“Masuklah, aku sudah menunggumu cukup lama.”
Suara itu terdengar sangat rendah dan berat dari arah tempat tidur yang hanya diterangi cahaya gedung-gedung Jakarta. Elara melangkah masuk ke dalam kamar 909 dengan perasaan yang bercampur aduk antara takut dan nekat. Pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik halus yang menandakan sistem kunci otomatis sudah bekerja sempurna. Ia berdiri mematung sejenak, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan ruangan yang terasa sangat intim sekaligus mengancam.
Zat dari Thalia kini benar-benar telah melumpuhkan akal sehatnya hingga ke titik paling dasar. Ia melihat siluet seorang pria yang sedang berbaring miring, memperlihatkan garis bahu yang kokoh di balik selimut putih hotel. Elara menanggalkan mantel krem miliknya, membiarkan pakaian itu jatuh tak berdaya ke atas karpet tebal yang kedap suara. Ia hanya mengenakan gaun tidur sutra hitam yang melekat tipis pada kulitnya yang mulai terasa panas membara.
Elara mendekati tempat tidur dengan langkah kaki yang terasa melayang seolah gravitasi tidak lagi memiliki kuasa. Ia merasakan dorongan untuk dicintai dan diakui sebagai wanita utuh yang selama ini ditekan oleh kedinginan Kalandra. Tangan pria itu tiba-tiba terjulur keluar dari balik selimut, menarik pinggang Elara dengan sentakan yang sangat tegas dan penuh d******i. Elara terjatuh ke atas kasur empuk, mendarat tepat di pelukan pria yang ia yakini adalah calon suaminya sendiri.
“Kamu wangi sekali malam ini,” bisik pria itu tepat di depan bibir Elara.
Sentuhan yang ia terima kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya, penuh dengan ledakan gairah yang tidak pernah ia dapatkan. Pria itu mencium lehernya dengan intensitas yang sanggup meluluhkan seluruh pertahanan moral yang tersisa dalam benak Elara. Elara membalasnya dengan cara yang sangat berani, menyalurkan semua rasa sakit hati atas penghinaan Aruna semalam. Ia merasa sangat hidup saat sepasang lengan kuat itu mengunci tubuhnya seolah tidak akan pernah membiarkannya pergi.
Udara di dalam kamar 909 terasa sangat panas dan penuh dengan muatan listrik yang membuat bulu kuduk Elara berdiri. Pria itu mendominasi setiap gerakannya, memberikan perhatian pada setiap inci tubuh Elara dengan cara yang sangat primitif namun mendalam. Elara memejamkan mata, membiarkan air mata haru mengalir di sudut matanya karena merasa akhirnya berhasil memenangkan hati Kalandra. Ia percaya bahwa malam ini adalah awal dari perubahan besar dalam hubungan pernikahan mereka yang akan datang.
“Katakan namaku,” tuntut pria itu sambil memberikan tekanan lembut pada bahu Elara yang terbuka.
Elara hanya bisa mendesah pasrah, ia merasa suaranya tertahan oleh gelombang sensasi yang terus menghantam kesadarannya tanpa henti. Ia tidak pernah menyangka pria sekaku Kalandra bisa berubah menjadi sosok pemangsa yang begitu ahli dalam memanjakan keinginan wanita. Kepalanya terasa pening, namun ia tidak ingin momen keintiman ini berakhir karena ia merasa sangat dihargai sebagai manusia. Dunia di luar kamar ini seolah menghilang, menyisakan hanya mereka berdua dalam pusaran gairah yang semakin memuncak.
Pria itu membalikkan tubuh Elara hingga kini berada di bawah kendalinya sepenuhnya, menatapnya dengan mata yang berkilat dalam kegelapan. Elara meraba d**a bidang pria tersebut, merasakan detak jantung yang stabil namun sangat kuat di bawah telapak tangannya. Ia merasa telah melakukan hal yang benar dengan mengikuti saran Thalia untuk mengambil risiko terbesar dalam hidupnya malam ini. Kebahagiaan semu mulai menyelimuti pikirannya yang tumpul, membuatnya tidak menyadari adanya kejanggalan kecil yang mulai muncul di permukaan.
Ia menghirup napas dalam-dalam saat pria itu kembali membenamkan wajahnya di ceruk lehernya yang sangat sensitif. Elara mencoba mencari aroma pinus segar yang biasanya menjadi ciri khas yang menenangkan dari tubuh Kalandra setiap hari. Ia tidak menemukan wangi itu sama sekali, melainkan sesuatu yang jauh lebih kuat dan mengintimidasi indra penciumannya dengan sangat tajam. Tubuh Elara mendadak menjadi sangat kaku saat kesadarannya yang tumpul mulai menangkap perbedaan aroma yang sangat mencolok tersebut.
“Kenapa diam? Kamu menyukainya, bukan?” tanya pria itu dengan nada yang sangat provokatif dan dingin.
Aroma yang kini mengepung seluruh indra penciuman Elara adalah wangi kayu cendana yang sangat maskulin dan dominan. Wangi itu tidak memiliki kelembutan pinus, melainkan ketajaman yang hanya dimiliki oleh seorang pria yang terbiasa memegang kendali penuh. Elara membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit kamar dengan jantung yang seolah berhenti berdetak sesaat karena rasa terkejut. Ia menyadari bahwa tubuh tegap yang sedang memeluknya dengan sangat erat ini memiliki aura yang jauh berbeda.
Elara mencoba mendorong d**a pria itu untuk menciptakan jarak, namun cengkeraman tangan di pinggangnya justru semakin menguat dan tidak tergoyahkan. Pria itu tertawa kecil, suara yang terdengar sangat berat dan penuh dengan nada ejekan yang sangat menyakitkan bagi Elara. Cahaya dari lampu jalanan di luar jendela memberikan sedikit penerangan pada wajah pria yang kini sedang menatapnya dengan sangat intens. Elara membeku saat melihat sepasang mata elang yang menatapnya dengan kilatan kemenangan yang sangat mengerikan dan kejam.
“Kalandra tidak akan pernah bisa memberikan apa yang aku berikan malam ini, Elara.”
Pria itu berbisik tepat di telinga Elara, suaranya mengandung ancaman yang sangat nyata bagi masa depan dan martabatnya sebagai wanita. Elara merasakan seluruh tubuhnya mendadak menjadi sangat dingin seolah ia baru saja dilemparkan ke dalam kolam air es. Ia mengenali suara bariton yang berat itu sebagai milik Arlo Danendra, pria yang seharusnya ia hindari dengan segala cara. Rasa mual mulai menyerang perutnya saat ia menyadari bahwa dirinya baru saja menyerahkan kehormatannya kepada musuh bebuyutan tunangannya.
Arlo menyunggingkan senyum tipis yang sangat meremehkan, tangannya bergerak mengusap pipi Elara yang kini sudah pucat pasi karena ketakutan. Elara ingin berteriak sekeras mungkin, namun lidahnya seolah lumpuh oleh kenyataan pahit yang baru saja ia hadapi di kamar ini. Ia teringat kembali pada nomor kamar 909 yang ia masuki tanpa ragu karena mengikuti bisikan Thalia dan pesan misterius itu. Kesalahan ini bukan sekadar salah masuk kamar, melainkan sebuah jebakan yang dirancang dengan sangat rapi untuk menghancurkannya.
“Lepaskan aku,” suara Elara terdengar sangat rapuh dan bergetar hebat saat ia mencoba melawan d******i Arlo yang sangat kuat.
Arlo tidak menanggapi permintaan itu, ia justru semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan di tengah keheningan malam yang sunyi. Ia tampak sangat menikmati penderitaan yang terpancar dari mata Elara, seolah itu adalah balasan setimpal atas kesombongan keluarga Altamis selama ini. Elara merasa dirinya hanyalah alat yang digunakan Arlo untuk membalas dendam pada Kalandra dan Aruna Maheswari secara tidak langsung. Ia merasa sangat kotor dan tidak berharga di bawah tatapan mata pria yang baru saja menidurinya dengan gairah palsu.
“Kenapa harus dilepaskan? Kamu terlihat sangat menikmatinya beberapa menit yang lalu,” ucap Arlo dengan nada yang sangat tajam dan menghina.
Elara memalingkan wajahnya, air mata mulai mengalir deras membasahi bantal hotel yang mewah namun kini terasa sangat panas bagi kulitnya. Ia membayangkan bagaimana reaksi Kalandra jika mengetahui bahwa tunangannya telah berbagi tempat tidur dengan pria yang paling ia benci di dunia. Aruna pasti akan menggunakan kejadian ini untuk menendang Elara keluar dari keluarga Altamis dengan cara yang paling memalukan dan kejam. Elara merasa seluruh dunianya baru saja runtuh berkeping-keping tanpa menyisakan satu pun harapan untuk bisa bertahan hidup.
Arlo bangkit dari tempat tidur, berdiri dengan angkuh sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut di bawah cahaya lampu kota yang masuk. Ia tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah atau tanggung jawab atas apa yang baru saja terjadi di atas ranjang kamar 909. Pria itu menyalakan lampu kecil di sudut ruangan, membuat Elara harus menyipitkan mata karena cahaya yang tiba-tiba menusuk indra penglihatannya. Elara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, merasa sangat telanjang dan rentan di hadapan pria yang kini menatapnya seperti predator.
“Kamu punya dua pilihan, Elara. Tetap di sini bersamaku atau keluar dan hadapi kedinginan Kalandra di kamar sebelah.”
Pernyataan Arlo membuat Elara tersentak, menyadari bahwa Kalandra memang berada sangat dekat dengannya di lantai hotel yang sama malam ini. Ia merasa tercekik oleh pilihan yang diberikan Arlo, keduanya sama-sama menawarkan kehancuran bagi harga diri dan masa depannya sebagai seorang wanita. Jika ia keluar sekarang, ia harus menjelaskan kehadirannya di kamar Arlo dengan kondisi yang sangat berantakan dan mencurigakan bagi siapa pun. Jika ia tetap di sini, ia akan menjadi tawanan Arlo Danendra selamanya dalam sebuah permainan kekuasaan yang sangat berbahaya.
Elara menatap pintu kamar yang tertutup rapat, membayangkan wajah Kalandra yang kaku dan penuh dengan kecurigaan seperti saat di balkon tempo hari. Ia juga membayangkan wajah Thalia yang mungkin sedang tertawa di balik layar ponselnya karena berhasil menjerumuskan Elara ke dalam lubang ini. Keheningan di dalam kamar 909 terasa sangat menekan, seolah setiap dinding di ruangan ini sedang menertawakan kebodohan yang ia lakukan. Arlo melangkah menuju meja bar, menuangkan minuman ke dalam gelas kristal dengan gerakan yang sangat tenang dan penuh wibawa.
“Kalandra sudah tahu kamu tidak ada di rumah malam ini, dia sedang mencarimu.”