“Kalau ada yang bertanya, kamu akan bilang apa?”
Dia tidak menatap Rania saat berkata begitu.
Seolah jawabannya sudah ditentukan.
Di ruang makan, suasana pagi kali ini berbeda. Dian tampak lebih tenang, Keysha sibuk dengan ponselnya, dan Nayla duduk di sudut, menatap jendela dengan pandangan jauh. Rania menuruni tangga dengan langkah mantap, mencoba menjaga ketenangan di wajahnya.
“Pagi,” sapa Rania.
“Pagi,” jawab Nayla, senyumnya tipis.
Dian mengangguk, matanya masih fokus pada ponsel. “Hari ini kamu akan fokus pada administrasi. Jangan lupa jadwal mentoring di kampus.”
Rania mengangguk. “Baik, Ma.”
Keysha menoleh, tersenyum lembut. “Jangan khawatir, Rania. Aku akan bantu jika ada yang perlu.”
Rania tersenyum singkat. “Terima kasih.”
Setelah sarapan, mereka bersiap. Rania memeriksa berkas-berkas yang harus diatur, memastikan semuanya rapi. Namun, di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal seperti bisikan halus yang mengingatkannya bahwa batasan itu bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan baru.
Di kampus, Rania mengikuti sesi mentoring dengan penuh perhatian. Reyhan Mahendra, sang psikolog, membahas tentang ketahanan mental dan pentingnya menjaga integritas diri di tengah tekanan. Rania mencatat setiap kata, menyerap setiap nasihat.
“Jangan pernah biarkan tekanan menghapus identitasmu,” ujar Reyhan. “Tetaplah jujur pada diri sendiri.”
Kata-kata itu membekas dalam benak Rania. Ia merasa semakin kuat, semakin yakin bahwa jalan yang ia pilih adalah benar.
Siang itu, Rania kembali ke rumah dengan hati yang lebih tenang. Di ruang kerja, ia melihat Keysha tengah mengatur dokumen, sementara Dian sibuk dengan telepon. Nayla membantu dengan lembut, menyusun berkas-berkas.
“Rania,” panggil Dian, “bantu Keysha dengan arsip ini.”
Rania mengangguk. Ia duduk di samping Keysha, mulai bekerja dengan teliti. Namun, di dalam dirinya, rasa waspada tetap ada. Ia tahu, setiap langkah yang diambil adalah bagian dari strategi yang lebih besar.
Ketika sore tiba, Rania menerima pesan dari nomor tak dikenal.
Kamu mulai terlihat lebih kuat.
Rania membalas dengan hati-hati.
Aku tidak akan berhenti.
Balasan itu datang cepat.
Bagus. Tetaplah begitu. Mereka akan semakin menekan.
Malam hari, di ruang makan, Dian membahas rencana keluarga selanjutnya. Keysha berbicara dengan lancar, sementara Rania mendengarkan dengan saksama. Nayla sesekali memberikan pandangan, seolah mendukung Rania dari balik kata-kata.
Setelah makan, Rania kembali ke kamarnya. Ia membuka laptop, memeriksa folder WAKTU, dan menambahkan catatan baru—tentang percakapan, tentang tekanan yang mulai terasa.
Ponselnya bergetar lagi.
Besok akan menjadi hari yang lebih berat.
Rania mengetik balasan.
Aku siap.
Ia menutup laptop, memandang tas kecilnya di dekat pintu. Masih ada di sana, tetap menjadi simbol kesiapan.
Di luar, malam semakin larut. Rania menatap langit-langit, membiarkan pikiran mengalir. Ia tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir. Batasan, tekanan, dan pengakuan akan terus datang, namun ia juga tahu bahwa setiap langkahnya adalah bagian dari perjuangan untuk tetap berdiri tegak.
Pengakuan yang tertahan tidak hilang, ia hanya menunggu waktu.