“Kamu mau tinggal disini, atau kamu mau pergi?”
Rania berhenti di anak tangga terakhir.
Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan emosi, itulah yang membuatnya lebih berbahaya.
Bertahan atau pergi.
Pertanyaan itu menggantung di benaknya saat ia menuruni tangga, melewati ruang keluarga yang terlalu rapi, terlalu sunyi. Di meja makan, Dian sudah duduk dengan map tipis di depannya. Keysha berdiri di dekat jendela, menelpon seseorang dengan suara rendah. Nayla belum terlihat.
“Duduk,” kata Dian tanpa basa-basi.
Rania menurut. Punggungnya tegak, tangannya terlipat di pangkuan. Ia merasakan detak jantungnya stabil anehnya tenang, seperti setelah badai kecil yang memaksa laut memilih arah.
“Mulai minggu ini,” Dian membuka map, “kita atur ulang peran di rumah. Banyak kegiatan ke depan. Aku tidak ingin ada kebingungan.”
Rania menatap map itu, lalu wajah ibunya. “Peran apa, Ma?”
Keysha menutup telepon dan ikut duduk. Senyumnya terpasang, rapi seperti biasa.
“Kamu,” lanjut Dian, menoleh pada Rania, “akan membantu Keysha. Administrasi, pengarsipan, hal-hal yang perlu ketelitian.”
Rania mengangguk pelan. “Bukan desain?”
Dian menghela napas kecil, seolah pertanyaan itu melelahkan. “Untuk sementara, tidak. Kita butuh efisiensi.”
Efisiensi. Kata yang terdengar netral, namun terasa seperti penetapan batas.
“Aku sudah daftar program mentoring di kampus,” kata Rania tenang. “Jadwalnya bentrok beberapa hari.”
Dian mengangkat alis. “Mentoring apa?”
“Lintas fakultas. Tentang manajemen tekanan dan pengembangan diri.”
Keysha tersenyum. “Bagus kok. Tapi kegiatan keluarga juga penting.”
Rania menatapnya. “Aku tidak menolak membantu. Aku hanya minta ruang.”
Dian menutup map dengan bunyi pelan. “Ruang itu ada, kalau kamu tahu posisi.”
Posisi.
Rania mengangguk. Ia berdiri. “Baik, Ma.”
Ia berbalik menuju tangga sebelum percakapan itu mengeras. Di anak tangga ketiga, suara Dian menyusul.
“Rania.”
Rania berhenti.
“Kamu harus bersyukur.”
Rania menoleh. “Aku bersyukur. Tapi bersyukur tidak berarti berhenti menjadi diriku sendiri.”
Hening jatuh. Keysha menatapnya lama, senyumnya tak berubah, namun matanya menyimpan sesuatu yang dingin.
Di kamarnya, Rania membuka laptop. Email balasan dari kampus masuk.
Subjek: Penerimaan Mentoring
Isi: Selamat, Anda diterima. Sesi pertama lusa.
Rania menutup mata sejenak. Napasnya mengalir lebih lega.
Ponselnya bergetar.
Hari ini mereka mengikatmu, tulis nomor tak dikenal. Apa pilihanmu?
Rania mengetik tanpa ragu.
Aku memilih ruang yang jujur.
Balasan datang cepat.
Bagus. Tapi bersiaplah. Mereka tidak suka kehilangan kendali.
Siang menjelang. Rania membantu di ruang kerja mengarsipkan dokumen, menyusun jadwal. Ia bekerja rapi, tanpa protes. Dari sudut matanya, ia melihat Keysha beberapa kali menoleh, seolah memastikan Rania benar-benar patuh.
Sore, Nayla menghampiri. “Mama minta kamu ikut rapat kecil malam ini.”
“Rapat apa?”
“Pembagian tugas untuk liputan besok.”
Rania mengangguk. “Baik.”
Malam turun. Di ruang keluarga, Dian memaparkan rencana. Keysha akan diwawancara. Nayla mendampingi. Rania diminta menyiapkan berkas.
“Nama desainer tetap Keysha,” tegas Dian.
Rania mengangguk. “Aku paham.”
Keysha tersenyum, lalu berkata, “Terima kasih ya, Rania. Tanpamu, aku kerepotan.”
Tanpamu—tapi namamu tidak ada.
Rania menyelesaikan tugasnya cepat. Ia berdiri. “Aku izin ke kamar.”
Dian mengangguk singkat.
Di koridor, langkah kaki menyusul. Keysha.
“Rania,” panggilnya lembut. “Kamu tidak marah, kan?”
Rania berhenti. “Tidak.”
“Bagus.” Keysha mendekat sedikit. “Aku hanya ingin kita akur.”
Rania menatapnya. “Akur itu jujur.”
Keysha tertawa kecil. “Jujur versi siapa?”
Rania menjawab pelan, “Versi yang tidak mengambil.”
Untuk sesaat, senyum Keysha retak—sangat singkat. Lalu kembali utuh. “Kamu sensitif.”
“Tidak,” kata Rania. “Aku sadar.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Keysha berdiri sendiri di koridor.
Di kamar, Rania membuka folder WAKTU. Ia menambahkan satu catatan baru—hari ini, jam ini, percakapan ini. Ia menyimpan, mengunci, dan membuat salinan.
Ponselnya bergetar lagi.
Keputusanmu diuji malam ini.
Rania mengetik.
Bagaimana?
Mereka akan menawar.
Tak lama, ketukan pintu terdengar. Dian masuk tanpa menunggu jawaban.
“Kamu tidak keberatan, kan,” kata Dian datar, “kalau untuk sementara kamu fokus membantu Keysha. Setelah liputan selesai, kita bicarakan lagi.”
Rania berdiri. “Ma, aku mau jujur.”
Dian menatapnya, tak sabar.
“Aku akan membantu. Tapi aku tidak akan berhenti di kampus. Aku juga tidak akan menyerahkan pekerjaanku untuk dipakai atas nama orang lain.”
Dian mengernyit. “Kamu menuduh?”
“Aku menetapkan batas.”
Hening. Lalu Dian berkata dingin, “Kalau kamu tidak bisa menyesuaikan diri, mungkin kamu perlu mempertimbangkan tempat tinggal.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Rania menelan ludah. “Maksud Mama… aku pergi?”
“Tidak sekarang,” jawab Dian. “Tapi pikirkan.”
Pintu ditutup. Langkah Dian menjauh.
Rania duduk perlahan di tepi ranjang. Tangannya bergetar, tapi matanya jernih. Ia membuka ponsel.
Ini tawaran mereka, tulis nomor itu. Menyerah pelan-pelan.
Rania membalas.
Aku tidak akan menyerah. Tapi aku juga tidak akan memohon.
Ia berdiri, membuka lemari, mengeluarkan satu tas kecil. Ia memasukkan dokumen penting, laptop, dan jaket. Bukan untuk pergi malam ini hanya untuk memastikan ia bisa.
Di cermin, ia menatap dirinya sendiri. “Apa pun pilihanku,” bisiknya, “aku tidak akan hilang.”
Di luar, hujan mulai turun lagi. Di bawah cahaya lampu koridor, rumah itu tampak asing seperti panggung yang menuntut peran tanpa memberi ruang bernapas.
Ponselnya bergetar untuk terakhir kalinya malam itu.
Besok kamu harus memilih bertahan dengan syarat mereka, atau pergi dengan syaratmu.
Rania menutup tas, meletakkannya di dekat pintu.
Ia mematikan lampu, berbaring, menatap langit-langit. Pertanyaan itu Kembali lebih jernih, lebih tegas.
Bertahan atau pergi.
Dan untuk pertama kalinya, kedua pilihan itu sama-sama menakutkan dan sama-sama mungkin.
Di rumah yang tak lagi sama, Rania menutup mata, menunggu pagi yang akan memaksanya memilih.