“Apa kamu yakin mau daftar ini?” Suara Nayla terdengar pelan, tapi cukup tajam untuk memotong langkah Rania yang sudah setengah turun dari tangga. Rania berhenti. Tangannya masih menggenggam ponsel, layar email konfirmasi pendaftaran mentoring belum sempat ia kunci. Ia menoleh perlahan. “Kalau aku bilang tidak, kamu akan percaya?” Nayla terdiam. Sorot matanya jatuh ke ponsel di tangan Rania, lalu naik ke wajahnya. “Mama tidak suka kejutan.” “Aku juga tidak suka dihapus,” jawab Rania singkat. Hening menyela. Dari ruang keluarga, suara Dian terdengar sedang berbicara di telepon, nada bangganya terlalu jelas. Nama Keysha beberapa kali disebut, diselipi tawa kecil yang terdengar akrab. Rania tidak perlu menebak topiknya. Nayla menghela napas. “Aku cuma khawatir.” “Terima kasih,” kata Ra

