Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menusuk kelopak mata Elara dengan kejam. Ia mengerang pelan, merasakan denyut di pelipis yang terasa seperti hantaman benda tumpul akibat sisa zat semalam. Tubuhnya terasa sangat berat, permukaan kulitnya masih menyimpan sensasi panas yang asing sekaligus sangat nyata. Elara mencoba menggerakkan lengan, ia merasakan sebuah beban berat melingkar di pinggang, mengunci posisinya di atas kasur.
Ia membuka mata perlahan, berharap menemukan wajah kaku Kalandra yang biasa ia lihat dalam bayangannya. Elara menoleh ke samping, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang masih terlelap di sebelahnya. Rambut hitam yang sedikit berantakan dan rahang tegas itu bukan milik tunangannya yang dingin. Arlo Danendra terbaring di sana, tampak sangat tenang dalam tidurnya, kontras dengan badai horor yang mendadak meledak di dalam d**a Elara.
Kesadaran tentang apa yang terjadi semalam menghantamnya dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan seluruh kewarasannya dalam sekejap. Memori tentang aroma cendana dan gairah yang ia nikmati di bawah pengaruh obat Thalia kini berubah menjadi belati yang menguliti harga dirinya. Elara merasakan mual yang luar biasa hebat saat menyadari ia baru saja menyerahkan segalanya kepada musuh terbesar keluarga Altamis. Ia menarik napas dengan gemetar, berusaha menahan tangis yang sudah siap meledak demi menjaga kesunyian kamar tersebut.
Elara mencoba melepaskan lengan Arlo yang masih melingkar di perutnya dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati. Setiap inci pergerakannya terasa seperti bermain dengan maut, takut jika pria di sampingnya itu akan terbangun dan mengurungnya kembali. Arlo bergerak sedikit, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dalam tidurnya, membuat Elara membeku selama beberapa detik tanpa berani bernapas. Ia memastikan Arlo kembali tenang, Elara segera beringsut turun dari tempat tidur dengan tubuh yang gemetar hebat.
Ia melihat pakaiannya berserakan di atas karpet tebal, sebuah pemandangan yang mempertegas kehancuran moral yang baru saja ia alami. Elara memunguti pakaiannya satu per satu dengan tangan yang tidak bisa berhenti bergetar karena rasa panik yang ekstrem. Ia mengenakan gaun sutranya dengan terburu-buru, tidak peduli jika kain itu kini kusut dan tidak lagi terlihat sempurna. Rasa malu yang luar biasa besar menyelimuti seluruh keberadaannya, membuatnya merasa sangat kotor di bawah cahaya fajar yang jujur.
Elara mencari mantel krem miliknya yang tergeletak di dekat pintu masuk, segera memakainya untuk menutupi jejak dosa semalam. Ia tidak berani menatap cermin, ia tahu sosok yang ada di sana bukan lagi Elara yang ia kenal. Dunianya baru saja runtuh berkeping-keping dalam satu malam akibat keputusan nekat yang dipicu oleh rasa sakit hati dan bisikan sahabatnya. Ia merasa seolah-olah seluruh Jakarta akan menunjuk wajahnya dengan hinaan jika ia melangkah keluar dari kamar ini.
Ia meraba saku mantelnya, mencari ponsel yang sejak semalam ia abaikan di tengah kekacauan mental yang ia hadapi. Layar ponselnya menyala, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dari Kalandra dan pesan-pesan singkat yang penuh dengan nada ancaman. Aruna pasti sudah meledakkan amarahnya jika mengetahui Elara tidak pulang ke rumah setelah kunjungan pagi yang penuh penghinaan itu. Elara merasa tercekik oleh kenyataan bahwa ia tidak memiliki tempat untuk kembali tanpa membawa aib yang mematikan ini.
Elara memakai sepatunya dengan langkah yang sangat tergesa-gesa, mengabaikan rasa perih pada tumitnya akibat gesekan kulit. Ia menoleh sekali lagi ke arah tempat tidur, memastikan Arlo masih tenggelam dalam tidurnya yang sangat dalam dan damai. Pria itu tampak sangat tidak tersentuh oleh kehancuran yang ia tinggalkan di dalam hidup seorang Elara. Elara segera memutar gagang pintu, keluar dari kamar 909 tanpa menoleh lagi ke belakang seolah-olah ia sedang lari dari neraka.
Ia berlari menyusuri koridor hotel yang masih sunyi, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang pucat pasi terkena angin dingin. Elara tidak menuju lift utama, ia memilih tangga darurat untuk menghindari kemungkinan bertemu dengan Kalandra atau siapa pun yang ia kenal. Setiap langkah menuruni tangga terasa seperti hukuman fisik yang mempertegas kesalahannya yang tidak akan pernah bisa dimaafkan. Pikirannya terus berputar pada bagaimana cara ia menatap wajah Kalandra nanti setelah pengkhianatan sebesar ini terjadi.
Sesampainya di lobi samping, ia segera memesan kendaraan daring dengan tangan yang masih gemetar tak terkendali di atas layar ponsel. Ia berdiri di pojok gedung, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik kerah mantel agar tidak ada orang yang mengenali calon menantu keluarga Altamis tersebut. Udara pagi yang segar justru terasa menyesakkan, seolah-olah seluruh dunia sudah tahu tentang kebusukan yang ia lakukan semalam. Kendaraan datang, Elara segera masuk ke dalamnya tanpa banyak bicara, memberikan alamat rumahnya dengan suara yang nyaris hilang.
Di dalam mobil, Elara hanya bisa menatap jendela dengan pandangan hampa, melihat kota Jakarta yang mulai sibuk dengan aktivitas pagi. Ia merasa dirinya sudah mati secara sosial, tinggal menunggu waktu sampai Arlo Danendra meledakkan bom yang ia pegang sekarang. Penyesalan yang mendalam mulai menggerogoti jiwanya, meninggalkan rasa hampa yang jauh lebih dingin daripada kedinginan Kalandra. Elara menyadari bahwa mulai hari ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan sebuah bidak dalam permainan Arlo.
Ia sampai di depan rumahnya dengan kondisi yang sangat berantakan, segera mengunci pintu rapat-rapat seolah ada monster yang mengejarnya. Elara berlari menuju kamar mandi, menghidupkan pancuran air dingin dan berdiri di bawahnya tanpa melepas pakaian. Ia ingin mencuci semua aroma cendana yang masih menempel di kulitnya, namun bau itu seolah sudah meresap hingga ke dalam tulang. Isak tangisnya pecah di tengah gemericik air, meratapi kebodohannya yang telah menukar masa depan dengan satu malam penuh gairah palsu.
Ponselnya di atas wastafel bergetar lagi, kali ini sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenali. Elara menatap layar itu dengan ketakutan, ia ragu untuk mengangkatnya namun rasa ingin tahu lebih mendominasi pikirannya. Ia mematikan pancuran air, meraih ponsel dengan tangan basah, lalu menekan tombol hijau dengan gerakan yang sangat ragu. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara napas yang teratur dari ujung telepon sana yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Barang milikmu tertinggal di tempat tidurku, Elara.”
Suara bariton Arlo terdengar sangat jernih dan penuh kuasa, menghancurkan sisa-sisa pertahanan Elara yang baru saja ia bangun. Elara menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan suara tangis agar tidak terdengar oleh pria yang paling ingin ia hindari itu. Ia teringat akan anting mutiara pemberian Aruna yang semalam ia kenakan saat masuk ke kamar 909 dengan penuh percaya diri. Benda itu kini berada di tangan pria yang bisa menghancurkan hidupnya hanya dengan satu kalimat singkat kepada publik.
“Jangan hubungi aku lagi, tolong,” ucap Elara dengan suara yang sangat rapuh dan memohon.
Arlo tertawa kecil di seberang sana, suara yang terdengar sangat merdu namun mengandung ancaman yang sangat mematikan bagi Elara. Ia tidak menunjukkan sedikit pun rasa kasihan atas penderitaan yang sedang dialami oleh wanita yang baru saja ia tiduri itu. Elara merasa dirinya sedang masuk ke dalam jaring laba-laba yang sangat kuat, semakin ia meronta maka semakin erat jaring itu melilitnya. Ia menyadari bahwa Arlo sengaja membiarkannya pergi hanya untuk memberinya rasa takut yang lebih menyiksa secara mental.
“Datang ke kantorku sore ini, atau aku yang akan mengantarkan anting ini langsung ke tangan Kalandra.”
Ancaman itu menutup percakapan mereka secara sepihak, menyisakan suara nada putus yang terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasi Elara. Ia menjatuhkan ponselnya ke lantai, terduduk lemas di dalam bak mandi yang dingin dengan pakaian yang basah kuyup. Elara menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut, menyadari bahwa fajar yang ia harapkan membawa keselamatan justru membawa kehancuran mutlak. Ia terjepit di antara dua pria yang sama-sama tidak memiliki hati, satu yang mengabaikannya dan satu yang ingin memilikinya sebagai b***k.
Sementara di kamar hotel, Arlo Danendra masih duduk tenang di tepi ranjang yang berantakan sambil memutar-mutar anting mutiara di jemarinya. Ia menatap ke jendela, melihat matahari yang mulai meninggi dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan oleh siapa pun. Pria itu menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam seolah sedang menikmati sisa aroma Elara yang masih tertinggal di bantal putih itu. Arlo membuka mata tepat saat pintu kamar tertutup, ia menemukan anting-anting Elara tertinggal di atas bantal.
“Game on, Elara.”