semalam dan belum menemukan tempat untuk keluar. Telapak tangannya dingin. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, lalu dipaksa tenang. Ia sudah terbiasa menahan reaksi. Di luar kamar, rumah itu sunyi. Sunyi yang rapi. Tidak ada tawa, tidak ada langkah tergesa. Karpet tebal di lorong menyerap semua suara, membuat setiap gerakan terasa seperti kesalahan yang harus disembunyikan. Rania duduk di tepi ranjang, punggungnya lurus, menatap pantulan dirinya di kaca mata yang lelah, tapi tidak goyah. Ponsel itu kembali bergetar. Bukan panggilan. Sebuah pesan singkat muncul, dingin dan tanpa basa-basi, seperti perintah yang tidak membutuhkan persetujuan. Datang jam delapan. Jangan terlambat. Rania mengembuskan napas pelan. Bibirnya terkatup rapat, seolah jika terbuka sedikit saja,

