“Telen ini, El. Jangan kasih celah buat rasa takut ngerusak semuanya.”
Thalia muncul dari balik bayangan bar hotel yang remang, menyodorkan sebuah gelas berisi cairan yang aromanya menusuk tajam. Tangannya yang dingin menyentuh pundak Elara, memberikan tekanan yang terasa seperti instruksi mutlak. Elara menatap cairan itu dengan napas yang memburu di balik masker kainnya. Cahaya lampu gantung Grand Mahaka memantul di permukaan gelas, memperlihatkan riak kecil yang tidak tenang.
Elara meraih gelas itu dengan jemari yang terasa kaku dan dingin. Ia melirik trench coat krem yang membungkus tubuhnya, menyembunyikan identitas sekaligus gaun sutra hitam di baliknya. Ruangan ini dipenuhi oleh aroma parfum pria kelas atas dan denting gelas yang terdengar seperti ejekan bagi status sosialnya. Ia tahu bahwa satu tegukan ini akan menghapus semua keraguan yang selama ini menahannya di bawah kendali Aruna.
Cairan itu mengalir melewati kerongkongannya, meninggalkan rasa panas yang membakar sekaligus menenangkan sarafnya yang tegang. Thalia tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya yang penuh ambisi. Elara meletakkan gelas kosong itu kembali ke meja bar dengan denting halus yang memecah kesunyian di antara mereka. Dunia di sekitarnya perlahan mulai terasa lebih ringan, seolah beban moral yang ia pikul selama ini mendadak menguap ke udara.
“Kartu aksesnya ada di saku kanan kamu,” bisik Thalia sambil merapikan kerah baju Elara.
Elara meraba saku mantelnya dan merasakan permukaan plastik keras yang terasa seperti kunci menuju kebebasannya. Thalia tidak memberikan instruksi tambahan, ia hanya menatap Elara dengan pandangan yang penuh dengan ekspektasi besar. Keduanya berdiri di sana selama beberapa detik, berbagi ketegangan yang nyaris bisa dirasakan secara fisik oleh siapa pun yang lewat. Thalia memberikan dorongan kecil pada bahu Elara, memintanya untuk segera melangkah menuju lift sebelum keberaniannya hilang.
Efek alkohol dan zat dari Thalia mulai bekerja, menciptakan sensasi hangat yang merambat dari perut ke ujung jarinya. Elara berjalan menuju lift dengan langkah yang terasa melayang, mengabaikan tatapan beberapa tamu hotel yang penasaran. Angka digital di atas pintu lift berkedip merah, menunjukkan posisi yang terus bergerak naik menuju lantai yang ia tuju. Kepalanya mulai berdenyut pelan, memberikan efek kabur pada tepi penglihatannya yang kini terasa lebih tajam pada objek tertentu.
Elara berdiri di dalam lift, menatap pantulan dirinya di dinding cermin yang berkilau bersih. Ia melihat seorang wanita dengan mata yang memancarkan kemarahan terpendam sekaligus keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya. Tidak ada lagi jejak Elara yang lembut dan penurut seperti yang diinginkan oleh keluarga Altamis setiap harinya. Pintu lift berdenting terbuka di lantai sembilan, menyambutnya dengan lorong panjang yang dialasi karpet tebal kedap suara.
Suasana di lorong ini jauh lebih sunyi dibandingkan dengan lobi bawah yang masih dipenuhi oleh hiruk-pikuk sosialita. Elara melangkah keluar, merasakan hawa dingin dari mesin pendingin ruangan hotel mulai menusuk kulit lehernya yang terbuka. Ia memeriksa nomor kamar di setiap pintu kayu ek yang ia lewati dengan saksama dan penuh kehati-hatian. Jantungnya berdetak liar di balik rusuknya, menciptakan irama yang tidak beraturan seiring dengan langkahnya yang semakin dekat.
Zat di dalam tubuhnya mulai mengaburkan batasan antara logika dan naluri dasar seorang wanita yang ingin diakui. Elara merasa setiap tarikan napasnya menjadi lebih berat, dipenuhi oleh aroma kayu cendana yang mulai memenuhi indra penciumannya. Ia teringat kembali pada pesan misterius yang menyebutkan angka yang sama dengan target rencana Thalia malam ini. Kebetulan ini terasa seperti tarikan magnet yang sangat kuat, menyeretnya ke dalam pusaran masalah yang tidak ada habisnya.
Langkah Elara terhenti tepat di depan pintu dengan nomor kuningan yang berkilat tajam di bawah lampu lorong. Ia menatap angka sembilan nol sembilan itu dengan perasaan yang bercampur aduk antara ngeri dan harapan. Tangannya bergerak perlahan menuju saku mantel, menarik keluar kartu akses yang terasa sangat dingin di genggamannya. Ia mematung selama beberapa detik, mencoba mengumpulkan sisa kesadaran yang masih tersisa di balik efek obat yang mengaburkan pikirannya.
Suara langkah kaki dari kejauhan membuatnya tersentak, memaksanya untuk segera membuat keputusan akhir sebelum seseorang melihatnya. Elara tidak ingin tertangkap basah sebagai penguntit di lantai eksklusif ini oleh petugas keamanan hotel yang berpatroli. Ia teringat kembali pada setiap kata penghinaan yang dilontarkan Aruna di ruang tamunya tadi pagi yang sangat menyakitkan. Luka itu memberikan dorongan terakhir yang ia butuhkan untuk mengabaikan semua aturan moral yang pernah ia pelajari sejak kecil.
Elara mendekatkan kartu akses itu ke sensor di atas gagang pintu dengan tangan yang tidak lagi bergetar. Lampu sensor berubah warna menjadi hijau disertai bunyi klik halus yang menandakan bahwa kunci pintu sudah terbuka. Ia menarik napas panjang, merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis saat tangannya mulai memutar gagang pintu yang terasa berat. Cahaya redup dari dalam kamar mulai merembes keluar, menyinari wajah Elara yang kini dipenuhi oleh tekad yang sangat berbahaya.
Ruangan di balik pintu itu tampak tenang dengan pencahayaan minim yang memberikan kesan intim sekaligus sangat misterius. Elara melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa mengejutkan penghuninya. Ia melepas trench coat-nya dan membiarkannya jatuh ke lantai karpet tanpa peduli pada pakaian luarnya yang mahal itu. Gaun tidur sutranya kini melekat sempurna di tubuhnya, menunjukkan lekuk yang sengaja ia tonjolkan untuk misi pengakuannya malam ini.
Aroma parfum pria yang sangat ia kenali memenuhi seluruh ruangan, membuktikan bahwa orang yang ia cari memang ada di sana. Elara berjalan menuju area tempat tidur besar yang tampak berantakan, menandakan bahwa sang penghuni baru saja beristirahat di sana. Ia melihat siluet seorang pria yang sedang berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan kota Jakarta yang penuh lampu. Pria itu tidak menoleh, namun kehadirannya memberikan tekanan magnetis yang sangat kuat bagi kesadaran Elara yang mulai kacau.
Zat di dalam tubuh Elara kini benar-benar mengambil alih, membuatnya merasa sangat berani untuk mendekati pria yang memunggunginya tersebut. Ia tidak lagi memikirkan konsekuensi jika rencana ini gagal dan menghancurkan reputasi keluarganya di depan publik besok pagi. Baginya, malam ini adalah tentang bertahan hidup dan membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar barang yang bisa dibuang begitu saja. Elara melangkah semakin dekat, merasakan panas yang terpancar dari tubuh pria itu hingga mencapai permukaan kulitnya yang sensitif.
Elara mengulurkan tangannya, menyentuh lengan tegap pria itu dengan ujung jemarinya yang kini terasa sangat sensitif dan panas. Pria itu sedikit menegang, namun ia tetap diam seolah sudah menantikan kehadiran Elara di dalam kamarnya sejak tadi. Elara memberanikan diri untuk melingkarkan lengannya di pinggang pria itu dari belakang, menyandarkan kepalanya pada punggung yang kokoh. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang tenang, kontras dengan jantungnya sendiri yang seolah ingin meledak kapan saja.
“Kamu akhirnya datang juga, Elara,” suara itu terdengar sangat rendah dan berbahaya di tengah kesunyian kamar yang gelap.
Elara tersentak mendengar suara itu, sebuah suara yang jauh lebih berat dan lebih mengintimidasi daripada suara Kalandra yang biasa ia dengar. Ia segera melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, mencoba menajamkan penglihatannya yang masih kabur akibat efek obat dari Thalia. Pria itu berbalik perlahan, memperlihatkan wajahnya yang diterpa sedikit cahaya lampu jalanan dari luar jendela kaca yang besar. Elara membeku saat melihat sepasang mata elang yang menatapnya dengan kilatan yang sangat tajam dan penuh kemenangan.
Arlo Danendra berdiri di sana dengan kemeja yang sudah tidak terkancing rapi, menatap Elara seolah sedang melihat mangsa yang masuk perangkap. Elara menoleh ke arah pintu kamar dengan panik, menyadari bahwa nomor kamar yang ia masuki mungkin adalah kesalahan fatal yang sengaja diatur. Ia mencoba bicara, namun lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya mendadak menjadi sangat kering akibat rasa takut yang luar biasa. Arlo melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Elara terpojok ke dinding di samping tempat tidur.
“Salah kamar atau memang ini tujuan kamu yang sebenarnya?” tanya Arlo sambil menyunggingkan senyum yang meremehkan.
Elara menggeleng pelan, ia merasa kakinya mulai lemas dan kepalanya berputar lebih hebat daripada sebelumnya akibat efek zat yang memuncak. Arlo meletakkan tangannya di dinding tepat di samping kepala Elara, mengurung wanita itu dalam d******i yang tidak mungkin bisa ia hindari. Elara bisa merasakan aroma sandalwood yang tajam menyelimuti seluruh kesadarannya, persis seperti yang ia rasakan di lobi gedung pertemuan kemarin. Ia terjebak di antara keinginan untuk lari dan ketertarikan magnetis yang aneh dari pria yang merupakan musuh keluarganya sendiri.
“Kalandra ada di kamar sebelah, mau aku antar ke sana atau kamu lebih suka di sini?” Arlo membisikkan ancaman itu tepat di depan bibir Elara.