“Lihat siapa yang baru saja mendarat di Jakarta dengan ambisi sebesar ini.”
Thalia Savy menggeser tablet miliknya ke tengah meja kafe yang tersembunyi di sudut kota. Elara menunduk, menatap layar yang menampilkan foto seorang pria sedang berjalan keluar dari jet pribadi. Arlo Danendra mengenakan setelan gelap yang tampak menyatu sempurna dengan otoritas yang ia miliki. Pria itu terlihat jauh lebih berbahaya daripada sekadar bayangan yang Elara lihat di restoran tempo hari.
Aroma kopi yang tajam di ruangan itu mendadak terasa menyesakkan bagi paru-paru Elara. Ia teringat kartu nama hitam di dalam tasnya yang seolah terus memanggil namanya. Thalia menyesap minuman miliknya dengan tenang, matanya menatap Elara dengan binar penuh rahasia. Sahabatnya itu selalu tahu cara menyentuh titik terlemah dalam harga diri seorang wanita yang sedang terdesak.
“Arlo bukan lagi pengusaha muda biasa, dia predator yang siap memangsa siapa pun,” lanjut Thalia pelan.
Thalia memperbesar gambar pada layar, menonjolkan rahang tegas Arlo yang tampak kaku. Ia mengetuk layar tepat di wajah pria itu dengan kuku yang dipulas warna merah darah. Arlo Danendra bukan hanya sekadar nama bagi keluarga Altamis, dia adalah ancaman nyata yang bisa meruntuhkan segalanya. Thalia mencondongkan tubuh, memastikan suaranya hanya terdengar oleh Elara di tengah kebisingan kafe.
“Keluarga Altamis sangat membencinya, tapi mereka juga sangat takut padanya,” Thalia tersenyum miring.
Elara mematikan layar tablet itu dengan gerakan refleks yang sedikit kasar. Ia tidak ingin melihat wajah pria yang merupakan musuh besar keluarga Altamis tersebut. Pikirannya masih tertuju pada tanggal pernikahan dua bulan lagi yang sudah ditentukan secara sepihak. Dunia terasa sedang menjepitnya tanpa memberikan celah sedikit pun untuk sekadar mengambil napas.
“Kenapa kamu menunjukkan ini padaku, Thal?” tanya Elara dengan nada bicara yang lelah.
Thalia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap Elara dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Kalandra tidak akan pernah berubah jika kamu terus menjadi tunangan yang penurut. Dia mengabaikanmu karena dia tahu kamu tidak akan pernah berani pergi dari sisinya.”
Thalia melipat tangannya di atas meja, menatap Elara dengan pandangan yang menghakimi sekaligus memprovokasi. Ia tahu persis bagaimana rasanya diabaikan oleh pria yang seharusnya memberikan perlindungan. Baginya, Elara terlalu lembut untuk menghadapi kedinginan yang diberikan oleh Kalandra Altamis belakangan ini. Elara hanya bisa menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin tanpa niat untuk menyesapnya kembali.
“Kamu pikir Kalandra sibuk dengan bisnisnya?” Thalia memancing reaksi Elara.
Kalimat itu menghantam Elara tepat di ulu hati, membangkitkan rasa perih yang selama ini ia sembunyikan. Ia teringat bagaimana Kalandra lebih memilih layar ponsel daripada menatap matanya di dalam mobil. Penolakan emosional kemarin malam menjadi bukti nyata bahwa semua ucapan Thalia adalah kebenaran yang pahit. Elara merasa dirinya hanyalah barang pajangan yang akan segera berdebu di rumah besar Altamis.
“Dia bahkan tidak mau menyentuh tanganku, Thal,” gumam Elara tanpa sadar.
Thalia tertawa kecil, suara yang terdengar sangat tajam di telinga Elara yang sedang sensitif. “Dia hanya tidak memiliki gairah padamu karena kamu tidak memberinya alasan untuk merasa takut kehilangan. Kamu harus mengunci posisimu di keluarga itu sebelum Aruna menemukan wanita lain yang lebih patuh.”
Thalia meraih jemari Elara yang dingin dan mencengkeramnya dengan tekanan yang memberikan peringatan tersembunyi. Ia mulai bercerita tentang gosip di kalangan sosialita mengenai rencana Aruna untuk mencarikan Kalandra pendamping baru. Elara merasa darahnya mendidih mendengar kemungkinan bahwa posisinya bisa digantikan semudah membalikkan telapak tangan. Harga dirinya sebagai seorang wanita terluka akibat ketidakpedulian pria yang akan segera ia nikahi.
“Jangan biarkan dirimu menjadi sejarah sebelum pernikahan itu terjadi,” bisik Thalia lagi.
Elara meremas jemarinya di bawah meja marmer, merasakan keputusasaan mulai berubah menjadi bibit keberanian nekat. Ia membayangkan hidupnya sepuluh tahun ke depan, terjebak dalam pernikahan tanpa suara dan kasih sayang. Rasa takut akan kesepian yang abadi mulai mengalahkan rasa takutnya pada aturan keluarga Maheswari. Ia tidak ingin menjadi wanita yang hanya menunggu di ambang pintu sampai masa mudanya hilang.
“Lalu aku harus bagaimana jika dia sendiri yang menjaga jarak dariku?” ucap Elara putus asa.
Thalia mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfumnya terasa sangat dekat. Matanya berkilat penuh rencana, seolah ia sudah menyiapkan skenario ini sejak Elara mengeluh pertama kali. Elara merasakan energi magnetis yang aneh terpancar dari cara Thalia menatapnya dengan penuh keyakinan. Suasana kafe yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat panas bagi kesadaran Elara.
“Buat dia tidak memiliki pilihan lain selain bertanggung jawab sepenuhnya padamu,” bisik Thalia tajam.
Ia meraih tas tangannya dan mencari sesuatu di dalam sana dengan gerakan yang sangat rahasia. Elara memperhatikan setiap gerak-gerik sahabatnya dengan napas yang tertahan di kerongkongan. Ada bagian dari logikanya yang berteriak untuk pergi, tapi bagian lain justru terpaku di kursi. Keinginan untuk diakui sebagai seorang wanita mulai mengaburkan kewaspadaan yang biasanya ia miliki.
Thalia mengeluarkan sebuah botol kecil berbahan kaca gelap dari balik saku rahasia tasnya tersebut. Ia meletakkan botol itu di atas meja dengan denting halus yang memecah kebisingan kafe. Botol itu tampak polos tanpa label, memancarkan aura misterius yang membuat bulu kuduk Elara berdiri. Elara menatap benda itu seolah sedang melihat bom waktu yang siap meledak kapan saja.
“Cairan apa ini, Thal?” tanya Elara sambil menjauhkan sedikit tubuhnya dari meja.
Thalia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya yang terlihat penuh ambisi. “Ini adalah kunci untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu sejak lama. Satu tetes dalam minumannya malam ini, Kalandra tidak akan bisa berpaling darimu lagi.”
Dunia di sekitar Elara mendadak menjadi sunyi, menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu liar tak menentu. Ia menatap botol kecil itu dengan rasa ngeri bercampur harapan yang mulai tumbuh secara ilegal. Tawaran Thalia adalah sebuah pengkhianatan besar terhadap prinsip moral yang selama ini Elara junjung tinggi. Bayangan wajah dingin Kalandra kembali muncul, mempertegas bahwa cara jujur tidak akan pernah berhasil padanya.
“Ini tindakan yang sangat berisiko, aku tidak yakin bisa melakukannya,” Elara mencoba menolak pelan.
Thalia mendorong botol itu lebih dekat ke arah tangan Elara dengan ujung telunjuknya yang lentur. “Risiko yang lebih besar adalah membiarkan dirimu membusuk dalam pernikahan tanpa cinta seumur hidupmu. Ambil ini, temui dia di hotel tempatnya menginap malam ini setelah rapat panjangnya selesai.”
Elara terdiam, pikirannya langsung melompat menuju nomor kamar 909 yang tertera dalam pesan singkat tempo hari. Ia tidak tahu apakah hotel yang dimaksud Thalia sama dengan hotel dalam pesan misterius tersebut. Kebetulan ini terasa sangat aneh, tapi keputusasaannya telah mencapai titik jenuh yang tidak terbendung. Elara meraih botol kecil itu dan merasakannya sangat dingin di dalam kepalan tangannya.
“Gunakan dengan hati-hati atau kamu akan kehilangan segalanya malam ini,” ucap Thalia memberikan peringatan terakhir.
Thalia berdiri dan meninggalkan kafe tersebut tanpa menoleh lagi ke arah sahabatnya yang masih terpaku. Elara menatap botol gelap itu cukup lama sebelum memasukkannya ke dalam tas dengan sangat cepat. Ia menyadari bahwa dirinya baru saja menyetujui rencana yang bisa menghancurkan reputasinya dalam semalam. Rasa haus akan pengakuan dari Kalandra telah menutup mata batinnya dari segala kemungkinan buruk yang ada.
Ia berdiri dari kursi kafe dengan kaki yang terasa sangat ringan karena beban moralnya telah berpindah. Elara berjalan keluar menuju parkiran, merasakan sinar matahari sore yang menyengat kulit wajahnya tanpa ampun. Di dalam tasnya, botol itu terasa sangat berat seolah sedang menagih tindakan nyata darinya secepat mungkin. Elara masuk ke dalam mobil dan mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga jarinya memutih.
“Kamar sembilan nol sembilan,” gumam Elara pada pantulan dirinya sendiri di cermin mobil.