“Kamu yakin mau bicara seperti itu di depan kamera?”
Rania menoleh.
Suara Keysha terdengar ringan, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Pagi,” kata Rania.
“Pagi,” jawab Nayla.
Dian mengangguk singkat. “Hari ini liputan. Kita berangkat jam sembilan.”
Rania duduk. Ia menyiapkan sarapannya sendiri, gerakan yang sederhana tapi memberinya kendali kecil. Keysha menoleh, tersenyum.
“Rania, tolong cek ulang berkas wawancara,” katanya. “Aku kirim semalam.”
“Sudah,” jawab Rania. “Ada dua poin yang perlu diluruskan.”
Keysha berkedip. “Oh?”
“Riwayat konsep visual,” lanjut Rania tenang. “Sebaiknya disebut sebagai pengembangan tim, bukan individu.”
Dian mengangkat kepala. “Kenapa?”
“Karena memang begitu,” kata Rania, tetap tenang. “Itu akan lebih akurat.”
Hening sesaat. Keysha tersenyum tipis. “Kita bicarakan di mobil.”
Di perjalanan, suasana tegang tapi tertutup. Rania menatap jalan, menyiapkan kata-kata. Ia tidak berniat membuka semuanya hari ini. Ia hanya ingin menarik batas jelas dan terdengar.
Lokasi liputan ramai. Kamera, mikrofon, dan senyum profesional. Keysha berdiri di tengah, Dian di sampingnya. Rania sedikit ke belakang, memegang map berkas.
“Nama dan peran?” tanya pewawancara.
“Keysha Ayudita,” jawab Keysha percaya diri. “Penanggung jawab konsep visual.”
Rania menunduk, mencatat. Ia menunggu momen yang tepat.
“Konsepnya kuat,” puji pewawancara. “Prosesnya seperti apa?”
Keysha membuka mulut lalu Rania melangkah setengah langkah maju. Tidak memotong, hanya menambah.
“Prosesnya melalui beberapa iterasi,” kata Rania tenang. “Diskusi, uji visual, dan penyempurnaan.”
Pewawancara menoleh. “Anda?”
“Rania,” jawabnya. “Tim pengembangan.”
Kamera menangkapnya sekilas. Dian menegang, tapi tidak menghentikan.
Wawancara selesai. Keysha menepi, senyumnya tetap terpasang. “Kamu berani.”
“Aku jujur,” balas Rania.
Dian mendekat. “Kamu tidak perlu maju.”
“Aku tidak mengklaim,” kata Rania pelan. “Aku meluruskan.”
Di mobil, Dian menahan diri hingga mereka tiba di rumah. Begitu pintu tertutup, suaranya turun.
“Kamu mempermalukan keluarga.”
Rania menatapnya. “Aku menjaga akurasi.”
“Jangan bermain kata,” tegas Dian. “Di rumah ini, kita satu suara.”
“Kalau satu suara berarti menghapus proses, aku tidak setuju,” jawab Rania. Nada suaranya tidak meninggi.
Keysha menyela lembut. “Mama, Rania hanya ingin membantu.”
Dian menatap Rania lama. “Kamu ingin diakui?”
Rania menarik napas. “Aku ingin adil.”
Hening. Nayla berdiri di ambang, menyaksikan tanpa komentar.
Siang itu, Rania kembali ke kamarnya. Ponselnya bergetar.
Kamu menarik batas di ruang publik.
Rania membalas.
Aku tidak membuka apa pun. Cukup. Itu membuat mereka gelisah.
Sore, email masuk dari kampus. Pengingat sesi mentoring lusa. Rania tersenyum tipis arena lain menunggu.
Ketukan pintu terdengar. Keysha masuk tanpa senyum kali ini. “Kita perlu bicara.”
“Silakan.”
“Kenapa sekarang?” tanya Keysha. “Kamu bisa menunggu.”
“Menunggu apa?” Rania menatapnya. “Menunggu namaku hilang?”
Keysha tertawa pendek. “Kamu dramatis.”
“Tidak,” kata Rania. “Aku konkret.”
Keysha mendekat, suaranya menurun. “Di rumah ini, Mama percaya padaku.”
“Kepercayaan bukan alasan,” jawab Rania.
Untuk pertama kalinya, Keysha tampak kesal. “Kamu pikir bukti-buktimu cukup?”
Rania diam. Itu jawaban.
Keysha melangkah pergi, pintu tertutup agak keras.
Malam turun. Di ruang makan, Dian bicara singkat. “Mulai besok, kamu fokus administrasi. Tidak ada keterlibatan konsep.”
Rania mengangguk. “Aku akan fokus di kampus.”
“Itu pilihanmu,” kata Dian dingin.
“Ya,” jawab Rania.
Di kamar, Rania membuka folder WAKTU dan menambahkan catatan liputan—waktu, ucapan, posisi kamera. Ia mengunggah salinan ke penyimpanan awan lain.
Ponselnya bergetar.
Batas ditarik. Sekarang mereka akan menekan.
Rania mengetik.
Aku siap.
Ia menutup laptop, memandang tas kecil di dekat pintu. Masih di sana. Ia tidak mengambilnya.
Belum.
Di koridor, langkah kaki berhenti sejenak lalu pergi. Rumah ini menahan napas.
Batas telah ditarik. Dan setiap batas, selalu mengundang ujian.
Rania mematikan lampu, berbaring dengan mata terbuka. Besok, tekanan akan datang dengan wajah yang lebih ramah atau lebih kejam.
Apa pun bentuknya, ia tidak akan mundur dari garis yang ia buat sendiri.