “Terima kasih.” Keysha menatapnya, ragu. “Kamu marah?” Rania menoleh. “Tidak. Aku sedang belajar.” Keysha tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. “Bagus.” Saat pintu tertutup, Rania menghembuskan napas panjang. Ia duduk, membuka folder WAKTU. Ia memeriksa sekali lagi timestamp, versi file, catatan proses. Semua utuh. Ponselnya bergetar. Kamu lihat bagaimana pengakuan bekerja, tulis nomor itu. Sekarang pertanyaannya, kamu mau menunggu, atau memindahkan arena? Rania mengetik pelan. Arena apa? Balasan datang. Yang tidak bisa mereka kendalikan. Rania menutup mata. Ia teringat kampus, komunitas desain, mentor yang pernah memuji prosesnya bukan hasil instan. Ia teringat satu nama yang belakangan sering disebut di brosur kampus Reyhan Mahendra, psikolog yang mengisi program mentoring lintas fakultas. Ia membuka email kampus. Program itu menerima pendaftar baru minggu ini. Di lantai bawah, suara Dian memanggil. “Rania!” Rania turun. Dian berdiri di ruang keluarga, ekspresinya tegang. “Poster itu dapat pujian. Mama senang.” “Selamat, Ma.” “Besok ada liputan kecil,” lanjut Dian. “Keysha yang diwawancara.” Rania mengangguk. “Baik.” Dian menatapnya. “Kamu jangan salah paham. Ini bukan tentang memilih.” Rania menatap balik. “Aku mengerti.” Namun yang ia mengerti bukanlah yang Dian maksud. Malam turun. Rania duduk di meja belajarnya, membuka formulir pendaftaran mentoring. Ia mengisi data dengan hati-hati. Di kolom alasan bergabung, ia menulis singkat. Belajar menjaga diri di tengah tekanan. Ia menekan kirim. Ponselnya bergetar lagi. Langkah pertama diambil. Rania membalas. Aku siap. Di koridor, langkah kaki berhenti di depan kamarnya. Bayangan jatuh di bawah celah pintu. Rania menutup laptop pelan, berdiri, dan membuka pintu. Nayla berdiri di sana. “Mama cari kamu besok pagi. Katanya ada pembagian tugas baru.” Rania mengangguk. “Terima kasih.” Nayla menatapnya lama. “Rania… rumah ini memang tidak sama sejak kamu kembali.” Rania tersenyum kecil. “Aku juga merasakannya.” Nayla pergi. Rania menutup pintu, bersandar sejenak. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—lelah, tapi utuh. Rumah ini memang tidak sama sejak ia kembali. Dan mungkin, ia juga tidak. Rania menekan tombol kirim pada formulir mentoring itu, lalu menutup laptopnya. Di lantai bawah, suara tawa terdengar akrab. Ponselnya bergetar. Besok, mereka akan menarik garis. Rania berdiri, meraih jaketnya. “Baik,” gumamnya. Kali ini, ia tidak akan berdiri di sisi yang menunggu dipilih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD