BAB 5

1321 Words
“Rumah ini masih berbau seperti pemukiman kelas menengah yang menyesakkan.” Suara Aruna Maheswari membelah keheningan pagi di ruang tamu Elara dengan ketajaman yang melukai. Elara baru saja membuka pintu saat wanita itu melangkah masuk tanpa izin, diikuti oleh dua pengawal bertubuh tegap yang berdiri kaku di depan gerbang seperti monumen peringatan akan kasta yang berbeda. Aruna berjalan menuju sofa kain berwarna krem milik Elara, mengeluarkan sapu tangan sutra dari tas tangannya, lalu melap permukaannya dengan gerakan teatrikal sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk. Matanya yang tajam menatap sekeliling ruangan—dari gorden yang sedikit pudar hingga pajangan keramik murah—dengan binar penghinaan yang kini terpampang nyata tanpa topeng kesopanan. Elara berdiri mematung di samping meja kayu jati tua, peninggalan terakhir dari mendiang ayahnya yang selalu ia rawat dengan hati-hati. Ia meremas ujung daster katunnya yang sudah mulai tipis, merasa tubuhnya menyusut menjadi butiran debu di hadapan kemewahan luar biasa yang selalu dibawa oleh Aruna Maheswari. Aroma mawar yang menyengat dan mahal dari tubuh Aruna seolah-olah sedang berperang dengan aroma kayu manis dari lilin aromaterapi yang biasa menenangkan hati Elara. Ketegangan mendadak merayap naik dari lantai marmer yang dingin, memenuhi setiap inci ruangan yang kini terasa semakin sempit, pengap, dan asing bagi pemiliknya sendiri. “Maaf, Ma. Saya tidak tahu Mama akan datang sepagi ini,” ucap Elara dengan suara yang diusahakan tetap stabil meski getaran di ulu hatinya sulit disembunyikan. Aruna meletakkan tas tangan kulit buaya miliknya di atas meja kayu itu, menimbulkan bunyi bedentum pelan yang bergema di kepala Elara seperti lonceng kematian bagi ketenangannya. Ia menatap Elara dari ujung rambut yang sedikit berantakan hingga ujung kaki dengan pandangan yang sangat merendahkan, seolah sedang menilai barang loakan yang salah tempat. Tidak ada sorot mata calon ibu mertua yang hangat di sana, yang ada hanyalah tatapan seorang majikan aristokrat yang sedang mengaudit kualitas barang simpanannya sebelum benar-benar dipamerkan. Elara menahan napas, menyadari bahwa setiap kunjungan mendadak dari wanita ini tidak pernah tentang rindu, melainkan tentang kontrol dan d******i yang mutlak. “Aku datang untuk memastikan kamu tidak membawa kebiasaan buruk keluargamu ke dalam rumah Kalandra nanti,” Aruna bicara dengan nada datar yang lebih tajam dari sembilu. Wanita itu berdiri kembali, berjalan perlahan menuju rak kayu tempat Elara memajang potret-potret berharga, termasuk foto masa kecilnya saat digendong oleh ayahnya di depan toko bunga lama mereka. Dengan ujung jarinya yang mengenakan cincin berlian besar, Aruna menggeser bingkai foto itu hingga posisinya miring dan hampir terjatuh ke lantai. Elara ingin sekali berteriak, berlari, dan merapikan kembali foto itu, namun kakinya seolah telah menyatu dengan ubin tua rumahnya yang dingin. Ia merasakan harga diri mendiang ayahnya sedang diinjak-injak di rumahnya sendiri, di depan matanya yang mulai memanas karena amarah yang terpaksa dibungkam. “Keluargamu berutang budi sangat besar pada Altamis, jangan pernah melupakan fakta itu, Elara,” lanjut Aruna sambil berbalik, menatap Elara dengan senyum tipis yang penuh dengan bisa. Kalimat itu menghantam Elara tepat di ulu hati, membangkitkan rasa perih dari luka lama yang ia coba sembuhkan selama bertahun-tahun. Ia tahu persis bahwa saat bisnis ayahnya di ambang kebangkrutan, keluarga Altamis-lah yang mengulurkan tangan, namun ia tidak menyangka bahwa harga dari bantuan itu adalah kebebasannya seumur hidup. Aruna selalu menggunakan utang budi itu sebagai rantai yang melingkar erat di leher Elara, memastikan wanita muda itu tetap patuh, bungkam, dan tidak pernah memiliki suara. Elara merasa dirinya bukan lagi seorang wanita yang dicintai oleh Kalandra, melainkan tawanan politik yang sedang membayar tebusan atas dosa masa lalu yang bahkan bukan miliknya. “Saya selalu mengingatnya, Ma,” jawab Elara dengan nada bicara yang lirih, nyaris seperti bisikan seorang pecundang. Aruna melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Elara bisa melihat pantulan dirinya yang rapuh dan menyedihkan di dalam manik mata hitam wanita itu. Aruna menyentuh pipi Elara dengan ujung kuku panjangnya yang dipulas warna merah marun pekat, warna yang mengingatkan Elara pada darah yang membeku. Sentuhan itu tidak memiliki sedikit pun kehangatan manusiawi, melainkan terasa seperti ancaman fisik yang menandai bahwa Elara adalah properti milik keluarga Maheswari. Elara memejamkan mata sejenak, mati-matian menahan air mata yang sudah mendesak di pelupuk mata agar tidak jatuh di depan musuh terbesarnya. “Jadilah wanita yang berguna, Elara. Jangan hanya menjadi beban yang terus menagih rasa kasihan kami,” bisik Aruna dengan suara yang sangat tenang namun mematikan tepat di telinga Elara. Aruna menarik kembali tangannya, memberikan tepukan ringan di bahu Elara yang terasa seperti hantaman godam, lalu berjalan menuju pintu keluar dengan langkah angkuh. Ia tidak mengucapkan salam perpisahan, hanya memberikan isyarat singkat kepada pengawalnya untuk segera menyiapkan mobil di depan gerbang rumah yang ia anggap kumuh itu. Elara berdiri diam di tengah ruang tamu, mendengarkan deru mesin mobil mewah yang perlahan menjauh hingga menyisakan kesunyian yang mencekam. Keheningan yang ditinggalkan Aruna terasa jauh lebih menyakitkan dan menghina daripada rentetan kata-kata pedas yang baru saja ia terima. Pertahanan Elara akhirnya hancur berantakan saat ia menyadari betapa ia telah membiarkan dirinya diinjak-injak demi sebuah pernikahan tanpa cinta. Ia jatuh terduduk di atas lantai marmer, membiarkan tangisnya pecah menjadi isak yang memilukan, memenuhi setiap sudut ruangan yang kini terasa seperti penjara. Tangisan itu bukan hanya karena hinaan Aruna, melainkan karena rasa muak pada dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk melawan. Ia meratap di bawah bayang-bayang foto ayahnya yang miring, merasa telah mengkhianati martabat keluarga yang selama ini ia coba jaga dengan susah payah. Namun, di tengah isak tangis itu, sesuatu yang lain mulai bergejolak—sebuah percikan amarah yang selama ini terkubur jauh di dasar batin Elara. Amarah itu merayap naik, membakar habis rasa sedih dan sisa-sisa kesabaran yang telah ia pertahankan selama berbulan-bulan di bawah kaki keluarga Altamis. Elara berdiri dengan tangan gemetar, menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya, lalu menatap bingkai foto ayahnya dengan tatapan baru. Tidak ada lagi Elara yang akan memohon belas kasihan, tidak ada lagi Elara yang akan membiarkan Aruna Maheswari mendikte napasnya. Ia melangkah menuju sofa dan meraih tas tangannya, mencari botol kecil kaca gelap pemberian Thalia yang terasa berat di dalam saku rahasianya. Benda itu berkilau jahat tertimpa cahaya matahari sore yang menerobos jendela, seolah-olah sedang memberikan jawaban paling logis atas segala kehinaannya. Elara meraba permukaan botol yang dingin itu, merasakan dorongan adrenalin dan keberanian nekat yang sebelumnya tidak pernah ia miliki. Jika Kalandra adalah satu-satunya jalan keluar, maka ia akan memastikan pria itu terjerat padanya dengan cara apa pun, bahkan dengan cara yang paling kotor sekalipun. Elara masuk ke dalam kamarnya, membongkar lemari pakaian, dan mengeluarkan sebuah gaun sutra hitam yang selama ini ia sembunyikan di balik tumpukan baju kerja. Ia mulai merias wajahnya, menutupi mata yang sembap dengan eyeliner yang tajam dan lipstik merah yang provokatif, mengubah wajah rapuhnya menjadi topeng kemenangan. Setiap gerakan tangannya kini terasa mantap, penuh dengan determinasi seorang wanita yang tidak lagi memiliki beban moral untuk dipertaruhkan. Di cermin besar itu, ia tidak lagi melihat Elara yang malang, melainkan seorang pemain yang siap menghancurkan papan catur demi memenangkan permainannya sendiri. Pikirannya kembali tertuju pada nomor kamar sembilan nol sembilan yang tertera di layar ponselnya, nomor kamar yang kini terasa seperti takdir yang memanggil. Ia tahu bahwa langkah ini adalah pengkhianatan terhadap semua prinsip hidupnya, namun prinsip tidak pernah memberinya perlindungan dari lidah tajam Aruna. Rasa haus akan pengakuan dan keinginan untuk menghancurkan kedinginan Kalandra telah membutakan hati nuraninya, menyisakan hanya ambisi untuk berkuasa. Elara mengambil ponselnya, jarinya menari di atas layar dengan kecepatan yang didorong oleh kemarahan yang sudah mencapai puncaknya. Ia tahu Thalia sedang menunggu di ujung sana, menunggu instruksi untuk memulai skenario yang telah mereka rancang di kafe waktu itu. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi rasa takut akan hari esok, yang ada hanyalah kebutuhan untuk membalas dendam pada setiap penghinaan yang ia terima. Elara menatap pesan terakhir dari nomor asing itu sekali lagi, memastikan bahwa malam ini adalah malam di mana segalanya akan berubah selamanya. Dengan satu tarikan napas panjang yang penuh dengan racun keberanian, ia menekan tombol kirim untuk memulai badai yang sesungguhnya. “Lakukan sekarang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD