“Kamu yakin mau kirim ini sekarang?” Suara Reyhan terdengar datar, tapi ada tekanan halus yang membuat Rania berhenti tepat sebelum menekan tombol unggah. Jarinya menggantung di udara. Layar laptop menampilkan draft tugas pertamanya—kasar, jujur, dan jelas berbeda dari standar aman yang biasa dipuji Dian. Rania menarik napas. “Kalau tidak sekarang, aku akan mengeditnya sampai kehilangan alasan kenapa aku menulisnya.” Reyhan menatapnya sekilas. “Alasan itu biasanya yang paling berisik ditentang.” “Berarti memang harus dikirim,” jawab Rania. Ia menekan tombol itu. Selesai. Tidak ada animasi dramatis. Tidak ada bunyi apa pun. Hanya satu notifikasi kecil: File submitted. Namun dadanya terasa penuh, seolah ia baru saja melepaskan sesuatu yang selama ini ditahan terlalu lama. Reyhan menu

