“Kalandra, lama tidak berjumpa.”
Suara bariton yang berat itu menghentikan langkah Elara tepat di tengah lobi gedung pertemuan yang megah. Ia merasakan seluruh tubuhnya menegang saat melihat sosok pria yang berdiri hanya beberapa meter di depan mereka. Arlo Danendra berdiri dengan angkuh, memegang gelas kristal berisi cairan amber yang berkilau di bawah lampu aula. Setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya tampak sangat mahal, menegaskan d******i yang ia bawa ke dalam ruangan ini.
Aroma sandalwood yang tajam seketika memenuhi indra penciuman Elara, persis seperti aroma yang ia rasakan semalam. Ia meremas tas tangannya dengan kuat, berusaha menyembunyikan getaran di jemarinya agar tidak terlihat oleh siapa pun. Kalandra di sampingnya mendadak menghentikan gerakan ponselnya dan menegakkan punggung dengan sangat kaku. Atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi elektrik, penuh dengan ketegangan yang nyaris bisa disentuh dengan tangan.
“Arlo,” sapa Kalandra dengan suara yang terdengar dipaksakan tetap tenang.
Arlo tidak segera menyahut, ia justru mengalihkan pandangannya dari Kalandra menuju Elara yang berdiri mematung. Tatapannya sangat intens, menelusuri wajah hingga lekuk tubuh Elara dengan cara yang sangat berani dan terbuka. Elara merasa seolah pria itu sedang menelanjanginya di depan umum, menembus semua pertahanan yang ia bangun dengan susah payah. Jantungnya berpacu liar, bukan karena takut, melainkan karena tensi magnetis yang mendadak menghimpit kesadarannya.
“Dan ini pasti tunanganmu yang cantik itu,” ucap Arlo dengan nada bicara yang rendah dan provokatif.
Ia melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak hingga Elara bisa merasakan panas yang terpancar dari tubuh pria itu. Kalandra segera menggeser posisinya sedikit ke depan, mencoba menghalangi pandangan Arlo yang terlalu fokus pada Elara. Arlo sama sekali tidak merasa terancam, ia justru menyunggingkan seringai tipis yang terlihat sangat merendahkan. Elara merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis saat tatapan mereka kembali bertemu secara tidak sengaja.
“Elara, perkenalkan, ini Arlo Danendra,” ucap Kalandra dengan nada bicara yang mengandung peringatan tersembunyi.
Elara hanya mampu mengangguk kecil tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun dari kerongkongannya yang tercekat. Ia bisa merasakan mata Arlo masih terpaku pada lehernya, tempat kalung mutiara pemberian Aruna melingkar dengan erat. Pria itu tampak tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain di ruangan ini tentang diri Elara. Firasat buruk mulai merayap naik ke tengkuknya, memberikan peringatan akan bahaya yang sedang mengintai di depan mata.
“Senang akhirnya bisa melihatmu dari dekat, Elara,” suara Arlo terdengar seperti bisikan yang mematikan.
Kalandra berdehem keras, mencoba mengambil kembali kendali atas situasi yang mulai terasa tidak terkendali bagi harga dirinya. Ia mengajak Arlo untuk membicarakan masalah bisnis singkat demi mengalihkan perhatian pria itu dari tunangannya. Arlo hanya mengangguk santai, matanya sama sekali tidak melepaskan Elara bahkan saat ia mulai berbicara dengan Kalandra. Elara merasa dirinya sedang menjadi pusat dari sebuah badai besar yang siap menghancurkan apa saja.
“Aku dengar persiapan pernikahan kalian sudah hampir selesai,” Arlo memancing pembicaraan dengan nada yang sangat santai.
Kalandra mengangguk kaku, tangannya terkepal di samping tubuhnya yang terlihat sangat tidak nyaman dengan kehadiran Arlo. Ia tidak suka cara Arlo menatap Elara, seolah pria itu sedang melihat sebuah barang milik pribadi yang tertukar. Elara hanya bisa berdiri diam di samping Kalandra, mencoba terlihat tenang meski batinnya sedang mengalami kekacauan yang luar biasa. Ia merasa terjepit di antara kedinginan Kalandra dan api yang dibawa oleh kehadiran Arlo Danendra.
“Dua bulan lagi, kami akan segera meresmikannya,” jawab Kalandra dengan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.
Arlo tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sangat merdu namun mengandung ejekan yang sangat tajam bagi Kalandra. Ia menyesap minumannya perlahan, matanya terus berpindah antara Kalandra dan Elara dengan cara yang sangat mengintimidasi. Elara merasakan energi di sekelilingnya menjadi semakin berat, seolah dinding-ding aula ini mulai bergerak menyempit ke arahnya. Ia ingin sekali segera pergi dari sana, kakinya seolah tertanam kuat di atas lantai marmer.
“Dua bulan adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah perubahan besar terjadi,” gumam Arlo sambil memutar gelasnya.
Arlo mengalihkan pandangannya sejenak ke arah kerumunan tamu kelas atas yang mulai memperhatikan interaksi mereka. Ia tampak sangat menikmati kegelisahan yang terpancar dari gerak-gerik Kalandra yang semakin tidak menentu. Kalandra mencoba menarik napas dalam, berusaha tidak meledakkan amarahnya di tengah acara formal yang dipenuhi rekan bisnis ayahnya. Elara merasa setiap detik yang ia habiskan di bawah tatapan Arlo adalah siksaan yang menguras seluruh energinya.
“Jangan terlalu percaya diri dengan waktu yang kamu miliki, Kalandra,” tambah Arlo dengan suara yang lebih rendah.
Kalandra tidak menanggapi kalimat tersebut, ia justru memberikan isyarat kepada Elara untuk segera meninggalkan area lobi menuju ruang utama. Elara bernapas lega, merasa memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari tatapan predator milik Arlo Danendra yang menyesakkan. Arlo justru mengulurkan tangannya ke arah Kalandra untuk memberikan jabat tangan perpisahan yang formal di depan kolega lainnya. Kalandra terpaksa menerima uluran tangan itu meski wajahnya terlihat sangat muak dan penuh dengan kebencian terpendam.
Saat kedua tangan mereka bertaut, Arlo menarik tubuh Kalandra sedikit lebih dekat ke arahnya dengan gerakan yang sangat cepat. Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Kalandra yang kini tampak menegang dengan sangat jelas. Elara membeku di tempatnya, menatap interaksi kedua pria itu dengan perasaan cemas yang semakin memuncak di dadanya. Ia tidak bisa mendengar apa pun, ia bisa melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah tunangannya sendiri.
“Jaga milikmu baik-baik, Kal, sebelum aku memutuskan untuk mengambilnya secara paksa malam ini.”
Arlo membisikkan kalimat itu dengan nada yang sangat tenang namun penuh dengan ancaman yang sangat nyata bagi Kalandra. Rahang Kalandra seketika mengeras hingga pembuluh darah di pelipisnya terlihat berdenyut karena kemarahan yang luar biasa besar. Ia melepaskan jabat tangan itu dengan sentakan kasar, matanya menatap Arlo dengan kilatan penuh dendam yang tidak lagi disembunyikan. Arlo justru hanya tersenyum puas, seolah ia baru saja memenangkan sebuah permainan kecil yang sangat menyenangkan.
“Ayo pergi, Elara,” perintah Kalandra dengan suara yang terdengar seperti geraman rendah yang sangat berbahaya.
Kalandra mencengkeram lengan Elara dengan sangat kuat, menariknya menjauh dari hadapan Arlo tanpa menoleh ke belakang lagi. Elara meringis pelan karena rasa sakit di lengannya, ia terlalu takut untuk memprotes kemarahan Kalandra yang sedang meledak. Ia sempat menoleh ke belakang sebentar dan melihat Arlo masih berdiri di tempat yang sama sambil mengangkat gelasnya ke arahnya. Tatapan pria itu tetap intens, seolah sedang menandai Elara sebagai target yang sudah ia kunci dengan sempurna.
Mereka berjalan menembus kerumunan tamu dengan langkah yang sangat cepat, membuat Elara kesulitan menyeimbangkan diri dengan sepatu hak tingginya. Kalandra sama sekali tidak peduli pada rasa sakit yang mungkin Elara rasakan akibat cengkeraman tangannya yang membatu. Pikiran Kalandra tampak sedang berkecamuk, dipenuhi oleh racun yang baru saja dibisikkan oleh musuh bebuyutan keluarganya. Elara merasa atmosfer di sekitar mereka kini dipenuhi oleh kemarahan yang bisa meledak kapan saja.
“Kal, pelankan langkahmu, tanganku sakit,” Elara memberanikan diri untuk mengeluh pelan.
Kalandra tidak menjawab, ia justru mempererat cengkeramannya seolah sedang berusaha meluapkan rasa frustrasinya melalui fisik Elara. Mereka sampai di area balkon yang lebih sepi, jauh dari pengawasan tamu-tamu lainnya yang masih sibuk berbincang. Kalandra melepaskan lengan Elara dengan kasar, membuat Elara hampir kehilangan keseimbangan dan menabrak pagar balkon. Pria itu memunggungi Elara, kedua tangannya mencengkeram pagar besi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Apa yang dia katakan padamu semalam?” tanya Kalandra dengan suara yang sangat rendah.
Elara tertegun, ia merasakan hawa dingin mulai merambat naik dari telapak kakinya menuju jantungnya yang berdebar. Ia tidak menyangka Kalandra akan menanyakan hal itu di tengah kemarahannya yang sedang memuncak terhadap Arlo. Elara mencoba mengatur napasnya, menyembunyikan rasa bersalah yang tiba-tiba menyerang batinnya secara bertubi-tubi. Ia teringat akan kartu nama hitam yang masih ia simpan di dalam tasnya dengan penuh kerahasiaan.
“Aku tidak bertemu dengannya semalam, Kal, aku di rumah,” jawab Elara berbohong dengan nada yang diusahakan tetap tenang.
Kalandra berbalik perlahan, matanya yang tajam menatap Elara dengan penuh kecurigaan yang menyakitkan untuk dilihat. Ia melangkah mendekati Elara hingga wanita itu terdesak ke arah pagar balkon yang dingin di belakangnya. Kalandra meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Elara, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat intim namun tanpa kasih sayang. Elara bisa merasakan kemarahan yang memancar dari napas Kalandra yang menerpa wajahnya dengan kasar.
“Lalu kenapa dia terlihat seperti sangat mengenalmu tadi?” Kalandra menuntut jawaban dengan nada yang semakin meninggi.
Elara menggeleng, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya akibat tekanan psikologis yang diberikan oleh tunangannya sendiri. Ia merasa terjebak dalam permainan kata-kata Arlo yang sengaja dirancang untuk menghancurkan hubungannya dengan Kalandra. Arlo Danendra benar-benar predator yang sangat licik, ia tahu persis di mana letak keretakan dalam hubungan mereka. Elara merasa kedinginan Kalandra malam ini jauh lebih mengerikan daripada tatapan intens Arlo di aula tadi.
“Aku tidak tahu, dia hanya musuh keluargamu, bukan?” suara Elara terdengar sangat rapuh.
Kalandra mendengus meremehkan, ia melepaskan kurungan tangannya dan berbalik lagi menghadap pemandangan kota di bawah sana. Ia tampak tidak mempercayai satu pun kata-kata yang keluar dari bibir Elara malam ini. Kecurigaan sudah telanjur meracuni pikirannya, membuat jarak di antara mereka semakin lebar dan mustahil untuk dijembatani kembali. Elara merasa dirinya sedang berdiri di atas retakan es yang sangat tipis dan siap pecah kapan saja.
“Jangan pernah berbohong padaku, Elara, atau kamu akan menyesal seumur hidupmu,” ancam Kalandra tanpa menoleh.
Ia meninggalkan Elara sendirian di balkon yang dingin itu, berjalan masuk kembali ke dalam aula tanpa memedulikan kondisi mental tunangannya. Elara memegang lengannya yang masih terasa perih akibat cengkeraman Kalandra tadi, rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan hancurnya perasaannya. Ia menatap langit malam yang mendung, merasa masa depannya sudah tertutup oleh bayang-bayang gelap yang diciptakan oleh dua pria itu.
Ponsel di dalam tasnya bergetar pelan, memberikan tanda ada sebuah pesan baru yang masuk dari nomor yang tidak dikenal. Elara menarik napas panjang, ia sudah bisa menebak siapa pengirim pesan tersebut di tengah situasi yang kacau ini. Dengan tangan gemetar, ia membuka layar ponselnya dan membaca barisan kalimat yang dikirimkan oleh sang pengirim misterius. Pesan itu berisi instruksi singkat yang membuat jantung Elara seolah berhenti berdetak sesaat.
“Kalandra hanya akan menjagamu sebagai pajangan, tapi aku akan menjagamu sebagai ratu. Temui aku di lokasi yang sudah aku kirimkan.”